
Dua hari setelah pertemuannya dengan pak Karto, Rafli kembali mengunjungi Rumah Sakit Jiwa tempat dimana pak Karto di rawat. Meskipun kecil kemungkinannya, namun Rafli tetap berharap akan mendapatkan petunjuk mengenai kebakaran itu.
Rafli tiba di RSJ tepat saat jam besuk di mulai, setelah mendapat izin dari dokter dan juga perawat, akhirnya Rafli di perbolehkan masuk ke dalam ruangan pak Karto. Rafli merasa terenyuh saat melihat kondisi pak Karto, pria tua itu tengah duduk termenung dengan pandangan kosong, mulutnya tak henti-hentinya berkomat-kamit seperti seseorang yang sedang merapalkan mantra. Sayup-sayup terdengar kalimat yang pernah Rafli dengar dua hari sebelumnya.
"Bukan saya, bukan saya pelakunya, saya tidak membakar tempat itu, saya tidak tau apa-apa."
Seolah terekam di dalam kepalanya kalimat itu keluar secara berulang-ulang dari mulut pak Karto, dan setelah mengucap kalimat tersebut pak Karto akan bertingkah layaknya seseorang yang tengah ketakutan, ia meringkuk, tangannya yang terikat terangkat seaakan tengah melindungi tubuhnya dari amukan seseorang.
"Ampuni saya tuan, saya akan menutup rapat mulut saya." Ucapnya lagi dengan bibir bergertar, anggota tubuhnya yang lainpun gemetaran.
"Apa yang sebenarnya terjadi pak, kenapa anda bisa sampai disini." Rafli bermonolog, meskipun sempat ragu, ia akhirnya memberanikan diri untuk mendekati pak Karto.
Rafli menarik kursi dan duduk di sebelah ranjang pak Karto, ia menatap nelangsa lelaki tua dengan seutas tali melingkar di pergelangan tangannya. Rafli menghela nafas panjang, masalahnya semakin pelik, ia harus mengorek keterangan dari pasien dengan gangguan kejiwaan.
"Pak Karto." Rafli berusaha untuk berinteraksi dengan pak Karto.
"Pak Karto." Ulang Rafli.
Setelah panggilan ketiga, pria itu menoleh ke arah Rafli duduk, ia kemudian menatap Rafli sendu, detik berikutnya pak Karto meneteskan air matanya.
"Kenapa bapak menangis." Ucap Rafli seraya mencondongkan tubuhnya sehingga jarak keduanya lebih dekat.
"Bukan saya, bukan saya pelakunya, saya tidak membakar tempat itu, saya tidak tau apa-apa." Pak Karto kembali melafalkan kalimat itu dengan air mata berlinang di pelupuk matanya.
"Lalu siapa pelakunya pak, anda bisa memberitahu saya, saya akan menangkap pelakunya." Pancing Rafli, ia sungguh berharap akan segera menemukan titik terang.
"Monster, iblis dia se*tan yang sangat mengerikan." Desis pak Karto.
"Moster? Apa maksud anda pak?"
__ADS_1
"Dia gadis yang sangat cantik, tapi sayang seperti monster."
"Moster itu yang membakarnya hahahah." Pak Karto tertawa terbahak-bahak.
"Moster kecil yang menakutkan." Ucapnya lagi , detik berikutnya ia meraung-raung dan kembali terlihat ketakutan.
Mendengar teriakan pak Karto, dua perawat masuk dan menyuntikkan sesuatu dilengan pak Karto, beberapa detik kemudian pak Karto mulai tenang dan memejamkan matanya, ia tertidur.
Rafli memijat pangkal hidungnya, semuanya menjadi semakin rumit. Monster, iblis, set*an, gadis cantik yang seperti moster. Sungguh teka-teki yang berhasil membuat kepala Rafli berdenyut.
****
Tuan Mahesa kembali datang ke kantor Art Life, ia akan membahas desain terakhir sebelum proyek pembangunan hotel di mulai. Tuan Mahesa mempercayakan keseluruhan proyek pembangunan hotelnya kepada Arthur, dari mulai desain hingga kontraktor, Tuan Mahesa percaya Arthur tidak akan mengecewakannya.
"Terimakasih untuk kepercayaan anda tuan, saya tidak akan mengecewakan anda." Ucap Arthur percaya diri.
"Sama-sama Tuan Arthur, saya juga percaya anda tidak akan mengecewakan saya." Jawab Tuan Mahesa lembut. "Ngomong-ngomong dimana Mala, saya tidak melihatnya dari tadi?" Imbuh Tuan Mahesa. Kedatangannya ke kantor Arthur ia manfaatkan untuk melihat putrinya, namun sayang yang di cari tak ia temui sejak tadi
"Tidak perlu Tuan Arthur. Kalau begitu saya permisi."
Tuan Mahesa keluar dari ruangan Arthur, ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, matanya berbinar begitu melihat Mala tengah bergurau dengan temannya. Tuan Mahesa mengamati Mala dari jarak yang cukup jauh, rasa sesal kembali memenuhi hatinya, membuatnya merasa sesak, seolah beban berat menghimpit hatinya.
"Kau sangat cantik, mirip dengan ibumu." Batin Tuan Mahesa, ia kembali teringat akan mantan istrinya yang telah tiada.
"Tuan Mahesa." Panggi Mala setelah gadis itu melihat Tuan Mahesa melamun, ia menghampiri Tuan Mahesa dengan senyum diwajahnya.
"Kenapa anda berdiri disini?" Tanya Mala.
"Ah, saya baru selesai meeting dengan Tuan Arthur, saya sedang mengagumi kantor Tuan Arthur yang sangat bagus." Kilah Tuan Mahesa.
__ADS_1
"Oh, baiklah kalau begitu. Saya permisi tuan, ada pekerjaan yang belum saya selesaikan."
Mala menunduk hormat, ia lalu masuk kedalam ruangan Arthur, ia ingin menyerahkan desain Lansekap terbarunya.
Tuan Mahesa menatap pungguh Mala dengan perasaan sedih, ia tak tega melihat putrinya harus bekerja keras. Tuan Mahesa sempat murka saat tau jika selama ini Mala di jadikan tulang punggung oleh Bi Ningsih, ia sempat mendatangi bi Ningsih untuk memberi pelajaran kepada wanita jahat itu. Untungnya untuk saat ini Mala tinggal bersama Arthur , Tuan Mahesa sedikit merasa senang, entah mengapa ia percaya jika Arthur mampu melindungi putrinya.
Mala menghampiri Arthur yang sedang duduk di kursi sambil memijat pelipisnya. Mala berdiri didepan meja Arthur dan mengamati pria itu secara diam-diam.
"Apa anda tidak enak badan?" Mala terdengar seperti sedang mengkhawatirkan Arthur.
"Aku baik-baik saja, hanya saja pekerjaanku terlalu banyak." Keluh Arthur. Ia lalu melepas kacamatanya dan menaruhnya di atas meja.
"Mau saya buatkan teh?" Tawar Mala.
"Tidak perlu, aku hanya buruh tambahan energi, aku perlu mengisi daya." Tolak Arthur.
"Bagaimana caranya?" Ucap Mala bingung.
"Kemarilah."
Mala menggeser kakinya, ia sekarang berdiri disebelah Arthur, Mala fikir mereka akan membahasa desain yang Mala buat, namun rupanya gadia itu salah, Arthur menarik tangan Mala sehingga ia jatuh di atas pangkuan Arthur. Mala terperanjat, ia berusaha untuk bangun, namun sia-sia, karena tenaga Arthur begitu kuat.
Arthur melingkarkan kedua tangannya di pinggang Mala, sementara Mala hanya menunduk, ia tengah menahan agar jantungnya tidak berdebar secara berlebihan.
"Aku harus segera mengisi daya." Ucap Arthur pelan, ia memeluk erat tubuh Mala lalu membenamkan kepalanya di ceruk leher Mala.
"Tuan lepaskan, apa yang anda lakukan." Protes Mala, ia mencoba mendorong bahu Arthur namun tak bergerak sedikitpun.
"Sebentar saja, aku lelah, aku harus mengisi daya agar aku bisa semangat lagi."
__ADS_1
Mala membuang nafas dengan kasar, ia tau aksi melawannya tak akan pernah berhasil. Akhirnya Mala mebiarkan Arthur memeluknya, hanya saja hangatnya nafas Arthur yang menyapu kulit lehernya membuat Mala meremang, ia mulai gelisah dan merasa tidak nyaman duduk di pangkuan Arthur.
BERSAMBUNG...