
Pagi menyapa, matahari mulai menampakkan diri dari peraduannya, suara kicauan burung mengusik seseorang yang tengah terlelap di atas ranjangnya. Mala mengerjapkan matanya, ia memiringkan kepalanya dan melihat sang kekasih masih meringkuk di atas sofabed yang berada di sisi kanan tempat tidur.
"Kapan dia pindah kesana?" Tanya Mala pada dirinya sendiri. Saat ia terlelap Arthur masih berada di sisinya.
Mala kembali meluruskan kepalanya, ia menatap langit-langit kamar Rumah Sakit, tiba-tiba ia mengingat tuan Mahesa dan tanpa ia sadari buliran bening menetes dari sudut matanya.
"Kenapa aku selalu di tinggalkan." Gumam Mala, seketika dadanya terasa sesak, fakta baru tentang ayah kandungnya sungguh menggores luka tersendiri di dalam hati. Air matanya semakin deras dan isak tangis tak bisa ia tahan lagi. Mala harus menangis, mungkin dengan menangis bisa mengurangi sesak di dadanya.
Pria tampan yang masih terlelap itu mulai terusik dengan suara tangisan Mala, ia membuka matanya dengan terpaksa, ia segera bangun, duduk di atas sofa dengan kaki menjuntai ke lantai. Pria itu mengamati tangannya, ia membolak-balikan kedua telapak tangannya dengan wajah bingung.
"Apa ini, aku tidur dan tidak ada yang berubah saat aku bangun?" Ucapnya heran, karena baru kali ini ia nengalami hal seperti ini. Bagi kepribadian Arthur yang lain, tidur adalah sebuah akhir dari kehidupan mereka hari itu, karena saat bangun mereka akan tergantikan dengan sosok lainnya. Namun tidak kali ini, setelah tertidur Petra masih berada di dalam tubuh Arthur.
Suara tangisan Mala kembali mengganggunya, ia segera berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur Mala, gadis itu menoleh saat mendengar langkah kaki seseorang, ia segera menghapus air matanya.
"Apa aku mengganggumu?"Tanya Mala pelan, ia tak berani menatap pria yang kini berdiri disebelah tempat tidurnya
"kenapa pagi-pagi sudah menangis, kau mengganggu tidurku." Jawab pria itu ketus.
Mala mengangkat kepalanya, ia menoleh dan menatap tajam ke arah pria di sebelahnya. "Sial, kenapa harus kamu yang keluar." Keluh Mala, ia mencebikkan bibirnya karena kesal.
"Kau pandai mengumpat sekarang, sepertinya kau harus berguru padaku, aku akan mengajarimu caranya mengumpat yang baik." Ucapnya dengan senyum menyebalkan.
"Kenapa kamu keluar?" Tanya Mala ketus.
"Mana ku tau." Jawab Petra seraya mengangkat kedua bahunya. Petra melirik kursi yang seberada di dekatnya, lalu ia mendaratkan bokongnya di atas kursi itu, ia mengamati wajah Mala.
"Sayang sekali, wajah cantik ini harus terluka, siapa yang berani melakukan hal ini padamu?" Ucapnya lagi, ia berniat menyentuh wajah Mala namun tangannya segera di tepis oleh gadis itu.
Petra terkekeh, ia melipat kedua tangannya di dada dan kembali menatap Mala. Petra kembali merasakan sesak di dadanya, melihat luka di tubuh Mala membuat hatinya merasakan sesuatu yang aneh, ia tak suka melihat Mala terluka.
"Kenapa menangis?" Ulang Petra dengan suara lebih lembut.
Mala menoleh lagi, tanpa di sengaja tatapan mereka saling bertemu.
"Petra." Panggil Mala.
"Apa?"
"Apa kau tau rasanya di telantarkan?"
"Entah, sepertinya enggak, kau lupa aku bahkan nggak memiliki siapapun untuk mentelantarkanku." Jawabnya sambil tersenyum kecut.
"Benar juga, kau bahkan tidak tau siapa dirimu." Sindir Mala, namun Petra hanya menanggapinya dengan anggukan kepala. Yang di katakan Mala adalah kebenaran, jadi Petra tidak berhak marah dengan ucapan Mala mengenai dirinya.
"Apa Arthur mentelantarkanmu? Kenapa nggak tinggalin dia aja, aku siap menggantikannya!" Ucap Petra, ia tersenyum lebar hingga menunjukan deretan gigi putihnya.
"Kau mengajakku berselingkuh?" Ujar Mala.
"Kenapa tidak. Kau adalah gadis yang beruntung, bisa berpacaran dengan tiga orang dalam satu tubuh."
"Tiga orang?" Tanya Mala.
"Aku, Arthur dan Rey. Apa kau mau menambahkan pakde Karto juga." Kelakar Petra.
"Pakde Karto tidak tertarik dengan wanita, dia lebih tertarik dengan jangkrik-jangkriknya." Timpal Mala, ia berusaha menahan senyumnya.
"Pasti sangat seru kencan sambil adu jangkrik."Celoteh Petra dengan wajah datar.
Hahaha..
Akhirnya Mala tak bisa menahan tawanya, ia benar-benar membayangkan jika pergi berkencan dengan pakde Karto sambil membawa kandang jangkrik kesayangannya. Petra tersenyum melihat tawa Mala, ternyata lelucon bodohnya mampu membuat gadis itu tertawa.
"Cantik." Batinnya seraya menatap wajah Mala yang tengah tertawa.
****
Sepulang dari Rumah Sakit, Rafli pulang ke rumahnya, sudah hampir pagi saat ia tiba di rumah. Kedatangannya langsung di sambut sang ibu dengan raut khawatir.
"Maaf bu, Rafli menemani tuan Arthur menjaga calon istrinya di Rumah Sakit." Ucap Rafli untuk menenangkan ibunya.
"Ya sudah, lain kali kabarin ibu biar ibu nggak khawatir."
Rafli hanya mengangguk, ia lalu pergi ke kamarnya, tubuhnya sangat lelah dan matanya sangat berat, ia harus tidur sebentar sebelum pagi datang dan harus kembali bekerja.
Rafli menutup matanya, alih-alih tertidur ia justru teringat ucapan Petra kepadanya.
__ADS_1
"Seseorang yang lebih berkuasa dari tuan Raymon."
Tiba-tiba Rafli teringat akan seseorang, namun ia cepat-cepat menepis rasa curiganya.
"Nggak mungkin." Batin Rafli sebelum akhirnya ia terlelap di atas tempat tidurnya.
****
Rafli membuka matanya yang masih terasa berat, bunyi alarm dari ponselnya sungguh sangat mengganggu. Rafli bangkit dari tidurnya, dengan mata setengah tertutup ia masuk ke dalam kamar mandi.
Sebelum berangkat kuliah Lala berencana untuk mampir ke rumah Rafli karena setelah mengantarnya kemarin Rafli tak memberikan kabar apapun.
Lala memarkirkan motornya di halaman rumah Rafli, saat itu juga bu Yati keluar dari rumahnya, bu Yati terlihat sedang mempersiapkan dagangannya. Lala segera turun dari motor dan menghampiri bu Yati.
"Pagi bu."Sapa Lala dengan senyum lebar di wajahnya.
"Nak Lala. Pagi sekali nak." Bu Yati nampak terkejut dengan kehadiran Lala.
"Iya bu, Lala ada perlu sama Asisten Rafli."
"Masuk saja nak, Rafli belum bangun."
"Tapi bu." Lala terlihat ragu.
"Nggak papa, masuk aja, kamarnya yang paling depan, ibu mau berangkat sekarang, nanti kesiangan."
"Lala bantuin ya bu."
"Nggak usah nak. Sudah masuk saja sana, ingat pesan ibu, tidak boleh melewati batas!"
"Siap bu. Hati-hati di jalan."
Lala menatap punggung bu Yati yang tengah mendorong gerobak nasi uduknya, setelah bu Yati tak terlihat lagi, ia masuk ke dalam rumah itu. Lala berdiri di depan pintu kamar yang ia yakini adalah kamar Rafli.
Lala mengetuk pintu berulang kali namun tak ada respon dari pemilik kamar..Karena penasaran Lala mendorong pintu tersebut dan terbuka.
"Nggak di kunci." Gumamnya pelan.
"Asisten Rafli." Panggil Lala, ia mengintip dari celah pintu yang terbuka namun tak bisa melihat apapun.
"Kemana dia, aku yakin ini kamarnya."
Lala masuk lebih dalam, ia mengamati desain interior kamar Rafli yang sangat bagus menurutnya. Lala melangkah mendekati tempat tidur Rafli, ia tertarik dengan sesuatu yang berada di atas nakas sebelah tempat tidur itu.Sebuah foto kelulusan SMA, terlihat Rafli dan Arthur tersenyum lebar di foto itu.
"Jadi mereka berteman sejak lama."
Ceklek..
Suara pintu terbuka, Lala berbalik dan menoleh ke sumber suara. Seketika Lala mematung, ia melongo melihat Rafli keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya. Rambutnya yang basah menetes membasahi dada bidangnya. Tangan kanan Rafli berada di kepalanya sambil memegangi handuk kecil sehingga memperlihatkan otot-otot tangannya.
"Oh my God, you're so sexy." Ucap Lala keceplosan.
"Apa yang kau lakukan disini." Teriak Rafli, ia menyilangkan kedua tangannya di dada, namun Lala tak mengindahkan ucapannya, gadis itu masih melonggo, matanya tak berkedip melihat pemandangan yang membuat darahnya berdesir.
"Mikhayla."
Lala tersentak, ia menjadi salah tingkah, buru-buru ia menutup mata dengan kedua telapak tangannya, namun dari celah jari-jarinya ia masih bisa melihat tubuh Rafli yang membuatnya menelan ludah.
"Berbalik." Titah Rafli, gadis itu menurut meskipun dengan berat hati.
Rafli bergegas mengambil baju dari dalam lemari dan kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.
Lala menutup mulut dengan tangannya, di balik tangan itu ia tersenyum sambil membayangkan tubuh kekar Rafli yang sangat menggoda imannya. Gadis itu cekikikan, fantasi liarnya memenuhi isi kepalanya.
"Apa yang kau tertawakan."
Lala menoleh, ia menggigit bibir bawahnya seraya mengamati Rafli dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
"Lala." Panggil Rafli dengan keras.
"Eh, iya, apa, kenapa?" Jawab Lala asal-asalan, ia masih sibuk mengamati Rafli yang berdiri di depannya.
"Jangan menatapku seperti itu." Rafli mulai resah dengan tatapan mesyum Lala.
"Lala." Panggilnya lagi.
__ADS_1
"Apa." Saut Lala dengan wajah merona.
"Kenapa wajahmu merah?" Tanya Rafli, ia melangkahkan kakinya agar lebih dekat dengan Lala.
"Apa kau demam?" Rafli menempelkan punggung tangannya di kening Lala.
"Tidak demam, kenapa wajahmu merah begitu."
"Jangan bilang kau..." Suara Rafli tercekat.
"Aku kenapa?" Tanya Lala seraya menatap Rafli. Gadis itu maju satu langkah mengikis jarak di antara keduanya, jarak mereka sangat dekat saat ini.
"Kau.." Rafli tak mampu berbicara saking gugupnya. Ia melangkah mundur agar menjaga jarak aman.
"Aku kenapa." Ucap Lala lagi, ia kembali maju satu langkah sehingga jarak mereka kembali dekat.
"Jangan main-main denganku, atau kau akan menyesalinya." Gertak Rafli dengan suara bergetar.
"Apa yang akan kau lakukan padaku?" Tantang Lala, kedua tangannya menarik kerah Rafli membuat tubuh Rafli sedikit condong ke depan.
"Lala, apa yang kau lakukan." Ujar Rafli pelan.
Lala tak merespon, ia mendekatkan wajahnya ke leher Rafli, deru nafas Lala menyapu leher Rafli dan membuatnya meremang.
"Hahahahaha." Lala tertawa tepat di telinga Rafli karena berhasil mengerjai Rafli. Wajah tegang Rafli sungguh membuat Lala tak bisa menahan tawanya.
"Kau." Geram Rafli.
Rafli mendorong tubuh Lala hingga gadis itu terpojok di tembok, Rafli mengunci tubuh Lala dengan kedua tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Lala gugup.
"Entah." Ucap Rafli dengan seringai di wajahnya.
"Lepaskan aku, aku harus ke kampus sekarang. Aku harus pergi se...."
Lala tak menuntaskan kalimatnya, bibir Rafli lebih dulu membekap mulutnya, Rafli menciumnya dengan lembut namun menuntut, Rafli mulai memaksakan lidahnya masuk ke dalam mulut Lala, gadis itu berusah mendorong tubuh Rafli namun tak ada pergerakan sedikitpun.
Rafli melepaskan ciumannya saat menyadari Lala kehabisan nafas, ia memberi kesempatan kepada Lala untuk bernafas dan mengumpulkan oksigen sebanyak-banyaknya.
Rafli melirik pintu yang terbuka, ia berjalan ke arah pintu dan menutupnya, tak lupa Rafli juga mengunci pintu kamarnya membuat Lala semakin ketakutan.
Rafli kembali menghampiri Lala, ia membuka tiga kancing kemejanya sehingga menampakkan dada bidangnya di balik kemeja putih itu.
Lala bersusah payah menelan salivanya, sepertinya ia telah membangunkan singa yang tidur.
"Jangan mendekat." Ucap Lala dengan gugup. Kedua tangannya terulur ke depan guna menahan Rafli yang semakin dekat.
Rafli hanya tersenyum simpul, ia meraih tangan Lala, menarik tangan itu, meletakkannya di atas kepala Lala dan menguncinya dengan tangan kirinya.
Rafli kembali mencium Lala, ia melu*mat bibir bawah Lala dengan rakus, membuat sang gadis merasakan sensasi yang berbeda. Lala telah terbuai akan Rafli, ia mulai membuka mulutnya, membiarkan lidah Rafli menjelajahi rongga mulutnya, detik selanjutnya lidah mereka saling mena*ut dan mengecap satu sama lain.
Ciuman Rafli berpindah ke leher jenjang Lala, aroma wangi Lala menambah gejolak didalam tubunya. Rafli mulai menyesap leher Lala, ia bak seorang vampire yang tengah memangsa darah korbannya.
Tanpa Lala sadari des*ahan mengalun indah keluar dari bibirnya membuat Rafli semakin barapi-api. Rafli mengangkat tubuh Lala dan membaringkannya di atas tempat tidur, ia kembali mencium bibir Lala, namun kali ini tangannya mulai melepas kancing kemeja Lala sehingga menampakan kedua daging kenyal milik Lala.
Mata Rafli di liputi kabut gairah, ia tak bisa menahannya lagi, ia mulai melepas satu persatu pakaian Lala, tubuh tela*njang Lala membuat naf*sunya semakin menggebu, tanpa persetujuan Lala, Rafli merenggut kesucian Lala, kedua insan yang tengah mabuk kebayang itu melakukan penyatuan yang tak semestinya mereka lakukan. Hawa nafsu menutup mata mereka, pagi itu dengan suara lenguhan yang keluar dari mulut masing-masing mereka menuntaskan hasrat terlarang mereka.
Rafli memeluk tubuh polos Lala, penyesalan datang setelah mereka melakukannya. Rafli merutuki dirinya sendiri karena tak bisa menahan hawa nafsunya, ia merasa menjadi pria be*jat yang merenggut kesucian kekasihnya sebelum ikatan suci mengikat keduanya.
"Maafkan aku. Aku akan ke rumahmu dan melamarmu segera." Ucap Rafli penuh sesal. Namun penyesalan tak mengubah apapun, ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Kenapa harus minta maaf, kita melakukannya atas dasar suka sama suka, kau tak memaksaku. Aku saja yang tak bisa menjaga diriku."
Ucapan Lala seakan menghunus relung hati Rafli, ia semakin merasa bersalah kepada Lala karena telah merusak masa depannya
Lala kembali bungkam, ia memunguti satu persatu bajunya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kotornya.
Guyuran air shower membasahi seluruh tubuh Lala, air matanya turut menetes bersama dengan aliran air tersebut, rasa sakit di pangkal pahanya tak terlalu ia pedulikan, bayangan akan masa depannya yang hancur membuatnya menangis sejadi-jadinya.
Menyesal? Tentu saja. Namun Lala lebih memilih menangis sendiri, ia tak ingin Rafli melihat air matanya, Rafli menyentuhnya tanpa paksaan apapun, bukankah egois jika Lala menangis dan menyalahkan Rafli.
Setelah tenang Lala menyelesaikan mandinya dan keluar dari kamar mandi. Ia berdiri di depan pintu dan menatap Rafli yang sedang duduk termenung di atas tempat tidur.
"Mari tebus kesalahan ini dan menikah."
__ADS_1
BERSAMBUNG...