My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 82 Aku mencintaimu


__ADS_3

Selama perjalanan pulang menuju Jakarta, Arthur lebih banyak diam, ia kembali memikirkan pesan bi Narti untuk tidak mengingat masa lalunya, Arthur semakin yakin semua jawaban tentang teka-teki yang selama ini di hadapinya berada di dalam memori masa lalunya. Namun ia tak tau harus berbuat apa untuk mengembalikan ingatannya.


Mala menengok ke samping, ia memperhatikan raut wajah Arthur yang sendu, sejak keluar dari area villa dia hanya diam membuat Mala merasa khawatir.


"Tuan sepertinya anda lelah, lebih baik anda beristirahat biar saya yang mengemudi." Ucap Mala hati-hati.


Arthur menoleh ke arah Mala sejenak, ia mengelus kepala Mala penuh kasih, lalu ia kembali fokus pada jalanan di depannya. "Kita cari tempat makan dulu, setelah itu kamu yang menyetir." Ujar Arthur lembut.


Mala hanya mengangguk, ia kembali menatap keluar jendela, jalanan cukup ramai hari ini, mungkin karena akhir pekan, jadi banyak orang yang berwisata ke puncak.


Beberapa menit kemudian Arthur memarkirkan mobilnya di depan sebuah restaurant Jepang, mereka sudah masuk kawasan Jakarta namun untuk sampai ke apartemen masih memerlukan waktu sekitar dua puluh menit bahkan bisa lebih jika mereka terjebak macet.


Mereka turun dan masuk ke dalam restaurant tersebut, ornamen-ornamen yang terpasang di dinding restaurant membuat tempat itu semakin kental akan nuansa Negeri Sakura. Arthur memesan ruangan VIP agar ia bisa makan dengan nyaman, pelayan mengantarkan mereka ke sebuah ruangan tertutup yang cukup luas, mereka masuk ke dalam ruangan itu dan menunggu pesanan mereka datang.


Arthur menarik kursi dan segera duduk, begitupun Mala ia duduk di seberang Arthur, mereka hanya terpisah oleh sebuah meja berbentuk persegi panjang yang cukup besar.


"Mala." Panggil Arthur lembut namun netranya menatap tajam Mala yang duduk di hadapannya.


"Ya tuan, anda butuh sesuatu?" Jawab Mala.


"Duduk sini." Titah Arthur, ia menarik kursi yang berada di sebelahnya.


"Tapi tuan, anda tidak akan makan dengan nyaman jika saya duduk di situ." Tolak Mala secara halus.


Arthur lantas berdiri, ia memutari meja dan menarik kursi di sebelah Mala dan duduk. Mala hanya menggeleng lemah, sikap Arthur sudah berada di luar nalarnya.


Mala terkejut saat tangan Arthur melingkar di lengannya, detik berikutnya kepala Arthur sudah bersandar di bahunya.


"Sebentar saja, hanya sebentar." Pinta Arthur dengan suara parau.


Mala menghela nafas pelan, dia merutuki dirinya sendiri yang tak pernah bisa menolak Arthur.


"Mala." Ucap Arthur dengan mata tertutup.


"Ya."


"Aku sangat lelah."


"Setelah makan istirahatlah di dalam mobil, biar saya yang menyetir."


"Aku lelah dengan penyakitku, aku lelah untuk mengingat masa laluku. Aku hanya ingin hidup normal dan hidup bahagia bersamamu." Ucap Arthur sedih.


Mala menggeser duduknya sehingga Arthur mengangkat kepalanya dari bahu Mala, gadis itu sedikit memutar tubuhnya sehingga ia bisa menatap Arthur dengan leluasa. Mala meraih kedua tangan Arthur dan membawanya ke atas pangkuannya, ia menggenggam tangan itu dengan erat.


"Saya tau anda lelah, manusiawi namanya, tapi anda juga harus berjuang untuk melawan penyakit anda. Saya bukan seorang yang religius tapi saya percaya Tuhan tidak akan memberikan cobaan tanpa memberi jalan keluarnya. Anda harus kuat, banyak orang yang mendukung anda, anda tidak sendirian tuan."


Arthur menunduk lemah, tanpa ia sadari ia menitikan air matanya, air mata yang sudah lama sekali tak pernah keluar dari pelupuk matanya, air mata yang akhirnya menetes di depan wanita yang di cintainya. Mala ikut merasakan kesedihan Arthur mana kala pria yang biasanya begitu angkuh itu mulai terisak, mungkin bebannya sangat berat hingga Arthur tak malu lagi untuk menangis.


Mala menarik tubuh Arthur ke dalam pelukannya, membiarkan Arthur menangis di dalam dekapannya, sama seperti yang selalu Arthur lakukan, ia selalu memeluk Mala saat menangis dan selalu ada saat Mala tengah kesusahan.


Mala mengelus punggung Arthur dengan lembut, membiarkan Arthur menumpahkan air matanya, mungkin dengan begitu bebannya akan sedikit berkurang.


Mala masih memeluk Arthur saat terdengar suara ketukan, seorang pelayang datang membawakan pesanan mereka, pelayan itu sempat berniat untuk tidak masuk, namun Mala menganggukan kepalanya memberikan kode untuknya agar masuk.


Setelah makanan tersaji di atas meja, pelayan itu membungkukkan tubuhnya, memberi hormat sebelum ia keluar dari ruangan itu.


"Makanan sudah siap tuan." Bisik Mala.


Arthur melepaskan pelukan Mala, ia membuang wajahnya ke sisi lain agar Mala tak melihat linangan air mata di wajahnya. Namun Arthur kalah cepat, Mala lebih dulu menangkup wajah Arthur dan menyeka air mata Arthur dengan jemarinya.


Cup..


Sebuah kecupan di mata kanan Arthur..


Cup..


Kecupan lain di mata kiri Arthur..


Cup..


Sebuah kecupan di bibir Arthur dan membuatnya menegang.


"Makan dulu, aku lapar." Ucap Mala seoalah tanpa beban, padahal jantungnya sedang berdisko didalam sana, beraninya dia mencium Arthur.


Arthur mengulas senyum, ia memperhatikan Mala yang tengah sibuk mengambil makanan. Mungkin karena efek menangis, perut Arthur berasa lapar dan segera bergabung dengan Mala menikmati waktu makan mereka.

__ADS_1


*****


Rafli tengah menikmati akhir pekannya bersama Lala, besok adalah hari terakhir Lala magang, sudah di pastikan keduanya akan sulit bertemu setelah hari ini. Lala akan segera di sibukkan dengan tugas akhirnya, sementara Rafli sibuk dengan pekerjaannya.


Pagi hari Rafli menjemput Lala, setelah mendapat izin dari kedua orang tua Lala mereka pergi ke taman kota untuk sekedar olah raga bersama. Mereka berlari berdampingan, namun lama-kelamaan Lala tertinggal semakin jauh, Rafli berlari seperti tak kenal lelah, sementara Lala sudah hampir kehabisan nafasnya.


"Raf..li,, Raf." Panggil Lala dengan nafas tersenggal-senggal.


Rafli yang menyadari Lala tak berada di sampingnya lagi segera berhenti, dia menengok ke belakang dan melihat Lala berada jauh di belakangnya. Rafli hanya mengulum senyum, ia lalu berlari dengan langkah mundur untuk menghampiri Lala.


"Kamu apa nggak cape?" Tanya Lala seraya membungkuk dengan kedua tangan memegangi lututnya.


"Nggak." Jawab Rafli datar.


"Aku capek, aku nggak mau lari lagi." Keluh Lala.


"Setiap hari kerjamu itu duduk, lari sangat bangus untuk menjaga kesehatanmu." Ucap Rafli serata menjentikkan jarinya di kening Lala.


"Sakit Raf." Lala mencebikkan bibirnya.


"Raf, Raf, kamu fikir aku adikmu." Protes Rafli, ia tak suka Lala memanggil namanya langsung.


"Maaf Asisten Rafli." Ucap Lala sopan, ia meletakan tangan kanannya di depan perut lalu ia membungkukan tubuhnya hingga membentuk sudut 45 derajat.


"Aku bukan asistenmu."


"Terus apa, mas?"


"Apa aku mirip dengan tukang ojek!"


"Bagaimana kalau abang?"


"Aku bukan penjual bakso."


"Dih, terserah." Lala merasa kesal, ia kembali berlari dan meninggalkan Rafli yang masih sibuk memikirkan nama panggilan yang cocok untuknya.


Rafli tak sadar jika Lala sudah pergi, saat ia tersadar Lala sudah berada di tempat ibunya dan sedang membantu bu Yati berjualan nasi uduk. Rafli menyunggingkan senyum, ia lantas berlari untuk menghampiri Lala dan ibunya.


"Masih banyak bu?" Tanya Rafli, ia melirik Lala yang sedang membungkus nasi uduk.


"Kamu bisa membungkusnya?" Pertanyaan Rafli terdengar meremehkan di telinga Lala.


"Kamu lupa, kedua orang tuaku juga jualan pecel lele, aku sering membantu mereka membungkus nasi." Jawab Mala tanpa menoleh sedikitpun.


Rafli hanya menggut-manggut mendengar ucapan Lala, sementara bu Yati mengulas senyum melihat interaksi keduanya.


"Nak Lala, mari sarapan dulu." Ucap bu Yati, ia menyerahkan sepiring nasi uduk lengkap dengan telur balado, bihun goreng, tempe orek dan semur jengkol tentunya.


"Makasih bu." Lala meraih piring tersebut, matanya berbinar begitu melihat semur jengkol di piringnya.


"Ini buat Rafli." Tak lupa bu Yati memberikan nasi uduk kepada putranya.


"Ibu mana?" Tanya Lala karena tak melihat piring lain.


"Ibu baru mau ambil, Kalian duduk dulu, nanti ibu nyusul."


Rafli dan Lala duduk berdampingan di atas kursi panjang yang terbuat dari kayu, Rafli melirik piring Lala dan bergidik ngeri melihat lauk yang sangat di bencinya, semur jengkol.


"Kenapa?" Tanya Lala heran karena melihat ekspresi aneh pada wajah Rafli.


"Kamu doyan jengkol?" Rafli masih memasang wajah anehnya.


"Doyan, kenapa? Kamu nggak doyan?"


"Nggak, baunya itu lo, bikin sesak nafas."


"Dasar aneh." Gumam Lala, ia lalu menyuapkan semur jengkol ke dalam mulut dan menguyahnya.


"Rafli."


Rafli segera menoleh begitu Lala memanggilnya. "Ya."


"Haaaaaaahhh." Lala membuka mulutnya lebar sehingga mengeluarkan aroma khas jengkol dari dalam mulutnya.


"Lalaaaaa." Teriak Rafli, ia sangat kesal karena Lala sengaja melakukannya.

__ADS_1


Lala tertawa tanpa dosa, matanya mulai berair saking kencangnya ia tertawa. Bu Yati menoleh karena penasaran kenapa Lala tertawa sampai terbahak-bahak.


"Rasakan ini." Rafli mencubit pinggang Lala membuat gadia itu semakin tertawa karena geli.


"Rafli." Seru bu Yati.


Rafli dan Lala tersentak, keduanya lalu diam dan menunduk, namun mereka masih saling menyikut satu sama lain membuat bu Yati menggelengkan kepalanya.


"Lala sedang makan, jangan di ganggu." Ujar bu Yati seraya menatap putranya.


"Dia duluan yang gangguin aku bu." Protes Rafli karena tak terima di salahkan.


Lala menjulurkan lidahnya, lalu kembali menyantap nasi uduknya.


Mereka menghabiskan waktu bersama hingga matahari meninggi, setelah mengantarkan bu Yati pulang, Rafli lalu mengantar Lala pulang dan bertandang ke rumah kekasihnya.


****


Setelah selesai makan, Mala dan Arthur berniat untuk melanjutkan perjalanan pulang, Arthur melirik arlojinya, tepat pukul dua sore mereka keluar dari restoran itu.


Saat akan masuk ke dalam mobil, Mala melihat seorang nenek yang akan menyeberangi jalan, tak ada lampu merah di area itu sehingga sang nenek nampak kesulitan untuk menyeberang.


"Tuan, tunggulah sebentar, saya akan membantu nenek itu." Ucap Mala, namun sebelum Arthur menyetujuinya gadis itu sudah berlari menghampiri nenek tersebut.


Arthur berdiri di luar mobilnya, ia bak seorang model yang tenggah melakukan pemotretan bersama mobilnya, setelan jasnya yang basah membuat Arthur terpaksa mengenakan celana jeans dan kaos berkerah berwarna navy, untung saja Rey selalu menyimpan cadangan baju di dalam mobil Arthur.


Arthur tersenyum melihat kebaikan Mala, ia benar-benar mencintai gadis yang tepat, gadis yang tak pernah mengeluh dan juga sangat baik hati, bahkan saking baiknya ia terlihat seperti orang bodoh. Bagaimana tidak, bertahun-tahun Mala hidup bersama keluarga bibinya dan di jadikan pembantu oleh mereka.


Mala sudah berada diujung jalan, ia melambaikan tangannya kepada Arthur sambil tersenyum saat akan menyeberang lagi. Arthur tersenyum, iapun mengangkat tangannya dan melambai ke arah Mala.


Jalanan mulai lengang, Arthur melangkahkan kakinya menuju tepi jalan, ia berniat menjemput Mala. Dengan setengah berlari Mala menyeberangi jalanan yang nampak sepi itu, tanpa Mala dan Arthur sadari, dari arah lain sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak Mala.


Arthur terperanga, matanya membola saat melihat tubuh kecil Mala tertabrak, saking kencangnya tabrakan itu membuat tubuh Mala seolah melayang di udara.


Braaakkk..


Tubuh Mala mendarat diatas mobil tersebut, kepalanya membentur kaca bagian depan hingga menimbulkan retakan disana, naasnya lagi mobil itu enggan berhenti, Mala terseret beberapa meter sebelum akhirnya tubuhnya terpelanting di atas aspal. Sementara mobil tersebut melesat dengan kecepatan penuh meninggalkan tubuh Mala yang tergeletak di tengah jalan.


Suara teriakan dan jeritan mulai menggema dimana-mana, para pejalan kaki dan beberapa pengunjung restaurant keluar untuk melihat kecelakaan itu.


Arthur sempat mematung beberapa saat, setelah tersadar ia berlari bak orang kesetanan, ia membelah jalanan tanpa peduli akan tertabrak oleh mobil yang sedang melintas.


Tubuh Arthur bergetar dengan hebat, dengan tangan yang bergetar ia mengangkat kepala Mala ke atas pangkuannya.


Darah segar keluar dari kepala Mala membuat Arthur semakin panik, matanya memanas, ia mulai menitikan air mata. Arthur sungguh tak sanggup melihat kondisi Mala yang bersimbah darah.


"Ma..mala, sayang, bertahanlah." Ucap Arthur dengan mulut bergetar dan wajah berlinang air mata.


Mala mengedipkan matanya dua kali, ia tersenyum seraya menatap Arthur, di tengah rasa sakit yang sedang di rasa, ada rasa bahagia terselip di hatinya, setidaknya jika ia meninggal nanti, ia bersyukur karena bisa menghembuskan nafas terakhirnya di dalam pelukan Arthur, seseorang yang sangat mencintainya.


"A..ķu m..en..cintai.mu..." Ucap Mala dengan suara terputus-putus, nafasnya mulai memendek, dan matanya mulai mengatup.


"Bangunlah dan katakan dengan benar. Mala, aku mohon buka matamu dan ucapakan kalimat itu dengan senyum."


"To..long,, tolong panggilkan ambulas." Iba Arthur di tengah isaknya, ia sudah tak peduli dengan penampilannya lagi.


"Sudah tuan, kami sudah menghubungi ambulans, mungkin sebentar lagi akan datang." Ujar seseorang yang berada di lokasi kejadian.


"Terimakasih." Ucap Arthur terbata.


Arthur kembali menatap Mala, ia berusaha membuat Mala untuk tetap terjaga. Ia tak ingin kehilangan Mala. Apa artinya hidupnya nanti tanpa Mala?


"Sayaang, aku mohon buka matamu, jangan tinggalkan aku, aku mohon." Pinta Arthur tanpa henti, seperti air matanya yang tak berhenti mengalir.


Mala berusaha membuka matanya, ia menatap sendu pada wajah Arthur, pupil mata yang mulai melebar membuatnya semakin samar untuk melihat wajah Arthur.


"Ja..ngan me..nagi..s." Ucapnya pelan, sangat pelan.


"Aku mencintaimu." Ucapnya lantang setelah mengumpulkan kekuatan. Mala sungguh ingin mengungkapkan perasaannya sebelum ajalnya datang. Setelah kata cinta keluar dari mulutnya, Mala mulai terbatuk-batuk, seolah sesuatu berada di tenggorokannya.


"Uhuk." Mala kembali batuk, namun kali ini disertai darah segar keluar dari mulutnya. Sesaat kemudian matanya kembali menutup dan Mala tak sadarkan diri.


"Malaaaa."


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2