
Sesampainya di basement apartemen, Mala segera memapah Arthur untuk berjalan menuju unitnya. Perbedaan tinggi badan diantara mereka membuat Mala bersusah payah membantu Arthur untuk berjalan, sekuat tenaga dia memapah Arthur sampai akhirnya mereka tiba di apartemen Arthur.
Mala membantu Arthur untuk duduk ditempat tidurnya, setelah itu Mala melepas jas dan dasi Arthur agar Arthur merasa sedikit lebih nyaman.
"Tunggu sebentar tuan, saya ambilkan air hangat untuk anda." Ucap Mala lalu dia bergegas keluar dari kamar Athur. Beberapa menit kemudian dia kembali masuk dengan segelas air hangat ditangannya. Mala membantu Arthur untuk minum, lalu dia merebahkan tubuh Arthur diatas tempat tidur.
"Kenapa Dokter Lutfi belum juga datang." Mala mulai gelisah karena dokter pribadi Arthur belum datang, meskipun Arthur sudah tidak meringis kesakitan namun wajahnya masih terlihat pucat.
"Apa masih sakit?" Tanya Mala, dia ingin memastikan keadaan Arthur. "Lebih baik kita ke Rumah Sakit saja tuan, saya khawatir perut anda bermasalah."
"Aku sudah baik-baik saja, bisakah kamu duduk, aku pusing melihatmu mondar-mandir begitu." Jawab Arthur pelan, dia berusaha membuat Mala tenang
"Ah itu pasti Dokter Lutfi."Mala segera meninggalkan kamar Arthur saat bel berbunyi.
Tak lama kemudian Mala kembali masuk bersama dengan Dokter Lutfi dan Dokter Lutfi segera memeriksa kondisi Arthur dengan teliti.
"Kali ini apalagi yang anda makan tuan?" Tanya Dokter Lutfi seraya mengerutkan dahinya.
"Sate dok, Tuan Arthur makan sate dipinggir jalan." Terang Mala.
"Apa satenya pedas?" Dokter Lutfi kembali melayangkan pertanyaan. Mala menatap Arthur, dia menunggu jawaban dari Arthur.
"Sedikit." Jawab Arthur dengan suara lirih.
"Bukankah sudah saya bilang sebelumnya, perut anda sangat sensitif, anda harus menjaga setiap makanan yang masuk kedalam perut, untung saja tidak separah waktu itu. Saya akan meresepkan obat, Mala bisa menebusnya sekarang." Jelas Dokter Lutfi panjang lembar, dia mengingatkan Arthur tentang kondisi perutnya yang tidak bisa makan sembarangan. Mala semakin merasa bersalah, dia juga kembali mengingat momen saat Rey makan seblak bersamanya hingga membuat Arthur terkapar seharian.
Setelah meresepkan obat untuk Arthur, Dokter Lutfi pamit untuk pulang, Mala mengantar Dokter Lutfi sampai didepan pintu apartemen. "Terimakasih banyak dok, maaf sudah merepotkan." Ungkap Mala sebelum Dokter Lutfi pergi.
"Sudah kewajiban saya, lebih baik kamu tebus obatnya sekarang, saya permisi." Ucap Dokter Lutfi lalu dia meninggalkan apartemen Arthur.
Mala kembali kekamar Arthur, dia meraih resep obat dari Dokter Lutfi yang tergeletak diatas nakas disebelah tempat tidur Arthur.
"Kamu mau kemana?" Tanya Arthur lemah.
__ADS_1
"Saya mau menebus obat sebentar, tunggulah sebentar, saya tidak akan lama." Pamit Mala lalu dia bergegas pergi keapotek terdekat untuk menebus obat Arthur.
Arthur menatap punggung Mala yang mulai menjauh, ditengah rasa sakit diperutnya dia masih bisa tersenyum, dia merasa Mala sangat mengkhawatirkannya dan hal itu membuatnya senang. "Akan ku pastikan kau hanya menjadi milikku." Gumam Arthur seraya menggerakan ujung bibirnya.
Kondisi perut Arthur sudah jauh lebih baik, dia masih menunggu Mala diatas tempat tidurnya, rasa sakitnya kali ini tidak akan dia biarkan begitu saja, dia harus memanfaatkan momen ini agar lebih dekat dengan Mala. Setengah jam kemudian Mala datang dengan nafas terengah-engah, dia membuka bungkusan obat yang dibelinya lalu memberikannya kepada Arthur.
"Apa kamu berlari?" Ucap Arthur yang melihat nafas Mala tak beraturan.
"Saya takut perut anda semakin parah, jadi saya buru-buru." Jawab Mala dengan nafas yang hampir habis.
"Lain kali tak perlu seperti ini." Arthur meraih obat dari tangan Mala dan segera meminumnya.
"Lebih baik anda istirahat sekarang, saya permisi."
"Kamu mau kemana?"
"Saya harus mandi tuan, tubuh saya sangat lengket dan bau." Terang Mala seraya mengendus bau ditubuhnya.
Mala sudah seperti setrikaan yang mondar-mandir keluar masuk kamar Arthur, setelah mengambil pakaian dari kamarnya, dia segera masuk kedalam kamar mandi yang berada didalam kamar Arthur untuk membersihkan tubuhnya. Setelah mandi tubuh Mala berasa sangat segar, dia keluar dari kamar mandi dengan celana panjang dan hoodie yang tudungnya ia tutupkan dikepala, tujuannya adalah agar Arthur tak melihat bekas gigitan Tomcay dilehernya.
"La." Panggil Arthur saat gadis itu akan keluar dari kamarnya.
"Ya tuan." Mala mengurungkan niatnya untuk keluar, dia mendekati Arthur yang masih berada diatas tempat tidurnya.
"Tolong ambilkan aku kaos, aku sangat tidak nyaman dengan baju ini."
"Baik tuan." Mala melangkahkan kakinya menuju lemari Arthur, dia sudah hafal dimana tata letak baju-baju Arthur karena dialah yang selalu menatanya saat baju Arthur selesai di laundry. Mala mengambil kaos lengan panjang dan membawanya kepada Arthur.
"Bisa tolong bukakan bajuku, aku sangat lemas." Ucap Arthur dengan suara yang sengaja ia buat selemah mungkin.
Mala menghela nafasnya berat, seandainya bukan dia yang menyebabkan Arthur sakit mungkin dia akan menolak permintaan Arthur yang terbilang konyol itu. Dulu dia selalu mewanti-wanti Mala untuk tidak menyentuhnya, namun apa yang dilihat sekarang, Arthur justru menyukai setiap kontak fisik dengan Mala.
Mala membuka kancing kemeja Arthur satu persatu, dia menyingkap kemeja putih yang menutupi dada bidang Arthur. Gadis itu tertegun, dia menatap dada bidang Arthur yang sangat mulus untuk ukuran seorang pria, Mala kesusahan menelan ludahnya, tiba-tiba ingatannya kembali pada saat Rey mengungkung tubuhnya kemarin malam.
__ADS_1
"Apa kau menginginkannya?" Tanya Arthur dan Mala mengangguk tanpa ia sadari.
Arthur menahan tangan Mala dan membawanya untuk menyentuh dadanya, Mala yang kesadarannya sudah kembali mencoba menarim tangannya dari cengkraman tangan Arthur, namun dia kalah tenaga, Arthur memegang tangannya dengan kuat.
"Kau merasakannya, jantungku seperti akan keluar dari rongga dadaku." Ucap Arthur saat tangan Mala berada tepat didadanya.
"Kau tau, jantung ini hanya berdetak seperti ini saat tengah bersamamu dan entah kenapa aku menyukai setiap debaran ini."
"La, aku menyukaimu dan aku ingin memilikimu." Ungkap Arthur, pada akhirnya dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya lebih lama lagi.
Mala melepas paksa tangannya, dia berdiri dari duduknya dan netra jernihnya menatap Arthur tak percaya.
"Anda sedang sakit jadi anda berbicara yang tidak-tidak, istirahatlah, saya akan menunggu diluar, panggil saja jika anda butuh sesuatu." Ucap Mala dengan bibir bergetar, dia tidak meyangka Arthur akan mengungkapkan perasaan kepadanya. Mala melangkahkan kakinya dengan cepat, dia ingin segera keluar dari kamar itu.
Saat Mala hendak membuka pintu, tiba-tiba sebuah tangan melingkar diperutnya, rupanya Arthur menahan Mala dengan cara memeluknya dari belakang.
"Lepaskan saya tuan." Hardik Mala namun Arthur tak bergeming, dia malah semakin mempererat pelukannya. Arthur meletakkan kepalanya dibahu Mala, jarak mereka sangat dekat sehingga Mala bisa merasakan hembusan nafas Arthur dilehernya.
"Temani aku malam ini saja, perutku masih sangat sakit." Pinta Arthur.
Mala menarik nafas dalam, rasa bersalahnya membuat Mala harus mengiyakan permintaan Arthur. "Baiklah, saya akan disini sampai tuan tidur."
Tanpa Mala sadari Arthur tersenyum penuh kemenangan, dia melepaskan pelukannya dan menuntun Mala kearah tempat tidurnya.
Arthur berbaring diranjangnya, sementara Mala duduk menarik kursi yang berada dipojok kamar Arthur dan membawanya ke sebelah tempat tidur Arthur.
Lama mereka saling diam, Arthur mengamati Mala yang duduk sambil menunduk dan tanpa pergerkan sedikitpun. "Kau tidur?" Tanya Arthur pelan, dia bangun lalu memegang pundak Mala dan mengguncangnya. "Kau bahkan bisa terlelap sambil duduk begini."
"Mala, jangan salahkan aku ya, aku sudah berusaha membangunkanmu." Ucap Arthur dengan senyum licik, dia lalu mengangkat tubuh Mala dan memindahkannya keatas ranjangnya.
"Aku hanya akan tidur dan memelukmu." Gumam Arthur lalu dia merebahkan tubuhnya disebelah Mala. Arthur mengangkat kepala Mala dan memidahkannya keatas lengannya, malam ini mereka terlelap diatas ranjang yang sama.
Bersambung...
__ADS_1