
Sementara ditempat lain Sofyan pulang kerumahnya dalam keadaan babak belur, dia diantarkan pulang oleh salah seorang temannya yang juga menyaksikan saat Sofyan dihajar Petra habis-habisan.
"Sofyan, kamu kenapa?" Teriak bi Ningsih begitu melihat keadaan putranya.
"Ini semua gara-gara Mala bu." Ujar Sofyan seraya memegangi wajahnya yang penuh dengan luka lebam.
"Mala? Dimana kamu melihatnya?" Tanya bi Ningsing dengan antusias.
Rani yang baru keluar dari kamarnya segera turun menghampiri ibu dan kakaknya "Oh my gosh, wajah lo kek penyetan ayam gitu kak." Goda Rani, gadis itu menahan tawa melihat kondisi kakaknya yang memprihatinkan.
"Bac*ot lo." Balas Sofyan dengan tatapan mengerikan.
"Jadi dimana kamu ketemu Mala?" Ulang bi Ningsing yang sudah tidak sabar ingin segera menemukan Mala.
"Mala, lo ketemu Mala?" Tanya Rani tak kalah semangat dari ibunya.
"Gue ketemu dia di tempat adu jangkrik, dia sama laki-laki dan dia yang udah bikin gue babak belur kaya gini."
"Laki-laki, siapa?" Bi Ningsing penasaran, karena sebelumnya tak pernah melihat Mala berhubungan dengan laki-laki manapun.
"Nggak tau bu, tapi kayaknya dia bukan orang biasa, kata temen Sofyan dia datang dengan mobil mewah." Lanjut Sofyan, meskipun dia meringis kesakitan tetapi masih saja menjawab pertanyaan ibunya.
"Apa dia tampan, tinggi dan pakaiannya mahal." Tebak Rani, dia mengira jika yang bersama Mala adalah laki-laki yang pernah datang menjemput Mala.
"Lumayan tampan, dia juga tinggi, tapi pakaiannya seperti orang kampung, dia juga memakai blangkon."
Mereka bertiga mengira-ngira dengan siapa Mala pergi, mereka harus segera menemukan Mala dan mencari stempel milik kedua orang tua Mala karena sekarang mereka hidup hanya mengandalkan uang pensiunan dari ayah mereka.
****
"Tunggu sebentar, anda jalan cepat sekali." Seru Lala seraya mengejar Rafli yang sudah berada jauh didepannya, mereka baru saja keluar dari apartemen Arthur dan sedang menuju basement.
Rafli hanya diam saja, dia tidak mengindahkan panggilan Lala, pria dingin itu justru mempercepat langkahnya. Lala tak kehabisan akal, melihat Rafli semakin cepat gadis itupun berlari mengejar Rafli, namun Rafli sudah lebih dulu masuk kedalam mobil, Lala mendegus kesal dan segera menyusul Rafli, gadis itu sengaja duduk didepan bersebelahan dengan Rafli.
Rafli melirik sekilas, melihat Lala sudah memakai sabuk pengaman, dia segera melajukan mobilnya untuk mengantarkan Lala pulang.
"Asisten Rafli." Panggil Lala dengan nada mendayu-dayu, seoalah-olah sedang menggoda pria yang duduk disebelahnya.
"Hem." Jawab Rafli singkat.
__ADS_1
"Apa aku boleh memanggilmu kakak, susah sekali menyebut Asisten Rafli." Pinta Lala, gadis itu sedikit memutar tubuhnya sehingga dia bisa menatap wajah Rafli.
"Tidak." Tolak Rafli dengan segera.
"Kenapa?"
"Tidak ada alasan."
Seketika suasana didalam mobil menjadi hening, Lala berhenti menatap Rafli, kini dia memilih melihat pemandangan diluar dari balik kaca. Gadis itu kembali memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan perhatian dari Rafli.
"Stop." Seru Lala saat mereka melewati penjual bakso langganannya, Rafli reflek membanting setir kekiri dan menepikan mobilnya.
"Ada apa?" Tanya Rafli geram, dia menatap Lala kesal karena membuatnya terkejut.
"Aku mau makan bakso disana." Jelas Lala, jari lentiknya menunjuk warung bakso yang tidak jauh dari mobil yang mereka tumpangi. "Asisten Rafli mau ikut?" Ajak Lala.
"Tidak."
"Ya sudah kalau begitu aku turun disini saja, terimakasih tumpangannya, hati-hati dijalan." Ucap Lala sedikit kecewa, lalu dia keluar dari mobil Rafli dan berjalan kearah penjual bakso langganannya.
Rafli menatap punggung Lala yang semakin jauh, dia menghela nafas panjang dan kembali melajukan mobilnya. Namun tiba-tiba Rafli berubah fikiran, dia kembali menepikan mobilnya disebelah warung tenda yang dimasuki Lala tadi. Rafli tidak turun dari mobilnya, dia menunggu sampai gadis itu selesai makan, dia tidak tega membiarkan gadis itu pulang sendiri karena hari sudah gelap.
Rafli terus mengekor dibelakang motor yang ditumpangi Lala sampai gadis itu tiba didepan rumahnya, Rafli hendak pergi, namun dia mengurungkan niatnya begitu melihat tiga orang datang menemui Lala.
**
Lala urung masuk kedalam rumahnya begitu melihat bi Ningsih dan kedua anaknya menghampirinya, Lala menghela nafas kasar, dia sudah tau maksud dari kedatangan mereka.
"Lala." Panggil bi Ningsih.
"Iya bi, ada apa lagi?" Ucap Lala datar.
"Lo pasti tau dimana Mala kan?" Ujar Rani.
"Aku sudah bilang kan, aku nggak tau Lala dimana?"
"Nggak usah bohong deh lo." Ucap Rani seraya mendorog tubuh Lala.
Melihat kejadian itu Rafli segera turun dan menghampiri mereka, dia masih ingat gadis yang mendorong Lala adalah gadis yang pernah mendorong Mala.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Tanya Rafli dengan suara tegas.
"Bu itu dia bu, salah satu orang yang membawa Mala tadi." Ujar Sofyan, dia rupanya mengingat wajah Rafli.
"Apa anda tau dimana Mala sekarang?" Tanya bi Ningsing.
"Aku tidak tau."
"Bohong." Teriak Sofyan, lalu dia memegangi bibirnya yang kembali terasa sakit. "Lo kan yang bawa Mala sama cowok kurang ajar itu pergi, gue yakin kalian sekongkol menyembunyikan Mala." Sofyan menunjuk Lala dan Rafli berhantian.
"Terserah. Ayo masuk La." Ucap Rafli acuh, dia memegang bahu Lala dan mendorong lembuh tubuh gadis itu agar meninggalkan ketiga orang itu.
Lala terkejut, gadis itu mengulum senyum, dia meraih kunci dari dalam tasnya dan membuka pintu rumahnya. Namun lagi-lagi bi Ningsih menghentikan mereka, dia meraih tangan Lala dan menariknya dengan kasar.
"Aku bisa melaporkanmu karena menyembunyikan Mala." Ancam bi Ningsing.
"Kalian fikir aku takut, aku juga bisa melaporkan kalian karena kalian sudah membunuh paman Mala." Teriak Lala, gadis itu balik mengancam mereka dan seketika ketiga orang itu diam, mereka kesusahan menelan ludah mereka mendengar ancaman Lala.
"Membunuh?" Ulang Rafli, dia menatap Lala menuntut jawaban dari gadis itu.
"Hem, mereka sudah membunuh paman Mala, dan selama ini mereka juga senang menyiksa Mala, setelah mengambil semua warisannya bahkan kalian tega mengusir Mala, lalu kenapa kalian tiba-tiba mencari Mala?" Cecar Lala, mereka bertiga benar-benar tidak bisa berkilah lagi, padahal Lala hanya mengancam mereka, karena Lala dan Mala tidak mempunyai bukti apapun.
"Sudahlah jangan pedulikan mereka." Ucap Lala, lalu dia menarik tangan Rafli untuk masuk kedalam rumahnya dan Rafli hanya menurut.
Setelah Lala dan Rafli masuk kedalam rumah, bi Ningsih dan kedua anaknya juga kembali kerumah mereka dengan dongkol karena tidak menemukan yang mereka cari.
"Ayo jalan, segera laporkan kepada bos." Ucap seseorang didalam mobil yang sedari tadi mengawasi mereka, lalu mobil itu melaju meninggalkan tempat itu.
BERSAMBUNG...
Hey, apa kabar, semoga kalian dalam keadaan sehat yaa..
Aku mau minta maaf sebelumnya karena ceritanya semakin nggak jelas, dan juga aku hanya mampu up 1 eps dlm beberapa hari kedepan karena kesibukan yang nggak bisa aku tinggalkan..
semoga kalian semua masih setia menunggu ceritaku yang ga jelas ini yaa..
sampai jumpaa.
salam sayang dariku ❤❤❤
__ADS_1