
Pagi yang cerah, Mala sudah rapi dan bersiap untuk pergi ke tempat kerja, dia juga sudah membersihkan apartemen dan membuat sarapan untuk Arthur. Mala beberapa kali memeriksa jam tangannya, dia merasa heran karena Arthur tak kunjung keluar dari kamar, biasanya sebelum dia selesai memasak Arthur sudah keluar dan menunggu masakannya matang. Apa terjadi sesuatu dengan Tuan Arthur? Mala membatin, dia memutuskan untuk melihat kondisi tuannya, Mala mengetuk pintu dan diketukan kedua Arthur membuka pintu kamarnya.
"Anda baik-baik saja?" Mala segera bertanya, dia khawatir jika perut Arthur masih bermasalah.
Arthur tak menjawab, dia melengos dan melewati Mala begitu saja. Arthur pergi kedapur, dia melirik meja makan sekilas, namun dia hanya mengambil air dari kulkas dan membawanya kembali kekamar.
"Anda tidak sarapan?" Tanya Mala penasaran, tak biasanya Arthur melewatkan sarapan buatannya.
"Tidak. Siapkan mobil, lima menit lagi kita berangkat. Tunggu aku dilobby" Ucap Arthur dingin lalu dia masuk kedalam kamarnya.
"Apa ini, kenapa dia kembali ke setelan pabrik lagi, aku sampai merinding melihat wajah dinginnya." Gumam Mala seraya berjalan meninggalkan apartemen.
Didalam kamar, Arthur sedang memilih jas yang akan dia pakai hari ini, suasana hatinya sedang tidak bagus. Pagi ini dia bangun dan mendapati Mala tak berada disisihnya, belum lagi dia sadar jika sudah berganti hari, artinya seharian kemarin tubuhnya dihuni oleh orang lain dan sudah dipastikan jika itu Rey. Arthur mengeraskan rahangnya, dia mulai berfikir yang tidak-tidak, dia mulai membayangkan hal-hal yang mungkin dilakukan oleh Mala dan Rey kemarin, dia merasa cemburu dan hal itu membuat moodnya berantakan pagi ini.
Setelah siap, Arthur keluar dari apartemennya dengan wajah murung. Dilobby Mala sudah menunggunya, gadis itu membukakan pintu dan dia segera masuk kedalam mobil.
Mala segera melajukan mobilnya, beberapa kali dia mengintip Arthur dari balik spion, wajah menakutkan Arthur membuat Mala ingin segera sampai dikantor, dia takut jika Arthur akan melahapnya hidup-hidup.
****
Meskipun dengan kaki yang pincang, Lala tetap berangkay bekerja, dia tidak ingin melewatkan waktu magangnya seharipun, dia bahkan tiba lebih awal pagi ini.
Lala menghela nafas dengan kasar saat melihat Rafli sudah berdiri didepan lobby Art Life, Lala sebisa mungkin untuk bersikap tenang, saat melewati Rafli dia menganggukkan kepalanya dengan sopan dan segera masuk kedalam kantor.
Rafli mengusap tengkuknya, dia merasa diabaikan oleh gadis yang sudah berlalu itu, Rafli memutar tubuhnya, dia mengamati kaki pincang milik Lala. "Kenapa masih pergi bekerja dengan kondisi kaki pincang seperti itu." Rafli bermonolog, lalu dia kembali fokus menunggu kedatangan Arthur.
Sepuluh menit kemudian mobil Arthur berhenti tepat dihadapan Rafli, dia segera membukakan pintu untuk tuannya. Arthur keluar dari mobil, dia segera masuk kedalam kantornya dan diikuti Rafli dibelakangnya.
"Sore nanti kita ada meeting bersama Tuan Mahesa, dia ingin melihat sendiri desain untuk hotel barunya." Ucap Rafli dan hanya diangguki oleh Arthur.
"Tapi ada sedikit masalah, kita belum menyelesaikan konsep Lansekap sesuai keinginan Tuan Mahesa." Imbuh Rafli.
"Kumpulkan team yang menangangi proyek ini, lima menit lagi kita meeting." Titah Arthur lalu dia masuk kedalam ruangannya.
__ADS_1
Lima menit kemudian Arthur masuk kedalam ruangan meeting, didalam sana beberapa karyawannya sudah menunggu. Arthur duduk dikursinya, dia mulai mendengarkan laporan dari karyawanya mengenai desain hotel yang sedang mereka tangani.
"Lalu bagaimana dengan masalah Lansekap?" Tanya Arthur dan semua karyawannya hanya diam, mereka semua menunduk dan tak ada satupun yang berani menjawab pertanyaan Arthur.
"Kenapa diam? Kalian semua bisu?" Maki Arthur.
"Maaf tuan, kami belum bisa menyelesaikannya." Jawab salah seorang karyawan yang menjadi ketua team.
"Apa masalahnya?" Tanyanya lagi, namun kali ini suaranya terdengar lebih pelan.
"Arsitek Lansekap yang menangani ini sudah beberapa hari tidak masuk karena sakit."
"Memang tidak ada Arsitek Lansekap yang lain , bukankah kita memiliki lebih daru satu Arsitek Lansekap?"
"Mereka semua sibuk dengan proyek masing-masing tuan." Terang karyawan itu dengan gugup.
"Kenapa tidak merektut orang luar. Kenapa kalian sangat bodoh. Lalu apa yang akan kalian lakukan, kita harus bertemu Tuan Mahesa sore ini." Arthur berteriak, suasanya hatinya semakin buruk.
"Apa yang akan kalian lakukan?" Ulang Arthur dengan suara menggelegar.
"Maaf tuan, saya mempunyai kenalan yang cukup bagus dalam mendesain Lansekap." Ucap karyawan itu.
Arthur mengangkat kepalanya, dia menatap karyawan yang tengah mengangkat tangannya itu. "Bukankah dia teman Mala?" Batin Arthur.
"Dimana orangnya, apa dia bisa datang sekarang?" Ucap Arthur penuh penekanan.
"Dia juga bekerja disini tuan, anda juga mengenalnya." Jawab Lala. Ya karyawan itu adalah Lala, meskipun masih magang namun dia sudah ikut serta dalam mengerjakan proyek, dia menjadi asisten salah satu Arsitek yang menangangi proyek hotel tersebut.
"Panggil dia sekarang."
Lala keluar dari ruang meeting dengan tertatih, Rafli yang juga berada diruangan itu mengamati langkah pincang Lala dan tiba-tiba dia merasa kasian kepada gadis itu.
Lala mencari temannya ke semua penjuru kantor namun dia tak juga menemukan yang tengah dicarinya.
__ADS_1
Lala naik ke rooftop, dia tersenyum saat melihat Mala berada disana. Dia segera menghampiri Mala dan menarik tangannya.
"Mau kemana?" Protes Mala karena sahabatnya tiba-tiba menarik tangannya tanpa penjelasan.
"Ikut aku, Tuan Arthur mencarimu." Ucap Lala setengah berbohong, Arthur memang mencari Mala tapi dia tidak mengatakan secara detail kenapa Arthur mencari Mala.
Mala menggigit bibir bawahnya, dia khawatir Arthur akan memarahinya mengingat suasana hati Arthur yang buruk sejak pagi tadi. Mala pasrah dan mengikuti Lala masuk kedalam ruang meeting.
Semua orang terkejut melihat Lala membawa seorang Cleaning Service alih-alih seorang Arsitek, mereka mulai berbisik satu sama lain.
"Apa dia sedang bercanda?"
"Dia fikir kita sedang bermain-main, kenapa malah membawa seorang Cleaning Service?"
"Dia pasti ingin mati."
Mala mengedarkan pandangannya, dia merasa aneh karena semua orang menatapnya dengan remeh, Mala melepaskan tangan Lala dan menatap sahabatnya.
"Kenapa kamu membawaku kesini?" Tanya Mala penasaran.
"Bukankah sudah ku bilang, Tuan Arthur mencarimu." Jawab Lala.
"Kau bercanda, aku mencari Arsitek Lansekap bukan Cleaning Service." Sela Arthur, dia melupakan fakta jika Mala juga pernah belajar desain Lanskap.
"Dan ini orang yang saya maksud tuan." Jawab Lala seraya menunjuk Mala.
"Apa maksudmu Lala?" Mala menatap sahabatnya intens.
"Tuan Arthur mencari seseorang yang bisa mendesain Lansekap dan menurutku ini kesempatan untuk menunjukkan bakatmu." Jawab Lala penuh keyakinan.
"Kau bisa mendesainnya?" Tanya Arthur seraya menatap Mala.
"Saya.....
__ADS_1
BERSAMBUNG....