My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 31 Perasaan aneh


__ADS_3

Rafli sudah sampai didepan rumah Lala, dia berfikir sejenak bagaimana caranya dia menjelaskan kejadian yang menimpa Mala tanpa harus menceritakan kebenarannya. Namun sebelum Rafli menemukan jawabannya sipemilik rumah sudah terlebih dahulu membuka pintu dan terkejut melihat Rafli berada didepan rumahnya.


"Rafli." Ucap Lala. "Ah maksudku Asisten Rafli, ada perlu apa disini?" Lala mengoreksi panggilannya.


" Hm, begini.." Rafli terlihat ragu-ragu. "Saya datang untuk menjemputmu?"


"Oh ya, kita mau kemana?" Ucap Lala girang karena dia salah sangka dengan ucapan Rafli, Lala mengira Rafli akan mengajaknya jalan-jalan atau kencan.


"Mala kecelakaan, dia tenggelam dan sekarang ada diapartemen Tuan Arthur."


"Apa?" Teriak Lala kaget. "Ayo cepat bawa aku kesana!" Pinta Lala dengan segera, dia bahkan lupa dengan angan-angannya tadi.


Rafli hanya mengangguk dan segera membawa Lala menuju apartemen Arthur.


******


"Dia telan*jang." Teriak Arthur.


"Apa?" Seru tiga orang secara bersamaan karena ternyata Lala dan Rafli sudah tiba diapartemen.


Lala yang sudah berdiri didepan kamar Arthur segera menerobos masuk dan menghampiri Arthur dengan tatapan yang tidak biasa.


"Anda apakan teman saya?" Tanya Lala dengan suara tingginya, dia berkacak pinggang dan menatap tajam Arthur.


"Dia menggigil dan aku hanya melepas bajunya agar dia tidak semakin menggigil." Jawab Arthur jujur, niatnya memang baik, namun siapa sangka dia justru terbayang-bayang dengan sesuatu dibalik baju Mala.


"Anda melepas bajunya?" Ujar Rafli tak kalah terkejut, semenjak mengenal Mala atasannya ini senang sekali memberinya kejutan tak terduga.


Arthur mengacak rambutnya frustasi, namun dia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Rafli. "Lebih baik kau cepat kekamar sebelah dan ambil pakaian Mala, dia harus segera diperiksa dokter." Ucap Arthur seraya menunjuk Lala.


Lala mendegus kesal, namun gadis itu segera keluar sesuai intruksi Arthur, beberapa saat kemudian Lala masuk dengan membawa pakaian Mala, dia berjalan tergesa-gesa sehingga pakaian yang ada ditangannya tak sengaja jatuh kelantai. Ketiga pria yang berada diruangan itu salah tingkah begitu melihat benda yang jatuh adalah kacamata berwarna merah yang biasa digunakan untuk membungkus daging kenyal milik wanita. Dokter Lutfi dan Rafli memilih membuang muka, namun Arthur justru teringat kembali dengan dada datar Mala dan membuat darahnya berdesir.

__ADS_1


Lala segera mengambil benda itu dan membawanya keatas tempat tidur. "Kalian tidak akan keluar?" Seru Lala sambil menatap ketiga pria itu, kemudian mereka bertiga keluar dari kamar Arthur.


Setelah para pria itu keluar, Lala segera mengganti pakaian Mala, sementara diluar ruangan ketiga pria itu menunggu dengan canggung.


Selesai mengganti pakaian Mala, Lala segera keluar untuk memanggil dokter agar Mala segera diobati.


"Sudah selesai?" Tanya Dokter Lutfi begitu Lala keluar dari kamar Arthur. Lala hanya mengangguk lalu Dokter Lutfi bergegas masuk dan diikuti oleh Lala, Arthur dan Rafli.


Dokter Lutfi memeriksa Mala dengan seksama, lalu dia mengeluarkan cairan infus dan segera memasangnya ditangan Mala.


"Bagaimana kondisinya dok?"Tanya Lala khawatir.


"Demamnya masih tinggi, tapi saya sudah memberi penurun panas lewat infus ini, dia juga dehidrasi dan kelelahan, dia sedang tidur sekarang, sebaiknya kita keluar agar Mala bisa beristirahat." Tutur Dokter Lutfi menejelaskan keadaan Mala.


Mereka semua keluar dari ruangan itu, Dokter Lutfi segera pamit untuk pulang, dia meninggalkan pesan untuk menghubunginya jika Mala tak kunjung turun demamnya. Setelah Dokter Lutfi pergi, Lala kembali menatap sangar kearah Arthur. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Lala, sedari tadi dia sudah menahan rasa penasarannya. "Jawab, kenapa Mala bisa tenggelam?" Imbuh Lala karena tak kunjung mendapat jawaban dari Arthur.


Arthur bingung harus menjawab apa karena dia tidak mengingat dengan jelas kejadiannya, samar-samar dia hanya mengingat saat Mala melompat dan dia menolongnya, Arthur melirik Rafli, dia berharap Asistennya bisa menjelaskannya kepada Lala.


"Lalu kenapa wajah anda lebam begitu?" Ucap Lala sambil menunjuk wajah Arthur.


Arthur memegang wajahnya, dia meringis menahan nyeri diwajahnya, dia yang belum menyadari jika wajahnya babak belur akhibat dipukul oleh Sofyan.


"Ah itu, Tuan Arthur berusaha menolong Mala dan begitulah hasil akhirnya, wajah tampannya harus menjadi korban." Jawab Rafli lagi.


Lala tidak percaya begitu saja dengan alasan yang diberikan Rafli karena luka diwajah Arthur lebih mirip luka pukul, namun begitu melihat pakaian Arthur yang juga basah Lala berusaha untuk mempercayai bosnya itu.


"Sahabatku yang malang, sudah diusir dari rumah dan sekarang malah sakit ditempat orang."


"Hmm, kenapa Mala bisa diusir?" Tanya Arthur ragu, akhirnya setelah bungkam beberapa saat pria itu mengeluarkan suaranya.


"Selama ini dia tinggal bersama paman dan bibinya, setelah pamannya meninggal semua warisan Mala direbut oleh bibi dan kedua sepupunya, setelah itu Mala diusir begitu saja." Terang Lala, namun segera disesali olehnya, bisa-bisanya dia menceritakan masalah pribadi Mala kepada orang lain.

__ADS_1


"Warisan?" Ucap Arthur penasaran.


"Hem." Jawab Lala singkat, dia tidak mau kelepasan bicara lagi.


Arthur tak melanjutkan pertanyaannya, meskipun dia merasa penasaran namun dia melihat Lala yang enggan untuk menjelaskannya lebih lanjut.


Lama mereka saling diam, lalu Arthur melirik Rafli dan memberi kode kepada asistennya untuk membawa Lala pulang.


"Mm, La." Ucap Rafli ragu.


Lala menoleh dan menunggu Rafli melanjutkan kalimatnya. "Apa?"


"Lebih baik kamu pulang sekarang, biarkan Mala dan Tuan Arthur intirahat sekarang."


"Tapi Mala belum sadar?"


"Kata dokter Mala hanya tidur, biarkan saja, kau bisa menemuinya besok, sekarang aku antarkan kau pulang."


Dengan berat hati Lala menuruti perkataan Rafli dan mereka berdua keluar dari apartemen mewah Arthur.


Arthur kembali kekamarnya, dia segera masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah selesai mandi dia segera berganti pakaian. Arthur berjalan mendekati tempat tidur, dia duduk ditepi tempat tidur dan memandangi Mala yang tengah terlelap. Tanpa Arthur sadari, tangannya mulai mengelus wajah Mala. "Kau benar-benar bodoh rupanya, bisa-bisanya kau melompat kedalam air padahal kau tidak bisa berenang, bagaimana kalau aku tidak menolongmu tadi." Gumam Arthur, namun yang dielus wajahnya tengah asyik menikmati mimpinya.


Berjam-jam Arthur duduk dan mengamati Mala yang masih tertidur, tangannya tak henti-hentinya memeriksa suhu badan Mala, dan saat demamnya sudah turun Mala mulai membuka matanya, dia telah kembali dari mimpi panjangnya.


"Sudah bangun?" Ucap Arthur, pria itu tersenyum sehingga menampakan lesung pipi yang tak pernah ia perlihatkan sebelumnya.


"Rey." Ucap Mala dengan suara serak, dia mengira jika pria yang berada depannya adalah Rey.


Arthur terdiam, ada perasaan aneh saat Mala memanggilnya Rey, perasaan tidak rela saat Mala menyebut nama orang lain begitu dia bangun dari tidurnya.


"Hem, ini aku Rey."

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2