
"Rey." Pekik Mala, entah sejak kapan dia dengan mudah membedakan antara Rey dan Arthur.
"Kamu ngapain disini?"
"Aku.. a..aku tinggal disini." Jawab Mala terbata, dia seolah takut Rey akan salah paham jika dia tinggal dirumah Arthur.
"Oh ya, Arthur mengizinkan?"
"Hem."Jawab Mala singkat. "Aku juga akan bekerja disini mulai sekarang, jika Rey butuh sesuatu jangan sungkan bicara padaku."
"Bekerja?"
"Ya."
"Apa yang Arthur rencanakan." Batin Rey, dia yakin Arthur merencanakan sesuatu, Arthur tidak akan membiarkan siapapun tinggal dirumahnya jika bukan karena suatu alasan.
"Kenapa kamu belum tidur?" Tanya Mala, dia membuang botol bekas air minumnya kedalam tong sampah.
"Aku sedang melukis."
"Kau bisa melukis?"
"Sedikit, kau ingin melihatnya?'
Mala hanya mengangguk, dia kemudian mengikuti Rey masuk kedalam ruangan yang bersebelahan dengan kamar miss Kimberly. Mala bergidik mengingat kembali miss Kimberly yang kemayu itu.
Mala membulatkan matanya, mulutnya menganga saat melihat ruangan yang penuh dengan lukisan. Mala mengamati lukisan demi lukisan yang tersusun rapi didinding. Dia berhenti dan menatap sendu sebuah lukisan yang menggambarkan seorang ibu yang tengah memeluk anak perempuannya. Lama Mala menatap lukisan yang membuatnya merindukan sosok ibunya, sosok yang bahkan sudah tak diingatnya lagi karena setelah kebakaran 15 tahun yang lalu ingatan Mala hilang, terkubur bersama jasad kedua orangtuanya. Selama ini Mala mengenang kedua orangtuanya lewat sebuah foto yang diberikan oleh pamannya.
"Kau merindukan ibumu?"
Mala terkejut mendengar suara Rey yang begitu dekat, dia memutar tubuhnya dan benar saja Rey sudah berdiri didepannya dengan jarak yang sangat dekat.
Mala mendungakkan kepalanya, perbedaan tinggi badan diantara keduanya membuat Mala harus mengangkat kepalanya agar bisa melihat wajah Rey, sementara Rey harus menunduk agar bisa menatap Mala. Saat mata mereka saling beradu, jantung Rey berdegup dengan kencang, saking kencangnya mungkin Mala bisa mendengar detakannya.
Mala memundurkan kakinya, dia merapikan rambutnya yang tidak berantakan, pipinya mulai memanas dan dia mulai salah tingkah. "Aku harus tidur." Ucap Mala gugup, lalu tanpa permisi dia meninggalkan Rey dan masuk kedalam kamar yang sementara akan dihuninya.
Mala bersender pada pintu, tangannya ia gunakan untuk mengipasi wajahnya yang panas. "Apa ini, kenapa aku gugup begini?" Gumam Mala, lalu gadis itu kembali ketempat tidur dan melanjutkan tidurnya.
__ADS_1
Rey tersenyum melihat tingkah Mala barusan, menurutnya Mala begitu menggemaskan. Rey memegangi dadanya, jantungnya masih berdetak tak karuan, dia menarik nafas perlahan untuk menetralkan detak jantungnya.
Rey kembali pada aktivitas malamnya dan merampungkan lukisannya yang sempat tertunda. Dia tersenyum melihat lukisannya yang belum sepenuhnya selesai, lukisan seorang gadis tengah menatap langit.
Rey segera mengakhiri kegiatannya, sudah hampir subuh, dia harus kembali ketempat tidur karena paginya Arthur harus bangun dan beraktivitas. Rey merapikan bantal dan memposisikannya senyaman mungkin, dia lebih senang tidur disebelah kanan, tapi Arthur akan marah besar jika dia bangun dan mendapati dirinya tidur disebelah kanan, untuk itu Rey mengalah dan tidur disebelah kiri.
***
Seperti biasa Mala bangun saat matahari belum terbit, tubuhnya seolah sudah ia setel untuk selalu bangun pagi. Mala keluar kamar, dia bingung harus melakukan apa, dia mengamati sekeliling, rumah itu sangat rapi dan bersih, bahkan tidak ada satupun debu yang menempel dilantai. Mala berpindah kedapur, dia ingin masak untuk sarapan tapi dia ingat tak ada satupun bahan makanan didalam kulkas.
Mala masuk kembali kedalam kamarnya, dia memilih untuk mandi, namun dia bingung karena tak ada kamar mandi didalam kamar yang dihuninya, dia keluar dan mencari kamar mandi, dia mengelilingi apartemen mewah itu, namun tak juga menemukan kamar mandi.
"Jangan bilang hanya ada satu kamar mandi dirumah ini."
Mala mondar-mandir didepan kamar Arthur, diragu untuk mengetuk pintu kamar tuannya, sudah dipastikan Arthur akan murka jika Mala berani mengganggu tidurnya.
"Kau sedang cosplay menjadi setrika?" Ucap Arthur datar lalu dia melewati Mala dan pergi kedapur. Mala mengikuti tuannya, dia masih ragu untuk bertanya mengenai kamar mandi. "Ada apa?" Tanya Arthur saat menyadari Mala mengikutinya.
"Apa tidak ada kamar mandi lain?"Ucap Mala hati-hati.
Arthur menggeleng.
"Dilantai dasar ada kamar mandi untuk security, kau bisa turun dan mandi disana?" Jawab Arthur dengan santai.
"Yah beginilah tuan Arthur yang sebenarnya, kejam." Batin Mala lalu gadis itu segera pergi kekamarnya untuk mengambil perlengkapan mandi. Mala menepuk keningnya sendiri saat tak menemukan sabun dan yang lainya didalam ranselnya, dia lupa membawa perlengkapan mandinya. "Bagaimana rasanya mandi tanpa sabun dan menyikat gigi?" Mala bergidik, membayangkannya saja sudah membuatnya ngeri. "Apa aku minta saja pada tuan Arthur ya, aku bahkan tidak punya uang untuk membeli sabun."
Mala keluar dari kamarnya dan memberanikan diri untuk meminta sabun mandi kepada Arthur, gadis berkacamata itu menghampiri Arthur yang tengah duduk disofa.
"Tuan." Ucap Mala lirih, suaranya hampir tak terdengar.
"Apa?" Jawab Arthur tanpa menoleh kepadanya, matanya tengah fokus pada laptop didepannya.
"Mm..anu..mmm.."
"Selain bodoh kau juga gagap rupanya."
Mala tak menghiraukan celaan Arthur, dia mulai terbiasa dengan mulut tajam atasannya itu. "Apa anda punya stok sabun?" Ucap Mala secepat kilat.
__ADS_1
Arthur menghentikan aktivitasnya, dia menatap Mala yang tengah berdiri disebelahnya. "Apa kau sangat miskin, sabun saja kau tak punya?"
"Saya diusir dan hanya membawa baju-baju saja."
Arthur menggeleng meratapi kemiskinan Mala. "Ambil dilemari penyimpanan, sebelah kulkas."
"Terimakasih tuan."
Mala segera menggambil sabun dan perlengkapan mandi lainnya, gadis itu segera keluar dan turun kelantai dasar untuk mandi.
Setelah mandi Mala segera naik keatas sebelum Arthur marah karena dia pergi terlalu lama. Mala mengetuk pintu apartemen, dia lupa meminta kunci cadangan kepada Arthur. Tak berselang lama Arthur membukakan pintu untuknya, dia sudah rapi dengan setelan jas seperti biasanya.
Mala segera masuk dan pergi kekamarnya, dia harus segera bersiap dan berangkat bekerja.
"Mala." Teriak Arthur.
Mendengar namanya dipanggil Mala segera keluar, dia lupa mengikat rambut panjangnya.
"Ya tuan."
Arthur terpaku melihat Mala menggerai rambutnya. "Cantik." Desis Arthur.
"Ya tuan?"
"Kau bisa bawa mobil?" Ucap Arthur gelagapan, dia hampir tertangkap basah menyebut Mala cantik.
"Bisa."
"Kau punya SIM?"
"Punya."
" Baguslah." Ucap Arthur seraya melempar kunci mobil kepada Mala. Arthur segera pergi untuk menghubungi Rafli, agar asistennya itu tidak perlu datang menjemputnya karena dia sudah punya sopir pribadi sekarang.
"Dia menyuruhku menjadi sopirnya?" Gumam Mala seraya menatap kunci mobil ditangannya.
"Ayo berangkat." Seru Arthur, lalu dia kembali melempar sesuatu kepada Mala. "Simpan itu, itu kartu akses untuk masuk kerumah ini."
__ADS_1
BERSAMBUNG..