My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 109 LAMARAN..


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Kondisi Mala semakin membaik, lukanya pun mengering dengan cepat, semua itu tidak lepas dari peran Arthur yang begitu protektive kepada Mala, gadis itu di perlakukan layaknya pasien pengidap penyakit mematikan, Mala tidak di perbolehkan melakukan pekerjaan apapun, pekerjaannya setiap hari hanya makan dan tiduran, tidak sampai di situ, Arthur juga mengatur pola makan Mala, gadis itu di larang makan sembarangan, dia hanya akan makan makanan yang di siapkan oleh Arthur.


Pagi ini Mala dan Arthur tengah bersiap mendampingi Rafli untuk melemar pujaan hatinya. Mala terpaksa bergabung dengan keluarga laki-laki karena Arthur melarangnya pergi ke tempat Lala, kini pria itu semakin posesif kepadanya.


Arthur keluar dari walk in closet, ia terlihat gagah mengenakan baju batik berlengan panjang dan celana kain berwarna hitam. Awalnya Arthur bersikeras untuk menggunakan setelan jasnya, namun Mala menentangnya karena Mala fikir Arthur akan terlihat lebih mencolok di banding Rafli jika ia memakai jas seperti biasanya.


"Tampan sekali." Puji Mala, gadis itu memutari Arthur dan mengamati penampilannya dari ujung kepala hingga kaki.


"Kau juga sangat cantik." Ucap Arthur begitu Mala berdiri di hadapannya. Mala terlihat mepesona dengan dres lengan pendek bermotif batik senada dengan baju yang Arthur kenakan.


Setelah puas memuji satu sama lain keduanya keluar dari apartemen, mereka akan pergi ke rumah Rafli terlebih dahulu sebelum bertandang ke rumah Lala.


Arthur membukakan pintu mobil untuk Mala, gadis itu menoleh dan menatap Arthur dengan senyum di wajahnya, ia lalu masuk ke dalam mobil dan sesaat kemudian Arthur menyusulnya.


"Kau yakin baik-baik saja?" Tanya Arthur begitu keduanya masuk ke dalam mobil.


"Aku baik-baik saja, aku sudah sehat berkat kerja keras anda tuan Arthur." Jawab Mala di selingi sindiran halus di dalamnya.


Arthur hanya terkekeh, ia memang sangat membatasi pergerakan Mala setelah gadis itu keluar dari Rumah Sakit untuk yang kedua kalinya. "Kita berangkat sekarang, katakan jika perutmu merasa tidak nyaman." Ujarnya seraya memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Mala.


"Siap." Mala sangat bersemangat, beberapa hari terakhir ia terkurung di dalam penthouse mewah dan hari ini ia akan keluar menikmati udara kota Jakarta yang tidak terlalu sejuk itu.


Arthur melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia harus tetap berhati-hati meskipun Mala berkata jika dia baik-baik saja. Sesekali Arthur melirik Mala, untuk memastikan jika keadaannya baik-baik saja.


"Sayang." Ucap Arthur memecahkan keheningan di dalam mobil.


"Ya." Mala menoleh dan menatap wajah kekasihnya dari samping.


"Lamaran seperti apa yang kau inginkan, maksudku saat aku melamarmu secara resmi?

__ADS_1


Mala tersenyum mendengar pertanyaan Arthur, namun tak bisa di pungkiri, di dalam matanya tersimpan sejuta kesedihan. "Seperti apa lagi, aku hanya butuh lamaran yang di lakukan olehmu seorang. Kau tau kan aku tidak memiliki siapapun untuk mengadakan acara lamaran seperti Lala?" Jawab Mala dengan lembut, namun mampu mengiris hati siapapun yang mendengarnya. Begitupun yang Arthur rasakan kini, ia menyesali pertanyaan bodohnya itu, Arthur menoleh sekilas, di raihnya tangan sang kekasih dan di genggamnya dengan erat dan penuh kasih sayang.


Arthur melajukan mobilnya dengan perasaan tak karuan, akhirnya sisa perjalanan mereka lalui dengan keheningan.


Setelah beberapa saat mereka telah tiba di depan rumah Rafli. Arthur keluar dari mobil terlebih dahulu lalu ia membukakan pintu mobil untuk Mala, sebuah keajaiban membuat Arthur yang dahulu begitu membenci Mala kini justru bertekuk lutut di hadapan gadis cantik itu.


"Terimakasih." Ucap Mala lembut, tak lupa senyum manis sebagai hadiah untuk sang kekasih.


Arthur meraih tangan Mala dan menuntunnya masuk ke dalam rumah Rafli. Mala hanya pasrah dengan perlakuan Arthur, ia tau Arthur hanya terlalu mengkhawatirkannya.


"Bu." Sapa Arthur, ia menyalami ibu Yati tanpa melepaskan tangan Mala.


"Nak Arthur sudah datang, terimakasih ya nak, sudah mau di repotkan oleh Rafli." Bu Yati menyambut Arthur dengan ramah.


"Siapa bilang merepotkan bu, saya malah senang bisa ikut serta dalam acara lamaran Rafli." Sanggah Arthur, bagi Arthur bu Yati seperti ibu kedua baginya setelah mama Wulan, ia kerap menginap di rumah Rafli ketika masih duduk di bangku SMA, tak ayal hubungannya dengan bu Yatipun menjadi dekat.


"Oh ya bu, kenalin ini Mala, calon istri saya. Mala ini bu Yati beliau ibunya Rafli."


"Ya ampun cantik sekali, beruntungnya nak Arthur memiliki calon istri yang sangat cantik." Puji bu Yati seraya menatap Mala yang memang terlihat sangat cantik.


"Calon menantu ibu juga cantik bu." Celetuk Rafli, pria itu keluar dari dalam kamarnya dengan mengenakan baju batik berlengan panjang berwarna hijau tosca dengan paduan warna putih dan orange muda membuatnya terlihat sangat berbeda.


"Asisten Rafli, anda tampan sekali." Puji Mala seraya mengacungkan kedua jempolnya kepada Rafli.


Arthur menoleh ke arah Mala, ia menatap Mala dengan tajam. "Bisa-bisanya kau memuji pria lain di depanku." Ucapnya dengan wajah serius.


"Astaga." Mala memukul keningnya sendiri, ia tak menanggapi ocehan Arthur yang tak berfaedah itu.


***


Rafli dan rombongannya sudah tiba di kediaman keluarga Lala, mereka di sambut oleh pak Dahlan dan bu Erni dengan ramah. Lamaran Rafli dan Lala memang sangat sederhana, acara bahagia tersebut hanya di hadiri oleh keluarga inti dari kedua belah pihak.

__ADS_1


Rafli terlihar gugup saat ia mengutarakan niat baiknya untuk mempersunting Lala di hadapan kedua orang tua Lala, namun kegugupan itu tergantikan oleh rasa bahagia saat kedua orang tua Lala memberikan restu kepada Rafli dan Lala.


Setelah serangkaian acara yang di lewati akhirnya tiba pada acara inti yaitu tukar cincin. Lala terlihat sangat cantik mengenakan kebaya dengan warna gradasi dari warna putih pada bagian atas hingga turquoise pada bagian bawah. Model kebaya itu tampak cantik dengan tambahan hiasan payet dan swarovski yang mewah. Selain itu pada bagian lengan kiri Lala pun ditambahkan aksen menyerupai syal yang dibiarkan menjuntai. Aksen tersebut berhasil membuat tampilan kebaya lamaran tersebut menjadi lebih cantik.


"Mereka sangat serasi." Bisik Mala tepat di depan telinga Arthur.


"Hem." Jawab Arthur singkat. Mereka lalu kembali fokus pada acara tukar cincin yang begitu romantis.


Rafli mengecup punggung tangan Lala setelah cincin berlian tersemat di jari manis Lala, sebenarnya Rafli sangat ingin mencium Lala, tapi mengingat pak Dahlan berdiri tidak jauh darinya membuat Rafli berfikir ulang untuk mencium gadis yang telah resmi menjadi calon istrinya.


Setelah acara tukar cincin, mereka melanjutkan acara dengan foto bersama. Seluruh anggota keluarga dari kedua mempelai berfoto bersama untuk mengabadikan momen bahagia tersebut.


"Selamat La, aku sangat bahagia." Ucap Mala seraya memeluk sahabatnya.


Lala membalas pelukan sahabat baiknya itu. "Terimakasih Mala, aku juga sangat bahagia untukmu dan tuan Arthur, semoga kalian bisa secepatnya menikah." Jawabnya dengan mata berkaca-kaca. Kedua sahabat itu akhirnya menangis bersama, menangis karena bahagia, akhirnya mereka menemukan pasangan masing-masing.


"Selamat Raf, aku turun bahagia untukmu." Kali ini giliran Arthur yang mengucapkan selamat kepada Rafli, ia juga memeluk Rafli sebagai ungkapan bahagianya.


"Terimakasih Arthur." Balas Rafli. Panggilan Rafli sontak membuat kedua gadis yang menangis bahagia itu menoleh bersamaan, selama mengenal Rafli baru kali ini mereka mendengar Rafli memanggil nama Arthur. Namun hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Arthur, mereka memang terbiasa memanggil nama satu sama lain hingga mereka lulus kuliah, Rafli mulai memanggilnya tuan saat mereka mulai membangun Art Life.


"Aku nggak salah dengar kan La?" Ucap Mala tak percaya dengan yang di dengarnya.


"Kayanya enggak deh." Sahut Lala.


Arthur melepas pelukannya, ia menepuk bahu Rafli, kebahagian tergambar jelas di wajah Arthur. "Cepatlah menikah, aku punya kado spesial untuk kalian." Ujar Arthur seraya menatap Rafli dan Lala secara bergantian.


"Tidak perlu repot, kamu bisa hidup dengan normal lagi sudah menjadi kebahagiaan untukku." Rafli menatap sahabatnya dengan tulus, ia sangat berharap Arthur bisa hidup normal suatu saat nanti. Rafli sadar setelah menikah nanti waktunya untuk membantu Arthur akan berkurang, untuk itu Rafli berjanji akan menemukan rekaman CCTV itu sebelum ia menikah, waktunya tinggal dua bulan lagi, selama dua bulan itu ia harus bekerja keras untuk membantu Arthur.


"Aku pasti akan hidup normal lagi, kau tidak perlu mengkhawatirkanku."


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2