
"Hentikan." Seru sebuah suara dari arah lain, para Reporter itu menoleh sejenak, seorang pria paruh baya datang beserta beberapa pengawal yang memiliki badan besar dan berotot. Para pengawal tersebut mulai menerobos kerumunan wartawan, mereka membuatkan jalan keluar untuk Mala.
Sementara itu Mala masih menunduk dengan tubuh bergetar, ia tak menyadari kedatangan seseorang yang kini tengah meraih tangannya dan membawanya keluar dari kepungan para wartawan.
Salah seorang dari wartawan itu mengenali pria paruh baya yang sedang membantu Mala, ia berteriak dan membuat suasana semakin gaduh.
"Tuan Mahesa, ada urusan apa anda di sini, apa hubungan anda dengan calon istri Arthur Bagaskara?"
"Tuan Mahesa?"Sahut Reporter yang lain.
"Ya, itu tuan Mahesa, pengusaha sukses itu, pemilik ratusan hotel berbintang di Indonesia."
"Tuan Mahesa, bisakah anda jelaskan mengapa anda ada di sini?"
Tuan Mahesa tak mengindahkan pertanyaan wartawan tersebut, ia segera membawa Mala masuk ke dalam lobby apartemen, sementara para wartawan di hadang oleh pengawal tuan Mahesa sehingga mereka tak bisa mengikuti Mala dan tuan Mahesa.
Tingg..
Pintu lift terbuka, tuan Mahesa menuntun tangan putrinya masuk ke dalam lift, gadis itu masih terlihat syok, ia bahkan tak menyadari tangannya di genggam erat oleh tuan Mahesa.
"Kamu tinggal di lantai berapa?" Tanya tuan Mahesa berbasa-basi, sebenarnya ia sudah tau jika Mala tinggal bersama Arthur di penthouse mewah milik Arthur.
"Lantai paling atas." Jawabnya masih dalam keadaan setengah linglung.
Mereka tiba di depan apartemen Arthur, gadis itu melepaskan tangannya setelah menyadari jika tuan Mahesa yang telah membantunya.
"Terimakasih atas bantuan anda."Ucapnya pelan, ia lalu membungkukkan tubuhnya, sebagai tanda ucapan terimakasih.
__ADS_1
Tanpa basa-basi Mala segera masuk ke dalam apartemennya, ia tak ingin lebih lama bersama tuan Mahesa, ia ingin sendirian kali ini, bahkan perut laparnya sudah tak ia rasakan lagi.
Mala masuk ke dalam kamar Arthur, ia meringkuk di atas tempat tidur berukuran raksasa itu, ia memeluk lututnya dengan erat, gadis itu merasakan kesedihan yang teramat sangat.
***
Arthur masih sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba saja Rafli masuk ke dalam ruangannya dengan wajah panik. Rafli menghidupkan televisi, berita kedatangan tuan Mahesa membantu Mala sudah menjadi topik hangat siang ini.
"Shiiiitt." Umpat Arthur seraya memukul mejanya.
"Raf, batalkan semua meeting hari ini." Titah Arthur, lalu ia meraih jasnya dan keluar dari ruangannya dengan buru-buru. Arthur bergegas pulang, ia sangat mencemaskan Mala.
Setengah jam kemudian Arthur tiba di apartemennya, ia terkejut melihat dua orang berpakaian serba hitam berada di depan rumahnya. Menyadari kedatangan Arthur kedua orang tersebut menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Arthur.
"Sepertinya aku pernah melihat mereka." Batin Arthur, namun ia segera masuk ke dalam apartemennya dan mencari keberadaan Mala.
Arthur bernafas lega saat menemukan Mala terlelap di atas tempat tidurnya, ia menatap wajah Mala dengan lekat, matanya sembab menandakan gadis itu baru saja menangis.
Tangan Arthur kini berpindah di wajah Mala, ia membelai pipi Mala, namun sesuatu yang aneh terjadi pada gadis itu, pipinya terasa sangat panas. Arthur menempelkan punggung tangannya di kening Mala. "Astaga, kamu demam." Arthur mulai panik, ia berlari keluar menuju dapur, setelah beberapa saat ia kembali ke dalam kamar membawa air putih hangat, obat penurun demam dan baskom berisi air hangat untuk mengompres Mala.
Dengan telaten Arthur merawat Mala, ia mulai mengompres kening Mala dengan handuk hangat. "Kenapa demamnya tidak turun-turun, apa aku harus menelfon Dokter Lutfi?" Gumam Arthur, ia lalu meraih ponselnya yang berada di atas meja dan segera menghubungi Dokter Lutfi.
"Ya tuan, ada yang bisa saya bantu." Sapa Dokter Lutfi begitu panggilan tersambung.
"Mala demam, bisakah anda kemari?"
"Maaf tuan, saya ada operasi 10 menit lagi. Anda bisa merawatnya sendiri tuan."
__ADS_1
"Bagaimana caranya, aku bukan Dokter mana bisa aku merawat Mala?"
"Anda bisa mengompresnya dengan air hangat." Dokter Lutfi mulai menjelaskan cara untuk menangani demam Mala.
"Sudah." Sahut Arthur, ia masih mengomores Mala dengan air hangat.
"Usahakan Mala untuk minum air putih hangat."
"Tapi dia tertidur."
"Kalau begitu jangan pakaikan selimut tebal dan matikan ACnya! Saat dia bangun nanti beri dia obat penurun panas."
Setelah panggilan berakhir, Arthur mengikuti petunjuk Dokter Lutfi, ia mengganti selimut Mala dengan selimut yang lebih tipis, beberapa kali ia memaksa Mala untuk bangun dan memberinya air hangat. Setelah hampir dua jam akhirnya demam Mala turun, Arthur bisa bernafas lega, karena merasa lelah akhirnya ia bergabung bersama Mala tidur di atas tempat tidurbya.
***
Berita kemunculan tuan Mahesa dan menolong Mala masih menjadi topic hangat hingga malam, berbagai spekulasi muncul mengenai hubungan tuan Mahesa dan Mala. Pemberitaan itu juga ramai di berbagai platform media online, lagi-lagi netizen menyerang Mala secara sepihak, mereka menuliskan berbagai komentar pedas, tidak sedikit dari mereka yang menganggap jika Mala adalah wanita mura*han, mereka juga menuliskan jika Mala adalah wanita simpanan tuan Mahesa.
Tuan Mahesa sudah berada di rumahnya, ia di buat geram dengan pemberitaan negatif tentang putrinya, rahangnya sampai mengeras saat membaca komentar netizen.
"Siapakan konferensi pers sekarang." Perintah tuan Mahesa pada seseorang yang berada di ujung telefon.
Pukul delapan malam, wartawan yang di undang oleh asisten tuan Mahesa telah memenuhi ballroom hotel milik tuan Mahesa. Mereka nampak antusias mendapatkan undangan tersebut, mereka sangat ingin tau ada hubungan apa antara pengusaha top tersebut dengan calon istri Arthur bagaskara.
Pukul delapan lebih sepuluh menit, tuan Mahesa memasuki ballroom dengan di dampingi asisten pribadinya dan 3 orang pengacara sekaligus. Mereka duduk berdampingan di kursi yang sudah di siapkan di dalam ballroom tersebut, kedatangan tuan Mahesa tentu tak luput dari bidikan kamera para wartawan.
Semantara itu di sudut ruangan, nyonya Marry terlihat tengah menahan amarahnya, ia sama sekali tak setuju dengan keputusan sang suami yang akan mengumumkan siapa Mala yang sebenarnya. Nyonya Marry melipat kedua tangannya di dada, ia menatap suaminya dari kejauhan, raut wajahnya di penuhi aura kebencian.
__ADS_1
"Dasar anak pembawa sial." Batinya seraya menahan amarah.
BERSAMBUNG...