
Sesampainya di apartemen, Mala sudah disambut oleh Arthur didepan pintu, pria itu mengulas senyum begitu Mala masuk ke dalam apartemen.
"Anda belum tidur?" Tanya Mala seraya melepas sepatunya.
"Aku menunggumu." Ucap Arthur.
"Istirahatlah tuan, besok jadwal anda sangat padat."
Mala melewati Arthur dan segera masuk ke dalam kamarnya, suasana hatinya sedang tidak baik, ia memilih menghindari Arthur sebelum Arthur membuatnya suasana hatinya semakin buruk.
Arthur menatap Mala dengan wajah bingung, tak biasanya gadis itu melewatinya tanpa permisi.
"Apa terjadi sesuatu?" Batin Arthur.
Mala merebahkan tubuh mungilnya di atas tempat tidur, matanya terpejam namun fikirannya menjalar kemana-mana, rasa penasarannya akan sosok anak perempuan yang selamat bersamanya semakin besar.
"Aku harus bertanya kepada Tuan Arthur sebelum kepalaku meledak karena penasaran?"
Mala mengambil baju dan peralatan mandinya, ia akan numpang mandi lebih dulu sebelum bertanya kepada Arthur.
Tok..tokk..
Mala mengetuk pintu kamar Arthur, tak berselang lama pintu itu terbuka.
"Boleh saya numpang mandi?" Kata Mala.
"Masuklah." Arthur mempersilahkan Mala untuk masuk, setelah gadis itu masuk ia menutup pintu dan kembali duduk di atas ranjangnya. Arthur melirik Mala sekilas saat gadis itu akan masuk ke dalam kamar mandi, lalu ia meraih laptopnya dan kembali merampungkan pekerjaannya.
Sepuluh menit berlalu, Mala keluar dari kamar mandi dengan baju tidur panjang dan handuk yang membungkus rambutnya yang basah.
Dengan ragu Mala menghampiri Arthur yang masih berkutat dengan laptopnya. Melihat Mala tengah mengamatinya Arthur segera menutup laptopnya dan menyimpannya kembali di atas nakas yang berada di sebelah tempat tidurnya. Ia merubah posisi duduknya sehingga kini duduk di tepi ranjang.
"Duduklah." Arthur menepuk kasur tepat di sebelahnya.
Mala menurut, ia duduk disebelah Arthur. Namun tenggorokannya seakan tercekat, ia ragu untuk bertanya kepada Arthur.
"Ada apa, katakanlah?" Ucap Arthur seraya menatap wajah tertunduk Mala.
"Tuan.. maaf sebelumnya jika saya lancang untuk menanyakan ini."
__ADS_1
"Katakanlah."
"Apa tuan tak mengingat sedikitpun saat kebakaran itu terjadi?" Ucap Mala hati-hati, ia takut jika pertanyaannya akan menyinggung Arthut.
"Tidak, aku melupakan semuanya."
"Mmm, lalu apakah anda memiliki saudara perempuan?"
"Punya. Bukankah kau sudah bertemu dengan Lea." Arthur salah mengartikan pertanyaan Mala.
"Maksud saya saudara yang lahir dari ibu yang sama."
"Tidak, aku anak tunggal. Ada apa? Kenapa kau bertanya tentang saudara perempuan kepadaku?"
"Saya hanya ingin tau. Maaf karena sudah lancang. Sudah malam, sebaiknya anda istirahat." Mala berdiri dari duduknya dan berniat untuk keluar dari kamar Arthur.
Tangannya belum menyentuh gagang pintu saat sebuah tangan lain memeluknya dari belakang. Mala terkejut gadis itu menjatuhkan perlengkapan mandi dan baju kotornya.
"Kapan kau akan memberikan jawaban untukku?" Tagih Arthur.
"Tuan, saya tidak berjanji akan menjawab secepatnya bukan? Jika anda tidak sabar lebih baik ambil cincin ini dan berikan kepada gadis yang lebih pantas untuk anda."
Arthur memutar tubuh Mala, ia memegang dagu Mala dan mengangkatnya sedikit sehingga wajah Mala terlihat jelas. Arthur menyapu setiap inci wajah Mala dengan tatapannya.
Mala membisu, ia tak bisa menjawab pertanyaan Arthur. Bukan karena penyakit yang membuat Mala enggan menerima lamaran Arthur, ia hanya ingin memastikan apakah benar Arthur dan dirinya memiliki hubungan di masa lalu. Mala ingin tau apakah kebakaran yang menewaskan ibu kandung Arthur adalah kebakaran yang telah menewaskan kedua orang tuanya. Jika memang benar, bukankah artinya mereka di bunuh. Mala ingin menyelidiki semua itu, setelah semua jelas mungkin Mala akan memberikan jawaban kepada Arthur.
"Istirahatlah, kau pasti lelah." Arthur memilih mengalah, ia tak ingin memaksa Mala untuk segera menerima lamarannya. Arthur mengelus wajah Mala, lalu ia mengecup pucuk kepala Mala dengan penuh perasaan cinta.
Tak bisa di pungkiri, Mala tak bisa menolak setiap sentuhan yang berikan Arthur kepadanya, ia mulai merasa nyaman saat bersama Arthur, bahkan Mala tak lagi merasakan kehilangan Rey, karena baginya Arthur yang sekarang sudah hampir menyerupai Rey.
******
Rumah utama Bagaskara Group..
Setelah makan malam bersama, Tuan Raymon sedang bersantai di balkon kamarnya dengan di temani mama Wulan. Keduanya duduk berdampingan dan menikmati udara malam yang tak terlalu dingin.
"Mas." Panggil mama Wulan dengan lembut.
"Ada apa?" Ruan Raymon menoleh dan memperhatikan raut wajah istrinya yang begitu bahagia.
__ADS_1
"Arthur sudah melamar Mala. Aku sangat bahagia, akhirnya Arthur membuka hatinya untuk seorang gadis."
"Melamar? Dari mana kau tau?" Tuan Raymon mengerutkan dahinya, ia tak berdikir jika Arthur benar-benar mencintai Mala dna bahkan melawarnya. Tuan Raymon fikir Mala hanya sebatas pacar bayaran Arthur.
"Pagi tadi aku datang ke kantor Arthur dan tidak sengaja mendengar berita bahagia ini."
"Apa gadis itu menerimanya?" Tanya Tuan Raymon.
"Belum, Mala belum memberi jawaban. Padahal aku sudah sangat bersemangat, aku sudah membayangkan menimang cucu mas." Mama Wulan mulai berandai-andai.
"Kenapa kau begitu menyayangi Arthur, dia bukan anak kandungmu, dia bahkan tidak menerimamu waktu itu." Ucap Tuan Raymon seraya menatap istrinya, ia ingin mendengar jawaban apa yang akan istrinya lontarkan.
"Dia putraku meski kami tak berhubungan darah. Yang lalu biarlah berlalu, toh sekarang Arthur sudah bisa menerimaku sebagai ibunya."
"Kenapa aku menyayanginya?" Mama Wulan mengulang pertanyaan suaminya.
"Entah, sejak awal aku merasa kasian padanya. Usianya baru 12 tahun saat mamynya meninggal. Dan setelah mengetahui masa kecilnya yang kelam membuatku semakin merasa iba, dari sanalah aku mulai menyayangi Arthur dan menganggapnya seperti putraku sendiri."
"Mas, kenapa kau hanya diam saat Lidya memperlakukan Arthur seperti se..."
"Stop, aku tak ingin membahas masa lalu lagi. Tidurlah sudah malam." Potong Tuan Raymon sebelum mama Wulan melanjutkan kalimatnya. Ia lalu berdiri dan masuk ke dalam kamar, meninggalkan istrinya yang masih duduk di luar.
Tuan Raymon pergi ke ruang kerjanya, ia duduk di kursi kerjanya. Pria paruh baya itu menatap laci yang berada di meja kerjanya, lalu ia memutar kunci laci tersebut dan membukanya. Tangannya yang mulai keriput meraih selembar foto dari dalam laci. Tuan Raymon menatap foto itu dengan wajah sendu. Ia mengusap selembar foto yang bergambarkan dirinya dan mendiang istrinya, di tengah-tengah mereka terdapat gambar seorang balita dengan busana serba merah muda.
Tuan Raymon menarik nafas panjang saat memorinya tiba-tiba berselancar pada belasan tahun silam.
"Tak seharusnya aku mengingat hal itu lagi. Maafkan dady nak."
Tok..tok..tok
Suara ketukan pintu mengakhiri lamunan panjang Tuan Raymon, ia segera mengembalikan foto tersebut pada tempatnya.
"Masuk."
Seseorang dengan baju serba hitam masuk dan menghadap Tuan Raymon.
"Ada apa?" Tanya Tuan Raymon datar, ia meraih cerutu dan menghisapnya.
"Ada seseorang yang mencari rekaman itu juga tuan, saya rasa orang itu suruhan Tuan Muda." Anak buahnya memberikan laporan.
__ADS_1
"Cepat cari Karto dan temukan rekaman itu, sebelum Arthur ataupun Rafli menemukannya. Arthur tidak boleh melihat rekaman itu."
BERSAMBUNG...