My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 87 Calon Mertua


__ADS_3

Sudah satu hari pasca operasi cangkok hati, namun belum ada tanda-tanda Mala akan segera bangun. Mala masih berada di ruangan ICU, Dokter masih harus memantaunya secara intensif sampai benar-benar bisa di pastikan jika tubuh Mala menerima dengan baik organ barunya.


Tuan Mahesa berada di ruang perawatan guna memulihkan kondisinya. Pola hidup sehat yang selalu tuan Mahesa jalani nyatanya sangat membantu proses regenerasi hatinya. Hati adalah salah satu organ manusia yang bisa tumbuh kembali hanya dalam kurun waktu 2 minggu saja, proses regenerasi ini bisa terjadi karena Hepatosit, sel utama yang membentuk organ hati mampu menggandakan diri. Istimewa bukan, namun meskipun demikian kita tetap harus menjaga kesehatan hati kita dengan tidak merokok, menghindari alkohol, makan makanan yang bergizi serta menjauhkan diri dari kata patah hati. Eh la kok kesana ha ha ha.


Berkat pola hidup sehat itu pula tuan Mahesa bisa mendonorkan hati untuk anaknya. Karena untuk menjadi seorang pendonor memerlukan beberapa syarat mutlak salah satunya adalah tubuh yang sehat.


Rafli datang ke Rumah Sakit dengan membawa beberapa dokumen yang harus di tandatangani oleh Arthur, saat Rafli tiba, ia melihat Arthur tengah tertidur dengan posisi duduk. Rafli berjalan pelan mendekati Arthur dan duduk tak jauh dari Arthur. Rafli mengamati Arthur sejenak, wajahnya nampak sangat lelah dan sepertinya berat badannya juga berkurang. Rafli benar-benar masih tidak menyangka jika kehadiran Mala hampir merubah semua sikap buruk Arthur.


Arthur membuka matanya pelan, ia sedikit kaget saat melihat Rafli duduk di sebelahnya.


"Kenapa tidak membangunkanku?" Tanyanya dengan suara serak.


"Anda terlihat sangat lelah, saya tidak tega membangunkannya." Jawab Rafli.


"Apa yang kau bawa?" Arthur melirik beberapa dokumen yang berada di tangan Rafli.


"Beberapa laporan yang harus anda tanda tangani." Rafli menyerahkan berkas tersebut, Arthur meraihnya, memeriksanya dengan seksama lalu segera menandatanganinya.


"Anda yakin tidak ingin istirahat di rumah?" Tanya Rafli, ia khawatir jika Arthur kelelahan dan kepribadian lain akan muncul.


"Aku harus menemani Mala."


Rafli mengangguk pelan, ia mulai mengerti mengapa Arthur melakukan hal itu, jika Lala yang berada di Rumah Sakit mungkin saja Rafli akan melakukan hal yang sama seperti yang Arthur lakukan.


Setelah setengah jam di Rumah Sakit, Rafli pamit karena harus kembali ke kantor, pekerjaannya masih sangat banyak, belum lagi ia masih harus mencari pelaku tabrak lari itu.


Jam besuk sudah di mulai, Arthur sangat bersemangat untuk menemui Mala dan berbincang bersamanya, meskipun pada akhirnya hanya dia yang bicara.


Arthur duduk di sebelah tempat tidur Mala, ia meraih tangan Mala dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. Arthur tersenyum saat menatap wajah cantik Mala, wajahnya tak sepucat kemarin.


"Sayang, kenapa lama sekali tidurnya. Bangunlah, aku sangat merindukanmu."


"Aku lelah menangis sejak kemarin, lihatlah wajah tampanku terlihat sangat kumal, mataku juga sudah menghitam seperti panda, bangunlah dan lihat wajah tampanku yang mulai jelek." Ucapnya seraya menyentuh wajah.


"Kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Astaga, hari itu aku sangat ingin memakanmu hidup-hidup, bagaimana mungkin kamu membuat Arthur Bagaskara terjatuh di depan karyawannya?" Arthur terkekeh , ia kembali teringat pertemuan awalnya bersama Mala.


"Waktu itu kamu hanya menunduk dan terus mengucapkan kata maaf. Kau lucu sekali waktu itu."

__ADS_1


"Mala, Nismala tuan. haha kau sangat gugup saat menyebut namamu." Arthur tersenyum, ia mengecup punggung tangan Mala beberapa kali.


"Kau dengar Rafli hubungi HRD segera, dia di pecat." Sebuah ucapan lirih terdengar di telinga Arthur.


Arthur terperanjat, matanya kembali berair, ia seperti mendengar suara Mala, ia menoleh, betapa bahagianya dia saat melihat Mala telah membuka matanya dan bahkan tengah tersenyum kepadanya.


Arthur berdiri dari duduknya dan berdiri lebih dekat di samping Mala, ia mengusap kepala Mala dengan pelan dan mengecup keningnya.


"Terimakasih. Terimakasih karena sudah kembali."


Arthur menekan Nurse Call Bel yang berada di atas tempat tidur Mala. Tak lama berselang seorang Perawat datang.


"Sus, dia sudah sadar." Ucap Arthur bersemangat.


Perawat itu lalu memeriksa tanda vital Mala dengan hati-hati.


"Saya panggilkan Dokter sebentar." Ucap Perawat itu lalu dia keluar dari ruangan Mala.


Arthur tak bisa menutupi rasa bahagianya, ia terus menatap Mala dan tersenyum kepadanya.


Perawat itu datang lagi bersama seorang Dokter yang mengoperasi Mala, Dokter itu tersenyum kepada Arthur dan segera memeriksa Mala.


Mala hanya mengangguk dan mengedipkan matanya.


"Ikuti tangan saya." Dokter itu menggerakkan telunjuk tangannya ke kiri dan ke kanan, bola mata Malapun bergerak mengikutinya.


"Apa yang anda rasakan saat ini?"


"Pusing." Jawab Mala dengan suara yang masih lemah.


"Anda ingat apa yang terjadi?"


"Saya kecelakaan."


"Anda ingat siapa laki-laki yang berdiri di sebelah anda?"


Mala mengangguk.

__ADS_1


"Siapa dia?"


"Calon suami."


Arthur berusaha untuk menahan senyumnya, ia tak menyangka Mala menyebutnya sebagai calon suaminya.


"Sejauh ini semuanya baik, belum ada tanda-tanda penolakan dari tubuh pasien." Jelas sang Dokter.


"Istirahat yang banyak, anda harus segera sembuh dan menikah, kasihan calon suami anda, dia sangat mengkhawatirkan anda. Baiklah kalau begitu saya permisi."


Dokter dan perawat itu keluar dari ruangan, Arthur kembali duduk dan meraih tangan Mala. Arthur mengambil sesuatu dari saku celananya, cincin lamaran yang sempat di lepas saat Mala di opesari kini kembali Arthur sematkan di jari manis Mala.


"Kamu sudah tidak bisa kabur lagi sekarang." Ucap Arthur, lagi dan lagi ia mengecup tangan Mala. "Tunggu sebentar, sejak kapan kamu sadar?"


"Sebelum anda masuk kesini." Jawab Mala, suaranya mulai terdengar jelas.


"Apa? Arthur terkejut. "Jadi kamu mendengar semuanya?"


"Hem, aku rasa wajah anda tidak setampan kemarin." Goda Mala.


"Isshh." Arthur mengusap wajahnya kasar, bukan karena marah namun ia terlalu malu kepada Mala.


"Isshh? Anda baru saja mengumpat? Tanya Mala dengan wajah tak suka.


"Siapa , aku? Aku sudah berhenti mengumpat sekarang, aku susah bertaubat." Ucap Arthur seraya tersenyum kecut.


Mala kembali tersenyum, ia sangat bahagia, saat menutup mata orang terakhir yang di lihatnya adalah Arthur dan saat ia membuka matanya orang yang pertaman di lihatpun Arthur. Mala tak ingin membohongi perasaannya lagi, ia menerima lamaran Arthur dan bersedia menjadi istri pria aneh itu.


Jam besuk telah usai, dengan berat hati Arthur keluar dari ruangan itu, dia harus menunggu hingga Mala di pindahkan dari ICU agar dia bisa menemani Mala sepanjang waktu.


Arthur meraih ponselnya, ia menghubungi mama Wulan dan memberitahukan jika Mala sudar. Mama Wulan terdengar menangis saking bahagianya.


"Mama segera kesana." Ucap mama Wulan sebelum panggilan itu berakhir.


Arthur kembali berkutat dengan ponselnya, kali ini ia menghubungi Lala. Arthur hanya mengirim pesan karena ia tahu Lala pasti sedang kuliah.


Arthur kembali duduk di kursi tunggu, dari kejauhan ia melihat tuan Mahesa duduk di kursi roda dan sedang berjalan ke arahnya dengan bantuan seorang perawat.

__ADS_1


Tiba-tiba Arthur menjadi gugup, jantungnya berdebar-debar saat tuan Mahesa semakin dekat.


"Ah tidak, apa yang harus aku katakan kepada calon mertuaku."


__ADS_2