My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 23 Tak seperti yang kita duga


__ADS_3

"Ayo berangkat." Seru Arthur, lalu dia kembali melempar sesuatu kepada Mala. "Simpan itu, itu kartu akses untuk masuk kerumah ini."


Mala mengulum senyum, dia menyimpan kartu itu disaku celananya lalu dia segera berlari mengikuti tuannya. Mala segera membukakan pintu mobil untuk Arthur, sepertinya jiwa pelayan sudah merekat ditubuhnya. Setelah Arthur masuk, Mala segera menyusulnya masuk kedalam mobil.


"Maaf tuan, kita langsung ke Art Life atau tuan akan mampir ketempat lain dulu?" Mala berinisiatif bertanya kepada Arthur sebelum dia dikatai bodoh lagi.


"Mampir ke Caffe dekat kantor dulu, aku harus bertemu seseorang." Ucap Arthur datar.


Mala hanya mengangguk mengiyakan titah dari tuannya, dia segera menyalakan mobil dan mengendarainya. Mala harus berterimakasih kepada Lala karena sudah mengajarinya mengendarai mobil. Mala membelah jalanan ibu kota yang lumayan padat pagi ini, sesekali dia melirik tuannya dari balik kaca spion.


Setengah jam berlalu Mala sudah memarkirkan mobil tuannya didepan sebuah Caffe. "Tunggu disini." Ucap Arthur, lalu dia keluar dari mobil dan masuk kedalam Caffe itu. Mala mengamati tuannya dari dalam mobil. Didalam Caffe Arthur langsung disambut oleh seorang wanita, lalu mereka terlihat tengah membicarakan hal yang serius.


"Aku lapar sekali." Keluh Mala, perutnya sudah berteriak minta diisi. "Sampai dikantor aku harus segera mencari Lala dan meminjam uang padanya." Imbuh Mala.


Hampir setengah jam menunggu, Arthur dan wanita yang ditemuinya keluar dari Caffe itu bersamaan, diluar Caffe mereka berpelukan sebelum akhirnya wanita itu meninggalkan Arthur.


Mala memperhatikan Arthur yang tengah berjalan menuju mobilnya, lagi-lagi Mala melihat gurat kesedihan dimata Arthur, entah apa penyebabnya namun mata yang biasa menatap tegas kini berubah sendu.


"Heh." Arthur menyodorkan papper bag berukuran kecil kepada Mala.


"Terimaksih tuan."Ucap Mala tanpa bertanya apa yang diberikan oleh tuannya. Mala meraih papper bag itu dan meletakannya dikursi yang berada disebelahnya lalu dia kembali melajukan mobilnya menuju Art Life.


**


Lala yang baru sampai didepan Art life, gadis itu segera mengulum senyum begitu melihat pujaan hatinya tengah berdiri didepan gedung tempatnya bekerja. Lala segera merapikan rambut dan pakaiannya, tak lupa juga dia menyemprotkan minyak wangi yang selalu dibawanya, lalu dengan penuh percaya diri dia menghampiri Rafli sang pujaan hati.


"Pagi Asisten Rafli." Ucap Lala lembut, dia tersenyum sangat manis.


"Hem." Jawab Rafli singkat, pemuda itu sama sekali tidak memperhatikan Lala yang berada sebelahnya.


"Sedang menunggu siapa?" Tanya Lala lagi.


"Tuan Arthur."


"Sudah sarapan?"


"Sudah."


Lala menarik nafas panjang, dia sedang menahan emosinya karena Rafli sangat dingin padanya. "Ah sial apalagi yang harus aku tanyakan." Batin Lala.


Belum sempat bertanya lagi sebuah mobil mewah berhenti didepan mereka, Lala terkejut begitu melihat Mala keluar dari mobil itu dan membukakan pintu untuk Tuan Arthur.


Arthur segera menghampiri Rafli dan pemuda itu segera membacakan agenda Arthur hari ini, mereka berdua lalu masuk kedalam Art Life meninggalkan kedua gadis yang namanya hampir serupa itu.

__ADS_1


"Apa ini? Kau jadi supirnya?"


"Akan aku ceritakan nanti, jam istirahat aku tunggu di rooftop." Ucap Mala lalu gadis itu berlari meninggakan Lala dan mengejar Arthur.


Arthur berhenti ketika menyadari Mala tengah mengejarnya.


"Kau punya ponsel?" Tanya Arthur dan hanya dibalas anggukan oleh Mala. Arthur mengeluarkan ponselnya dan memberikan kepada Mala. "Catat nomormu."


Mala kebingungan namun dia tetap meraih ponsel itu dan mengetik nomor ponselnya, setelah selesai dia mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.


"Segera datang jika aku menelfon, sekarang pergilah bekerja."


Mala hanya mengangguk, dia segera kelokernya untuk berganti baju dan siap bekerja. Setelah mengganti bajunya Mala membuka papper bag yang diberikan oleh Arthur, di tersenyum lebar begitu melihat makanan didalam paper bag itu. "Ternyata dia perhatian juga." Desis Mala, lalu gadis itu segera melahap makananya sebelum cacing-cacing didalam perutnya kembali berbunyi.


***


Saat jam istirahal Lala segera naik ke rooftop sesuai perintah Mala, gadis itu mencari tempat duduk kosong, karena pada jam istirahat rooftop menjadi tempat favorit bagi karyawan Art Life.


"Disini." Ucap Lala, dia melambaikan tangannya kepada Mala.


Mala tersenyum dan segera menghampiri sahabatnya, gadis itu duduk yang segera meminum air yang dibawa Lala.


"Cepat ceritakan apa yang terjadi." Cecar Lala karena tak sabar mendengar penjelasan dari sahabatnya.


"Apa?" Lala berteriak, gadis itu terlonjak dari tempat duduknya. Mala segera menarik tangan sahabatnya karena kini mereka menjadi pusat perhatian.


"Kenapa tidak kerumahku?" Ujar Lala dengan setengah berbisik.


"Aku tidak ingin merepotkan keluargamu. Kamu tenang aja, aku udah punya tempat tinggal."


"Siapa yang direpotkan. Kau tinggal dimana, nanti malam dan seterusnya tinggallah dirumahku."


"Aku tinggal dirumah Tuan Arthur."


"Apa?" Lala kembali terkejut, untungnya gadis itu segera membekap mulutnya sebelum berteriak.


"Aku tidak bisa tinggal dirumahmu, aku malas harus bertemu dengan bibi dan anak-anaknya."


"Tuan Arthur tidak menyakitimu kan?" Selidik Lala, dia masih ingat curahan hati sahabatnya yang selalu dimaki oleh Arthur.


Mala menggeleng cepat. "Tidak, sepertinya dia tidak seperti yang kita bayangkan La."


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Dia sebenarnya baik, dia bahkan memberiku tempat tidur yang layak, dan tadi pagi dia juga membelikan sarapan untukku "


"Kau yakin makananmu tidak diracuni?"


"Buktinya aku masih hidup sekarang."


Kedua gadis itu kembali larut dalam percakapan mereka hingga waktu istirahat usai.


***


Sementara ditempat lain, bi Ningsing dan kedua anaknya sedang menemui pengacara, mereka sudah tidak sabar memindahkan semua warisan Mala menjadi milik mereka.


"Ada yang bisa saya bantu bu?" Ucap pengacara yang juga membantu mengurus hak perwalian Mala sehingga pengacara itu mengenal bi Ningsih dan kedua anaknya dengan baik.


"Begini pak pengacara, Mala sudah menandatangi surat pengalihan harta warisannya, dia bilang dia tidak membutuhkan itu sehingga menyerahkannya kepada saya." Ucap bi Ningsing seraya memberikan map kepada pengacara.


Pengacara itu meraih map tersebut dan membukanya. Dahinya mengkerut begitu melihat isinya.


"Apakah membutuhkan waktu yang lama untuk merubahnya menjadi atas nama saya?" Tanya bi Ningsih karena sudah tidak sabar ingin memiliki warisan Mala.


"Maaf bu tapi surat ini tidak berlaku." Ucap pengacara itu datar, matanya menatap tajam bi Ningsing dan kedua anaknya.


"Apa maksud anda?"


"Begini bu, semua aset yang ditinggalkan untuk Mala sampai saat ini masih beratasnamakan kedua orangtuanya, jadi surat ini tidak sah, karena warisan itu belum menjadi milik Mala. Surat ini sah jika kedua orangtua Mala yang menandatanganinya."


"Tapi orangtuanya kan sudah meninggal."


"Betul, anda bisa mencari stempel milik kedua orangtua Mala sebagai pengganti tanda tangan."


"Dimana saya harus mencari stempel itu, pemiliknya saja susah mati."


Bi Ningsing menggerutu, dia dan kedua anaknya tampak murung karena pergi dengan tangan kosong.


**BERSAMBUNG..


Hye semua apa kabar?


Semoga kalian dalam keadaan sehat yaa.


Aku ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman teman yang melaksanakannya..


Dan juga selama bulan Ramadhan aku akan up setelah berbuka puasa ya..

__ADS_1


Bye, salam sayang dariku❤❤❤❤**


__ADS_2