
"Mala." Ujar seseorang di balik pintu, seorang wanita paruh baya membawa dua kantong plastik besar berisi makanan pesanan Arthur.
"Bi..bi." Seketika Mala menjadi gagap, melihat wajah bibinya membuat Mala merasa takut.
"Kau tinggal di sini rupanya?" Selidik bi Ningsih, seringai kecil muncul di wajahnya tanpa di sadari oleh Mala.
"Apa yang bibi lakukan?"
"Kau tidak lihat aku sedang mengantar makanan, tentu saja aku sedang bekerja, kenapa bodohmu itu tidak hilang juga?" Tatapan bi Ningsing tak pernah berubah, ia menatap Mala dengan hina, menganggap Mala hanyalah parasit di dalam keluarganya.
Suara bi Ningsing mengusik Arthur di dalam kamarnya, ia keluar kamar seraya memasang dasi di leher. "Siapa sayang?" Tanya Arthur, ia berjalan menuju pintu dan melihat seorang wanita yang sulu selalu menyiksa Mala.
Arthur menarik tangan Mala hingga tubuh Mala berada di belakangnya, Arthur menatap bi Ningsing dengan sorot kebencian . "Apa yang anda lakukan disini?" Tanyanya dengan ketus.
"Saya mengantar makanan ini." Bi Ningsih menyodorkan dua bungkus plastik kepada Arthur.
"Kami tidak butuh makanan ini lagi, anda bisa membuangnya." Arthur menolak makanan tersebut, ia mengambil dompet di saku bagian dalam jasnya, ia mengeluarkan dua lembar pecahan seratus ribu rupiah dan memberikannya kepada bi Ningsih.
Braakk..
Arthur menutup pintu dengan keras, ia menatap Mala yang tengah ketakutan.
"Hey, kenapa, kamu nggak pernah seperti ini sebelumnya?" Arthur mulai khawatir dengan Mala karena sebelumnya ia tak pernah setakut itu dengan sang bibi.
"Aku juga nggak tau, tiba-tiba aku sangat membencinya, aku merasa takut saat mengingat semua perlakuan mereka kepadaku dulu."
Arthur segera merengkuh tubuh Mala ke dalam pelukannya, ia mengusap punggung Mala dan mencium pucuk kepalanya. "Semua akan baik-baik saja."
Mala mengangguk lemah, ia segera mengurai pelukan Arthur karena merasa tidak nyaman di bagian perutnya. Arthur segera menyadari hal itu, ia menundukkan kepalanya dan mengamati perubahan wajah Mala, gadis itu meringis menahan sakit di perut.
"Mana yang sakit, kita ke Rumah Sakit sekarang." Arthur terlihat sangat panik, ia hendak berlari untuk mengambil kunci mobil namun Mala segera meraih tangannya.
"Aku baik-baik aja, tadi cuma sedikit ngilu kena badan kamu."
"Kamu yakin?
"Em." Mala mengangguk dengan cepat.
"Aku sudah buat jadwal dengan Dokter Hendi, kita ke Rumah Sakit setelah jam makan siang."
Mala kembali mengangguk, namun ia segera menatap Arthur saat teringat akan sesuatu.
"Sarapan kita gimana?" Tanyanya dengan wajah kecewa.
"Kamu tunggu di sini sebentar aku beli sarapan di bawah."
Arthur keluar dari apartemen, ia buru-buru masuk ke dalam lift yang membawanya ke lantai utama, di sekitar lobby apartemen banyak restoran dan juga cafe yang buka 24 jam.
__ADS_1
Drrz..drrz..
Arthur berhenti sejenak saat ponselnya bergetar, ia tersenyum tipis saat melihat ternyata Mala yang menghubunginya.
"Ya sayang?" Sapa Arthur dengan manis.
"Aku mau bubur ayam." Pinta Mala di seberang sana.
"Wait, dimana aku harus membeli bubur ayam?" Arthur terlihat bingung, matanya menyapu setiap restoran yang ada di dekatnya, namun tak ada satupun dari mereka yang menjual bubur ayam.
"Nggak ada yang jual ."
"Ada, kamu keluar deh dari lobby, di pinggir jalan ada abang-abang yang jualan pakai gerobak."
"No. Itu nggak sehat."
Mala membuang nafas kasar, ia sangat kesal karena Arthur tak memenuhi keinginannya.
"AKU MAU BUBUR AYAM." Kata Mala penuh penekanan di setiap kata.
Arthur akhirnya mengalah, ia harus menuruti keinginan Mala, semenjak operasi, Mala sering bertingkah aneh, ia juga lebih mudah emosi. Menurut Dokter yang menangani Mala banyak kasus unik yang terjadi setelah seseorang melakukan transplantasi organ, seperti munculnya sifat baru yang sebelumnya tidak pernah di miliki oleh orang tersebut, meskipun belum ada kajian ilmiahnya namun ramainya kabar itu membuat banyak orang mempercayainya termasuk Dokter yang menangani Mala.
Arthur keluar dari komplek apartemen, ia menghampiri sebuah gerobak berwarna cokelat dengan tulisan bubur ayam menempel di salah satu sisi gerobak tersebut. Arthur sempat ragu karena bayak pembeli yang sedang mengantri untuk membeli bubur, tapi mengingat wajah kecewa Mala akhirnya ia ikut mengantri.
Penampilan Arthur justru menarik pembeli yang juga tengah mengantri, mereka menatap Arthur tanpa berkedip. Ketampanan Arthur juga menarik beberapa pejalan kaki untuk berhenti, tak sedikit dari mereka ikut mengantri untuk membeli bubur ayam, padahal bukan itu niat awal mereka.
"Mas, kau fikir aku tukang ojek. Apa kau tak melihat penampilanku yang menawan ini." Gerutu Arthur didalam hatinya, ia kesal karena baru kali ini ada seseorang yang memanggilnya mas.
"Satu." Jawab Arthur dengan singkat.
"Lengkap?" Bapak penjual bubur ayam kembali bertanya dan membuat Arthur bingung.
"Maksudnya?" Tanya Arthur dengan wajah bingung, ia seperti orang bodoh yang tak tau cara memesan bubur ayam.
"Ohalah si ganteng pasti belum pernah makan bubur ayam." Celetuk salah seorang ibu yang ada di belakang Arthur dan sontak membuat pembeli yang lain tertawa.
Bapak penjual bubur menahan tawanya,ia lalu menjelaskan kepada Arthur. "Maksudnya pakai daun bawang sama kacang kedelai apa nggak?"
Arthur menggangguk mengerti. "Kalau begitu, saya pesan 1 bubur ayam lengkap." Arthur mengulangi pesanannya.
Arthur mengamati dengan seksama saat penjual bubur menyiapkan pesanannya dan tak berselang lama pesanannya pun selesai.
"Ini mas, 15 ribu saja."
Penjual bubur tersebut seolah mengerti jika Arthur mungkin tidak tau berapa harga buburnya sehingga ia menyampaikannya sebelum Arthur bertanya.
"Masih ada berapa porsi yang tersisa?" Tanya Arthur seraya mengeluarkan dompetnya.
__ADS_1
"Sekitar 50 porsi lagi mas."
"Bungkus semuanya dan tolong bagikan kepada orang yang membutuhkan, termasuk mereka yang mengantri di belakang saya."
Arthur mengeluarkan 10 lembar pecahan seratus ribuan dan memberikannya kepada bapak penjual bubur. "Ini uangnya."
Penjual bubur menghitung uang pemberian Arthur. "Ini kebanyakan mas, tunggu sebentar kembaliannya."
"Tidak perlu." Arthur meraih buburnya dan bergegas pergi dari tempat itu.
"Terimakasih mas." Teriak sang penjual bubur dengan wajah gembira.
"Aduh, udah ganteng, baik hati pula. Beruntungnya yang jadi istrinya." Puji salah satu pembeli yang berada di tempat itu.
Arthur mengulas senyum, sayup-sayup ia mendengar pujian dari orang-orang yang berada di dekat penjual bubur itu, ia melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri. Namun senyum Arthur memudar saat ekor matanya menangkap sosok yang mencurigakan, dua orang berbaju serba hitam mengamatinya dari jauh.
Arthur berlari masuk ke dalam lobby, ia segera memencet tombil lift dan saat pintu lift terbuka ia segera masuk.
Tiingg..
Lift terbuka, Arthur sudah berada di lantai teratas dimana unit apartemennya berada, ia berjalan dengan cepat karena mengkhawatirkan Mala.
Arthur masuk ke dalam apartemennya, ia berteriak mencari Mala karena tak melihat gadis cantik itu di dapur dan di ruang tamu.
"Sayang, sayang kau dimana?"
Arthur masuk ke dalam kamarnya namun tak menemukan Mala di sana, ia semakin panik karena tak menemukan Mala dimanapun.
"Sayang. Mala. Mala kau dimana sayang?" Teriaknya lagi, ia mulai frustasi mencari kekasihnya.
"Kamar mandi, aku belum memeriksanya di kamar mandi." Gumam Arthur, ia lalu kembali masuk ke dalam kamarnya dan menuju kamar mandi.
Ceklek..
Pintu terbuka tepat saat Arthur akan meraih gagang pintu kamar mandi tersebut, Mala keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe, rambut panjangnya terurai dan basah.
"Astaga, kau membuatku ketakutan."
Arthur segera memeluk Mala untuk mengobati rasa takutnya.
"Kamu ini kenapa?"
Arthur melepas pelukannya, ia memegang kedua bahu Mala dan menatapnya tajam.
"Dengarkan aku baik-baik, saat aku kerja nanti, jangan pernah bukakan pintu untuk siapapun."
Mala yang kebingungan hanya bisa mengangguk, lalu Arthur kembali memeluknya dengan erat, Mala benar-benar berhasil menjinakkan bos galaknya.
__ADS_1
BERSAMBUNG..