
Dari balik kaca spion Rafli melihat Rey sudah sadar, dia tengah memijit pangkal hidungnya, Rafli segera menepikan mobilnya, dia memutar tubuhnya mengahadap kursi belakang.
"Anda baik-baik saja?"
"Hem" Jawab Rey dengan wajah datarnya.
Rafli sadar kini pemilik tubuh asli telah kembali.
"Rey kembali muncul." Ungkap Rafli sebelum atasannya bertanya. "Sepertinya dugaanku benar, gadis itu yang memancing kemunculan Rey terus-menerus." Lanjut Rafli.
"Kenapa gadis itu berada dimakam?"
"Dia datang mengunjungi makam kedua orangtuanya."
"Selidiki latar belakang gadis itu Rey, mungkin saja gadis itu ada huhungannya denganku."
Rafli hanya mengangguk, dia kembali melajukan mobilnya dan mengantarkan Arthur keapartemennya.
Sesampainya didalam apartemen, Arthur melepas jas hitam miliknya, dia mulai memikirkan perkataan Rafli sebelumnya, mungkinkah gadis itu benar-benar berkaitan dengan hidupnya.
Lama dia memutar otaknya, memikirkan kemungkinan yang mungkin terjadi diatara dirinya dan juga Mala, gadis Cleaning Service yang pernah dia maki sebelumnya.
Lelah badan dan fikiran membuat Arthur tertidur diatas sofa. Belum juga satu menit terpejam, kini mata itu kembali terbuka. Dia bergegas pergi kekamarnya dan mandi. Athur menatap pantulan dirinya dari dalam cermin, penampilannya kini sungguh berbeda, dia terlihat lebih sederhana dengan celana jeans dan kaos tipis yang membalut tubuh kekarnga.
"Kenapa kamu sering tertidur sekarang Arthur?" Lagi-lagi Rey kembali muncul dan menguasai tubuh Arthur.
Rey tak ingin menyiakan kesempatan ini, malam ini dia ingin keluar dan menemui Mala, kesedihan Mala saat dipemakaman tadi membuat Rey terus memikirkan gadis itu.
Rey pergi diam-diam, dia mengambil kunci mobil milik Arthur dan segera melajukannya menuju rumah Mala.
Mata Rey tertuju pada gadis yang tengah berjalam sendirian, Rey menepikan mobilnya dan turun. Benar saja gadis itu adalah Mala. Mala berjalan sambil menunduk sehingga tidak menyadari kehadiran Rey, tanpa sengaja kepalanya membentur dada bidang milik Rey.
"Auw."Pekik Mala, dia meringis menahan sakit dikeningnya.
"Kamu tak apa?"
__ADS_1
Mala mendongakkan kepalanya, dia terkejut melihat orang yang ditabraknya adalah Rey.
"Rey, sedang apa kamu disini, maaf tadi aku tidak sengaja menabrakmu."
"Harusnya aku yang tanya sedang apa kamu malam-malam dipinggir jalan sendirian?" Seru Rey dengan nada lumayan tinggi dan membuat Mala sedikit terkejut. "Maaf tidak bermaksud membentakmu, aku hanya khawatir, sangat bahaya berjalan sendirian, bagaimana kalau ada yang melukaimu" Imbuh Rey mengungkapkan kekhawatirannya.
Bukannya menjawab pertanyaan Rey, Mala malah menangis, dia mulai terisak dan membuat Rey semakin bingung.
"Kenapa manangis? Apa aku menakutimu?"
Mala menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kamu menangis, sayang sekali wajah cantik ini harus tertutupi oleh air matamu."
"Aku hanya terharu, baru kali ini ada yang mengkhawatirkanku." Ungkap Mala setelah dia berhasil membendung air matanya.
Rey menunduk dan menatap wajah Mala yang begitu lesu, matanya sembab karena terlalu banyak menangis. Rey menangkup wajah mala ,dia mengakat wajah Mala dan matanya menyapu setiap inci wajah Mala tanpa terkecuali.
"Mulai sekarang aku yang akan mengkhawatirkanmu, jadi jangan pernah membuat aku khawatir, apa kamu mengerti?"
Mala hanya mengangguk, Rey semakin mempererat tangkupan tangannya pipi Mala sehingga kini bibir Mala sudah seperti bebek.
Mala yang sadar tengah diketawai segera melepas tangan Rey, dia kembali menunduk karena malu.
"Masuklah, aku antar pulang." Ajak Rey.
"Aku belum mau pulang, aku masih ingin jalan-jalan."
"Kalau begitu, aku temani kamu jalan-jalan, tidak boleh ada penolakan!"
Mala menghela nafas dengan kasar, dia hanya menurut dan ikut masuk kedalam mobil Rey. Rey melajukan mobilnya perlahan, sesekali dia melirik Mala dari ekor matanya, gadis itu tengah menatap keluar jendela, "Entah apa yang membuatmu sedih, tapi aku mohon jangan seperti ini, aku sedih melihatmu menangis." Ucap Rey didalam hati.
Rey melajukan mobilnya mengelilingi kota Jakarta yang masing sangat ramai, Mala hanya diam dan terpaku ditempat duduknya, dia pasrah kemanapun Rey akan membawanya pergi, yang dibutuhkan Mala sekarang memanglah seorang teman, dia tidak mungkin menceritakan semuanya kepada Lala, dia tidak ingin membebani Lala dengan kesedihannya.
"Rey boleh kita kesana." Mala menunjuk pasar malam yang berada diseberang jalan.
__ADS_1
Tanpa diaba-aba Rey segera memutar mobilnya dan menuju pasar malam yang ditunjuk oleh Mala. Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian, bagaimana tidak sebuah mobil mewah datang ke pasar malam yang begitu sederhana. Jika Arthur mungkin dia akan pingsan karena berada di pasar malam yang kumuh, namun tidak dengan Rey, pribadinya sangat sederhana, dia terbiasa pergi ketempat-tempat kumuh untuk melukis.
Mala sangat girang saat mereka sudah tiba disana, Mala berkeliling dengan penuh energi, matanya berbinar saat melihat deretan penjual makanan. Mala mendekati salah satu penjual itu, dia memesan jajanan yang terbuat dari tepung tapioka lalu di siram oleh saus kacang yang kental.
Mala begitu bersemangat saat pesanannya jadi, dia menusuk jajanan bulat itu dan segera melahapnya.
"Apa enak?" Tanya Rey yang sedari tadi menelan ludahnya saat memperhatikan Mala makan.
"Rey mau, biar Mala pesankan lagi?"
"Itu saja, kalau enak nanti baru pesan lagi." Rey menunjuk jajanan ditangan Mala.
"Tapi ini bekasku." Tolak Mala karena merasa tidak sopan jika memberikan makanan bekasnya.
"Tak apa, bukankah kita berteman, sesama teman harus saling berbagi."
Dengan ragu Mala kembali menusuk jajanan bulatnya, diarahkannya jajanan itu ke mulut Rey setelah Mala tiup sebelumnya. Mala memperhatikan ekspresi Rey yang terlihat menikmati jajanan murah itu.
"Lagi." Ucap Rey ketagihan.
"Apa tidak pedas, nanti kalau perut kamu sakit gimana Rey?"
"Aku baik-baik saja, aku mau lagi. Rasanya sangat enak, kenyal dan berbumbu."
Mala kembali menyuapi Rey, sekilas senyum terbit diwajah ayu Mala saat dia melihat Rey begitu menikmati jajananya.
"Apa ada makanan lain yang enak, aku ingin memakannya mumpung ada disini."
Tanpa Mala sadari dia menarik tangan Rey dan membawanya ke penjual makanan lainnya. Mala memesan makanan yang berbahan dasar dari kerupuk mentah, kemudian dimasak menggunakan bumbu tertentu, tidak lupa Mala menambah toping bakso, kaki ayam dan sayuran.
Kini tanpa ragu Mala memberikan makanan itu kepada Rey. Rey meniup makanan berkuah berwana merah itu, lalu dengan hati-hati dia memasukan kedalam mulutnya.
"Astaga, enak sekali. Makanan apa ini Mala."
"Ini makanan khas Jawa barat, namanya Seblak, kalau yang tadi kamu makan namanya Cilok, mereka sama-sama makanan khas Jawa Barat." Terang Mala dan hanya diangguki oleh Rey.
__ADS_1
Rey kembali menikmati seblak pedasnya, dia lupa kalau Arthur melarangnya untuk makan sembarangan.
BERSAMBUNG....