
**Hayy hallo, apa kabar semuanya? Semoga kalian semua baik ya..
Setelah bertapa hampir sepuluh hari di gunung akhirnya aku bisa melanjutkan ceritaku yang nggak jelas ini, semoga kalian nggak lupa sama alurnya yak ..
udah ah, kepanjangan,, langsung aja..
eh, wait wait, jangan lupa buat like, komentar, gift serta vote ( Maksa ).. xixixix..
cekidot**...
Setelah pertemuannya dengan Tuan Raymon, kini Tuan Mahesa lebih memilih mengamati dan menjaga Mala dari kejauhan. Ucapan Tuan Raymon waktu itu membuatnya harus legowo menerima fakta bahwa dia tidak bisa mengungkap siapa dia yang sebenarnya. Namun Tuan Mahesa masih bersyukur, karena dengan proyek kerja sama antara dirinya dan Arthur, dia lebih banyak waktu untuk bertemu dengan Mala.
Siang ini, Tuan Mahesa, Arthur dan Mala kembali bertemu untuk membahas lebih lanjut mengenai kerja sama mereka. Mereka bertemu disalah satu restoran didaerah Jakarta yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Art Life.
Sesampainya Arthur dan Mala disana, rupanya Tuan Mahesa sudah menunggu kedatangan mereka. Tuan Mahesa menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang teramat bahagia.
"Maaf membuat anda menunggu." Ucap Arthur seraya menjabat tangan Tuan Mahesa.
"Tidak, saya juga baru datang." Balasnya, lalu Tuan Mahesa menatap Mala dan mengulurkan tangan kanannya kearah gadis itu. Tak menunggu lama, Mala segera meraih tangan Tuan Mahesa, kedua tangan itu berjabat cukup lama, Tuan Mahesa enggan melepaskan tangan Mala hingga suara deheman Arthur membuatnya melepas tangan putrinya, lalu dia kembali duduk dikursi.
Arthur tersenyum simpul, lalu dia menarik kursi dan membiarkan Mala duduk diatasnya, gadis itu tersenyum, dia mulai terbiasa dengan sikap manis Arthur meskipun hatinya masih dimiliki oleh Rey, pemuda yang sudah jarang ia jumpai semenjak dia menjadi Asisten Arthur. Arthur benar-benar memanfaatkan kesibukan Mala sebagai asistennya, dia hanya tidak ingin Mala terlalu sering bertemu dengan Rey, kepribadian yang selalu di anggapnya sebagai parasit di tubuhnya.
Sekitar tiga puluh menit mereka membiacarakan pekerjaan, setelahnya mereka mulai berbicara santai selagi menunggu makan siang mereka.
"Mala masih berkuliah?" Tanya Tuan Mahesa seraya menatap Mala dalam, ingin rasanya dia memeluk putrinya saat itu juga.
"Tidak tuan, saya sedang cuti." Jawab Mala setengah berbohong, dia tidak mungkin mengatakan jika terpaksa berhenti kuliah karena tidak memiliki biaya.
"Oh." Balas Tuan Mahesa tanpa banyak bertanya apa alasan Mala cuti kuliah.
__ADS_1
Ketiganya kembali diam, Arthur terus mengamati tuan Mahesa yang tak pernah luput menatap Mala, dia merasa jengkel saat orang lain memandangi Mala, baginya Mala hanya miliknya seorang, hanya dia yang boleh menatapnya dan menikmati wajah ayu milik Mala.
"Sudah siang, kita harus kembali ke kantor sekarang." Kilah Arthur seraya memeriksa jam di pergelangan tangannya, dia harus segera membawa Mala pergi dari tempat ini sebelum rasa cemburunya meledak, tidak lucu bukan jika seorang Arthur Bagaskara cemburu dengan laki-laki paruh baya yang kini tengah duduk di hadapannya.
Mala menoleh sekilas, lalu ria merapikan pakaiannya dan berdiri dari duduknya, sebelum pergi Mala kembali menyalami Tuan Mahesa begitupun dengan Arthur lalu keduanya meninggalkan restoran itu.
Cuaca cukup mendung saat keduanya keluar dari restoran, Arthur menyunggingkan senyum saat dia terfikirkan sebuah ide yang bisa membuatnya lebih lama bersama dengan Mala tanpa gangguan dari seorangpun.
"Perutku sangat begah, bagiamana kalau kita jalan kaki saja agar makanan diperutku cepat tercerna, lagipula jarak Art Life juga tidak terlalu jauh dari sini." Ajak Arthur seraya mengelus perutnya.
Mala mengedarkan pandangannya, dia menatap gumpalan awan yang menutup terik matahari siang ini, lalu setelahnya dia menatap Arthur yang tengah bersandiwara dengan mengelus perutnya.
"Mobilnya bagimana?" Tanya Mala, gadis itu menunjuk mobil meeah yang terparkir didekat mereka berdiri.
"Aku akan menyuruh Rafli untuk mengambilnya." Jawab Arthur enteng.
"Bukankah Asisten Rafli sedang sibuk?" Ungkap Mala saat teringat Rafli yang tengah sibuk dengan proyek baru mereka.
Arthur terus melangkahkan kakinya dengan bahagia, kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celana sehingga membuat dia terlihat begitu rupawan. Namun tidak berlaku untuk Mala, dia mendegus kesal sambil melayangkan tinju diudara, dia sangat kesal karena Arthur mengajaknya berjalan dan menempuh jarah sekitar tiga kilo meter untuk sampai di kantor mereka.
Arthur menghentikan langkahnya, dia menoleh saat bayangan Mala tak nampak dibelakangnya, Arthur terkekeh saat melihat Mala tengah berjongkok ditengah trotoar dengan keringat yang membasahi wajahnya.
"Bukankah kau dulu selalu mengayuh sepeda, baru jalan sebentar saja kenapa sudah kelelahan begitu." Ejek Arthur, dia berjalan mendekati Mala dengan seutas senyum diwajahnya.
"Sudah lama saya tidak bersepeda." Ucap Mala terengah-engah, kedua tangannya dia gunakan untuk menekan perutnya yang terasa ngilu karena kekenyangan.
"Mau aku gendong." Tawar Arthur dengan wajah seriusnya, dia hendak membantu Mala berdiri namun gadis itu sudah terlebih dahulu bangkit sehingga tabrakan kepala tak bisa terhindarkan.
"Auw." Pekik Mala, dia memegangi ujung kepalanya yang terasa ngilu.
__ADS_1
Namun Mala segera beralih saat melihat darah segar keluar dari mulut Arthur, rupanya kepala Mala bertabrakan dengan dagu Arthur dan tak sengaja merobek bibir bagian dalam milik Arthur. Mala berjinjit, dia segera meraih sapu tangan yang terselip di jas Arthur dan menyeka darah segar yang keluar dari mulut Arthur dengan hati-hati.
"Aku rela melukai bibirku setiap hari jika bisa membuatmu sedekat ini denganmu." Gumam Arthur didalam hati, dia bersusah payah untuk menahan senyumnya saat menatap wajah Mala yang begitu dekat dengannya.
Arthur meraih pinggang Mala sehingga membuat gadis itu terkejut. Mala berontak, dia berusaha untuk melepaskan diri, namun Arthur enggan melepaskannya, dia justru tersenyum penuh saat melihat penolakan dari Mala.
Namun Mala tak habis akal, dia sidah hafal dengan aksi nakal Arthur yang suka memeluknya dengan tiba-tiba, niat baiknya untuk mengobati luka di bibir Arthur justru disalah gunakan oleh Arthur.
Dengan sekuat tenaga Mala menginjak kaki Arthur hingga sang pemilik kaki melenguh kesakitan, dia mengibaskan kakinya yang terasa ngilu dan menatap tajam ke arah Mala yang justru sedang terbahak.
"Dasar mesyumm." Bisik Mala lalu dia melewati Arthur dan melanjutkan perjalanannya sebelum Arthur kembali menyergapnya.
Arthur menatap punggung Mala yang semakin menjauh, rasa sakit di kakinya sirna sudah saat dia kembali mengingat tawa Mala. "Sepertinya jarak diantara kita semakin dekat." Desis Arthur, lalu dia berlari mengejar Mala yang sudah berada juah didepannya.
"Mala tunggu." Teriak Arthur, namun suaranya tak terdengar oleh Mala karena teredam suara sirene mobil pemadam kebakaran yang melintas.
Giiiingg,, Arthur menghentikan langkahnya, dia memegangi telinganya yang berdenging, dari kajauhan dia melihat kepulan asap hitam yang membumbung tinggi dan menyatu dengan awan dilangit.
"Malaaa." Seru Arthur dengan terbata, dia kesusahan untuk bergerak, seluruh tubuhnya seakan terpatri ditempat itu, tubuh kekarnya mulai gemetaran dan keringat dingin mulai mengucur dahinya.
Mala berhenti saat mobil pemadam kebakaran melewatinya, gadis itu menatap jauh kedepan dan melihat gumpalan asap hitam tak jauh dari tempatnya berdiri. Seketika dia mengingat Arthur, Mala berbalik, dia terkejut melihat Arthur yang mematung jauh dibelakangnya, Mala segera berlari menghampiri Arthur dengan perasaan yang susah untuk dijabarkan, khawatir dan bersalah.
"Tuan Arthur." Panggil Mala namun tak mendapat respon dari si pemilik nama.
"Tuan." Ulangnya lagi, dia mulai panik dan khwatir dengan kondisi Arthur.
Mala memegangi kedua lengan Arthur dan mengguncang tubuhnya, dengan panik Mala terus memanggil nama Arthur yang masih membisu didepannya.
Mala mulai terisak, dia menyeka keringat dingin dipelipis Arthur, rasa khawatir mulai menguasai tubuhnya, tanpa memperdulikan apapun lagi, Mala segera memeluk tubuh Arthur yang mulai terasa dingin. Mala mempererat pelukannya, dia tau bahwa Arthur sedang berusaha melawan rasa takut di hidupnya.
__ADS_1
"Bertahanlah aku mohon."
BERSAMBUNG...