My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 41 Mama Wulan


__ADS_3

Dirumah utama mama Wulan sedang menyiapkan bekal makan siang untuk Arthur dan juga untuk suaminya, rencananya siang ini dia akan mengunjungi kantor suaminya dan juga kantor putra sambungnya.


Sebelum berangkat mama Wulan terlebih dahulu menghubungi Arthur agar putranya tidak makan diluar karena dia sudah menyiapkan makan siang kesukaannya. Beberapa kali mama Wulan menghubungi Arthur namun tak mendapat jawaban darinya, akhirnya mama Wulan memutuskan untuk menghubungi Rafli.


"Selamat pagi nyonya, ada yang bisa saya bantu." Sapa Rafli begitu telefon mereka tersambung.


"Pagi Raf, begini tante mau ke Art Life tapi dari tadi Arthur tidak bisa dihubungi, apa dia sibuk?" Ucap mama Wulan, dia selalu menekankan kepada Rafli untuk memanggilnya tante, namun Rafli enggan dan terus memanggilnya nyonya.


"Tuan Arthur ada diapartemennya nyonya, pagi ini dia kurang sehat." Jawab Rafli.


"Oh ya, baiklah kalau begitu, lebih baik tante ke apartemennya saja."


Mama Wulan memutus sambungan telefon mereka, dia segera bersiap untuk ke kantor suaminya baru setelah itu pergi mengunjungi Arthur.


"Mau kemana kamu Wulan?" Tanya oma Lusi begitu melihat mama Wulan sudah berpakaian rapi dan menjinjing dua tas bekal.


"Ke kantor mas Raymon ma." Jawab mama Wulan.


"Kenapa bawa dua bekal?"


"Yang ini untuk Arthur, aku akan mampir ketempatnya juga." Ucap Mama Wulan seraya mengangkat salah satu tas bekalnya.


"Sekalian bujuk dia untuk menikahi gadis itu, mama yakin Raymon tidak setuju dengan mereka, kita harus menggunakan kesempatan ini untuk menjauhkan hubungan Raymon dan Arthur sehingga Raymon akan berubah fikiran dan Lea bisa menggantikan Arthur untuk memimpin Bagaskara Group." Oceh oma Lusi.


"Ma, Wulan sudah bilang berulang kali, Bagaskara Group itu milik Arthur, kita tidak boleh serakah, Wulan cukup bersyukur kita bisa hidup mewah seperti ini, lagipula Lea masih kecil." Balas mama Wulan, dia tak suka dengan pemikiran serakah oma Lusi.


"Lea kan juga anak Raymon, dia juga berhak atas Bagaskara Group, minimal Lea mendapatkan setengahnya." Lanjut oma Lusi, dia masih belum menyerah.


"Bagaskara Group adalah milik Arthur dan sudah sepantasnya Arthur yang melanjutkan kepemimpinannya. Sudah cukup ma, Wulan tidak mau mendengar apapun lagi, Wulan pergi sekarang." Tegas mama Wulan lalu dia meninggalkan oma Lusi yang terlihat geram mendengar jawabanya.

__ADS_1


Mama Wulan masuk kedalam mobil, dia diantarkan oleh supir pribadinya menuju kantor suaminya. Beberapa menit kemudian dia tiba digedung Bagaskara Group, para karyawan yang berpapasan dengannya membungkukkan tubuh mereka kepada nyonya besar Bagaskara Group, Mama Wulan tersenyum lebar membalas sapaan dari karyawan suaminya, dia segera naik untuk mengantarkan makan siang suaminya.


Sesampainya didepan ruangan sang suami, mama Wulan segera disambut oleh sekertaris suaminya, menurut sekertaris itu Tuan Raymon sedang meeting dan tidak bisa diganggu. Akhirnya mama Wulan pergi dan menitipkan bekal makan siang kepada sekertaris suaminya.


Mama Wulan melihat jam ditangannya, masih jam setengah 11 siang, dia berfikir untuk membeli beberapa sayur dan kebutuhan dapur lainnya. "Mala kan juga suka memasak, lebih baik aku belanja dulu, mereka pasti sibuk dan tidak sempat belanja." Gumam mama Wulan.


Sesampainya diapartemen Arthur, mama Wulan dibantu oleh supirnya membawa kantong belanjaan yang hampir semuanya berisi sayur, lauk segar dan buah-buahan.


"Terimaksih pak." Ucap mama Wulan begitu mereka sampai didepan pintu apartemen Arthur. Supir itu hanya mengangguk lalu pergi. Mama Wulan segera menekan bel, dia tidak boleh sembarangan masuk sekarang karena ada Mala yang juga tinggal di apartemen Arthur.


Mendengar bel berbunyi, Mala beranjak dari sofa dan membuka pintu, dia terkejut begitu melihat mama Wulan berada didepan pintu, wajahnya memucat saat mengingat Arthur tengah menjelma menjadi miss Kimberly.


"Mama." Ucap Mala gugup.


"Apa kamu juga sakit, kenapa wajahmu pucat sekali sayang?" Tanya mama Wulan seraya memegang wajah Mala.


"Mala tidak papa ma.."


"Masuk?" Pekik Mala, dia bingung, bagaimana caranya agar mama Wulan tidak masuk kedalam apartemennya.


"Ya, bawa ini masuk kedalam, tadi mama belanja sayuran untuk kalian."


"Tapi ma, mmm.. begini ma.. mmm.." Mala semakin gugup, dia bahkan menjadi gagap sekarang.


"Siapa yang datang La." Tanya miss Kimberly dari dalam kamarnya dan membuat Mala semakin gugup, keringat dingin kini membasahi tubuhnya.


Tanpa Mala sadari rupanya miss Kimberly sudah keluar dari kamarnya dan sekarang berdiri dibelakangnya.


"Oh My Gosh, jeng Wulan. How are you? " Ucap miss Kimberly, lalu dia melewati Mala dan segera memeluk mama Wulan.

__ADS_1


Mala tercekat, dia tidak bisa berkata-kata menyaksikan miss Kimberly yang sedang memeluk mama Wulan. "Habis sudah riwayatku." Batin Mala seraya memukul kepalanya.


"Aku baik, miss Kimberly apa kabar?" Jawab mama Wulan dan membuat Mala semakin terkejut.


"I'm okay." Balas miss Kimberly lalu dia menarik tangan mama Wulan untuk masuk, mereka berdua melewati Mala yang masih mematung didepan pintu.


Mala segera mengembalikan kesadarannya, dia mengambil kantong belanjaan yang tergeletak dilantai dan segera membawanya masuk kedalam apartemen.


Setelah menaruh kantong belanjaan didapur, Mala bergegas menghampiri mama Wulan dan Miss Kimberly yang tengah duduk disofa. Menyadari kedatangan Mala mereka berdua menoleh dan tersenyum kepada Mala.


"Duduk sini sayang." Ucap mama Wulan seraya menepuk sofa. Mala menurut, gadis itu duduk disebelah mama Wulan dan memperhatikan mama Wulan dan miss Kimberly yang kembali berbincang, mereka terlihat begitu akrab.


"Kenapa Mala diam saja?" Tanya mama Wulan.


"Mama sudah tau?" Bukannya menjawab, Mala malah balik bertanya kepada mama Wulan.


"Ya."


"Sejak kapan ma?"


"Mungkin 3 atau 4 tahun yang lalu." Jawab mama Wulan, matanya menerawang jauh, mungkin dia sedang mengingat-ingat waktu pertama dia mengetahui penyakit Arthur. "Mala juga tau tentang ini?" Tanya mama Wulan, dia menatap Mala penuh tanya.


Mala hanya mengangguk.


Mama Wulan meraih tangan Mala dan menggenggamnya, dia menatap Mala sendu, matanya mulai berkaca-kaca.


"Terimakasih karena Mala tetap menerima Arthur meskipun Mala tau kondisi Arthur." Ungkap mama Wulan.


Mala hanya diam, dia merasa bersalah kepada mama Wulan, dia tetap berada disamping Arthur bukan karena menyayanginya namun karena dia membutuhkan uang, saat ini Mala merasa seperti seorang penjahat, dia memanfaatkan kondisi Arthur demi keuntungannya sendiri.

__ADS_1


"Maafkan saya nyonya, maafkan saya tuan Arthur."


BERSAMBUNG..


__ADS_2