
Beberapa jam sebelumnya..
Setelah mobil Rafli keluar dari komplek apertemen Arthur, rupanya anak buah tuan Raymon mengikuti mobil Rafli dari belakang, kepergian Rafli yang terburu-buru mebuat mereka curiga jika Rafli telah menemukan pelaku yang menabrak Mala, karena setahu tuan Raymon, asisten pribadi Arthur itu tengah mencari dalang di balik kecelakaan yang menimpa Mala. Anak buah tuan Raymon menyaksikan saat Rafli di hadang oleh anak buah tuan Bagaskara, anak buah tuan Raymon sengaja tidak menolong Rafli, mereka memantau dari jauh dan mengikuti mobil yang membawa Rafli hingga ke gudang kosong tersebut. Setelah itu mereka menghubungi tuan Raymon dan menunggu tuan Raymon datang ke gudang tersebut.
*****
"Raf, kau dengar apa yang di ucapkan Romo, serahkan rekaman itu, kau bisa melihatnya secara langsung kenapa Romo sampai melakukan hal ini demi rekaman tersebut." Bujuk tuan Raymon karena Rafli masih teguh pada pendiriannya.
"Kalian tidak sedang membohongiku kan?" Selidik Rafli seraya menatap tuan Raymon dan tuan Bagaskara secara bergantian
"Tentu saja tidak. Di mana kau menyimpannya?" Jawab tuan Raymon.
Melawanpun tak mungkin, karena penasaran dengan isi memory card tersebut akhirnya Rafli mengalah, ia meminta celananya dan merogoh dompet dari saku celana tersebut. Di dalam dompet, Rafli menyimpan memory card itu tepat di belakang foto Lala, ia mengeluarkan memory card tersebut dan memberikannya kepada tuan Raymon.
Tuan Bagaskara lantas menyuruh Marsel untuk menyiapkan meja dan laptop, mereka akan memeriksa memory card yang mereka yakini sebagai rekaman CCTV yang mereka cari.
Setelah beberapa menit Marsel telah menyelesaikan tugasnya, layar laptop tersebut di arahkan tepat di hadapan Rafli, karena kondisi matanya yang bengkak dan tak bisa melihat dengan jelas, Rafli menarik meja tersebut agar lebih dekat, ia memicingkan matanya saat layar laptop mulai memutar rekaman yang tak terlalu jelas itu.
Flasback 15 tahun yang lalu..
Matahari mulai meninggi namum seorang gadis kecil masih terlelap di bawah selimut tebalnya. Pintu kamar gadis itu terbuka, seorang wanita muda masuk dan menghampiri tempat tidur gadis kecil tersebut.
"Mala bangun sayang, sudah siang." Ucapnya lembut seraya menyibakkan selimut hangat yang membungkus tubuh gadis kecil bernama Mala.
Mala mulai terusik, gadis kecil itu mengerjapkan matanya, ia tersenyum saat melihat wajah sang ibu tepat setelah matanya terbuka.
"Ibu." Panggilnya dengan suara serak.
"Bangun sayang, kita harus bersiap. Ibu dan ayah menyiapkan pesta ulang tahun Mala di Villa milik om Raymon."
"Benarkah, apakah Mala juga akan bertemu kak Arthur." Ujar Mala dengan gembira.
Wanita muda itu mengelus rambut putrinya penuh kasih sayang. "Tentu saja Mala akan bertemu kak Arthur di sana, untuk itu Mala harus bangun dan bersiap."
__ADS_1
Gadis itu lalu bangun dan melompat dari tempat tidurnya, ia lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan semangat. Wanita muda itu hanya terkekeh melihat tingkah putrinya.
"Apa yang membuatmu begitu senang Intan?" Tanya seorang laki-laki yang berdiri di depan kamar Mala.
"Mas Pras, aku mentertawakan putri kita, dia begitu bersemangat saat aku bilang Arthur akan datang ke pesta ulang tahunnya."
Pria bernama Pras itu menghampiti istrinya dan duduk di sebelahnya. "Mala sepertinya sangat menyukai Arthur. Tapi Intah, entah mengapa aku merasa Arthur sedikit aneh, dia tak seperti anak kecil pada umumnya."
"Mungkin hanya perasaanmu saja mas, dia besar dan tumbuh di dalam keluarga kaya raya, wajar jika dia sedikit berbeda dengan anak-anak yang lain."
"Hemm, semoga saja memang hanya perasaanku. Oh ya nanti aku juga akan membahas proyek dengan Raymon, kau tidak keberatan kan?"
"Tentu saja tidak mas."
****
Jam sepuluh pagi keluarga Mala telah tiba di puncak, Pras memarkirkan mobilnya tepat di depan Villa mewah milik keluarga Bagaskara. Tuan Raymon dan Lidya menyambut kedatangan tamu mereka dengan ramah. Lidya wanita modis yang selalu mementingkan fasion, hari ini ia tampil begitu mewah dengan gaun panjang tanpa lengan dengan aksen blink-blink yang memenuhi gaun panjangnya, terlahir dari keluarga kaya membuat Lidya mencampur adukan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam kalimat sehari-harinya.
Lidya lantas memeluk dan mencium Mala saat melihat gadis itu begitu cantik mengenakan gaun berwarna merah muda dan sebuah mahkota menghiasi kepalanya, hari ini Mala menjelma menjadi putri dari kerajaan dongeng.
Semua orang terkejut saat Arthur kecil keluar mengenakan gaun berwarna merah muda mirip dengan gaun milik Mala.
"Lidya, apa maksudmu, kenapa Arthur memakai gaun?" Tanya tuan Raymon seraya manatap tajam istrinya.
"Arthur bilang dia ingin menemani Mala tiup lilin, dia juga ingin mengenakan gaun sama seperti Mala. Bukankah begitu sayang." Ucap Lidya, tanpa orang lain sadari ia mencubit punggung putranya sehingga sang putra terpaksa mengangguk.
"I.iya dad, aku ingin menemani Mala." Ucap Arthur secara terbata.
Intan yang merasa sedikit anehpun menghampiri Arthur dan mengelus rambut paslu yang terpasang di kepala bocah berusia 12 tahun itu.
"Arthur sayang, Mala itu perempuan dan Arthur adalah laki-laki, pakaian ini hanya di pakai untuk anak perempuan, Arthur tidak cocok mengenakan gaun, bukankah Arthur akan terlihat lebih tampan jika memakai jas." Intan berusaha membujuk Arthur untuk melepaskan gaunnya, namun Lidya segera menarik tangan Arthur dengan keras.
"Biarkan saja Intan, dia itu keras kepala, lagi pula hanya hari ini, anggap saja kita merayakan ulang tahun kedua putri kita."
__ADS_1
Karena tak ingin berdebat Intan tak lagi membalas perkataan sahabatnya, mereka lalu masuk dan bersiap merayakan ulang tahun Mala yang ke 6 tahun.
Mala terlihat sangat bergembira melihat ruangan yang di dekorasi nuansa serba merah muda, puluhan balon berwana merah muda memenuhi ruangan itu serta sebuah kue ulang tahun dengan hiasan tokoh kartun terkenal tersaji di atas meja.
"Ibu, apa itu Cinderella?" Tanya Mala seraya menunjuk kue ulang tahun yang di siapkan oleh Lidya.
"Ya sayang, ayo ucapkan terimaksih kepada om dan tante."
Gadis cantik itu menurut, ia lalu menghampiri sepasang suami istri itu. "Om, tante, terimakasih karena sudah menyiapkan pesta ulang tahun untuk Mala."
Nyonya Lidya lantas berlutut agar mensejajari tinggi gadis itu. "Your wellcome princess." Jawabnya seraya memeluk gadis itu dengan erat.
Setelah itu mereka mulai merayakan ulang tahun Mala yang hanya di hadiri oleh kedua keluarga itu dan beberapa pelayan yang bekerja di Villa tersebut.
Mala dan Arthur nampak gembira saat mereka meniup lilin bersama lalu memotong kue dan menyuapi satu sama lain, meskipun Arthur terlihat sedikit kurang nyaman namun ia tetap tersenyum kepada Mala, gadis kecil yang kerap mengganggunya saat mereka bertemu.
"Mala, kakak memiliki hadiah untukmu." Ucap Arthur seraya mengeluarkan boneka Kangguru dari dalam box yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
"Boneka Kangguru? Terimakasih kak, Mala sangat menyukainya." Mala menerima boneka itu dan memeluknya dengan erat.
"Mala boneka Kangguru itu memiliki kantung, Mala bisa menyimpan permen di dalam Kangguru itu." Ucap Arthur, bocah laki-laki itu melepaskan boneka Kangguru kecil dan menunjuk kantung yang berada di depan boneka itu.
"Wah, Mala bisa makan permen tanpa sepengetahuan ibu dan ayah." Bisik Mala tepat di depan telinga Arthur.
Arthur terkekeh mendengar ucapan Mala, ia lalu menatap Mala dan tersenyum hingga menampakkan kedua lesung pipinya.
"Kak, siapa nama boneka Kangguru ini?"
Arthur nampak berfikir sejenak, matanya nampak berbinar ketika menemukan nama yang cocok untuk boneka Kangguru tersebut.
"Bagaimana dengan Ara, Arthur dan Mala. Boneka besar ini adalah kak Arthur dan boneka kecil ini adalah Mala. Kak Arthur akan selalu menjaga Mala di dalam kantungnya. Mereka akan selalu bersama dan tak akan terpisahkan."
"Ara? Wah, Mala sangat menyukainya. Kau dengar Ara, mulai hari ini namamu adalah Ara." Mala memeluk bonekanya dengan erat, kedua anak itu lalu tertawa bersama dan menikmati perayaan ulang tahun tersebut.
__ADS_1
BERSAMBUNG..