My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 144 Tetap jadi gadis baik


__ADS_3

Setelah menghadiri pemakaman pak Karto, Mala kembali ke apartemen bersama pakde Karto, keduanya nampak berduka, namun pakde Kartolah yang terlihat begitu sedih dengan kepergian pak Karto, entah apa yang ada di dalam fikiran pria itu, setibanya di dalam apartemen ia langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


Karena lelah, Mala masuk ke dalam kamar Arthur, ia berniat untuk membersihkan tubuhnya yang sangat lengket. Beberapa saat kemudian Mala keluar dari kamar mandi, tubuhnya terlihat lebih segar dari sebelumnya. Mala merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia memejamkan matanya sejenak, namun tiba-tiba kerinduannya akan Arthur menyeruak memenuhi relung hatinya, detik selanjutnya suara isak tangis terdengar dari bibir mungilnya.


"Aku sangat merindukanmu, aku mohon kembalilah." Ucapnya tergugu, ia tak bisa menahan air matanya lagi, hatinya begitu sesak mengingat beberapa bulan ini ia tak bisa bersama dengan Arthur.


Isak tangisnya terjeda saat suara gaduh terdengar dari luar, ia buru-buru menghapus air matanya, beranjak dari rebahannya dan keluar kamar untuk memeriksa apa yang terjadi.


Mala begitu panik melihat pakde Karto mengeluarkan semua jangkrik peliharaannya, begitupun dengan kandang dan beberapa bungkusan pakan jangkrik telah berada di luar kamarnya. Mala segera menghampiri pakde Karto dan hendak menyanyakan apa yang sedang pria itu lakukan.


"Pakde, mau di apakan semua jangkrik-jangkrik ini?" Mala menunjuk box transparan yang berisikan jangkrik.


"Mau pakde kasih ke temen, pakde sudah tidak sanggup merawatnya lagi." Jawabnya seraya mengeluarkan kandang terbesar yang berada di dalam kamarnya.


Mala tak bisa berbuat apapun, ia hanya mengamati pakde Karto yang sibuk mengemas jangkrik dan segala kebutuhan jangkriknya.


"Nduk, bisa antar pakde tidak?"


"Kemana pakde?"


"Ke tempat adu jangkrik."


Mala menagngguk, ia lalu kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian, setelah siap ia kembali keluar dan menghampiri pakde, keduanya lalu sibuk mengeluarkan kandang jangkrik dan memasukannya ke dalam mobil.


Keduanya sudah berada di dalam mobil, Mala melajukan mobilnya dengan hati-hati, sementara pakde Karto memilih diam dan menatap keluar jendela..Hampir satu jam lamanya, akhirnya mereka tiba di area adu jangkrik, di tempat Mala biasa memarkirkan mobilnya kedua teman pakde Karto sudah menunggunya di sana, pakde Karto segera keluar menyapa teman-temannya.


Mala lalu menyusul pakde turun, ia menghampiri pakde Karto dan teman-temannya.


"Duh, kita udah nggak bisa lihat anak cantik ini lagi." Ucap salah seorang teman pakde Karto.


"Iya nih, kenapa si pakde tiba-tiba mau berhenti main jangkrik." Sahut yang lainnya.

__ADS_1


"Saya sudah capek, mau istirahat. Oh ya jangkriknya sudah saya bawa, tolong di rawat ya."


Pakde lalu kembali ke mobil dan mengeluarkan jangkrik dan perintilannya yang lain, jangkriknya itu lalu ia serahkan kepada dua temannya.


"Terimakasih pakde, kalau sudah tidak cape, mainlah kesini, kita adu jangkrik lagi."


"Yo pastine."


Setelah berpamitan dengan kedua temannya, pakde Karto dan Mala meninggalkan tempat itu. Di dalam mobil pakde Karto kembali diam, ia kembali menatap keluar jendela, tanpa di sadari oleh Mala, ia mulai menetekan air matanya. Bukan hal mudah memang, ketika pakde Karto harus melepaskan satu-satunya hal yang ia sukai, namun ketika ia melihat pak Karto wafat, ia seolah menyaksikan dirinya sendiri masuk ke dalam tanah liat, ia merasa jika ia telah mati bersama pak Karto, lelaki tua yang baru si temuinya hari ini.


Setelah beberapa saat, pakde melakukan pergerakan, ia merubah posisi duduknya dan sedikit menghadap Mala.


"Cah ayu." Panggilnya lembut.


"Ya pakde." Jawab Mala tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Tetap jadi gadis baik dan penyayang, jangan pernah berubah meskipun tertekan keadaan..Mengerti cah ayu."


Dari sudut matanya Mala bisa melihat senyuman pakde Karto meski hanya sekilas, lalu pria itu kembali menatap keluar jendela, matanya terpejam, ia tertidur hingga keduanya tiba di apartemen.


"Pakde bangun, kita sudah sampai."


"Pakde."Mala kembali membangunkannya, kini di sertai guncangan di kedua pundak pria itu.


Pakde Karto mulai membuka matanya, ia mengucek kedua matanya sekilas, lalu menoleh ke arah Mala dan menatapnya seraya tersenyum. Mala membuang nafas kasar, senyuman yang terukir di wajah tampan pria kesayangannya itu membuatnya merasa jengah.


"Kamu lagi, muak sekali aku melihat senyum mesyummu." Tukas Mala, gadis itu memutar bola matanya malas, entah mengapa ia begitu membenci Petra, kepribadian yang kini tengah nenatapnya seolah ia ayam goreng ka-ef-ci yang sedap untuk di makan.


"Aku heran kenapa kau begitu membenciku." Sahut Petra seraya tersenyum miring.


"Aku tidak benci, tapi tidak suka."

__ADS_1


"Artinya sama saja, kau membenciku, iyakan?" Jawab Petra seraya menaikkan turunkan kedua alisnya.


"Bagusdeh kalau kamu tau, jadi aku mohon tinggalkan tubuh Arthur, relakan hidupmu untuk Arthur." Ucap Mala monohok, perkataannya sungguh melukai hati Petra meskipun bibirnya tersenyum mendengar perkataan Mala.


Mala melepaskan sabung pengamannya, ia kekuar dari mobil dan meninghalkan Petra yang masih berada dk dalam mobil.


"Sebenci itukan kau padaku, padahal hanya kau yang aku punya di sini." Ucapnya dalam hati. Ia lalu keluar dari mobil dan menyusul Mala ke lantai teratas apartemen mewah itu.


Mala tiba di dalam apartemen, ia meleparkan tubuhnya ke atas sofa yang berada di ruangan yang berada di depan kamar Arthur, ia memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya membukanya lagi saat pintu apartemen kembali terbuka.


Petra berjalan mendekati Mala, ia duduk di sofa yang Mala tempati, pria itu menagngkat kaki Mala dan meletakkannya di atas pangkuannya.


"Apa yang kau lakukan Petra?" Mala berusaha menarik kakinya, namun tangan Petra menahan kakinya dengan kuat


"Jawab dulu pertanyaanku, aku ingin tau kenapa kau sangat membenciku?"


"Karan kau mesum, kau hidup bebas, merokok, minum alkohol, dan semua itu membuatku muak." Terang Mala.


"Kalau aku meninggalkan semua itu, apakah kau akan menyukaiku?"


"Tidak, cinta dan sayangku hanya untuk Arthur, tidak untuk yang lain."


Mala segera menarik kakinya, ia beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamar Arthur. Langkahnya tiba-tiba berhenti, ia memikirkan sebuah cara yang mungkin bisa memancing Arthur untuk keluar. Mala berbalik ia, ia kembali berjalan ke arah Petra membuat sang pria berdiri dari duduknya.


"Coba kita lihat seberapa besar kau mencintaiku." Ucap Mala seraya tersenyum.


Jarak mereka semakin dekat, tanpa aba-aba Mala menangkup kedua pipi Petra, entah kegilaan macam apa, gadis itu segera mengecup bibir Petra, benda kenyal itu saling menempel untuk sesaat. Petra membelalakan matanya, meskipun ia kerap berciuman dengan gadis-gadis yang di sewanya namun kali ini ciuman dari Mala terasa berbeda, darahnya berdesir seketika, jantungnya terasa akan melompat keluar, keringat dingin kini menjalar di sekujur tubuhnya.


Mala melepaskan ciuman singkatnya, ia menggigit bibir bawahnya dan berniat untuk berlari masuk ke kamarnya, namun sayang, Petra lebih dulu meraih pergelangan tangannya dan menariknya dengan keras, gadis itu limbung dan terjerembab di dalam pelukan Petra.


"Lakukan lagi."

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2