My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 66 Pesona Petra


__ADS_3

"Kau sedang menggodaku." Ucap pemilik apartemen tersebut seraya memandang tubuh Mala.


Tanpa meresponnya, Mala bergegas masuk kedalam kamarnya, dia merutuki dirinya sendiri yang begitu ceroboh.


Setelah berpakaian rapi, Mala keluar dari kamar dan menuju dapur, dia berniat membersihkan pecahan gelas yang di jatuhnya tuannya tadi.


Mala terkejut saat melihat tuannya masih berada di dapur, namun ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya, pagi ini Arthur terlihat berbeda, dia mengenakan celana jeans ketat berwarna hitam, senada dengan kaos dan jaket kulitnya, belum lagi kaca mata hitam yang bertengger diatas hidungnya membuat penampilannya sungguh jauh berbeda dengan sebelumnya, gaya rambutnyapun jelas berbeda, namun penampilan itu justru membuat Mala terpesona, Arthur nampak lebih fresh dan maskulin, dia lebih terlihat seperti pemuda pada umumnya.



"Kenapa anda berpakaian seperti itu, kita harus ke kantor sekarang, anda harus bertemu dengan cliet pagi ini." Tanya Mala setelah bersusah payah menyangkal pesona Arthur.


"Kantor. Cihh aku tidak suka ke kantor, aku akan bersenang-senang hari ini."


"Anda siapa?" Tanya Mala dengan mulut bergetar, dia belum pernah melihat kepribadian Arthur dengan busana seperti itu.


"Kau tak mengenaliku, ah sayang sekali padahal kita pernah berciuman waktu itu, bibirmu sangat manis." Ucapnya seakan sedang menggoda Mala.


"Petra?" Tebak Mala, selain Rey hanya Petra yang pernah menciumnya. Lucu bukan, Mala dicium orang yang sama namun dengan rasa yang berbeda.


"Kenapa Tuan Arthur belum juga bangun?" Mala merasa heran karena Arthur tak juga muncul.


"Dia pasti sedang meringkuk ketakutan di suatu tempat, dia itu sangat lemah seperti perempuan." Ejek Petra dengan seringai diwajahnya.


"Lebih baik denganku saja, aku tak kalah tampan dari dia, yang jelas aku lebih kuat dari pada Arthur." Imbuh Petra seraya menatap Mala seolah ingin memangsanya, dia berjalan menghampiri Mala dan gadis itu beringsut mundur.


Mala berhenti, tangannya meraih sapu yang kebetulan berada tak jauh dari kamarnya, saat Petra semakin mendekat, Mala menodongkan gagang sapu itu tepat di depan wajah Petra, gadis itu mengingat adegan saat Tuan Raymon mengacungkan tongkatnya tepat didepan mata Tuan Arthur.


"Jangan mendekat." Ancam Mala dengan gagang sapunya yang masih tertuju pada wajah tampan Petra.


"Kau mirip sekali dengan Raymon." Cibir Petra sambil tersenyum geli melihat tingkah konyol Mala. Petra tak mengindahkan ancaman Mala, selangkah demi selangkah kakinya mengayun maju, begitupun dengan Mala yang yang terus bergerak mundur.


PLAKK..


Suara yang terdengar sangat nyaring saat gagang sapu bertemu dengan kepala Petra, pemuda itu meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang terkena getokan gagang sapu Mala.


"Sudah ku bilang jangan mendekat kan?" Sepintas rasa sesal berada dibenak Mala, dia tak menyangka berani memukul kepala Petra dengan gagang sapu, semoga saja Arthur tak mengetahui jika Mala telah melakukan penganiayaan pada tubuhnya, salah siapa tak bangun-bangun, begitulah yang mungkin akan Mala ucapkan jika sampai Arthur atau Rafli marah padanya.


"Kau." Petra menggeram, namun wajah kesalnya menyunggingkan senyum saat melihat ekspresi Mala yang menurutnya sangat menggemaskan, bayangkan saja gadis itu memanyunkan bibirnya karena kesal.


"Kenapa kau mirip sekali dengan bebek." Sarkas Petra dan segera mendapat lirikam tajam dari Mala.


"Nggak asik main sama bebek, aku mau pergi, jangan menahanku kecuali kau mau ikut denganku."

__ADS_1


Petra membalikan tubuhnya, dia berjalan menuju pintu, Mala kebingungan, dia tak bisa menahan Petra atau Petra benar-benar akan memakannya.


"Aku ikut." Mala berlari mengejar Petra yang sudah keluar dari apartemen.


"Masa bodoh dengan meeting, asal dia tidak kabur dan macam-macam." Mala membatin saat mengejar Petra.


Mala mengekori Petra hingga keduanya sampai di basement, Petra menuju tempat parkir yang lebih jauh dari tempat parkir mobil Arthur, Mala hanya mengamati dari jauh saat pertea menghampiri sebuah benda tertutup oleh kain berwarna hitam, Petra menarik kain itu sehingga memperlihatkan sebuah motor gede merek BMW R 18 Classic, sebuah motor yang dirancang khusus untuk touring dengan harga satu miliyar lebih terlihat sangat gagah.



Petra meraih dua helm yang tersimpan diatas motor tersebut, tanpa aba-aba dia melemparkan helm itu kepada Mala, untung saja gadis itu tanggap sehingga helm tersebut tak harus membentur wajahnya yang cantik.


Mala mencebik, lalu dia memakai helmnya dan naik jok belakang, kali ini dia sungguh pasrah dengan mengikuti Petra, namun saat mengejar Petra dia sempat mengirim pesan kepada Rafli.


Brumm..


Suara mesin motor terdengar sangat keras, Petra melajukan motornya dengan tiba-tiba, membuat tubuh Mala sedikit terhuyung kebelakang, untung saja dia siap siaga, tangannya berpegang pada jaket Petra sehingga dia tidak jatuh.


"Kau sengaja kan?" Protes Mala kesal.


Petra hanya tertawa, terlihat dari punggungnya yang bergerak naik turun, Mala memukul punggung Petra namun kemudian tangannya kembali berpegang erat pada jaket Petra karena pemuda itu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Kantor." Batin Mala saat Petra menghentikan motornya tepat didepan gedung Art Life.


Mala masih terpaku pada tempat duduknya, dia tak mengerti kenapa Petra membawanya kesini.


"Eh." Pekik Mala, dia turun dari motor itu dan melepas helmnya. "Kenapa kita ke kantor?" Tanya Mala sebelum rasa penasarannya semakin besar.


"Kau bilang Arthur ada meeting, aku harus bekerja sebelum menghabiskan uang Arthur yang pastinya tak ada habisnya itu."


"Baguslah kalau kamu sadar diri." Sindir Mala.


Karyawan Art Life dibuat takjub dengan penampilan atasan mereka, banyak karyawan yang diam-diam memotret Petra, kapan lagi mereka akan melihat bos besar mereka berpakaian layaknya seorang aktor.


Rafli menyambut kedatangan mereka, dia segera membawa Petra masuk ke dalam ruangan Arthur, Rafli hanya bisa menarik nafas panjang saat melihat penampilan Petra.


"Aku harus bertemu siapa Raf?" Ucap Petra memecahkan keheningan di antara tiga makhluk hidup yang berada di dalam ruangan Arthur.


"Tidak perlu, kamu hanya perlu tanda tangan, aku yang akan bertemu dengan client." Cegah Rafli sebelum Petra menghancurkan rencana bisnis Arthur.


Rafli menyerahkan beberapa dokumen kepada Petra, dengan santai Petra meraih tanda dokumen itu dan mulai meniru tanda tangan Arthur, salah satu bakat Petra adalah meniru, dia mampu meniru tanda tangan orang lain meski hanya dengan sekali lihat.


Bakatnya diketahui Arthur dan Rafli saat dia diam-diam mencairkan sebuah cek dengan nominal yang sangat fantastis, tentu saja uang itu yang dia gunakan untuk membeli motor impiannya.

__ADS_1


"Ada lagi?" Tanyanya lagi dan Rafli segera menggeleng.


"Apa aku boleh bersenang-senang sekarang?"


Rafli membuang nafasnya kasar, dia melirik Mala sekilas lalu kembali menatap Petra.


"Jangan berbuat macam-macam, jangan mabuk, jangan beli narkoba dan jangan melakukan **** dengan wanita manapun." Ucap Rafli datar namun jelas itu sebuah peringatan untuk Petra.


Cih, Petra menggeram, mana mungkin dia bersenang-senang dengan melewatkan semua hal yang Rafli ucapkan, baginya mabuk, narkoba dan **** adalah sebuah paket komplit untuk bersenang-senang.


****


Setelah memutari seantero Jakarta seharian, Petra membawa Mala ke sebuah Club yang ada di pusat kota. Mala sempat ragu namun pada akhirnya dia tetap mengikuti Petra masuk.


"Hye bro, lama kali tak jumpa?" Sapa seorang pria dengan tubuh yang dipenuhi oleh tato.


"Sorry, sorry, aku sibuk."


"Siapa dia, barang baru?" Bisik pria bertato itu seraya menunjuk Mala dengan dagunya.


"Ah, dia sekretaris baruku, bagaimana menurutmu, cantik kan?" Ucap Petra seraya melirik Mala.


Pria bertato itu hanya manggut-manggut, lalu dia mempersilahkan Petra untuk duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan deretan minuman berakohol. Seorang Barista terlihat sedang meracik sesuatu didalam gelas dan memberikannya kepada Perta.


"Seperti biasa." Ucapnya setelah menaruh gelas berisi air berwarna coklat dan beberapa kotak es batu didalamnya.


Mala hanya memperhatikan saat Petra menenggak habis minuman itu, dia sungguh tidak tau jika yang di minum Petra adalah minuman beralkohol, Mala fikir itu hanya es teh manis karena bentuknya sangat mirip dengan es teh manis yang biasa Mala minum.


Petra menghabiskan beberapa gelas dan kesadarannya mulai berkurang, dia mulai merancau tak jelas.


"Sial, itu alkohol bukan es teh. Dasar bodoh." Maki Mala pada dirinya sendiri.


"Mala oh Mala, Nismalaku yang cantik. Setelah sekian lama akhirnya kita bertemu lagi." Rancau Petra, dia menyangga kepalanya dengan satu tangan .


"Kau pasti tak mengingatku kan, padahal aku langsung mengenalimu saat kita makan malam di rumah Arthur."


"Dasar orang gila." Gerutu Mala mendengar ocehan Petra.


"Kau sungguh tak mengenaliku?"


"Hey kita pernah bertemu saat ulang tahunmu."


Mala tersenyum mengejek, dia tak pernah merayakan ulang tahun, bisa-bisanya Petra berbohong padanya.

__ADS_1


"Waktu itu..mmm....setelah ulang tahunmu,,,, kebakaran itu terjadi.. hahhahaha....kau juga berada disana saat kebakaran itu terjadi Mala, ah tidak asik, bagaimana kau bisa lupa, kebakaran itu membunuh kedua orang tuamu dan Momy Lidya, ibu kandung Arthur."


BERSAMBUNG...


__ADS_2