My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 54 Tuan Mahesa


__ADS_3

Sorenya Mala menemani Arthur untuk menemui Tuan Mahesa. Namun sebelum pergi ke restoran yang menjadi tempat mereka bertemu, Arthur lebih dulu membawa Mala ke butik langgananya.


"Kenapa kita ke butik tuan?" Tanya Mala penasaran.


"Aku tidak mungkin mengajakmu dengan seragam Cleaning Service itu kan?" Jawab Arthur, dia menunjuk baju lusuh Mala. Gadis itu menunduk memperhatikan baju yang tengah ia pakai. "Benar juga." Gumam Mala diiringi senyuman kecut dari wajahnya.


Mereka masuk ke dalam butik secara beriringan, pemilik butik menyambut kedatangan mereka dengan senyum diwajahnya.


"Kita bertemu lagi." Sapa pemilik butik yang gemulai itu.


"Iya, senang bentemu lagi dengan anda." Jawab Mala dengan ramah, gadis itu menyunggingkan senyum diwajahnya.


"Jadi kali ini aku harus merubahnya seperti apa?" Pemilik butik tersebut bertanya kepada Arthur, mengingat terakhir kali mereka kesini Arthurlah yang memilih baju untuk Mala, oleh sebab itu pemilik butik lebih memilih bertanya kepada Arthur dari pada Mala.


"Aku akan membawanya meeting, dandani dia layaknya wanita normal." Pinta Arthur.


"Apa selama ini aku tidak terlihat seperti wanita normal." Batin Mala dengan kesal, namun tiba-tiba pemilik butik itu menarik tangannya dan membawa Mala masuk kedalam ruang ganti, pemilik butik itu juga memberikan beberapa pakaian formal yang harus Mala coba satu per satu.


Mala keluar dari ruangan ganti, dia mengenakan setelan blazer dan mini skrit abu-abu terang bermotif plaid. Rambutnya ia biarkan tergerai sehingga menambah kesan ayu pada wajahnya. Arthur tak berkedip saat melihat Mala keluar dari ruangan itu, dia kembali terpesona oleh kecantikan Mala yang tersembunyi, tiba-tiba darahnya berdesir, ingin sekali Arthur memeluk gadis itu sekarang.



"Apa ini tidak terlalu berlebihan tuan?" Tanya Mala dengan ragu-ragu, dia menarik roknya yang menurutnya terlalu tinggi.


"Tidak, kau cantik." Ucap Arthur, dia sudah tak canggung lagi terang-terangan menyebut Mala cantik, namun hal itu tidak berlaku untuk Mala, dia tetap merasa aneh ketika Arthur memujinya cantik. "Kau harus terbiasa dengan pakaian seperti ini sekarang." Imbuhnya lagi, dia berdiri dan memegang pundak Mala.

__ADS_1


"Kenapa begitu?" Mala menjadi gagap saat Arthur berdiri di depannya dengan jarak yang sangat dekat.


"Ayo berangkat sekarang." Bukannya menjawab Arthur malah meraih tangan Mala dan menggandengnya keluar dari butik itu. Sipemilik butik melongo melihat Arthur menggandeng tangan Mala, sulit dipercaya seorang Arthur menyentuh tangan orang lain, padahal dulu dia sangat anti jika bersentuhan dengan orang lain.


"Kena karma kali ye, makanya jadi bucin akut sekarang." Gumam pemilik butik itu dengan logat khasnya.


Arthur membukakan pintu mobil untuk Mala namum gadis itu malah merasa canggung dan juga aneh, baru pagi tadi Arthur bersikap ketus padanya dan sorenya dia sudah bersikap manis seperti ini.


"Dia memang berkepribadian ganda." Batin Mala, lalu dia masuk kedalam mobil sebelum Arthur kembali murka.


Setelah menyusul Mala masuk kedalam mobil, Arthur segera menghidupkan mobilnya dan melaju menuju restoran dimana dia akan bertemu dengan clientnya. Selama perjalanan mereka hanya diam, Arthur fokus pada kemudinya, sementara Mala sedang berusaha mengurangi rasa gugupnya, dia takut akan mengecewakan Arthur nanti jika desainnya tak sesuai dengan keinginan client mereka.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan restoran mewah, setelah memarkirkan mobilnya Arthur kembali menggandeng tangan Mala dan masuk ke dalam restoran itu, Mala berusaha melepas tautan tangan Arthur, namun Arthur enggan melepas tangan itu, dia semakin mempererat genggamannya dan membuat Mala pasrah dan mengikuti kehendak Arthur.


Arthur mengulum senyum, dia menang banyak hari ini, untung saja dia sengaja melarang Rafli untuk ikut, jadi dia punya banyak kesempatan untuk bersama dengan Mala.


"Kenapa wajahmu pucat, duduklah, jangan sampai kamu pingsan disini!" Tegas Arthur, lalu dia menarik kursi dan membiarkan Mala duduk. "Kamu baik-baik saja?" Tanya Arthur khawatir.


"Saya gugup tuan. Saya takut akan mengecewakan anda, bagaiman kalau Tuan Mahesa tidak menyukai desain saya?" Ungkap Mala jujur, gadis itu meremas kedua tangannya yang sudah berkeringat.


Arthur menarik kursi yang berada disebelah Mala dan mendudukinya, dia meraih kedua tangan Mala dan membawanya keatas pangkuannya. "Lihat aku." Ucap Arthur pelan.


Mala yang sedari tadi menunduk, perlahan mulai mengangkat kepalanya dan menatap Arthur yang juga tengah menatapnya. "Semuanya akan baik-baik saja, diterima atau tidak bukankah itu hal yang wajar, jika kali ini desainmu ditolak, kamu bisa mencobanya dilain waktu." Arthur mengucapkan kalimat itu dengan lembut dan membuat Mala merasa sedikit tenang.


"Saya tidak ingin mengecewakan anda?" Mala kembali menunduk lemah.

__ADS_1


Arthur mempererat genggaman tangannya, netra beningnya masih setia menatap Mala. "Aku tidak akan kecewa, kegagalan bukan hal yang baru dalam hidupku La, aku ini pembisnis, gagal dan berhasil adalah hal yang lumrah dalam dunia bisnis, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, kamu tidak akan mengecewakanku."


Ditengah percakapan mereka, pintu ruangan terbuka, seorang laki-laki paruh baya masuk kedalam ruangan itu, Arthur dan Mala segera berdiri dan menyambut kedatangan laki-laki yang usianya sekitar 50 tahunan itu.


"Tuan Mahesa." Sapa Arthur, dia menjulurkan tangannya dan segera disambut oleh laki-laki bernama Mahesa itu.


"Maaf menunggu lama." Balas Tuan Mahesa.


"Tidak, kami memang sengaja datang lebih awal. Perkenalkan, dia asisten saya." Arthur memperkenalkan Mala kepada Tuan Mahesa. Mala mengulurkan tangannya kearah Tuan Mahesa, cukup lama tangannya menggantung diudara karena Tuan Mahesa tak membalas uluran tangannya.


Arthur mengerutkan dahinya, dia merasa sedikit aneh karena Tuan Mahesa menatap Mala dengan mata berkaca-kaca.


"Ekhem." Arthur berdehem.


Tuan Mahesa terkejut, dia segera menjabat tangan Mala dan tersenyum kepadanya.


"Maaf, maaf, kamu mengingatkanku pada seseorang." Ucap Tuan Mahesa sedih. "Siapa namamu?" Tanya Tuan Mahesa, suaranya terdengar begitu lembut.


"Mala Tuan, Nismala." Ulang Mala karena sebelumnya Tuan Mahesa tidak mendengar saat dia memperkenalkan namanya.


Tuan Mahesa kembali terkejut, tiba-tiba dia merasa semua tulang telepas dari tubuhnya, dia limbung dan hampir saja terjatuh, untung saja Arthur dengan sigap menangkap tubuh Tuan Mahesa dan segera membantunya untuk duduk.


"Mala, kaukah itu.."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2