
"Moster dia moster." Teriak pak Karto seraya menatap Arthur dengan tatapan yang sulit di artikan, matanya melotot hingga bola matanya hampir keluar dan tangannya berontak berusaha untuk melepaskan ikatannya.
Mala segera menghampiri Arthur dan memegangi lengan Arthur dengan erat, sementara Arthur masih mematung mendengarkan umpatan yang keluar dari mulut pak Karto.
Suster Hanum segera mendekati pak Karto dan mencoba menenangkannya, namun pak Karto semakin berontak, ia menggila setelah melihat Arthur sehingga suster Hanum terpaksa menyuntikkan obat penenang ke dalam tubuh pak Karto.
Mala menatap Arthur, ia tau prianya sedang tidak baik-baik saja, Mala segera menarik tangan Arthur untuk keluar dari apartemen itu.
Arthur terlihat linglung, ia hanya diam mengikuti Mala yang kini membawanya pulang. Sesampainya di apartemen Arthur, Mala segera membawa Arthur untuk duduk di sofa, ia lantas berlari menuju dapur untuk mengambilkan air minum.
"Minumlah!" Mala membuka tutup botol air mineral dan memberikannya kepada Arthur.
Arthur melirik botol tersebut, ia lalu meraihnya dan meminumnya hingga habis.
"Are you okay?" Tanya Mala lembut, ia mengambil botol kosong yang ada di tangan Arthur dan menaruhnya di atas meja lalu ia menggenggam tangan Arthur yang dingin.
Arthur mengangguk pelan, ia menatap Mala dengan sendu. "Kenapa dia menyebutku moster?" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tiba-tiba Mala merasakan sesak di dadanya, hatinya seolah teriris mendengar ucapan Arthur. Mala memegangi kedua bahu Arthur, ia sedikit memutar tubuh prianya dan memeluknya dengan erat, lehernya yang masih terasa kurang nyaman tak ia rasakan lagi, hatinya lebih sakit saat melihat kesedihan di wajah Arthur.
"Kakek hanya asal bicara, kata suster Hanum dia memang suka merancau."
"Tapi yang di katakan pak Karto memang benar, aku memang monster Mala, aku ..."
Dengan cepat Mala memotong kalimat Arthur. "No, kamu bukan monster, kamu hanya sedikit berbeda dari kami, untuk itu kamu harus berjuang agar perbedaan itu bisa hilang dari hidup kamu."
Arthur melepaskan diri dari pelukan Mala, ia meraih tangan Mala dan menggenggamnya dengan erat. "Kau yakin tidak akan menyesal hidup dengan pria aneh sepertiku?" Tanyanya dengan tatapan sendu.
Mala melepas tangan kanannya, ia memegangi pipi Arthur dan tersenyum kepadanya. "Aku menyesal karena tak menerima lamaranmu lebih capet. Jangan pernah bertanya hal seperti itu lagi padaku, karena jawabannya akan selalu sama, aku tidak menyesal, aku mencintai semua yang ada di dalam dirimu."
Arthur tak bisa berkata apapun, perasaannya begitu tersentuh dengan ucapan Mala, tanpa Arthur sadari buliran bening mulai menetes di pipinya. Mala yang menyadari hal itu segera menyeka air mata Arthur dengan lembut, ia tak menyangka akan melihat Arthur menangis untuk yang kedua kalinya.
"Dimana Arthur Bagaskara yang galak itu?" Sindir Mala dengan wajah tersenyum.
Arthur menuduk malu, ia menghapus sisa-sisa genangan air di pelupuk matanya.
"Sayang, sepertinya aku sudah menjadi pawang yang handal." Celoteh Mala seraya menahan tawanya.
__ADS_1
"Kamu fikir aku macan."
"Em, kamu sangat mirip dengan macan. Dulu aku sangat takut kalau bertemu denganmu, kamu selalu memakiku setiap kali kita bertemu."
"Hey bodoh, kau tuli, kau buta, dasar tidak berguna." Ucap Mala dengan suara yang sengaja di buat-buat.
"Sayang hentikan, aku sudah minta maaf dan menyesalinya, kenapa kamu selalu mengungkitnya sih." Protes Arthur tak terima.
"Bukan wanita namanya jika ia tak suka mengungkit masa lalu."
"Oh ya." Arthur menangkup kedua pipi Mala dan sesikit menekannya sehingga bibir Mala mengerucut kedepan dan membuatnya terlihat menggemaskan.
"Kamu kaya bebek."
"Dasar ja...
Mala tak melanjutkan kalimatnya karena Arthur lebih dulu membungkam mulutnya dengan sebuah kecupan singkat nan lembut.
"Tapi aku suka." Ucapnya lagi, lalu Arthur kembali mengecup bibir Mala.
Arthur melepaskan tangannya, namun netranya tak lepas dari wajah Mala. "Sayang, kapan perutmu sembuh?"
"Aku ingin kita menikah secepatnya, kalau menunggu 6 bulan lagi aku rasa aku nggak akan kuat."
Mala menautkan kedua alisnya, ia tak menangkap kemana arah pembicaraan Arthur. "Nggak kuat kenapa?" Tanya Mala dengan wajah polos.
"Anakondaku sudah kelaparan."
"Kamu melihara ular?" Arthur mengangguk seraya tersenyum.
"Dimana kamu meliharanya, kenapa aku nggak pernah liat?"
"Mau lihat?" Tawar Arthur dan Mala menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Kau yakin?"
"Sudah cepat tunjukan dimana ularnya." Mala berdiri dan menunggu Arthur mengajaknya melihat ular anakonda.
__ADS_1
Arthur menyusul Mala berdiri, ia melepaskan jas dan juga dasinya. Arthur lalu membuka ikat pinggangnya dan membuangnya dengan asal.
Mala menatap Arthur dengan raut wajah kebingungan. "Kenapa ikat pinggangnya di lepas?"
"Katanya mau lihat anakonda, dia sedang tidur di dalam sana, aku harus membuka celanaku jika kamu ingin melihatnya." Ujar Arthur seraya menaik turunkan kedua alisnya.
"Dasar mesyuuuummmm." Teriak Mala seraya menutup kedua matanya.
"Jadi liat nggak?" Goda Arthur.
"Nggak."
"Yah, sayang sekali, padahal aku ingin memperlihatkan tarian ular kepadamu." Arthur belum puas menjahili Mala, ia terus menggoda Mala hingga wajah gadis itu merona karena malu.
Mala berlari masuk ke dalam kamar Arthur dan mengunci pintunya, ia tak menyangka jika otak mesyum Arthur semakin menjadi-jadi. "Dasar mesyummm." Makinya lagi.
Arthut terkekeh melihat kepergian Mala, ia kembali duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya pada bantalan sofa. Arthur memejamkan matanya, namun ia malah kembali teringat makian pak Karto. Arthur membuang nafas berat, ia semakin yakin jika pak Karto bukan hanya saksi atas kebakaran 15 tahun silam, Arthur merasa pak Karto mengetahui segala sesuatu tentang keluarga besarnya.
Akhirnya tanpa Arthur sadari ia terlelap bersama dengan rasa penasarannya.
****
Di tempat lain, tepatnya di sebuah pusat perbelanjaan, Rafli dan Lala tengah memilih cincin untuk acara lamaran sekaligus pertunangan mereka. Rafli menyerahkan semuanya kepada Lala, ia ingin Lala yang memilih segala keperluan untuk acara bahagia mereka.
"Kamu pilih yang mana?" Tanya Lala seraya menunjuk dua model cincin yang berbeda.
"Yang ini bagus." Rafli menunjuk sebuah cincin bermata berlian yang cukup besar.
"Kalau begitu aku pilih yang ini?" Lala memilih cincin yang tak di pilih oleh Rafli dan memberikannya kepada karyawan toko perhiasan tersebut.
Rafli mendegus kesal, namun ia mencoba untuk menahannya dari pada harus membuat keributan di toko perhiasan. "Harusnya nggak usah nanya." Gumamnya dalam hati.
Setelah membeli cincin mereka masuk ke dalam sebuah butik milik Desaigner kondang tanah air, Lala berencana memesan kebaya untuk acaranya nanti.
Lala sibuk memilih bahan dan juga model kebaya yang akan ia kenakan nanti, sementara itu Rafli hanya duduk menunggu dan memperhatikan calon istrinya dengan seksama.
Cincin sudah, baju sudah, Lala dan Rafli masih berkeliling untuk mencari kebutuhan yang lain. Lalal nampak sangat bersemangat mempersiapkan segala sesuatu untuk acara lamarannya, berbeda dengan Rafli yang nampak lelah dan murung.
__ADS_1
"Ternyata menikah tidak semudah itu." Batin Rafli seraya mengikuti Lala di belakangnya.
BERSAMBUNG...