My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 71 Semakin Rumit


__ADS_3

"Kita pacaran kan?" Tutur Rafli menuntut Lala memberikan kepastian perihal hubungan mereka.


"Tidak." Jawab Lala singkat dan berhasil membuat Rafli jengkel mendengar jawabannya.


"Kita sudah berciuman dua kali, kau juga menikmatinya, bukankah keterlaluan jika kau tak menjadikanku pacar." Geram Rafli sambil berkacang pinggang, ia menatap Lala tajam, sorot matanya seolah mampu membunuh Lala.


"Kita sama-sama orang dewasa, anggap saja ciuman tadi hanya untuk menyalurkan hasrat masing-masing."


"Apa? Kau fikir aku akan menyalurkan hasratku kepada sembarang orang?" Rafli tak terima mendengar ucapan Lala.


"Kau fikir bisa mempermainkanku?" Rafli kembali mendekati Lala dengan seringai diwajah dinginnya.


"Ah.. tidak.. bukan begitu maksudku." Jawab Lala gugup, gadis itu mundur selangkah demi selangkah namun Rafli terus mendekat.


"Pacaran denganku atau aku....." Rafli menatap Lala horor.


"Atau apaa..? Desis lala..


"Aku akan menghamilimu." Bisik Rafli dengan suara serak.


"Dasar mesyummm."


Lala berlari setelah mendengar ancaman mesyum dari Rafli, namun gadis itu kalah cepat karena Rafli sudah menangkapnya dari belakang.


"Kau fikir bisa lari dariku, mulai sekarang kau tak bisa berpaling dariku lagi." Ucap Rafli seraya mengendus leher jenjang Lala.


"Kita di kantor jangan macam-macam." Gertak Lala.


Rafli hanya tersenyum, dia kembali melancarkan aksinya untuk mengerjai Lala, dia mulai mencium leher hingga pundak Lala sehingga Lala mulai meremang.


"Oke kita pacaran." Pada akhirnya Lala menyetujui ajakan Rafli , awalnya dia hanya ingin tau seberapa serius Rafli kepadanya, namun mendapati kelakuan nakal Rafli membuat Lala harus menyetujuinya dengan cepat.


Cup..cupp..cupp..cupp..


Rafli menghujani pipi Lala dengan ciuman.


"Waktunya bekerja." Ucap Rafli lalu dia meninggalkan Lala yang masih terpaku ditempatnya.


Lala memegangi pipinya yang baru saja dicium oleh Rafli, gadis itu mengulum senyum, wajahnya merona merah saat kembali membayangkan ciuman pertamanya bersama Rafli.


"Astaga kenapa aku pengin dicium lagi."


*****

__ADS_1


Jam pulang kantor telah tiba, sepasang muda-mudi yang belum jelas status hubungannya keluar dari gedung Art Life secara beriringan..


Saat tiba didekat mobil, tiba-tiba Arthur membukakan pintu untuk Mala, gadis itu menatapnya bingung karena tak biasanya Arthur bersikap seperti itu.


"Masuklah, aku yang akan mengemudi." Perintah Arthur, lagi-lagi suaranya terdengar begitu lembut.


Mala segera masuk kedalam mobil dan memakai sabuk pengaman, tak berselang lama Arthur menyusulnya masuk. Arthur melirik Mala sekilas, lalu dia melajukan mobilnya menuju supermarket, mereka akan belanja seperti keinginan Arthur pagi tadi.


Mala berjalan memasuki supermarket, sementara Arthur mengikutinya seraya mendorong keranjang belanjaan. Mala mulai sibuk mengambil beberapa barang seperti yang ada didalam catatannya, dengan santai Mala memasukannya ke dalam keranjang belanjaan yang di dorong oleh Arthur, seketika dia melupakan fakta jika Arthur adalah atasannya.


"Beli iga sapi, aku mau makam sup iga lagi." Pinta Arthur.


Mala hanya mengangguk lalu dia berjalan menuju counter yang menjual aneka daging, dia memilih beberapa macam daging dan memasukannya kedalam keranjang. Mereka sungguh terlihat seperti sepasang suami istri.


"Aku lapar." Rengek Arthur, dia benar-benar menunjukan sisi lainnya kepada Mala.


"Mau makan apa?" Tanya Mala sambil menatap Arthur.


"Aku mau sate yang waktu itu."


"Tidak, saya tidak mau anda sakit lagi." Tolak Mala dengan segera, dia masih ingat bagaimana Arthur kesakitan setelah makan sate di pinggir jalan.


"Yang lain saja." Tawar Mala namun Arthur menggeleng, dia tetap pada pendiriannya untuk makan sate.


Arthur mengulas senyum, dia lalu membawa keranjang belanjanya keluar dari supermarket dan memasukannya kedalam mobil. Setelahnya dia masuk kedalam mobil di ikuti dengan Mala.


Arthur melajutkan mobilnya dengan perasaan yang tergambar jelas diwajahnya, senyumnya terus mengembang saat bersama dengan Mala, jauh di lubuk hatinya dia sudah menganggap Mala sebagai calon istrinya meskipun sang gadis belum memberi jawaban.


Setelah beberapa menit diperjalanan, akhirnya mereka sampai di warung tenda yang menjajakan sate dan hidangan khas dari kambing.


Pemilik warung sate tersebut menyambut keduanya dengan senyum ramah, dia masih ingat saat Arthur memborong semua satenya.


"Pak sate ayam bumbu kacang satu, sate kambing bumbu kecap satu, sop kambingnya satu ya." Pesan Mala kepada penjual sate tersebut.


"Baik nyonya, mau makan disini atau bungkus?"


"Disini saja."


"Baik, mohon tunggu sebentar."


Mala menghampiri Arthur yang sudah duduk di atas kursi plastik dan menunggunya, Arthur terlihat lebih nyaman dari sebelumnya, mungkin karena beberapa kali Mala mengajaknya makan di pinggir jalan.


Tak selang lama, pesanan mereka datang, Arthur menelan ludah saat menatap semua menu yang terhidang diatas meja, aroma smoky yang keluar dari sate menggugah seleranya.

__ADS_1


Mala memperhatikan Arthur yang makan dengan lahap, gadis itu mengurai senyum lalu bergabung bersama Arthur menikmati sate pesanannya.


***


"Tuan bisakah anda pulang lebih dulu, saya harus bertemu teman saya sebentar?" Ucap Mala setelah mereka menghabiskan makanannya.


"Teman? Siapa?" Cecar Arthur.


"Teman kulian saya dan anda tidak kenal."


"Hmm. Kau yakin tak perlu aku antar?" Tawar Arthru, dia hanya tidak rela harus pulang seorang diri. Akhir-akhir ini dia ingin selalu menempel kepada Mala layaknya cicak-cicak didinding.


"Tidak tuan terimakasih."


Dengan berat hati Arthur meninggalkan Mala di warung sate tersebut, beberapa kali dia mengucapkan pesan kepada Mala agar tak pulang terlalu larut dan harus segera menghubunginya jika terjadi sesuatu.


Mala hanya mengangguk, selepas kepergian Arthur dia segera mencari ojek untuk menemui Rani. Beberapa kali dia memeriksa jam tangannya, Mala berharap Rani masih menunggunya ditempat mereka janjian.


Mala bernafas lega saat melihat bayangan Rani tengah menunggunga, gadis itu mencebik saat melihat kedatangannya.


"Lama banget si, gue ampe berakar nungguin lo." Protes Rani kesal.


"Maaf, maaf, aku baru selesai kerja. Gimana dapet informasi yang aku minta?" Ucap Mala tanpa basa-basi.


"Liat dulu duitnya, entar lo boongin gue lagi."


Mala merogoh tas dan mengeluarkan amplop coklat dari dalamnya, dia membuka amplop tersebut dan mengeluarkan uang senilai lima juta rupiah.


Mata Rani berbinar manakala melihat beberapa lembar uang berwarna merah yang ada ditangan Mala, gadis itu tersenyum bak orang bodoh.


"Jadi dimana kebakaran itu terjadi?" Tanya Mala seraya memasukkan kembali uang kedalam ampop.


"Kata ibu di daerah puncak, kalau nggak salah di salah satu Villa milik teman ibu lo." Ucap Rani mengulang informasi yang ia dapat dari ibunya. Kemarin Rani berhasil mengorek beberapa informasi saat ibunya tengah fokus menonton sehingga tanpa sadar bi Ningsih menjawab semua pertanyaan Rani.


"Teman?" Ulang Mala.


"Hem, mereka pergi ke puncak untuk merayakan ulang tahun lo. Kata ibu, temen ibu lo datang bersama istri dan putrinya. Lo dan anak perempuan itu selamat karena kalian berada di luar saat kebakaran itu terjadi."


"Anak perempuan? Kenapa bukan laki-laki? Apa Arthur memiliki saudara perempuan?" Pertanyaan itu kini memenuhi kepala Mala. Awalnya Mala fikir dia mulai menemukan petunjuk, namun semuanya menjadi lebih rumit setelah mendengar cerita Rani jika yang selamat bersamanya adalah seorang anak perempuan bukan laki-laki.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2