My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 70 Masuk Perangkap Lagi


__ADS_3

"Apa?" Ucap seseorang kaget, dua gadis itu tak kalah kagetnya, keduanya lalu menoleh dan melihat seorang wanita paruh baya berdiri di hadapan mereka.


"Mama Wulan." Seru Mala dengan wajah piasnya.


"Mama?" Tanya Lala bingung.


"Beliau ibunya Tuan Arthur."Bisik Mala.


"Apaaa?" Lala sampai menolot saking terkejutnya, sebenarnya sejauh apa hubungan sahabatnya bersama Arthur sampai Mala memanggil wanita paruh baya itu dengan sebutan Mama.


"Maaf nyonya saya terkejut, maafkan saya." Sesal Lala karena berteriak didepan nyonya besar Bagaskara Group.


"Tidak papa." Ucap Mama Wulan seraya mengulas senyum. "Kalau begitu saya pinjam temanmu sebentar ya." Imbuh mama Wulan kemudian dia meraih tangan Mala dan menuntunnya menuju ruangan Arthur.


Lala menatap kepergian sahabatnya, ia sungguh masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengar dan dilihatnya.


"Astaga naga, sijomblo sejati itu mujur sekali, sekalinya mendapat pacar langsung bos besar perusahaan, sudah ganteng, banyak duit pula." Gumam Lala sambil tersenyum karena membayangkan jika dirinya berada di posisi Mala.


"Wait, wait, sejak kapan mereka pacaran, kenapa Mala tak memberitahuku?" Senyum Lala pudar tergantikan ekspresi wajah yang sulih diartikan. Entah marah atau hanya penasaran kenapa sahabatnya menyimpan rahasian darinya.


Mama Wulan masuk kedalam ruangan Arthur bersama dengan Mala, wanita paruh baya itu segera menghampiri putranya dan mereka memeluknya. Arthur membalas pelukan mama Wulan, sungguh keduanya terlihat seperti anak dan ibu kandung.


"Kenapa datang pagi sekali ma?" Tanya Arthur setelah melepas pelukannya.


"Sejak kemarin mama khawatir sekali kepadamu, jadi mama memutuskan datang. Syukurlah saat mama datang justru mama mendengar kabar bahagia." Jawab mama Wulan seraya menatap Arthur dan Mala bergantian.


"Kabar apa ma?" Arthur terlihat bingung, dia melirik Mala yang tertunduk lesu disebelah mama Wulan.


"Mama senang sekali akhirnya kamu melamar Mala."


"Apaaa, melamar?" Celetuk Rafli, dia spontan menutup mulutnya karena merasa lancang dengan ucapannya yang sebenarnya kelepasan itu.


"Maaf tuan, maaf nyonya. Saya permisi." Rafli memilih keluar dan membiarkan keluarga itu membicarakan masalah pribadi mereka.


Setelah Rafli keluar mama Wulan duduk di sofa ruang kerja Arthur di temani oleh Arthur dan Mala, keduanya hanya diam menanti rentetan pertanyaan yang akan mama Wulan ucapkan.


"Jadi apa Mala sudah menerimanya, apa kalian akan segera menikah?"Tanya mama Wulan dengan semangat.


"Belum ma, Mala masih belum menjawabnya, mungkin dia tidak mau menikah dengan orang aneh yang memiliki banyak kepribadian sepertiku." Ucap Arthur secara monohok.

__ADS_1


"Benarkah demikian sayang?" Mama Wulan menatap Mala dengan wajah sedih.


"Tidak ma, bukan begitu. Hanya sajaa.. emm." Mala bingung harus menjawab apa.


"Mala masih terlalu muda dan masih ingin melanjutkan kuliah Mala ma."


"Setelah menikah kan juga bisa kuliah, yang penting usiamu sudah lebih dari 18 tahun juga sudah boleh menikah. Mama hanya berharap kalian segera menikah. Mama sudah ingin menimang cucu."


Mala menelan ludahnya dengan kasar, dia menggerutu melihat Arthur yang justru tersenyum mendengar kata cucu dari mulut mama Wulan. "Ah sial, aku masuk perangkap lagi." Batin Mala kesal.


***


Rafli masih terpaku didepan ruangan Arthur, dia masih tak percaya jika Arthur benar-benar jatuh cinta kepada Mala dan bahkan secepat itu melamarnya.


"Cinta sungguh membutakan." Desis Rafli lalu dia pergi menuju ruangannya. Rafli berhenti didepan ruangannya, dia mengamati kubikel Lala dan melihat gadis itu tengah duduk santai karena jam kantor memang belum di mulai.


Rafli mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, dia mengetik pesan dan mengirimnya kepada lala..Rafli mengamati Lala dari kejauhan, dia menantikan Lala membalas pesannya.


"Naik ke rooftop."


Lala mengerutkan dahinya karena mendapat pesan dari nomor tak di kenal, dia menatap sekeliling dan melihat Rafli tengah menatapnya dengan wajah pias.


Rafli menarik nafas panjang, dia kecewa karna Lala mengabaikan pesannya.


"Ada yang perlu aku katakan, tentang magangmu!!!!!"


Rafli kembali mengirim pesan dan segera naik ke rooftop. Lima menit menunggu akhirnya Rafli melihat Lala, gadis itu berjalan menghampirinya.


"Dari mana anda tau nomer saya?" Tanya Lala cuek.


"Tidak penting." Jawab Rafli.


"Apa yang mau anda bicarakan, kenapa harus disini, kenapa tidak di ruangan anda saja?"


"Kenapa kau begitu dingin padaku." Protes Rafli dengan perubahan sikap Lala yang begitu acuh padanya, padahal beberapa waktu lalu gadis itu selalu menempel dan mengaku menjadi kekasihnya.


"Apa yang anda ingin bahas denganku Asisten Rafli." Lala mulai kesal.


"Kenapa kau menghindariku sekarang, kau tak menyukaiku lagi?" Tanya Rafli.

__ADS_1


Lala membuang nafasnya kasar, dia lalu menatap Rafli, tinggi badan keduanya tak begitu terpaut jauh sehingga Lala leluasa menatap wajah Rafli.


"Tampannya. Sadar lala, sadar." Batin Lala.


"Bukankah anda yang melarang saya untuk mendekati anda, sekarang saya hanya menuruti kemauan anda." Ucap Lala lantang.


"Bukankah kau terlalu cepat untuk menyerah?" Kata Rafli.


"Bukankah bukan hal yang wajar jika seorang perempuan mengejar laki-laki yang jelas sudah menolaknya beberapa kali?" Ujar Lala dengan tatapan tajam.


Setelah melontarkan kalimat itu, Lala berniat pergi dan meninggalkan Rafli yang sudah membuat paginya begitu menyebalkan. Namun gadis itu terhenti, saat tangan Rafli meraih tangannya.


"Apa lagi." Ucap Lala sambil menghentakan salah satu kakinya, gadis itu memutar tubuhnya sehingga dia berhadapan dengan Rafli sekarang.


"Kalau kau sudah bosan mengejarku, maka izinkah aku untuk mengejarmu sekarang." Ungkap Rafli dan membuat Lala terkejut, gadis itu mematung. Pagi ini dia hidupnya dipenuhi kejutan.


Rafli menangkup kedua wajah Lala, kemudian dia mengecup bibir Lala singkat. Lala yang masih terkejut hanya diam. Tak mendapati penolakan dari Lala, Rafli kembali melancarkan aksinya, dia kembali mengecup bibir Lala dan mulai menghi*sapnya dengan lembut. Lala membulatkan matanya, dia berusaha untuk mendorong tubuh Rafli saat kesadaraannya mulai pulih, namun Rafli justru semakin melu*mat habis bibir Lala sampai gadis itu gelagapan.


Lala masih berontak, namun Rafli sengaja menekan tengkuk Lala dan memperdalam ciumannya. Lima menit berlalu, gadis itu sudah mulai tenang, Lala hanyut akan permainan Rafli, dia mulai memejamkan matanya dan membalas ciuman Rafli yang sudah ia damba sejak lama. Lala mengalungkan tangannya di leher Rafli, keduanya terlibat ciuman panas dipagi hari yang sejuk ini.


Rafli melepaskan tautannya, dia memandangi wajah Lala yang tersipu, Rafli merapikan rambut Lala sejenak, kemudian dia kembali melayangkan kecupan dipucuk kepala Lala.


"Jadi kita pacaran sekarang?" Tanya Rafli untuk memastikan status mereka.


"Kata siapa?" Ucap Lala dengan wajah tersipu.


"Kataku, kau juga membalas ciumanku tadi. Apa kau mau di cium lagi?"


"Tidaa..."


Lala belum menyelesaikan kalimatnya, namun Rafli sudah lebih dulu membungkam mutulnya dengan sebuah ciuman. Gadis itu tak menolak kali ini, dia kembali mengalungkan tangannya dileher Rafli saat pria itu menarik pinggangnya agar lebih dekat.


"I love you." Bisik Rafli lalu dia kembali menaut bibir Lala dan mengu*lumnya. Lala tersenyum disela ciumannya, lalu dia membuka mulutnya agar mempermudah lidah Rafli menyapu rongga mulutnya, lidah mereka saling menaut sehingga menciptakan suara decapan yang tak umum di pagi hari.


BERSAMBUNG...


Hay hay, semoga kalian semua dalam keadaan sehat ya..


emm akhirnya aku bisa up dua bab hari ini,,

__ADS_1


jangan lupa untuk like, komen dan kasih hadiah ya agar aku semakin semangat nulisnya..


__ADS_2