
Siang hari Mala merasa lapar, dia keluar dari kamarnya dan menuju dapur. Mala membuka kulkas dan melihat sisa sayuran yang dibeli mama Wulan kemarin, dia berfikir untuk memasaknya dari pada busuk nantinya. Mala mengeluarkan sayur yang akan diolahnya, dia mulai sibuk memotong bahan masakannya tanpa menyadari Arthur tengah mengamatinya dari kejauhan.
Sebelum memasak Mala lebih dulu menanak nasi, setelah itu dia mulai sibuk mengolah sayuran yang sudah ia potong sebelumnya. Mala mencicip masakannya, dia merasa ada yang kurang, Mala mencari gula untuk menambah rasa dimasakannya namun gadis itu tak menemukan yang sedang dicarinya.
Mala berjinjit untuk membuka lemari penyimpanan yang cukup tinggi baginya, matanya berbinar begitu melihat gula berada didalam lemari itu. Dia berusaha untuk meraihnya namun tangannya tak sampai, lemari penyimpanan itu sepertinya tidak cocok dengan tubuh pendek Mala.
Mala belum menyerah dia semakin menjinjitkan kakinya dan tiba-tiba tubuhnya terangkat sehingga dia bisa mengambil gula dari atas sana. Tubuh Mala perlahan mulai turun dan kakinya kini menginjak lantai yang dingin, Mala memutar tubuhnya, gadis itu terperanga
melihat Arthur berada didepannya. Mereka saling menatap, Mala ketakutan karena Arthur menatapnya tajam, sementara Arthur, dia merasa jantungnya akan segera melompat keluar karena berdegup dengan sangat cepat.
"Apa saya mengganggu anda?" Tanya Mala, gadis itu meremas kedua tangannya karena takut akan dimarahi oleh Arthur.
"Tidak." Jawab Arthur singkat. "Apa yang sedang kau lakukan didapurku, kau tidak sedang menghancurkannya kan?" Tanya Arthur sinis, padahal dia hanya sedang berusaha menetralkan detak jantungnya
"Maaf tuan, saya lapar dan melihat sisa sayur yang nyonya beli kemarin, saya memasaknya, maaf kalau saya mengganggu istirahat tuan Arthur." Ucap Mala, kepalanya menunduk, gadis itu tidak berani menatap Arthur.
"Apa sudah matang?"
Mala terkejut mendengar jawaban Arthur, gadis itu mengangkat kepalanya sehingga mereka saling berpandangan. "Sudah tuan, apa tuan berkenan untuk mencobanya."
Arthur tidak menjawabnya, namun dia segera melangkahkan kakinya dan duduk dikursi yang berada didekat meja makan. Mala segera menambahkan gula dimasakannya, lalu dia menyiapkan makanan untuk tuannya.
"Maaf tuan, hanya masakan sederhana." Ucap Mala seraya meletakkan semangkuk sup ayam diatas meja makan, tidak lupa ayam dan tahu goreng serta sambal yang menjadi pelengkap masakannya. Setelah semua tersaji dimeja makan, Mala berniat untuk pergi, dia tidak ingin mengganggu tuannya makan.
"Kau mau kemana?" Tanya Arthur begitu Mala akan pergi dari dapur.
"Saya..."
__ADS_1
''Duduklah, temani aku makan." Potong Arthur sebelum Mala menyelesaikan kalimatnya.
"Tapi tuan?" Ucap Mala ragu, dia tidak mungkin makan bersama Arthur, perbedaan status tidak memungkinkan mereka untuk makan diatas meja yang sama.
"Jangan membuatku marah, duduk dan makan." Tegas Arthur dan Mala segera menurut, kemudian gadis itu duduk didepan Arthur sehingga mereka saling berhadapan.
Dengan hati-hati Mala mulai mengambil nasi dan lauk pauknya, sekilas dia mengamati Arthur yang sedang menikmati makananya. Mala menyunggingkan bibir, dia bersyukur karena Arthur mau memakan masakan sederhananya, lalu Mala kembali fokus dengan makanan dipiringnya. Suasana sangat tenang hanya suara dentingan sendok yang terdengar diruangan itu, kedua orang yang berbeda sifat itu saling diam dan menikmati makanan mereka.
Setelah selesai makan, Mala segera membereskan piring kotor dan mencucinya. Arthur masih duduk ditempatnya dan mengamati Mala yang begitu cekatan menyelesaikan pekerjaannya.
"Apa aku benar menyukainya." Gumam Arthur. "Tidak, tidak mungkin aku menyukai gadis bodoh itu." Kilah Arthur, lalu dia pergi dari dapur, Mala melirik sekilas jari ujung matanya dan dia kembali sibuk membenahi dapur yang berantakan.
Mala kembali kekamarnya setelah pekerjaannya selesai, sekarang hari minggu jadi dia bisa beristirahat, dia juga memutuskan untuk berhenti membantu orang tua Lala berjualan. Mala merebahkan tubuhnya diatas kasur, dia menghela nafas beberapa kali, mengganggur malah membuatnya sedih, dia kembali mengingat kedua orangtua dan pamannya yang sudah meninggal. Oleh karena itu Mala lebih senang menghabiskan waktunya untuk bekerja, lelah bukan masalah karena dia bisa beristirahat, yang terpenting adalah dia tidak ingin merasakan kesedihan.
"Lebih baik aku menelfon Lala." Batin Mala, lalu gadis itu meraih ponsel dan menghubungi Lala untuk menghilangkan rasa sedihnya.
"Nggak tuh, aku cuma iseng aja."
"Ya udah matiin aja."
"Jangan, aku hanya bercanda. Aku sangat sangat merindukanmu Mikhayla."
"Kamu betah disana, apa Arthur tidak mengganggumu?" Selidik Lala karena dia khawatir dengan Mala yang tinggal bersama dengan Arthur, bos bermulut tajam mereka.
"Aku betah dan tuan Arthur juga tidak menggangguku." Ucap Mala jujur, dua hari tinggal bersama, tuan Arthur belum pernah memarahinya.
"Syukurlah. Oh ya, kemarin bi Ningsih mencarimu?"
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Mala penasaran, gadis itu bangun dan duduk ditepi tempat tidur.
"Nggak tau."
"Kamu nggak ngasih tau tempat tinggalku kan?"
" Ya enggak lah."
Mala menghela nafas lega, dia juga bersyukur karena tidak perlu hidup bersama mereka lagi, selama ini mereka tidak pernah menganggap Mala sebagai keluarga, Mala hanyalan pembantu dan mesin penghasil uang untuk mereka. Namun Mala masih penasaran, mengapa bi Ningsing mencarinya setelah dia diusir begitu saja. Apa ini mengenai warisan itu, desis Mala, lalu dia kembali berbincang dengan Lala.
"La jam berapa sekarang?" Tanya Mala dan membuat Lala terkekeh diseberang sana.
"Jam 2 siang, ada apa, kamu nggak punya jam?"
"Nggak La, aku kaya denger suara jangkrik, aku fikir udah malem, makannya aku tanya jam berapa, aku fikir jamku mati."
"Jangkring?" Ulang Lala.
"Hemm, sudah dulu La, aku mau memeriksanya, masa diapartemen mewah seperti ini bisa ada serangga masuk."
Mala lalu mengakhiri panggilannya, dia menyumbulkan kepalanya dari balik pintu dan bunyi jangkrik yang didengarnya tadi semakin jelas. Mala melihat sekeliling dan tidak mendapati Arthur diruangan itu. Mala keluar dari kamarnya dan mencari suara jangkrik yang semakin lama semakin jelas suaranya. Perhatian Mala tertuju pada sebuah ruangan yang pintunya terbuka, gadis itu melangkahkan kakinya perlahan, Mala sempat berhenti, dia ragu, namun suara jangkrik itu memancing rasa keingintahuannya, dia melanjutkan langkahnya dan mendekati ruangan yang terbuka itu.
Dari depan pintu ruang itu, Mala semakin jelas mendengar suara jangkrik yang sepertinya lebih dari satu, Mala mendorong pintu yang sudah terbuka sedikit, didalam ruangan itu Mala tidak melihat apapun, ruangan itu sangat gelap, hanya bunyi jangkrik yang saling bersautan sehingga rumah mewah itu terlihat mencekam. Mala merinding, meskipun penasaran dia lebih memilih mundur dan urung masuk keruangan yang gelap itu. Mala berbalik dan berniat meninggalkan ruangan itu, namun sebuah suara membuatnya menghentikan langkahnya.
"Sopo kowe?"
BERSAMBUNG....
__ADS_1