My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 18 Dia kembali


__ADS_3

"Tahan nak, tenangkan dirimu." Ucap mama Wulan seraya mengelus punggung Rey.


Rey menggertakkan giginya, dia menarik nafas panjang dan berusaha mengendalikan amarahnya, dia harus tetap sadar sekarang.


"Apa yang kau lakukan. Kau sudah gila?" Seru Tuan Raymon seraya menarik tangan istrinya.


"Bicarakan baik-baik mas, tidak perlu dengan kekerasan, dia anakmu!" Ucap mama Wulan penuh penekanan.


"Siapa gadis yang kau bawa itu?" Tanya Tuan Raymon, suaranya begitu melengking memenuhi kamar Arthur.


Rey diam sejenak, dia mencoba mencerna perkataan Tuan Raymon, Rey sungguh tidak mengerti dengan semua permasalahan ini.


"Mala." Sebut mama Wulan seakan memberi petunjuk kepada Rey.


"Dia.." Rey menggantung kalimatnya, Rey bingung harus memperkenalkan Mala sebagai apa.


"Bukankah Arthur sudah bilang mas, Mala itu kekasihnya. Bukankah begitu nak?"


"Ya, dia kekasihku." Ucap Rey terbata, dia masih tidak percaya Arthur akan memperkenalkan Mala sebagai kekasihnya.


"Kau.." Tuan Raymon kembali mengangkat tongkatnya, namun mama Wulan segera memegang tangan suaminya.


"Punggungku sangat sakit mas, tolong obati dulu punggungku."


Tuan Raymon menatap istrinya yang tengah mengaduh akibat sabetan tongkat kayunya.


"Dady belum selesai denganmu." Ucap Tuan Raymon seraya mengacungkan tongkatnya tepat didepan wajah Rey. Tuan Raymon menggandeng tangan istrinya lalu meninggalakn kamar Arthur.


Tiba-tiba Rey merasa sangat lelah, dia merebahkan tubuhnya diatas kasur dan kantuk mulai menyerangnya. Rey sudah tak bisa menahannya lagi, akhirnya dia terlelap dalam keheningan malam.


**


Setelah gagal berbicara dengan Mala, Rafli kembali lagi ke rumah utama, dia harus memastikan bagaimana kondisi Arthur sekarang, Rafli juga harus menanyakan satu hal kepada Arthur, kenapa kepribadian itu muncul lagi, sudah sangat lama dia tidak muncul. Petra adalah kepribadian yang paling diwaspadai oleh Rafli. Petra selalu menggambarkan dirinya sebagai seorang pria berusia 28 tahun, dia seorang perokok hebat, pecandu alkohol bahkan narkoba. Dia juga sangat suka berkelahi, bahkan beberapa kali ia pernah tertangkap polisi karena memukuli preman hingga babak belur.


Rumah utama sudah sangat sepi, bahkan beberapa lampu sudah dimatikan, untung saja pelayan disana mengenali Rafli sehingga dia bebas keluar masuk rumah itu.


Rafli segera naik kelantai dua, dimengetuk pintu sebelum membukanya. Rafli melihat Rey berbaring diatas tempat tidur. Rafli duduk ditepi tempat tidur dan memandangi wajah lelap Rey. Dia sangat prihatin kepada sahabatnya, siapa sangka seorang Arthur Bagaskara memiliki penderitaan seberat ini.


"Kau datang." Ucap Rey dengan suara serak


"Maaf karena membangunkan anda?"


"Apa yang terjadi?" Tanya Rey dengan wajah bingung. "Aku Arthur." Imbuh pria itu, dia duduk lalu mengambil kacamata yang berada diatas nakas dan memakainya.

__ADS_1


"Petra muncul lagi dan dia menyakiti Mala." Jelas Rafli. "Apa anda ingat apa yang terjadi?" Rafli kembali bertanya.


"Aku hanya ingat lilin membakar kain penutup meja makan lalu aku merasa pusing, Mala membantuku naik keatas." Ucap Arthur kembali mengingat kejadian saat makan malam. "Lalu aku memeluknya dan memintanya untuk tetap bersamaku." Imbuh Arthur didalam hati, dia sengaja menutupi kejadian itu, dia tidak mau Rafli mengoloknya karena memeluk Mala.


"Lalu?"


"Aku tak ingat apapun lagi."


"Raf."


"Anda mengingat sesuatu?"


"Periksa CCTV dikamar ini, aku ingin melihat apa yang dilakukan oleh Petra."


Rafli segera meraih ponselnya untuk mengakses rekaman CCTV. Arthur memang sengaja memasang CCTV dikamarnya, dia ingin tau siapa saja yang berani masuk kekamarnya tanpa izin.


Beberapa menit kemudian, Rafli sudah berhasi mengakses rekaman CCTV, dia segera memberikan ponselnya kepada Arthur dan memutar rekaman itu.


Kedua pria itu mengamati rekaman itu dengan seksama, Arthur menggaruk pelipisnya saat rekaman itu memutar adegan dirinya tengah memangku Mala dan memeluknya. Arthur masih mengingat aroma tubuh Mala yang begitu harum serta sesuatu yang menonjol didadanya. Arthur menggelengkan kepalanya mencoba menepis fikiran nakalnya.


"Anda baik-baik saja?" Tanya Rafli setelah menyadari tuannya terlihat tidak nyaman.


"Kepalaku hanya sedikit pusing." Ujar Arthur berbohong.


"Aku akan minta maaf padanya besok." Ucap Arthur setelah rekaman itu selesai diputar. "Kau istirahatlah dikamar tamu."


"Baik tuan."


Rafli meraih ponselnya yang tergeletak diatas nakas, setelah memberi salam dia keluar dari kamar Arthur dan menuju kamar tamu. Dia kelelahan dan ingin segera beristirahat.


****


Pagi hari Mala dan Lala sudah bersiap untuk berangkat kerja. Semalam Mala memutuskan untuk menginap di rumah Lala. Lala yang sudah mengenal baik Mala memilih untuk tidak bertanya apapun mengenai kejadian semalam.


Saat mereka keluar dari rumah, sebuah mobil mewah sudah berhenti didepan rumah Lala. Mala menghela nafas panjang, dia tidak ingin terlibat dengan pemilik mobil lagi. Mala menarik tangan Lala dan secepat mungkin meninggalkan rumah Lala.


Arthur segera turun dari mobil begitu tau Mala tidak ingin bertemu dengannya. Dia segera menyusul Mala yang sudah berada jauh didepannya.


"Mala." Untuk pertama kalinya Arthur menyebut nama Mala dengan benar, biasanya dia hanya memanggilnya dengan sebutan hey, kau dan sibodoh.


"Mala." Ulang Arthur lagi karena Mala tak juga berhenti.


Arthur berlari dan berhasil meraih pergelangan tangan Mala. "Ada yang ingin aku bicarakan, ikutlah ke mobilku."

__ADS_1


Mala segera menepis tangan Arthur, kejadian semalam masih menyisakan ketakutan yang hebat didalam tubuhnya. "Apa lagi tuan?"


"Aku..aku..." Arthur tak bisa mengucapkan niatnya untuk meminta maaf.


"Sepertinya kalian butuh waktu untuk berbicara" Ucap Lala yang menyadari situasi mereka. Lala berencana meninggalkan mereka namun Mala menahannya. "Bicaralah, selesaikan masalah kalian." Lala melepaskan tangan Mala yang berada dilengannya, lalu dia meninggalkan mereka berdua untuk berbicara.


Lala menghampiri Rafli yang masih berada didepan rumahnya.


"Kita bertemu lagi?" Ujar Lala seraya tersenyum manis.


"Hemm."Jawab Rafli singkat.


"Sudah sarapan?" Tanya Lala.


"Hemm."


"Mau jadi pacarku?"


"Hemm."


"Yeee, jadi sekarang kita pacaran."


Rafli memasukkan kembali ponselnya kedalam saku, tadi dia sedang sibuk mengurus jadwal Arthur sehingga tidak fokus dengan pertanyaan Lala. Kini dia menatap Lala dengan tajam tapi gadis itu malah balik menatapnya dan membuat Rafli salah tingkat.


"Jadi kita pacaran sekarang?" Ulang Lala.


"Kau bukan seleraku."Jawab Rafli.


"Jadi bagaimana caranya agar aku menjadi seleramu?"


"Kau tidak akan pernah menjadi seleraku."


"Awas saja kalau nanti kau tergila-gila padaku." Dengus Lala lalu dia meninggalkan Rafli dan masuk kembali kedalam rumahnya


***


Sementara itu Mala dan Arthur masih saling diam. Arthur menarik nafas perlahan, dia sedang berusaha menyingkirkan egonya untuk meminta maaf kepada Mala.


"Soal semalam, aku sungguh menyesal. Aku tau jika bukan aku yang melakukannya, tapi tetap saja aku harus meminta maaf padamu karena tubuhku ikut andil semalam." Akhirnya Arthur bisa mengutarakan maksud kedatangannya.


Mala hanya diam dan menunduk, dia tau jika bukan Arthur pelakunya, tapi tetap saja melihat wajah Arthur membuat Mala mengingat kejadian semalam.


"Maafkan aku." Arthur bersimpuh didepan Mala. Meskipun dia bukan orang yang baik, namun dia tidak pernah menyentuh wanita secara paksa, dan yang dilakukan oleh Petra semalam sungguh membuat Arthur harus berlutut dan meminta pengampunan kepada Mala.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2