
Matahari mulai bergerak ke barat saat Mala dan Rey berjalan menyebarangi jembatan cinta menuju Pulau Tidung Kecil. Jembatan dengan panjang 800 meter ini menjadi salah satu icon Pulau Tidung, bukan hanya karena bentuknya yang unik, namun juga karena sebuah legenda yang sangat terkenal dijembatan tersebut.
Menurut cerita yang beredar. Suatu waktu di Pulau Tidung bertemulah seorang pria dan wanita yang identitasnya masih menjadi misteri. Mereka pun saling jatuh cinta dan menjadikan jembatan kayu yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung kecil sebagai tempat memadu kasih.
Mereka menyapa matahari terbit, berpegangan tangan dan melewati jembatan dari awal hingga akhir. Akhirnya merekapun menikah dan hidup bahagia. Jembatan yang telah menjadi saksi cinta sejati mereka dikenal dengan sebutan Jembatan Cinta.
Cerita tersebut tertuliskan di tugu batu yang berada didekat jembatan cinta, oleh karena itu banyak pengunjung yang percaya jika mereka akan mendapatkan jodoh setelah menyeberangi ataupun lompat dari atas jembatan cinta tersebut.
"Rey, apa kamu percaya jika kamu lompat dari atas jembatan ini maka kamu akan segera mendapatkan jodoh ?" Tanya Mala setelah mereka berada ditengah jembatan cinta.
"Entah." Jawab Rey singkat, matanya menatap jauh ke samudera lepas.
"Apa kamu percaya?" Rey balik bertanya kepada Mala yang melangkah disebelahnya.
"Tidak, aku memang bukan seorang yang agamis, namun menurutku jodoh itu sudah ditetapkan oleh Tuhan. Lagi pula aku tak bisa berenang, setelah lompat dari atas jembatan ini sudah dipastikan aku akan tenggelam bukan mendapatkan jodoh."
Rey terkekeh mendengar jawaban Mala, karena gemas dia mengacak rambut Mala dan berlari meninggalkan Mala yang kini tengah mengerucutkan bibirnya.
"Rey, awas kamu." Teriak Mala penuh dengan ancaman, lalu dia berlari mengejar Rey dan berniat membalas perbuatan jahil Rey kepadanya.
Rey yang berhenti mendadak membuat Mala menabrak punggungnya, gadis itu mengaduh karena benturan yang cukup keras di area kepalanya, bukannya menolong Mala, Rey justru terlihat mematung dan menatap sesuatu.
"Kenapa berhenti mendadak sih." Protes Mala seraya mengelus dahinya.
"Lihatlah, indah bukan." Ujar Rey, pemuda itu menunjuk langit yang berwarna jingga, sang surya napak mulai kembali ke peraduannya, semburat warna orange kemerahan menghiasi langit tepat di atas bentangan samudera yang membuatnya semakin terlihat menakjubkan.
"Hem, sangat indah." Gumam Mala yang ikut takjub akan lukisan yang Tuhan goreskan saat senja. Gadis itu lalu duduk dan menatap matahari yang sudah menenggelamkan sebagian tubuhnya.
__ADS_1
Rey yang masih berdecak kagum lalu ikut duduk di samping Mala, ia menatap Mala dalam, hembusan angin mengibarkan rambut panjangnya, gadis mungil itu terlihat bak lukisan hidup diantara senja dan luasnya samudera.
"Rey." Ucap Mala pelan, ia menoleh dan mendapati orang yang ia panggil tengah menatapnya.
"Hem." Jawab Rey singkat.
"Kamu tau, dahulu aku selalu menangis saat senja datang." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari Rey.
"Apa alasannya?"
"Aku juga tidak tau, hanya saja aku merasa takut saat malam mulai datang, aku memiliki paman yang sangat menyayangiku tapi entah mengapa aku selalu merasa kesepian, hidupku hampa." Gadis itu menjeda kalimatnya, dia mengumpulkan oksigen sebanyak mungkin sebelum melanjutkan kisah sedihnya.
"Sebenarnya nasib kita tidaklah jauh berbeda Rey, aku tak memiliki ingatan apapun tentang kedua orang tuaku, aku mengenal mereka hanya dari sebuah foto dan cerita yang pamanku sampaikan, itupun tak banyak Rey, kata paman ayahku adalah seorang pengusaha dan ibuku seorang ibu rumah tangga, mereka meninggal setelah merayakan ulang tahunku, katanya aku bersama mereka saat kebakaran itu menewaskan mereka, namun aku tidak ingat apapun Rey, aku merasa bersalah atas mereka, seharusnya mereka juga membawaku pergi." Imbuh Mala dengan isak tangisnya, air matanya berderai membasahi pipi putihnya.
Rey menatap sendu gadis terkasihnya, dia ikut merasakan sesak yang Mala rasakan, perlahan dia menarik tubuh Mala kedalam pelukannya, dia hanya diam, tenggorokannya seolah tercekat, Rey tak menyangka jika Mala begitu menderita selama ini, ia baru sadar jika selama ini dia belum mengenal jauh tentang Mala, yang dia tau Mala hanyalah seorang gadis pekerja keras yang terlihat begitu ceria, siapa sangka jika kisah hidupnya begitu menyedihkan.
"Rey, saat melihat Tuan Arthur kesakitan karena melupakan masa lalunya membuatku tersadar, jika selama ini aku sangat egois, aku memanfaatkan kondisi Tuan Arthur agar bisa bersamamu." Ucap Mala yang sontak membuat ekspresi wajah Rey berubah.
"Apa maksudmu?" Tanya Rey dengan sedikit ragu.
"Apa kau tau jika Tuan Arthur sangat menderita dengan penyakitnya? Dan lihat apa yang telah kita lakukan kepadanya?"
"Bukan hanya Arthur yang menderita, aku juga menderita Mala, hanya untuk bersamamu saja aku harus menunggu waktu sampai Arthur merelakan tubuhnya untuk aku singgahi."
"Aku tau kamu hatimu sangat baik, tapi aku tak menyangka jika kamu akan berkata seperti itu."
"Apa kamu mulai menyukai Arthur?" Tebak Rey setelah deretan pertanyaan ia layangkan kepada Mala.
Mala terkejut mendengar kalimat terakhir yang Rey lontarkan. Kalimat Apa kamu mulai menyukai Arthur seolah menggema di kepalanya, gadis itu bungkam, dia tak bisa menjawab pertanyaan Rey yang harusnya mudah untuk ia jawab.
__ADS_1
TIDAK, bukankah seharusnya kata itu yang keluar dari mulut Mala?
Rey menatap getir gadisnya yang tengah membisu. "Kamu bahkan tak bisa menjawabnya sekarang, inikah sebabnya kamu mulai tak bisa membedakan kami, inikah penyebab kamu mulai jarang menjumpaiku dan memilih tidur lebih awal, sekarang aku tau jawabanya, bukan karena lelah sehingga kamu memilih tidur lebih awal, kamu hanya mulai nyaman bersama Arthur dan menghabiskan waktu bersamanya kan?"
"Aku.." Mala terbata seolah yang di tuduhkan Rey adalah sebuah fakta, dia merasa bimbang dengan perasaannya sendiri.
"Tidak, aku tidak menyukainya, aku hanya tidak mau menambah deritanya, dia sudah begitu baik padaku Rey, dia membantuku, memeriku tempat tinggal, dia bahkan memberikan kesempatan mendesain untukku, aku banyak berhutang padanya." Sangkal Mala dengan lantang.
Rey hanya tersenyum , dia bangkit dan melangkahkan kakinya untuk menjauh dari Mala, dia tidak ingin mendengar kalimat Mala selanjutnya.
Mala bergegas berdiri, dia menatap Rey yang mulai menjauh.
"Rey." Panggil Mala.
Rey mengehentikan langkahnya, dia masih berdiam ditempatnya berdiri, terdengar suara langkah kaki Mala mulai mendekat ke arahnya.
"Masih ingat janjimu siang tadi, kamu bilang akan mengabulkan semua keinginanku." Ucap Mala dengan suara bergetar, entah karena dinginnya laut malam atau karena dia ragu dengan kalimat selanjutnya.
Rey menelan salivanya kasar, dia memutar tubuhnya perlahan dan mereka kini saling berhadapan.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Rey dengan mata yang mulai berkaca-kaca, dia seolah tau apa keinginan Mala.
"Aku.... Aku ingin mengakhirinya sekarang Rey, aku tidak ingin perasaan ini semakin dalam."
Rey tak bisa berucap apapun, semua ketakutannya menjadi nyata, tubuhnya melemah seketika, dadanya terasa begitu sesak, dia seolah kehilangan segalanya.
Mala, ya hanya dia satu-satunya orang yang dia miliki, gadis cantik yang tiba-tiba mewarnai kanvas hidupnya yang semula kosong, gadis itu pula yang mulai membuatnya semangat untuk bertahan, namun apa yang di dengarnya kini sungguh menyakitinya, seolah gadisnya dengan sengaja menancapkan balati tepat di jantungnya, tak berdarah memang, namun lukanya begitu terasa. Malam ini, di atas jembatan yang konon katanya akan menghubungkan seseorang dengan jodohnya justru merenggut orang terkasihnya.
BERSAMBUNG..
__ADS_1