
Setibanya di apartemen mereka segera masuk ke dalam, setelah pintu tertutup Arthur kembali menyerang Mala, ia menangkup kedua pipi Mala dan mulai mengecup bibirnya, detik berikutnya kecupan tersebut berubah menjadi luma*tan yang lembut, lidah mereka kembali bertaut dan suara decapan menggema di dalam apartemen.
Arthur mengangkat tubuh Mala tanpa melepaskan ciumannya, sang gadis spontan mengaitkan kedua kakinya di pinggang Arthur agar tak terjatuh. Arthur membawa Mala ke dalam kamarnya, ia duduk di tepi ranjang dengan posisi Mala berada di atas pangkuannya. Ciuman Arthur mulai berpindah ke leher Mala, gigitan-gigitan kecil Arthur berikan di leher jengjang Mala. Tanpa Mala sadari, dari mulutnya mulai terdengar ******* yang membuat gelora Arthur semakin terbakar. Namun Arthur segera melepaskan ciumannya, kening mereka saling bertemu dan deruan nafas menyapu wajah masing-masing.
"Maaf." Ucap Arthur lembut, ia mengecup kening Mala lalu memeluknya.
"Marry me Mala." Lamaran itu kembali mengalun indah dari mulut Arthur.
Mala menatap Arthur dalam, kedua tangannya masih melingkar di leher Arthur, ia bisa melihat sebuah ketulusan dari mata Arthur. Salahkan dia yang tidak konsisten, pendiriannya untuk menerima Arthur setelah masalah selesai mulai goyah. Ia selalu terhipnotis manakala menatap netra bening Arthur yang terlihat tenang namun menghanyutkan.
"Apakah aku benar mencintainya, sama seperti aku mencintai Rey? Tapi bukankah mereka adalah orang yang sama. Aku nyaman setiap kali bersama Rey, aku tertawa setiap kali bersama pakde Karto, dan miss Kimberly, meskipun aneh namun ia selalu bisa memberikan nasihat untukku, mungkin hanya Petra yang belum membuatku terbiasa. Haruskan aku menerima lamarannya, aku benar-benar lelah jika harus hidup seorang diri, tapi bagaimana dengan kuliahku?" Batin Mala, hati dan fikirannya mulai tak sejalan.
"Bagaimana dengan kuliah saya?" Tanya Mala setelah sekian lama diam.
Arthur menyematkan rambut Mala ke belakang telinganya dan tersenyum. "Kamu bisa melanjutkan kuliah, aku juga tidak akan melarangmu untuk bekerja." Ucapnya dengan tulus.
"Saya miskin dan tidak memiliki keluarga, apa anda yakin akan menikahi saya, apa kata orang-orang nanti jika mereka tau anda menikahi karyawan sendiri." Ucap Mala sedih, ia menunduk dan tanpa sadar ia mulai menitikan air matanya, perbedaan kasta membuatnya kembali ragu untuk menerima lamaran Arthur, ia sadar diri akan posisinya, gadis miskin dan yatim piatu sepertinya apakah boleh seserakah ini, mengharapkan seorang Arthur Bagaskara untuk menjadi suaminya.
Arthur mengangkat kepala Mala dan menyeka air matanya. "Lihat aku." Seru Arthur dan gadis itu kembali menatapnya.
"Di dunia ini semua sama, tidak ada orang miskin, hanya ada orang yang tidak bersyukur dengan kehidupannya. Lihatlah aku, apa gunanya kaya jika aku memiliki penyakit yang mengerikan. Aku mengajakmu menikah karena aku yakin, bahwa aku mencintaimu."
"Lalu bagaimana dengan Tuan Raymon, sepertinya beliau tak menyukai saya." Mala kembali merasa khawatir, keraguan belum hilang dalam hatinya.
"Tak perlu mencemaskan pria tua itu, aku akan membuatnya setuju dengan pernikahan kita..Jadi bagaimana, apa kamu akan menikahi aku?"
"Beri saya waktu sedikit lagi." Ucap Mala pelan, ia bangkit dari pangkuan Arthur dan berdiri sejenak.. "Istirahatlah, besok kita harus ke puncak pagi-pagi, selamat malam." Lanjut Mala lalu ia keluar dari kamar Arthur dan masuk ke dalam kamarnya.
Arthur merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, matanya terpejam namun fikirannya menjalar kemana-mana. "Kenapa susah sekali memilikimu." Gumamnya pelan.
****
Pagi hari Arthur bangun lebih cepat bahkan sebelum Mala bangun, setelah mencuci muka dan gosok gigi ia pergi ke dapur dan berniat membuatkan sarapan untuk Mala, ia ingin membuat gadisnya takjub dan segera menerima lamarannya.
Setibanya di dapur Arthur malah kebingungan, apa yang akan dia buat, 28 tahun hidup dia bahkan belum pernah merebus air untuk sekedar menyeduh kopi. Arthur mengamati sekeliling, senyum menggembang di wajahnya saat menemukan roti tawar di atas meja makan. Ia mengambil roti itu dan berniat untuk memanggangnya untuk Mala.
"Bagaimana cara memakainya?" Ucap Arthur pada dirinya sendiri, ia membolak-balik alat pemanggang roti karena tidak tau cara menggunakannya. Mungkin selama ini toasternya hanya di jadikan sebagai penghias dapur.
Arthur kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel, ia berjalan sambil membuka Y**outube untuk mencari tau cara menggunakan toater. Arthur mulai memutar vidio tutorial yang ia cari, ia manggut-manggut sambil menonton vidio itu sampai habis.
"Mudah sekali." Ucapnya penuh percaya diri.
Arthur mengeluarkan dua lembar roti tawar dari dalam bungkusnya, lalu ia memasukannya ke dalam alat pemanggang, ia menekan salah satu tombol sehingga rotinya masuk sempurna ke dalam toaster. Setelah itu Arthur memutar timer dan roti siap di panggang.
Satu menit, dua menit, lima menit kemudian rotinya tak kunjung matang. Arthur mendegus kesal saat melihat alat tersebut belum ia hubungkan ke listrik.
__ADS_1
"Bodoh sekali."
Setelah kabelnya di colokkan, Arthur kembali mencoba untuk memanggang roti untuk Mala.
Tinggg...
Dua lembar roti tawar keluar dari dalam toaster, Arthur segera mengambilnya, namun lagi-lagi ia mendegus kesal karena kedua rotinya gosong, ia menyetel waktu terlalu lama .
Arthur melempar roti gosong itu ke sembarang arah, ia mengambil dua lembar roti lagi dan memanggangnya lagi, namun sampai di percobaan ketiga rotinya tetap saja gosong.
"Ini yang terakhir, kalau aku gagal aku akan melemparmu ke tong sampah." Ucapnya sambil menunjuk alat toaster yang tidak bersalah sama sekali.
Tiiingg...
Arthur mengulas senyum saat rotinya matang sempurna, ia mengelus alat toasternya dan batal untuk membuangnya.
Dari dalam kamar Mala mulai mencium aroma yang tidak enak di hidungnya, ia segera bangun dan pergi ke dapur, Mala khawatir jika ia lupa mematikan kompor semalam.
Mala terpaku, ia mematung melihat dapurnya super berantakan, belum lagi roti tawar hangus yang tergeletak dimana-mana membuat Mala menepuk keningnya sendiri.
"Apa yang terjadi, kenapa dapurnya berantakan begini?" Tanya Mala sambil memunguti tori tawar hangus yang tercecer di lantai.
"Aku membuat sarapan untukmu."Ucap Arthur bangga, ia menyodorkan piring berisi dua lembar roti panggang.
Mala mengulas senyum, ia menerima piring tersebut mengamati dua roti panggang yang matang sempurna.
Mala mengambil satu lembar roti tersebut dan memasukannya ke dalam mulut, ia mengunyahnya dengan pelan.
"Bagaimana, enak tidak?" Tanya Arthur penuh semangat.
Mala tidak menjawab, ia hanya mengacungkan jempolnya ke arah Arthur.
"Cobalah." Mala memberikan satu lembar roti yang tersisa kepada Arthur.
Arthur menerima roti tersebut dan segera memakannya, akhirnya mereka berdua sarapan selembar roti panggang sambil berdiri.
******
Pukul delapan pagi keduanya sudah siap untuk pergi ke puncak, sesuai janjinya Arthur akan mebantu Mala mencari tau apakah benar jika mereka saling mengenal sejak kecil, mereka juga akan menyelidiki tetang kasus kebakaran yang kemungkinan besar di sengaja.
Arthur mengendarai mobilnya dengan pelan, dalam hatinya sungguh ia belum siap untuk datang lagi ke tempat itu, meskipun Arthur melupakan kebakaran tersebut, namun tetap saja tempat itu menyimpan kenangan menyakitkan untuk Arthur. Fisiknya mungkin lupa, tapi tidak dengan psikisnya.
Setelah hampir dua jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di puncak, Arthur menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang Villa mewah miliknya. Mala menoleh ke arah Arthur, dia dapat melihat dengan jelas rasa takut di wajah Arthur, namun Mala tetap harus memaksanya untuk masuk, selain untuk mencari jawaban mengenai masa lalu mereka, Mala juga berniat membantu Arthur menghilangkan trauma masa kecilnya.
"Anda baik-baik saja, apa kita pulang saja?" Ucap Mala karena tak tega melihat wajah pucat Arthur.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, ayo kita masuk."
Arthur kembali menyalakan mobilnya, petugas keamanan yang mengetahui kedatangan Arthur segera membukakan pintu gerbang, dengan perasaan yang tak bisa di gambarkan akhirnya Arthur masuk ke area Villa.
Mobil Arthur sudah berhenti di depan sebuah Villa mewah, di sisi kanan Villa tersebut terdapat sebuah kolam renang yang cukup besar, sedangkan di sisi lainnya ada bangunan kecil tempat para penjaga beriatirahat.
Mala keluar dari dalam mobil, matanya mengamati bangunan dua lantai dengan nuansa clasik dan di dominasi dengan cat berwarna putih. Dari kejauhan Mala melihat seorang wanita tua tengah datang menghampirinya.
"Selamat datang nyonya." Sapa wanita tua tersebut. "Saya Bi Narti, saya yang bertugas membersihkan Villa ini." Wanita tua itu memperkenalkan dirinya.
"Saya Mala bi, panggil saja Mala, saya Asisten tuan Arthur." Mala memperkenalkan dirinya, ia tak ingin di panggil nyonya seperti sebelumnya.
Kedua wanita itu menoleh bersamaan saat mendengar suara pintu mobil tertutup, setelah cukup lama di dalam mobil akhirnya Arthur memberanikan diri untuk keluar dan bergabung bersama Mala.
"Apakah ini tuan muda?" Ucap bi Narti sambil mengamati Arthur.
"Iya, anda mengenal saya?" Jawab Arthur dengan suara datar.
"Tentu saja tuan, tuan muda sering sekali kesini saat kecil dulu, tapi semenjak kejadian itu tuan muda tak pernah datang lagi." Ucap bi Narti sedih.
"Jadi bibi sudah bekerja di sini dari sebelum kebakaran itu terjadi?"Sela Mala.
"Iya non, bibi bekerja di sini jauh sebelum kebakaran itu terjadi." Terang bi Narti.
"Apa bibi tau siapa saja yang ada di Villa ini saat kebakaran terjadi?" Tanya Mala lagi, ia sungguh tak sabar untuk mencari kebenarannya.
"Silahkan masuk dulu tuan, kita bicarakan ini di dalam."
Bi Narti berjalan menuju pintu utama Villa tersebut, Mala melihat keraguan di wajah Arthur, dengan segera ia meraih tangan Arthur dan menggandengnya masuk ke dalam Villa mengikuti bi Narti.
Arthur melirik tangannya yang kini berada di genggaman tangan Mala, ketakutannya sedikit menghilang, Mala benar-benar penawar bagi semua rasa sakitnya.
Keduanya kini duduk bersebelahan di sebuah sofa, sementara bi Narti pergi ke dapur untuk mengambilkan mereka minum. Beberapa menit kemudian bi Narti datang membawa nampan berisi dua gelas air putih dan dua gelas orange jus.
"Duduklah bi." Perintah Arthur, bi Narti menganggung dan berniat duduk di lantai.
"Duduk di sofa, di lantai sangat dingin." Larang Arthur.
"Bisakah bibi ceritakan apa yang terjadi?"
****
Sementara di luar Villa, sebuah mobil berhenti tak jauh dari Villa itu.
"Tuan muda datang ke Villa dengan seorang gadis tuan." Ucap seseorang yang berada di dalam mobil itu.
__ADS_1
"Lakukan apapun agar mereka pergi dari Villa itu. Buat gadis itu pergi jauh dari hidup Arthur." Jawab seseorang dari seberang telefon.
BERSAMBUNG...