My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 19 Maaf


__ADS_3

"Maafkan aku." Arthur bersimpuh didepan Mala. Meskipun dia bukan orang yang baik, namun dia tidak pernah menyentuh wanita secara paksa, dan yang dilakukan oleh Petra semalam sungguh membuat Arthur harus berlutut dan meminta pengampunan kepada Mala.


Mala terkejut melihat Arthur berlutut didepannya, dia membungkukan tubuhnya, tangannya memegang kedua lengan Arthur dan membantunya untuk berdiri. "Apa yang anda lakukan tuan?" Ucap Mala.


"Apa kau bodoh." Seru Arthur sehingga Mala melotot kepadanya.


"Baru saja dia berlutut dan minta maaf dan sekarang sudah mengatai aku bodoh lagi." Gumam Mala dalam hati.


"Aku tidak bermaksud begitu. Arggh." Arthur mengusap wajahnya kasar. "Jelas-jelas sudah aku katakan tadi, kalau aku mau minta maaf, kenapa dia malah bertanya apa yang sedang aku lakukan, dia memang bodoh."Batin Arthur.


Lama mereka saling diam, sibuk dengan prasangka buruk masing-masing.


"Aku tulus minta maaf padamu." Ucap Arthur lembut.


Mala hanya mengangguk, dia melihat ketulusan didalam mata Arthur. Mala sadar, jika yang melakukan hal tidak sopan kepadanya bukanlah Arthur, dia cukup terharu karena Arthur dengan berani meminta maaf atas kesalahan yang tidak diperbuatnya. Mala tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Arthur, pasti sangat berat karena dia harus bergelut dengan tubuhnya sendiri.


"Terimakasih." Sebuah ucapan keramat akhirnya keluar dari mulut tajam Arthur.


Setelah berdamai, mereka kembali melakukan aktivitas masing-masing, Arthur lebih dulu berangkat ke Art Life sementara Mala berangkat bersama Lala.


****


Sore hari setelah selesai melakukan semua pekerjaannya diArt Life, Mala segera pulang dan mampir kewarung tenda milik orang tua Lala. Beberapa hari ini Mala izin tidak membantu mereka berjualan dan hari ini Mala akan kembali membantu mereka.


"Sudah selesai urusannya?" Tanya ibu Lala.


"Sudah bu, maaf beberapa hari ini ibu pasti kerepotan."


Mala kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Meskipun tubuhnya kelelahan karena sudah bekerja sepanjang hari namun Mala tetap memaksakan untuk mencari penghasilan tambahan. Gadis itu tidak berniat untuk mengambil sepeserpun uang peninggalan orangtuanya, bagi Mala peninggalan mereka justru akan membuat Mala semakin tidak bisa mengikhlaskan kepergian mereka.


Tanpa Mala sadari rupanya Arthur mengikutinya, pria berkacamata itu tengah duduk didalam mobilnya, tatapannya tidak lepas dari gerak-gerik Mala yang begitu lincah.


"Apa dia begitu miskin, kenapa harus bekerja sampai selarut ini, apa dia tidak kelelahan." Ucap Arthur pada dirinya sendiri karena sore ini dia sengaja pergi tanpa Rafli.


Arthur masih setia menunggu Mala yang masih sibuk bekerja, berkali-kali dia melirik jam ditangannya, dia mendegus kesal karena sudah lewat tengah malam dan Mala belum juga pulang.

__ADS_1


Arthur kembali mengikuti Mala, gadis itu mengayuh sepedanya membelah gelapnya jalanan yang mulai sepi. Arthur menatap punggung Mala, dia masih heran mengapa seorang gadis bekerja begitu keras, dan karena hal itulah nampaknya Arthur mulai penasaran dengan Mala.


15 menit kemudian Mala sudah sampai dirumahnya. Arthur bernafas lega dan kembali melajukan mobilnya, dia ingin segera pulang dan beristirahat.


Setelah memarkirkan sepedanya, Mala membuka pintu dengan hati-hati, dia tidak ingin kedatangannya disadari oleh penghuni yang lain.


"Dari mana saja kamu?"Tanya bi Ningsing yang rupanya sudah menunggu kedatangan Mala.


"Kerja bi."


"Bohong bu, kemarin aku lihat dia keluar dari butik mahal dan bersama om-om." Imbuh Rani semakin memperkeruh keadaan.


"Mungkin uang warisannya udah abis, makanya sekarang jual diri."Ucap Sofyan tak mau kalah untuk menyudutkan Mala.


"Sudah, sudah. Mau dia jual diri atau mau jadi simpanan om-om terserah dia saja, ibu tidak beduli lagi padanya. Dan kau." Bi Ningsing menunjuk Mala. "Tanda tangani ini."


Bi Ningsih mengeluarkan selembar kertas dan pena lalu memberikan kertas itu kepada Mala.


Mala segera meraih kertas itu, matanya membola saat dia membaca tulisan didalam kertas itu. "Bibi menginginkan semua warisanku." Mala memicingkan matanya dan menatap bibinya, Mala tidak percaya bibinya akan seserakah ini, dia bahkan sudah menyiapkan surat pemindahan semua harta warisan Mala atas namanya.


"Lo kan udah setuju mau berbagi warisan sama kita." Ucap Sofyan dengan seringai diwajahnya.


Mendengar jawaban Mala membuat bi Ningsih naik pitam, dia berdiri dan menghampiri Mala, sejurus kemudian tangannya sudah menarik rambut Mala hingga Mala mengaduh kesakitan. "Cepat tanda tangani." Bentak Bi Ningsih.


Mala menggeleng, sampai kapanpun dia tidak akan setuju, meskipun dia tidak menginginkan warisan itu tapi Mala akan memberikan warisan itu kepada yang lebih berhak, dia tidak mau warisan itu jatuh ditangan bibinya yang serakah.


"Cepat." Teriak bi Ningsing, dia semakin mempererat tangannya dirambut Mala.


Rupanya keributan diruang tamu terdengar hingga kedalam kamar. Paman Bahar yang sudah tertidur akhirnya bangun, dengan tertatih dia memposisikan tubuhnya diatas kursi roda, untung saja tangannya masih bisa ia gunakan untuk memutar roda dan keluar dari kamarnya.


"Apa yang kamu lakukan Ning?" Teriak paman Bahar begitu melihat istrinya tengah menyakiti keponakannya.


"Ih si cac*t ngapai keluar sih, makin ribet nanti urusannya." Gumam Rani setelah melihat ayahnya keluar dari kamar.


"Lepaskan Mala Ning, kenapa kamu jahat sekali."

__ADS_1


"Diam kamu , aku cuma ngasih pelajaran sama anak tidak tahu diri ini, bisa-bisanya dia menolak untuk membagi warisannya dengan kita, sementara selama ini kita yang sudah menampungnya." Seru bi Ningsing dengan suara menggelegar.


Pamam Bahar kembali memutar rodanya, dia berusaha melerai istrinya yang semakin menjadi-jadi, melihat ayahnya menghalangi niat mereka Sofyan segera menendang kursi roda ayahnya sehingga tubuh laki-laki itu terjatuh dan kepalanya membentur lantai dengan keras.


"Paman" Teriak Mala histeris.


Melihat suaminya terkapar dilantai, bi Ningsih segera melepaskan Mala dan mendekati tubuh suaminya yang tidak bergerak.


"Heh, bangun." Bi Ningsih menggoyang tubuh suaminya dengan kakinya.


"Paman bangun." Ucap Mala seraya menepuk pipi pamannya, namun tak ada respon sama sekali. "Ayo kita bawa paman kerumahsakit." Ajak Mala kepada bibi dan dua sepupunya.


Mala merogoh ponsel disakunya, dia akan menelfon ambulan agar pamannya segera dibawa ke rumahsakit, namun Bi Ningsih sudah lebih dulu merebut ponsel Mala.


"Kembalikan ponselku bi, aku harus menelfon ambulans, paman harus segera dibawa kerumahsakit."


"Tenang Mala, pamanmu akan baik-baik saja, lebih baik kau tanda tangani surat ini dulu baru kita membawanya kerumahsakit." Ucap Bi Ningsing.


"Kalian benar-benar tidak punya hati."


"Jadi lo mau tanda tangan apa enggak, kalau enggak ya udah jangan harap kita bakal bantuin lo bawa sicac*t itu kerumah sakit."


"Ingat Ran, dia ayah kamu, kemana kamu tega sekali."


Mala berdiri, dia berniat untuk meminta tolong kapada tetangganya, namun lagi-lagi Mala dicegat oleh bi Ningsing. Bi Ningsih meminta bantuan Sofyan untuk memegangi Mala sehingga gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa untuk membawa pamannya kerumahsakit.


"Dimana aku harus tanda tangan?" Ucap Mala lemah, dia tidak punya pilihan lain, dia harus segera membawa pamannya kerumah sakit.


"Nah gitu dong dari tadi." Sofyan tersenyum, dia melepaskan Mala dan memberikan surat itu kepada Mala.


"Maafin Mala ayah, ibu." Batin Mala seraya menandatangani surat pengalihan harta warisannya itu.


Bi Ningsih dan kedua anaknya tertawa puas, mereka memeluk kertas itu secara bergantian, mereka sudah tidak memperdulikan paman bahar yang masih tergeletak dilantai.


Mala segera merebut ponsel dari tangan bibinya dan dia segera menghubungi ambulan.

__ADS_1


Tak lama ambulan datang, Mala segera membawa pamannya kerumahsakit, namun tidak ada satupun dari mereka ikut dengan Mala.


BERSAMBUNG...


__ADS_2