My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 111 Belum Lima menit


__ADS_3

Rupanya Arthur masih memiliki beberapa kejutan lagi untuk Mala, setelah pesta kembang api dan lamaran romantis di atas perahu, Arthur mengajak Mala makan malam spesial di salah satu restoran yang masih berada di kawasan Ancol, sebuah restoran mewah yang berada di dalam gedung pencakar lagit, bukan hanya tempatnya yang nyaman, pemandangan yang di sajikanpun membuat siapa saja betah untuk makan di restoran tersebut. Dari dalam restoran mewah itu pengunjung dapat melihat hamparan lautan lepas serta pemandangan malam kota Jakarta bagian utara.


Kali ini Mala tak merasa heran saat restoran tersebut terlihat sepi, hanya ada dia dan Arthur yang berada di dalam restoran itu, Mala sudah bisa menebak, pasti Arthur yang sudah menyewa restoran tersebut untuk makan malam bersamanya.


Sepasang kekasih itu duduk di berseberangan terpisahkan sebuah meja bulat berukuran sedang, mereka memilih duduk di dekat kaca agar lebih leluasa melihat pemandangan malam di luar sana.


Beberapa saat kemudian seorang waiters datang membawa dua piring berisikan potongan daging panggang berukuran cukup besar. Mala menatap makanan yang berada di depannya, ia bukanlah tipikal orang yang akan kenyang hanya dengan makan sepotong daging. Ia tiba-tiba membayangkan sebungkus nasi padang lengkap dengan Rendang serta kerupuk kulit, membayangkan itu membuat ludah Mala hampir menetes.


"Kenapa nggak di makan, kamu nggak suka?" Tanya Arthur setelah melihat Mala belum menyentuh makananya.


Tanpa menunggu jawaban Mala, Arthur memotong daging yang berada di atas piringnya menjadi bagian yang lebih kecil, setelah semua terpotong, Arthur mengangkat piring Mala dan menukarnya dengan piring miliknya. "Makanlah, aku sudah memotongnya untukmu." Perintahnya dengan lembut.


Mala tersenyum simpul, ia hanya mengangguk lalu menusuk potongan daging itu dengan garpu dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Kalau pakai nasi pasti enak." Batin Mala seraya mengunyah daging di dalam mulutnya.


Tak butuh waktu lama bagi Mala untuk menghabiskan daging di atas piringnya, meskipun begitu perutnya masih terasa kosong, daging itu hanya mampir di tenggorokan Mala dan mengisi dua persen lambungnya.


"Sayang." Panggil Mala dengan manja.


Arthur menatap Mala selagi mengunyah makanannya.


"Boleh aku minta sesuatu?" Pintanya dengan lembut.


Arthur meletakkan pisau dan garpunya, ia meraih gelas berisi air putih dan meminumnya hingga setengah habis. "Apa?"


"Aku masih lapar." Ucap Mala tanpa rasa malu sedikitpun karena Arthurpun mengetahui jika porsi makan Mala tidaklah sedikit.


"Mau pesan apa lagi, biar aku pesankan ya?"


Mala menggeleng dengan cepat. "Aku nggak mau makan disini, aku pengin makan nasi goreng abang-abang yang ada di seberang apartemen."


"Big no, itu nggak sehat!" Tolak Arthur dengan segera.


"Sayang, perutku sudah terbiasa dengan makanan seperti itu dan aku selalu baik-baik saja, lihatlah aku masih hidup sekarang meskipun makan makanan yang menurutmu tidak sehat, ususku sudah terlatih untuk mencerna makanan tidak sehat itu."


"Terlatih, bagaimana kamu melatih ususmu?"

__ADS_1


"Kamu tau nggak kalimat sakral Belum Lima Menit? Tanya Mala dan Arthur menggeleng pelan. "Tanya saja dengan karyawanmu apa arti dari 'belum lima menit' yang bisa melatih kekebalan usus!"


***


Mala akhirnya berhasil membujuk Arthur, ia di izinkan untuk membeli nasi goreng abang-abang kesukaannya yang berada di dekat apartemen mereka. Mala melarang Arthur turun dari mobil, akhirnya Arthur menunggu di dalam mobil saat Mala tengah memesan nasi gorengnya, ia mengamati Mala yang terlihat sangat senang.


"Semudah itu membuatmu bahagia." Gumamnya lirih.


Di dekat penjual nasi goreng tersebut juga banyak terpasang tenda-tenda yang menjajakan kuliner malam, namun perhatian Arthur justru tertuju pada seorang ibu yang tengah menjajakan dagangannya, ibu tersebut terlihat sedih karena dagangannya sepi.


Arthur tak tega melihat ibu tersebut, ia turun dari mobil dan menghampiri ibu-ibu tersebut.


"Permisi." Ucap Arthur dengan sopan.


"Ya mas, mau beli apa?" Tanya ibu dengan semangat.


Telinga Arthur mulai terbiasa dengan panggilan mas, ia tak lagi keberatan saat seseorang memangginya begitu. "Ibu jual apa?"


"Macem-macem mas, ada kopi, susu dan minuman saset yang lain, mas mau beli yang mana, mau yang panas atau dingin?" Tawar ibu penjual tersebut dengan antusias.


"Saya beli semuanya, tapi tolong ibu bagikan untuk orang-orang yang ada di sana." Arthur menunjuk gerombolan tukang ojek online yang sedang menunggu pesanan.


"Serius bu. Berapa semuanya?" Jawab Arthur seraya mengeluarkan dompet dari saku celananya.


Ibu itu mulai menghitung berapa jumlah yang Arthur harus bayarkan kepadanya. "350 ribu mas."


Arthur mengeluarkan 10 lembar pecahan seratus ribuan dan memberikannya kepada ibu penjual minuman keliling itu.


"Ini kebanyakan mas." Tolak sang ibu, ia berniat mengembalikan uang tersebut.


"Rezeki untuk ibu, gunakan untuk menambah modal dagangan ibu."


"Terimaksih banyak mas, terimakasih bayak."


Setelah mengucapkan terimakasih dan rasa syukur, ibu itu mulai menyeduh kopi dan minuman saset yang ia jajakan.


"Minuman gratis, minuman gratis." Teriak si ibu hingga menarik perhatian orang-orang di sekeliling termasuk Mala.

__ADS_1


Mala segera menghampiri Arthur setelah pesananya selesai. Ia menatap bingung orang-orang yang mulai berkerumun di dekat penjual minuman keliling.


"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Mala seraya menatap wajah kekasihnya.


"Masnya lagi ngeborong dagangan saya mbak." Sahut ibu penjual minuman.


"Mas?" Tawa Mala hampir saja meledak, namun ia berusaha untuk menahannya.


"Mas Arthur mau nyobain kopi juga?" Goda Mala dengan menahan senyumnya.


Arthur menoleh ke samping, kepalajya sedikit menunduk sehingga ia bisa menatap wajah kekasihnya. "TIDAK, TERIMAKASIH." Ucapnya penuh penekanan.


"Ya sudah kalau nggak mau."


Mala lalu menghampiri penjual minuman itu, ia memesan segelas kopi susu, setelah pesanananya jadi ia membawanya kembali ke dekat Arthur.


"Apa yang kau minum?" Tanya Arthur sambil berusaha merebut gelas plastik dari tangan Mala, namun Mala bergerak lebih cepat segingga Arthur tak dapat menjangkau gelas yang di pegangnya.


"Kamu sudah janji bakal ngizinin aku makan apapun yang aku inginkan malam ini, lagi pula ini cuma kopi."


"Ya sudah, hanya untuk malam ini." Arthur hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan Mala.


"Kenapa kamu nggak kasih uang ke ibu itu trus suruh ibu itu pulang dan istirahat." Tanya Mala seraya meniup kopinya .


"Ibu itu berjualan bukan tukang minta-minta."


Deg..


Sebuah jawaban singkat namun mampu mencubit hati Mala. Sebaik apapun niat kita, jangan sampai niat tersebut justru di salah artikan. Seperti malam ini, Arthur bisa saja memberikan uang kepada ibu penjual minuman keliling dan menyuruhnya pulang, namun Arthur tidak melakukannya, ia membantu ibu itu dengan cara memborong semua dagangannya, jika Arthur memberikan uang secara cuma-cuma, sama saja dengan Arthur menanamkan bibit meminta-minta di dalam benak ibu penjual minuman itu.


Arthur melirik Mala yang tengah menyesap kopinya, namun tiba-tiba telinganya berdenging, sekelabat bayangan melintas di benaknya. Detik selanjutnya ia merasakan sesuatu yang tak nyaman di kepalanya, sekelebat bayangan itu semakin jelas di dalam fikirannya.


Seperti tengah ada yang memutar film di kepalanya, Arthur seakan melihat dirinya tengah berboncengan motor bersama Mala, mereka berhenti di bahu jalan tepat dimana banyak sekali orang yang berjualan minuman keliling. Ia kembali melihat dirinya memegangi dua gelas plastik berisikan kopi, ia membawanya kepada Mala yang tengah menatap ke bawah, sebuaha kereta api listrik berhenti tepat dibawah jembatan tempat mereka berdiri.


Arthur memejamkan matanya, bayangan Mala berciuman dengannya di atas jembatan iterlihat begitu nyata, ia lalu memegangi dadanya yang bergemuruh, jantungnya berpacu dan tiba-tiba ia merasa sangat bahagia.


"Apa ini, ini bukan mimpi, apa yang terjadi padaku?" Batin Arthur, ia kembali menatap Mala yang sudah menghabiskan kopinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2