
Setelah berganti pakaian Arthur segera pergi ke rumah utama untuk menemui mama Wulan, dia ingin memastikan sejak kapan mama Wulan tau mengenai penyakitnya dan kenapa selama ini dia lebih memilih diam. Arthur keluar dengan hati-hati, dia tidak ingin Mala curiga dengannya karena dia muncul terlalu cepat tanpa Rey harus tidur.
Saat Arthur sampai didepan rumah orangtuanya dia mendapati mobil yang tak asing baginya tengah terparkir didepan rumah. "Rafli." Ucap Arthur lalu dia segera memarkirkan mobilnya dan masuk kedalam rumah. Kedatangan Arthur disambut hangat oleh pelayan rumah utama. "Dimana mama?" Tanya Arthur kepada salah satu pelayannya.
"Nyonya dihalaman belakang tuan muda."
Mendengar itu Arthur segera pergi ketaman belakang dengan perasaan tak karuan. Arthur mengatur nafasnya begitu melihat mama Wulan tengah duduk dibangku taman bersama Rafli yang berdiri disebelahnya. Arthurpun segera menghampiri mereka.
"Tuan." Ucap Rafli gugup.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Arthur dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kalian pasti datang karena ingin tau sejak kapan mama tau kan?" Sela mama Wulan, dia berdiri dan menuntun Arthur untuk duduk disebelahnya.
"Mama tidak yakin sejak kapan, mungkin 3 atau 4 tahun yang lalu, saat itu mama tidak sengaja bertemu miss Kimberly di apartemenmu. Maafkan mama karena sempat berfikir kamu aneh dan menyimpang, namun setelah bertemu Rey, mama tau apa yang sebenarnya terjadi padamu nak." Jelas mama Wulan dengan mata berkaca-kaca, tangannya tak lepas dari tangan Arthur, dia menggenggamnya dengan erat.
"Mama bertemu Rey?" Tanya Arthur dengan nafas memburu.
"Ya, hari itu juga setelah bertemu dengan miss Kimberly, dia mengeluh pusing lalu pingsan dan saat sadar, kamu terbangun dengan wajah tersenyum, wajah yang belum pernah mama lihat sebelumnya. Mama sangat bahagia waktu itu karena pada akhirnya mama bisa melihat senyummu, namun lagi-lagi mama dibuat terkejut karena dia mengaku sebagai Rey bukan Arthur."
"Lalu?" Arthur tak sabar mendengar penjelasan mama Wulan.
"Lalu mama pergi dokter, dia menyarankan mama untuk pergi ke Psikiater, mama menurut dan menemui Psikiater. Arthur tau, mama hancur saat Psikiater itu mengatakan kemungkinan penyakit yang kamu derita, mama sedih dan merasa bersalah karena mama tidak tau sejak awal, mama merasa gagal menajadi ibu untuk Arthur, maafin mama nak, maafin mama karena membiarkanmu menanggung ini sendirian." Mama Wulan tak bisa menahan air matanya, dia akhirnya menangis.
Arthur menyeka air mata diwajah mama Wulan dengan lembut, lalu dia menggenggam tangan mama Wulan dan menatapnya sendu. "Semua ini bukan salah mama, mama tidak perlu meminta maaf, Arthur bersyukur karena mama mau menerima Arthur sebagai anak mama dan menyayangi Arthur seperti anak kandung mama." Arthur mendeja kalimatnya, dia memandangi wajah mama Wulan yang beruarai air mata. "Lalu kenapa mama tidak pernah bicara pada Arthur?" Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Arthur.
"Mama takut kamu akan marah, jadi mama lebih memilih diam dan melindungimu dari jauh. Arthur tau, dady selalu penasaran kenapa kamu sering mendatangi Psikiater, dady juga menyuruh anak buahnya untuk mencari tau alasannya, jadi mulai sekarang kalian harus lebih berhati-hati."
Ditengah perbincangan serius mereka, seorang pelayan datang memberitahu jika Tuan Raymon sudah pulang, mama Wulan segera menghapus air matanya sebelum bertemu sang suami, dia meninggalkan kedua pemuda itu ditaman untuk menyambut kedatangan suaminya.
__ADS_1
"Kita pergi sekarang Raf, aku tidak ingin bertemu dengan pria tua itu." Ucap Arthur lalu dia pergi dari taman dan diikuti oleh Rafli. Untuk menghindari dady-nya Arthur sengaja keluar lewat pintu samping yang biasa digunakan untuk keluar masuk pelayannya, namum sayang, rupanya Tuan Raymon sengaja menunggu didekat mobilnya. Arthur membuang nafas kasar saat melihat orang yang dihindarinya justru sedang menunggunya.
Arthur bersikap acuh seolah dia tidak melihat Tuan Raymon, dia melewatinya begitu saja dan segera membuka pintu mobilnya. "Apa sopan santunmu sudah hilang." Seru Tuan Raymon dengan lantang.
Arthur tak peduli, dia tidak mengindahkan ucapan dady-nya dan segera masuk kedalam mobil. Arthur bisa melihat dengan jelas wajah murka dari dady-nya, namun dari dalam mobil dia melihat mama Wulan menggerakan bibirnya. "Pergilah." Ucap mama Wulan meski tanpa bersuara. Tanpa basa-basi Arthur segera menghidupkan mobilnya dan pergi dari rumah itu diikuti oleh Rafli dibelakangnya.
Arthur melirik spion mobilnya dan melihat Rafli masih mengikutinya, Arthur meraih ponselnya untuk menghubungi Rafli. "Pulanglah, tak perlu ikuti aku." Ucap Arthur setelah panggilannya tersambung. Arthur kembali melirik spionya, dia tersenyum saat tak melihat mobil Rafli lagi. "Penurut sekali dia." Gumam Arthur.
Beberapa menit kemudian Arthur sudah sampai diapartemennya, dia membuka pintu dan melihat Mala tengah berdiri didepan pintu dengan wajah khawatir, Arthur menutup pintu, dengan langkah tergesa dia menghampiri Mala dan segera memeluk gadis itu, dia butuh ketenangan yang selalu dia dapatkan tiap kali bersama Mala. Mala diam terpaku, dia mulai terbiasa dengan sikap Arthur.
Kriuk..kriukk..
Suara perut Arthur terdengar nyaring dan membuatnya terpaksa melepaskan pelukannya, Mala mengulum senyum sementara Arthur menunduk menahan malu. "Dasar perut sialan." Maki Arthur pada dirinya sendiri.
"Saya sudah memanaskan bekal yang mama Wulan bawakan untuk anda, lebih baik kita makan dulu, saya juga lapar." Ucap Mala pelan, lalu dia pergi kedapur dan menyiapkan makanan Arthur.
Arthur duduk dikursi meja makan dan mengamati Mala yang sibuk melayaninya, tidak sedetikpun dia mengalihkan pandangannya dari Mala.
"Kau Cantik." Ucap Arthur tanpa sadar.
"Terimakasih." Mala menjawabnya dengan malu, baru kali ini Arthur memujinya cantik dan dia merasa senang.
Arthur mengusap tengkuknya, dia kembali merutuki kebodohannya karena tanpa sadar memuji Mala secara langsung.
"Terimakasih makananya." Ucap Arthur lalu dia segera melahap makanannya.
**
"Tuan." Ucap Mala ragu.
__ADS_1
"Ya."
"Em, jam berapa anda pergi?"
Arthur diam sejenak, dia memikirkan jawaban yang tepat agar Mala tidak curiga kepadanya. "Entah, setelah aku bangun dan melihat pesan Rey aku langsung pergi, jadi aku tak yakin jam berapa aku pergi. Ada apa?"
"Tidak papa." Balas Mala lalu dia berdiri dan membereskan meja makan.
"Kau tidak ingin bertanya sesuatu kepadaku?" Tanya Arthur seraya mengamati Mala yang tengah mencuci piring.
"Tidak." Mala menjawabnya singkat.
Arthur berdiri lalu dia menghampiri Mala dan berdiri dibelakangnya membuat gadis itu merasa canggung. Arthur memegang bahu Mala, gadis itu terkejut sehingga piring yang berada ditangannya terlepas dan jatuh kelantai.
"Maaf tuan, maafkan saya." Ucap Mala, lalu dia berjongkok dan memunguti serpihan piring yang pecah. "Auw." Pekik Mala, tangannya tak sengaja tergores serpihan piring.
"Astaga, apa yang kau lakukan, kenapa kau senang sekali menyakiti dirimu sendiri." Omel Arthur, dia membantu Mala berdiri dan meraih tangannya kemudian dia bilas dengan air, Mala meringis menahan perih saat lukanya terkena air.
"Apa sakit?" Tanya Arthur khawatir.
"Hem."
Setelah darahnya tak lagi keluar, Arthur menarik tangan Mala dan meniup jari Mala yang terluka, Mala mengamati Arthur, tiba-tiba perasaan aneh menelusup dihatinya, ada kehangatan didalam sana dan membuat wajah Mala merona.
"Apa ini, perasaan macam apa ini?" Batin Mala.
"Kenapa melamun?" Tanya Arthur dan membuat Mala gelagapan, dia menarik tangannya dari tangan Arthur.
"Terimakasih tuan." Ucap Mala dengan suara bergetar, dia gugup namun tak tau alasannya, kenapa dia gugup seperti itu. Tanpa permisi Mala meninggalkan Arthur yang masih berdiri didapur.
__ADS_1
"Kenapa dia?" Tanya Arthur seraya menatap punggung Mala yang menjauhinya.
BERSAMBUNG...