
Malam ini Rafli sangatlah sibuk, setelah bertemu dengan Aryo, anak buahnya menghubungi jika mereka telah menemukan pak Karto. Rafli segera menuju tempat sesuai titik yang di kirimkan oleh anak buahnya.
Hampir larut malam saat Rafli tiba di area pergudangan yang sudah lama terbengkelai itu, ia mematikan mesin mobilnya dan sesaat kemudian beberapa anak buahnya datang menghampirinya.
Rafli menurunkan kaca mobilnya, di luar sana sudah ada Tomi yang siap melaporkan situasinya."Dimana pak Karto?" Tanya Rafli sebelum Tomi berucap apapun.
"Dia di sekap di gudang paling ujung tuan. Ada lima orang yang menjaganya." Lapor Tomi, setelah dari Rumah Sakit jiwa ia segera menyusul anak buahnya ke tempat ini.
"Sepertinya kecurigaan anda benar tuan, mereka orang-orang Bagaskara Group." Sambung Tomi, ia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan vidio saat seorang laki-laki keluar dari sebuah mobil mewah. Dengan sedikit bantuan cahaya lampu yang berada di dekat gudang, vidio yang di ambil Tomi terlihat cukup jelas.
Rafli mengerutkan kedua alisnya, laki-laki yang berada di dalam vidio sangatlah familiar untuknya.
"Tom, bukankah dia?" Kalimat Rafli menggantung, ia kembali mengamati sosok itu dengan cermat.
"Ya tuan, dia yang telah menabrak calon istri tuan Arthur." Terang Tomi, ia sudah memastikan jika laki-laki itu adalah orang yang sama dengan yang menabrak Mala.
"Tom, malam ini sepertinya kita sedikit beruntung." Kata Rafli, senyum seringai muncul di wajah dinginnya.
"Apa maksud anda tuan?" Tomi terlihat bingung.
"Kita bukan hanya menemukan pak Karto, kita juga menemukan siapa yang sudah menabrak Mala dan dalang dari semua ini."
"Kau tau siapa laki-laki ini, dia adalah Marsel, dia bekerja di kantor pusat sebagai Asisten tuan Raymond."
Rafli menyeringai, tatapan matanya terlihat horor dan wajah tampannya nampak menakutkan di tengah gelapnya malam.
Rafli keluar dari mobil, ia melepas jas dan menggulung kemeja putihnya hingga siku, melihat hal itu Tomi segera memberi kode kepada anak buahnya untuk mengepung gudang tersebut, mereka bersiap untuk menyelamatkan pak Karto.
Di dalam gudang anak buah Marsel masih menyiksa pak Karto tanpa ampun, kondisi pak Karto sangat memperihatinkan, tubuh rentanya sudah di penuhi luka lebam, sementara di ujung bibirnya mengalir darah segar.
Tomi dan anak buahnya membuka pintu gudang dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang melengking dan mengusik kelima orang yang tengah menyiksa pak Karto.
"Cih, apa kau tak malu pada badan besarmu itu, menyiksa orang tua yang tak berdaya." Ucap Rafli dengan nada menghina.
__ADS_1
"Kurang ajar, siapa yang berani mencampuri urusanku." Geram pria bertubuh besar itu.
Tanpa aba-aba pria bertubuh besar dan empat temannya menyerang Rafli dan kelima anak buahnya, pertarungan tak terelakan, kelima anak buah Marsel bertarung melaman anak buah Rafli, mereka imbang, satu lawan satu. Kesempatan itu Rafli gunakan untuk membebaskan pak Karto. Rafli melepas ikatan tali pada tangan dan kaki pak Karto dengan hati-hati, ia merasa kasihan melihat tubuh tua itu sudah babak belur.
"Sebenarnya apa yang anda sembunyikan tuan Raymon, teganya anda menyiksa pria tuan ini."
Rafli menggendong tubuh pak Karto di punggungnya, pria tua itu tak sadarkan diri. Rafli berlari meninggalkan gudang tersebut, di ambang pintu gudang ia berhenti dan menoleh ke arah anak buahnya.
"Tom, ku serahkan semua padamu, terserah kau apakan mereka." Teriak Rafli, Tomi hanya mengacungkan jari jempolnya dan kembali bertarung.
Rafli memasukkan pak Karto ke dalam mobilnya, ia harus segera membawa pak Karto ke tempat aman. Rafli masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi dari tempat itu. Di jalan Rafli menghubungi Dokter Lutfi, ia tidak membawa pak Karto ke Rumah Sakit karena akan mengundang bayak pertanyaan, Rafli berniat membawa pak Karto ke apartemen Arthur karena ia berfikir apartemen Arthur adalah satu-satunya tempat yang aman.
Setelah setengah jam perjalanan akhirnya Rafli tiba di apartemen Arthur, ia memarkirkan mobilnya di basement dan kembali menggendong pak Karto menuju unit Arthur. Di depan pintu apartemen Arthur, Dokter Lutfi sudah menunggu, perhatiannya langsung tertuju pada pria tua yang berada di punggung Rafli.
"Apa yang terjadi?" Tanya Dokter Lutfi dengan wajah pias
Rafli tak menjawab, ia segera membuka pintu apartemen Arthur dan membawa pak Karto masuk. Rafli menuju kamar yang biasa di pakai Petra karena kamar itu paling dekat dengan pintu, ia menurunkan tubuh pak Karto di atas tempat tidur, Dokter Lutfi membantunya dan merebahkan tubuh pak Karto, tanpa banyak bertanya Dokter Lutfi segera mengobati pria tua itu.
Dokter Lutfi dengan telaten mengobati pak Karto, ia beberapa kali menggelengkan kepalanya, tak menyangka jika ada yang tega melakukan kekerasan kepada pria tua itu, dari luka memar tersebut Dokter Lutfi bisa menyimpulkan jika yang tengah di obatinya adalah korban kekerasan.
"Bagaimana lukanya, apa parah?" Bukannya menjawab Rafli malah balik bertanya.
"Cukup parah, kau yakin tak membawanya ke Rumah sakit saja?"
Rafli cepat-cepat menggeleng.
"Sebenarnya dia siapa?" Dokter Lutfi kembali bertanya.
"Dia saksi kunci, laki-laki tua itu sepertinya tau sesuatu mengenai masa lalu tuan Arthur." Kata Rafli seraya mengamati pak Karto yang terlelap di atas tempat tidur.
"Lalu siapa yang tega menganiayanya seperti itu?"
"Seseorang yang tak menginginkan masa lalu terungkap." Jawab Rafli, ucapannya menyimpan teka-teki yang harus segera di pecahkan.
__ADS_1
"Dok, tolong jaga orang itu, saya harus pergi ke suatu tempat."
Dokter Lutfi hanya mengangguk, ia juga tidak tega meninggalkan pak Karto dalam kondisi seperti itu, ia takut terjadi sesuatu kepada pasiennya.
Rafli meninggalkan apartemen Arthur, dia pergi ke Rumah Sakit untuk melaporkan kepada Arthur bahwa dia sudah menemukan pelaku yang menabrak Mala.
Pukul dua dini hari, Rafli tiba di Rumah Sakit, karena masih terlalu pagi Rafli tidak bisa masuk, ia meraih ponselnya dan menghubungi Arthur.
Arthur masih terlelap disebelah Mala, suara getar dari ponselnya membuatnya terbangun. Ia meraih ponselnya dan menempelkannya di dekat telinga.
"Ya." Jawab Arthur dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Saya menemukan pelakunya." Ucap Rafli dari seberang telefon.
Mata Arthur terbuka lebar, ia bangun dengan sangat hati-hati, lalu kembali berbincang dengan Rafli.
"Dimana kamu?" Tanya Arthur setengah berbisik.
"Di lobby Rumah Sakit."
Arthur menutup telefonnya, ia memeriksa Mala sejenak, melihat gadisnya masih terlelap ia keluar dari ruangan itu secara diam-diam.
"Mati kau di tanganku." Ucap Arthur dengan ekspresi wajah menakutkan.
Arthur menghampiri Rafli yang tengah duduk di bangku panjang yang berada di Lobby Rumah Sakit, melihat kehadiran atasannya, Rafli segera bangun.
"Siapa dia?" Ucap Arthur dengan sorot mata tajam.
Rafli mengeluarkan ponselnya dan menunjukan vidio yang di ambil oleh Tomi.
Rahang Arthur mengeras saat melihat sosok di dalam vidio itu, sosok yang juga tak asing baginya.
"Marsel." Ucap Arthur, kedua tangannya mengepal sempurna.
__ADS_1
BERSAMBUNG..