My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 60 Ara


__ADS_3

"Kebakaran itu adalah sebuah kesengajaan." Ucap Petra dengan wajah tenang, dia menyalakan rokok lalu menghisapnya.


"Apa maksudmu?"


"Kau cantik, sayang bodoh, begitu saja kau tak bisa mencerna maksud perkataanku." Ejek Petra dengan seringai diwajahnya.


"Jadi kau sungguh berada disana saat kebakaran itu terjadi?"Tanya Dokter Sheila yang semakin penasaran.


"Ya aku disana dan melihat semuanya."


"Bisa kau jelaskan apa yang kau lihat dan siapa yang sengaja membakar tempat itu?" Imbuh Dokter Sheila.


"Dia adalah seseorang yang tak akan pernah kalian duga, dia...."


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Petra memegangi kepalanya dan mengaduh kesakitan, tubuhnya terhempas kebelakang dan kembali tak sadarkan diri membuat semua orang yang berada di ruangan itu panik.


"Dia pingsan lagi?" Tanya Rafli dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Hem." Jawab Dokter Sheila singkat. Dia memilih duduk dan memijat pelipisnya.


"Raf, sepertinya dugaan kita selama ini salah." Ucapnya seraya mengangkat kepala dan menatap Rafli.


"Apa maksud anda dok?" Tanya Rafli penasaran.


"Kau dengar tadi kan, Petra mengaku berada disana, dia melihat segalanya saat kebakaran itu terjadi, itu artinya kepribadian Arthur terpecah sebelum kebakaran itu terjadi."


Dokter Sheila menjeda kalimatnya, dia menarik nafas panjang.


"Dan kita menemukan jalan buntu lagi Raf." Imbuhnya dengan lesu.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Ucap Rafli yang terlihat begitu frustasi setelah mendengar penuturan Dokter Sheila.

__ADS_1


"Kita harus bisa memanfaatkan Petra, kita bisa bertanya kepadanya kapan kali pertama dia muncul dan kita harus mencari tau tentang kebakaran itu Raf, apa yang sebenarnya terjadi saat itu mungkin Petra bisa menjadi saksi kunci." Papar Dokter Sheila, meskipun tak terlalu mempercayai Petra namun saat ini dia tak punya pilihan lain,.


Rafli hanya menganggukan kepalanya, dia benar-benar tak mengerti apa yang harus dia lakukan sekarang, segala usahanya bersama Arthur selama ini terasa sia-sia, jika bukan karena kebakaran itu lalu apa yang membuat Arthur memiliki kepribadian ganda, haruskah Rafli bertanya kepada Tuan Raymon, mungkinkah Tuan Raymon mengetahui sesuatu yang tak mereka ketahui?


Sementara itu Mala hanya diam, dia menatap wajah Arthur dari jauh, rasa sedih kembali menelisik dihatinya, dia tak menyangka jika beban hidup Arthur seberat itu, tiba-tiba dia merasa bersalah karena menjalin hubungan bersama Rey, Mala merasa seperti seorang penjahat, dengan teganya dia berbahagia diatas rasa sakit yang Arthur rasakan, Mala mulai goyah, rasa sayangnya terhadap Rey mulai terselimuti dengan rasa bersalah terhadap Arthur.


Tak lama Arthur mulai membuka matanya, dia kembali duduk dan melihat sekeliling, dia terlihat seperti orang bingung, namun dia tersenyum saat netra beningnya menatap Mala dikejauhan.


"Cah ayu, kita dimana?" Tanya Arthur dengan suara medoknya.


"Pakde Karto?" Ucap Mala, gadis itu berjalan mendekat dan berjongkok di hadapan pemuda yang kini berganti kepribadian lagi.


"Ini dimana to, ayo kita pulang, pakde mau lihat jangkring-jangkrik milik pakde." Ujar pakde Karto seraya mengusap kepala Mala.


"Nanti ya pakde pulangnya, pakde tidak usah khawatir, jangkrik milik pakde masih hidup dan sehat, Mala memberi mereka makan seperti yang pakde ajarkan waktu itu."


Pakde Karto tersenyum getir, dari sorot matanya bisa terlihat dia tak nyaman berada diruangan itu. Pakde Karto lalu berdiri begitupun dengan Mala, dia berjalan mengelilingi ruangan Dokter Sheila, kedua tangannya dia gendong dibelakang pinggangnya.


Mala menatap Dokter Sheila untuk meminta jawaban dan Dokter Sheila hanya mengangguk, dia merasa Mala bisa menjaga Arthur untuk saat ini. Setelah mendapat persetujuan Dokter Sheila, ketiganya pergi dari ruangan itu, namun sebelum pergi Dokter Sheila menahan Mala dan membisikan sesuatu. "Tolong bantu saya La, gali informasi dari setiap kepribadian yang muncul, mungkin saja mereka mengetahui sesuatu." Mala hanya mengangguk, lalu gadis itu keluar dan menyusul pakde Karto dan Rafli yang sudah berada didalam mobil.


Selama perjalanan mereka hanya diam, pakde Karto yang biasanya banyak bicarapun ikut diam, entah apa yang dirasanya namun mulutnya seakan terkunci, dia memilih bungkam hingga mereka tiba diapartemen milik Arthur.


Setibanya di Apartemen, pakde Karto segera masuk ke ruang pribadinya, Mala dan Rafli menatap pakde Karto heran, tak biasanya pakde Karto bersikap seperti itu.


"Aku harus kembali ke kantor, apa kau bisa menjaga Tuan Arthur sendirian?" Tanya Rafli, meskipun dia mengkhawatirkan Arthur namun dia juga mempunyai tanggung jawab di kantor.


"Saya akan menjaganya." Jawab Mala pelan, setelah itu Rafli meninhgalkannya diapartemen.


Setelah kepergian Rafli, Mala memilih duduk di sofa seraya menatap pintu ruangan pakde Karto yang tertutup rapat, gadis itu menyandarkan kepalanya di sofa, matanya iya penjamkam sejenak lalu dia menarik nafas panjang.


"Apa yang sebenarnya terjadi." Ucapnya dengan lirih.

__ADS_1


"Anda siapa?" Ucap seseorang dan membuat Mala terkejut.


"Aa." Pekik Mala, gadis itu segera berdiri dan menatap seseorang yang kini berdiri didepannya. "Pakde Karto." Gumam Mala namun yang disebut namanya diam tak bereaksi.


Mala menatap bingung pemuda yang kini berjalan menuju kamarnya, dengan hati-hati Mala mengikuti pemuda itu dari belakang, dia tak yakin siapa yang sedang menduduki tubuh Arthur sekarang.


"Mungkinkah dia Ara, pemilik kamar ini" Batin Mala saat melihat Arthur meraih boneka Kangguru dan memeluknya.


"Apa anda tau siapa yang memakai kamar saya?" Tanya pemuda itu dengan suara yang cukup kecil, layaknya suara yang sengaja dibuat-buat.


"Maafkan aku, aku yang sudah memakai kamarmu, aku akan segera merapikannya." Jawab Mala dengan tergesa.


"Biarkan saja, saya rasa kamar saya masih rapi, terimakasih karena anda sudah merawat kamar saya." Jawabnya lagi dengan sangat sopan, pemuda itu lalu duduk ditepi ranjang dan tetap memeluk bonekanya.


"Kita belum berkenalan kan, aku Mala siapa namamu?" Tanya Mala dengan senyum diwajahnya, dia berjongkok didepan pemuda itu, dia mengingat kembali pesan Dokter Sheila untuk dekat dengan setiap kepribadian Arthur agar dia bisa mencari informasi mengenai masa lalu Arthur.


"Saya Ara. Apa kak Mala sudah lama tinggal dikamar saya. Emm apa saya boleh memanggil anda dengan kakak?"


"Tentu saja boleh. Em kakak sudah cukup lama tinggal disini, maafin kakak karena belum sempat meminta izin kepada Ara, nanti biar kakak pindah ke kamar yang lain."


"Tidak perlu, kakak bisa menemani Ara tidur disini, Ara tidak suka sendirian." Tolak kepribadian yang bernama Ara itu.


Ara adalah salah satu kepribadian Arthur dengan jenis kelamin perempuan, usianya sekitar enam tahun dan dia selalu memeluk boneka Kanggurunya.


"Tapi kasur ini sangat kecil, tidak akan muat jika kakak tidur disini." Tolak Mala secara halus, dia tidak mungkin tidur bersama Arthur meskipun kini kepribadian lain yang tengah menghuni tubuhnya.


"Sebentar saja kak, hanya sampai Ara tertidur." Rengeknya lagi, lalu dia meringkuk diatas tempat tidur selayaknya anak kecil yang tengah merajuk.


Mala mengehela nafas dengan kasar, setelah Ara menggeser tubuhnya Mala ikut berbaring diatas ranjang sempit itu dan mau tak mau tubuh mereka saling bersenggolan.


"Kenapa semua kepribadianmu senang sekali bersentuhan denganku." Batin Mala.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2