
**MALEM ALL, MAAFIN AKU KARENA DUA HARI INI SELALU TELAT UP..
ADA BEBERAPA PEKERJAAN DI RL YANG NGGAK BISA AKU TUNDA, JADI MOHON MAAF UNTUK KETERLAMBATAN UPNYA YA.. SEMOGA KALIAN TETAP SETIA MENUNGGUKU..
AKU AKAN BERUSAHA UNTUK UP TIAP HARI..
HAPPY READING❤❤❤❤**
"Dónde estoy?"
Arthur bangun dari tidurnya, ia duduk di atas tempat tidur sementara kaki panjangnya menjuntai ke lantai. Ia menatap semua orang yang berada di dalam ruangan itu dengan
wajah kebingungan, sementara semua orang kembali terperangah mendengar Arthur mengucapkan kalimat menggunakan bahasa asing, bahasa yang belum pernah Arthur pelajari sebelumnya.
"Hye." Sapa Dokter Sheila, ia mencoba berinteraksi dengan kepribadian Arthur yang baru saja muncul.
"Dónde estoy?" Jawabnya sama persis dengan kalimat pertama.
Dokter Sheila mengeluarkan ponselnya, ia membuka layanan Gugel Translete guna berinteraksi dengan Arthur.
"Apakah bahasa Spanyol?" Gumam Dokter Sheila bicara pada dirinya sendiri.
Setelah yakin Dokter Sheila mulai mengucapkan kalimat yang ingin ia katakan kepada Arthur dan secara otomatis kalimatnya tertranslete dalam bahasa Spanyol.
"Cuál es tu nombre (siapa namamu)?"
"Jade." Jawab Arthur singkat.
"Oh hye Jade, can you speak in English?" Tanya Dokter Sheila dengan ramah, dokter cantik itu bisa melihat kekhawatiran di dalam tatapan pemuda bernama Jade itu.
Pria yang mengaku bernama Jade itu hanya menggeleng pelan, setelahnya ia menunduk dan diam seribu bahasa, beberapa kali Dokter Sheila kembali bertanya, namun pemuda itu memilih bungkam.
__ADS_1
"Bagaimana Dok, apa yang akan terjadi selanjutnya?" Ujar mama Wulan, wajah cantiknya nampak sayu dengan mata berkaca-kaca.
"Entahlah nyonya, sepertinya kejadian di altar tadi membuat Arthur kembali merasakan luka yang teramat sangat sehingga kepribadiannya kembali terpecah, jika ini terus berlanjut bukan hal mustahil jika kepribadian baru akan terus bermunculan." Terang Dokter Sheila apa adanya, ia juga berharap cukup Jade yang muncul dan Arthur segera kembali terbangun.
Mendengar jawaban Dokter Sheila membuat mama Wulan semakin bersedih, dengan berani ia menatap suaminya yang sedari tadi hanya diam. "Ini semua gara-gara kamu mas, andai saja kamu lebih memperhatikan Arthur, semua ini tidak akan pernah terjadi, kalau sampai Arthur tidak bangun lebih baik kita berpisah." Ancam mama Wulan dengan tatapan nyalang.
Tuan Raymon membalas tatapan sang istri yang tengah meluapkan amarah kepadanya. "Semua memang salahku Wulan, aku bukan dady yang baik untuk Arthur." Sesalnya.
"Sudah, sudah, lebih baik kita fikirkan cara untuk membuat Arthur muncul." Sela tuan Bagaskara, pria tua ini nampak pucat.
Rafli menatap nanar kearah tuan Bagaskara, entah mengapa Rafli merasa kakek tua itu menutupi suatu hal yang besar, karena rekaman CCTV itu terlalu janggal untuk menyalahkan Arthur sebagai pelaku pembakaran Villa tersebut.
Dua jam telah berlalu, tuan Bagaskara telah kembali ke rumah utama beserta tuan Raymon dan istrinya, sementara Jade memilih tidur karena tak ada satupun dari mereka yang bisa di ajaknya bicara. Rafli dan Dokter Sheila duduk bersebelahan, kedua terlihat frustasi.
"Apa istrimu menemukan Mala?" Tanya Dokter Sheila memecahkan keheningan di dalam ruangan itu.
Rafli hanya menggelengkan kepalanya yang tertunduk. "Tidak, aku yakin Mala juga terluka, lebih baik kita memberinya waktu untuk menenangkan diri." Ujarnya tanpa menoleh sedikitpun.
"Marsel, aku yakin Marsel yang mengcopy rekaman itu saat aku di sekap oleh mereka." Terka Rafli dengan sangat yakin.
"Astaga, pria itu benar-benar sangat berbahaya Raf." Sahut Dokter cantik itu.
"Hem. Oh ya Dok, apakah ada peluang untuk Pak Karto kembali normal?" Rafli mengangkat kepalanya, ia menoleh dan menatap Dokter Sheila penuh haram.
"Tidak ada yang mustahil di dunia ini Raf. Aku lihat kondisi pak Karto juga semakin stabil, kita harus lebih sering mengunjunginya dan mengajaknya bicara. Oh ya aku sampai lupa untuk bertanya, kemana kamu memindahkan pak Karto?" Terang Dokter Sheila, ucapannya memberikan secercah harapan di tengah jalan buntu yang tengah mereka hadapi untuk membantu Arthur.
"Di rumah ibuku."
"Baguslah, aku rasa di sana lebih aman. Oh ya, aku ada janji bertemu pasien jam 9 nanti, kau tak apa kan di sini sendirian?
"Pergilah, aku akan menjaga Arthur."
__ADS_1
Dokter Sheila lalu pergi meninggalkan Rafli seorang diri. Rafli yang kelelahanpun tanpa sadar tertidur dalam posisi duduk, saat Rafli terlelap Jade rupanya terbangun, pria itu mengamati sekeliling dan nampak sepi, hanya ada Rafli yang tidur di sofa. Entah apa yang ada di dalam fikiran Jade, ia beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari ruangan itu secara diam-diam.
Jade berlari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat praktek Dokter Sheila, ia terus berlari tanpa arah tujuan. Bukan hal yang mudah bagi Jade untuk menerima kondisinya, meskipun ia belum sadar jika ia hidup di dalam tubuh orang lain, namun tiba-tiba muncul dan menjadi orang asing sungguh membuatnya ketakutan.
Jade berhenti tepat di atas jembatan layang, ia menatap lalu lintas yang cukup padat di jalan raya yang berada di bawah jembatan layang tersebut. "A donde debería ir (kemana aku harus pergi)?" Gumamnya seraya memegangi perutnya yang terasa sakit karena berlari terlalu cepat.
Tiba-tiba Jade merasa putus asa, ia bari saja melihat dunia asing untuknya hari ini, namun ia merasa sangat lelah dan muak dengan kehidupan yang baru di jalaninya beberapa jam itu, Jade kembali menatap padatnya lalu lintas, terbesit di benaknya untuk lompat dari atas jembatan layang tersebut, mungkin dengan demikian ia bisa mengakhiri rasa lelahnya.
Jade mulai menaiki pagar beton yang menjadi pembatas jembatan tersebut, ia memejamkan kedua matanya dan siap untuk terjun bebas dari ketinggian. Namun Jade merasakan tubuhnya tak bergerak sama sekali, ia membuka matanya dan terkejut melihat sepasang tangan melingkar di perutnya. Jade lantas turun dari beton tersebut, ia berbalik arah, pria itu kembali terkejut melihat seorang gadis cantik berdiri di hadapannya dan berusaha menahannya agar tidak melompat.
"Quién eres tú (siapa anda)?¿Por qué me abrazas (kenapa anda menahan saya)?" Ucapnya dengan mata berembun.
Gadis yang berada di hadapannya mengeryitkan dahinya, ia menatap pria itu dengan wajah bingung, keterkejutan nampak dari balik matanya yang sendu.
"What are you doing? Are you crazy?" Bentak gadis itu dengan suara serak.
Jade yang tak mengerti dengan ucapan gadis tersebut hanya diam, namun tiba-tiba ia teringat hal yang di lakukan Dokter Sheila saat berkomunikasi dengannya.
"Translete." Ucapnya singkat.
Gadis tersebut mengeluarkan gawai cerdasnya, namun ia nampak bingung bahasa apa yang di gunakan oleh pria yang berdiri di hadapannya.
"Lengua Española (Bahasa Spanyol)" Ucapnya seolah mengerti dengan kebingungan gadis tersebut.
Gadis cantik itu mengangguk, ia lalu mengaktifkan translator dari ponselnya.
"Siapa namamu?" Tanya gadis itu dan segera tertranslete ke dalam bahasa Spanyol.
"Jade. Kamu?" Jawab Jade.
"Andriani," Ucap gadis itu seraya tersenyum, namun di balik senyum manisnya terlihat jelas kesedihan yang tengah ia rasakan.
__ADS_1
BERSAMBUNG...