
Arthur pulang ke rumah utama dengan di temani Mala, pria berlesung pipi itu tak menampakan senyumnya sedikitpun, wajah tampannya di selimuti amarah. Emosi yang di tahannya sejak di Rumah Sakit hampir meledak.
Setengah berlari Mala mengikuti langkah kekasihnya, ia tau amarah Arthur dan khawatir jika Arthur tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Arthur masuk ke dalam rumah utama dengan wajah memerah, di dalam ruang keluarga ia melihat semua anggota keluarganya tengah berkumpul. Namun hanya satu orang yang menarik perhatian Arthur, pria yang berdiri tepat di belakang Opanya. Arthur segera mengahampiri pria yang tak lain adalah Marsel, ia segera melayangkan tinju ke wajah Marsel dan membuat Marsel terkapar di lantai. Arthur masih belum puas menghajar Marsel, ia berjongkok di atas perut Marsel dan menghajar pria yang sudah menyakiti kekasihnya secara membabi buta.
Semua orang nampak panik, Mala dan mama Wulan berusaha untuk menghentikan Arthur, namun tuan Bagaskara justru menghalangi mereka.
"Biarkan saja, biarkan dia melampiaskan amarahnya." Ucap tuan Bagaskara dengan wajah tenang, seolah perkelahian adalah hal yang biasa bagi kekek tua itu.
Seketika mama Wulan dan Mala menoleh ke arah pria tua yang duduk di kursi roda itu, mereka menatap tuan Bagaskara bersamaan, sungguh orangtua yang tak berperasaan, begitulah yang kini berada di dalam benak mama Wulan dan Mala.
"Hentikan Arthur." Seru tuan Raymon, ia tak ingin membiarkan anaknya sampai membunuh orang lain.
Arthur berhenti sejenak, ia menatap wajah Marsel yang kini sudah babak belur, darah segar keluar dari hidung dan mulutnya. Arthur berdiri, ia juga menarik kerah Marsel, namun karena terlalu lemah pria itu merangkak bak seekor anjing yang di tarik paksa oleh majikannya. Arthur menghempaskan tubuh Marsel ke lantai dan pria itu tersungkur tepat di bawah kaki Mala.
"Minta maaf padanya atau aku akan membunuhmu." Ancam Arthur.
"Cepat." Bentaknya karena tak ada pergerakan sedikitpun dan Marsel.
"Aku bilang cepat." Arthur kembali menendang perut Marsel. Ia hampir saja memukul Marsel lagi jika Mala tak menghentikannya.
"Hentikan." Teriak Mala dengan mata berkaca-kaca.
"Cukup, aku mohon hentikan." Pinta Mala seraya menatap kekasihnya.
Arthur membalas tatapan Mala, kedua netra mereka saling bertemu, bayangan akan penderitaan Mala saat di Rumah Sakit membuat Arthur tak bisa menahan amarahnya. "Dia yang sudah membuatmu celaka, setidaknya aku harus membuatnya merasakan sakit yang sama seperti yang kamu rasakan."
"Aku tidak ingin kamu menjadi seperti dia, biarkan polisi yang memberi hukuman kepadanya." Ujar Mala, ia menghampiri Arthur dan memegang telapak tangan Arthur dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Polisi. Haha. kau tak tau siapa yang melindungi pria itu? Marsel tidak akan pernah di hukum karena tuan Bahaskara berada di belakangnya, untuk itu aku yang harus menghukumnya." Arthur menatap Opanya dengan penuh kebencian.
"Aku mohon jangan lakukan itu, terserah polisi akan menghukumnya atau tidak asalkan bukan kamu yang melakukannya, aku tidak mau tangan ini menyakiti orang lain." Pinta Mala dengan wajah berlinang air mata, sungguh ia tak ingin Arthur melakukan kekerasan hanya demi melindunginya.
"Gadis yang baik." Celetuk tuan Bagaskara, ia memutar kursi rodanya dan menghampiri Mala yang berdiri di samping Arthur.
"Semuanya adalah kesalahan Opa, pria tua ini terlalu menyayangi cucunya. Mala, dengan sepenuh hati Opa mohon maaf karena anak buah Opa telah melukaimu, Opa hanya ingin menakutimu, Opa sungguh tidak menyangka jika Marsel justru hampir membunuhmu." Ujar tuan Bagaskara seraya memegang tangan Mala, gadis itu masih membisu, sementara Marsel sedikit mengangkat kepalanya dan menatap tuan Bagaskara, amarah nampak jelas dari sorot matanya. Bagimana tidak, jelas-jelas dia di jadikan kambing hitam atas segala perbuatan kakek tua itu.
"Kau boleh menghukum laki-laki tua ini, aku akan menebus kesalahanku, lagi pula hidupku sudah tak lama lagi."
Mala menoleh ke arah tuan Bagaskara dan sedikit menundukkan kepalanya, ia sedikit simpati melihat wajah pucat tuan Bagaskara. "Apa anda sakit?" Tanyanya dengan polos.
"Iya nak, Opa mengidap kanker, hidup Opa sudah tak lama lagi, sebelum Opa pergi Opa ingin memohon pengampunanmu atas kecelakaan waktu itu."
"Apa saya boleh tau alasannya kenapa anda ingin mencelakai saya?"
"Saat menerima informasi kalian pergi ke Villa, Opa panik, Opa khawatir jika Arthur akan mengingat kebakaran itu lagi. Opa gelap mata dan mengira jika kamu yang menyuruh Arthur untuk menyelidiki tentang kebakaran itu, Opa hanya ingin menakutimu tapi malah pria bodoh itu hampir membunuhmu."Tuan Bagaskara melayangan tatapan hina kepada Marsel, pria yang masih tersungkur di lantai.
"Tentu saja nak, siapa yang berani membakar Villa milik keluarga Bagaskara, menurut pihak kepolisian kebakaran terjadi karena konsleting listrik."
"Lalu kenapa hanya mamy Lidya dan kedua orangtua saya yang meninggal?" Cecar Mala.
Tuan Bagaskara terlihat resah, namun detik berikutnya ia bisa menutupi kecemasannya. "Mereka sedang membahas pekerjaan, sementara kalian bermain di dekat kolam renang, Opa dan Raymon mengawasi kalian bermain dari ruangan lain."
"Benarkah demikian tuan Raymon?" Mala kini menatap calon mertuanya dengan berani.
"Ten. tu,, tentu saja benar." Sahut tuan Raymon dengan gugup.
"Baiklah kalau begitu saya akan mempercayai ucapan kalian."
__ADS_1
Semua orang menatap Mala, termasuk Arthur ia tak percaya Mala akan percaya begitu saja.
"Apa maksudmu?" Tanya Arthur seraya memegang kedua bahu Mala.
"Sayang, bukankah kita sudah berjanji untuk melupakan masa lalu, jadi untuk apa kita mengorek lagi luka lama itu, mungkin saja Tuhan memang sengaja mengahapus kenangan buruk itu dari memori kita."
"Jadi kau memaafkan Opa nak?" Sela Tuan Bagaskara.
"Ya, demi Arthur." Ujar Mala.
"Kau memang gadis yang sangat baik, Intan dan Pras pasti sangat bahagia memiliki putri yang sangat baik hati. Opa juga bersyukur Arthur memiliki calon istri sepertimu. Semoga Opa bisa melihat kalian menikah."
Arthur menarik tangan Mala dan membawa gadis itu keluar dari rumah tanpa berkata apapun, ia berhenti tepat di depan mobilnya.. "Kau tidak boleh memaafkan mereka semudah itu, nyawamu hampir melayang karena kakek tua itu."
"Aku tau, tapi kakekmu melakukan semua ini demi melindungimu, kami semua tau penderitaanmu, jadi aku memaafkan kakekmu."
"Apa kau sungguh manusia? Kau bukan malaikat yang sedang menyamar kan?" Telisik Arthur seraya mengguncang tubuh kekasihnya dengan lembut.
"Sebenarnya aku memang bidadari yang terdampar di bumi ini dan tidak sengaja bertemu denganmu."
Arthur tersenyum mendengar candaan Mala, ia lantas merengkuh tubuh Mala ke dalam pelukannya, ia sungguh beruntung memiliki Mala yang sangat baik hati ini. "Baiklah kalau itu keputusanmu, mari tinggalkan masa lalu dan menata masa depan bersama. Aku sudah tak sabar ingin segera menikah denganmu." Bisik Arthur, ia semakin erat memeluk kekasihnya.
"Kalau begitu ayo menikah."
Arthur melepaskan pelukannya, ia memegangi kedua bahu Mala seraya menatapnya. "Kau serius, kau tidak sedang bercanda kan?" Tanya Arthur tak percaya.
"Aku serius, mari menikah sebelum aku kembali ke kampus."
Arthur tak bisa berkata-kata, wajah masamnya kini di penuhi kebahagiaan hingga kedua lesung pipinya mencuat keluar. Saking bahagianya Arthur mengangkat tubuh Mala dan berputar, ia tak percaya akhirnya Mala mengajaknya untuk menikah.
__ADS_1
"Terimakasih, aku sangat mencintaimu."
BERSAMBUNG....