My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 89 Melelehnya si kembar batu es


__ADS_3

"Kau siap, kalau begitu ayo menikah!!" Ucap Rafli tegas, ia menatap Lala intens.


Lala membelalakan matanya, keranjang buah yang di bawanya untuk Mala terjatuh di lantai saking kagetnya, niatnya hanya bercanda namun di anggap serius oleh Rafli. Lala menoleh ke arah Rafli, seketika jantungnya berdebar dengan hebat saat menyaksikan netra bening Rafli tengah menatapnya, Lala menjadi salah tingkah.


Suara Rafli menggema di penjuru ruangan, Arthur dan Mala yang tengah asik memadu kasih terpaksa menghentikan kegiatan mereka dan memperhatikan dua orang yang tengah saling menatap.


"Sejak kapan mereka bersama?" Tanya Mala, tatapannya masih tertuju pada Lala dan Rafli yang masih mematung di depan pintu.


"Aku juga tidak tau. Apa tadi Rafli mengajak Lala menikah?" Sahut Arthur dengan ekspresi wajah tak percaya. Ia masih belum percaya jika sahabatnya itu ternyata memiliki hubungan dengan Lala.


"Kedengarannya begitu. Kalian kompak sekali, senang mengajak nikah secara tiba-tiba." Sindir Mala.


Arthur menoleh, ia menatap Mala yang berada di sebelahnya. "Kami memang sahabat sejati." Ucapnya bangga.


Mala menggeleng pelan, kemudian ia kembali fokus pada sepasang kekasih yang masih terpaku di tempatnya masing-masing.


Tenggorokan Lala tercekat, ia tak bisa melayangkan protes kepada Rafli karena mengucapkan kata menikah dengan sangat mudah, namun lidah Lala kelu, sorot mata Rafli membuatnya tak berdaya, gadis itu masuk ke dalam perangkap yang di buatnya sendiri.


"A..aaku hanya berca..da." Jawab Lala, tiba-tiba saja ia menjadi gagap.


"Tapi aku serius, aku akan segera datang ke rumah untuk melamarmu." Tegas Rafli, tak ada keraguan di dalam matanya.


"Aku tidak mau. Maksudku aku belum siap menikah, aku masih ingin kuliah dan bekerja, aku ingin menikmati masa mudaku, lagian kita pacaran baru beberapa hari."


"Apa ini sebuah penolakkan. Baiklah." Ucap Rafli, wajahnya nampak kecewa.


"Ekhem."


Arthur berdehem, situasi di kamar Mala berubah mencekam, perdebatan kecil antara Rafli dan Lala harus segera di tengahi.


Lala meraih keranjang buahnya dan segera menghampiri Mala. Ia menganggukan kepalanya dengan sopan saat bertatap dengan Arthur. Lala meletakkan keranjang buah di atas nakas yang berada di sebelah tempat tidur Mala, lalu ia duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Arthur.


"Bagaimana kondisimu?" Tanya Lala seraya menggenggam tangan sahabatnya.


"Sudah jauh lebih baik."


Percakapan mereka terhenti saat Arthur dan Rafli keluar meninggalkan mereka. Keduanya menatap kepergian laki-laki terkasihnya. Setelah Arthur dan Rafli keluar, Lala kembali fokus kepada Mala.


"Syukurlah, aku sangat mengkhawatirkanmu. Apa lagi saat kamu mengalami henti jantung, ya Tuhan aku hampir saja pingsan."


"Henti jantung?" Tanya Mala.


"Iya, kamu hampir saja tak terselamatkan."


Mala menunduk lemah, namun dalam hatinya ia sangat bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk hidup lebih lama dan bisa bertemu dengan Arthur lagi.


"Tuan Arthur hampir gila saat kamu belum sadar, dia bahkan tidak pernah pulang ke apartemennya, pekerjaannya saja Rafli semua yang menghandlenya." Lala menceritakan kejadian kemarin dengan semangat.


"Kamu sangat beruntung memiliki tuan Arthur, aku rasa dia sangat mencintaimu." lanjutnya lagi.


Mala tersenyum simpul, setelah mendengar cerita sahabatnya, Mala semakin yakin jika keputusannya untuk menerima lamaran Arthur adalah hal yang tepat. Di cintai adalah sebuah hal yang sangat Mala idamkan sejak dulu, setelah orang tuanya meninggal hidupnya hanya di liputi kebencian. Untuk itu Mala berjanji tidak akan pernah melepaskan Arthur.


***


Arthur mengajak Rafli menuju kafe yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Rumah Sakit, mereka cukup berjalan kaki untuk sampai di tempat berlantai dua itu. Mereka berdua duduk di sudut ruangan, pemandangan sore kota Jakarta mereka nikmati dari balik jendela.


Arthur memesan secangkir Amerikano panas, begitupun dengan Rafli, mereka berdua memiliki selera yang sama, mungkin karena mereka bersahabat terlalu lama.


Mereka berdua kompak mengangkat cangkir masing-masing, meniup kopi panas mereka dan menyeruputnya bersamaan, mereka terlihat seperti bintang iklan kopi.


Beberapa pengunjung kafe diam-diam mencuri pandang ke arah mereka, wajah tampan Arthur dan Rafli menjadi magnet di kafe itu. Gadis-gadis yang berada di kafe itu heboh, mereka menatap kedua pria tampan itu dengan liur hampir menetes, bahkan beberapa di antaranya mengambil foto Rafli dan Arthur secara diam-diam.


Arthur dan Rafli nampak begitu tenang, di kerubuti cewek-cewek bukanlah hal baru bagi mereka, keduanya menikmati kopi yang mulai dingin.


"Apa kau menemukan sesuatu?"


Tanya Arthur, ia bersandar di kursi dan menatap keluar jendela kafe.


"Saya masih belum yakin, tapi sepertinya mereka berhubungan dengan Bagaskara Group." Jawab Rafli, ia memberikan sebuah kartu nama dengan logo Bagaskara Group .


Arthur menatap Rafli sejenak, lalu ia meraih kartu nama itu dan memeriksanya dengan seksama. "Ya, kau benar, ini logo Bagaskara Group. Dimana kau menemukan ini?"


"Petugas kebersihan menemukan itu saat mereka membersihkan mobil yang mereka sewa."


Arthur menegetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya, ia sempat berfikir mungkin saingan bisnisnya yang melakukan ini, namun setelah Rafli menemukan kartu nama itu kini ia mencurigai satu orang, Raymon Bagaskara, dady-nya sendir.


"Sepertinya aku tau siapa dalangnya Raf."


Arthur menarik ujung bibirnya, senyum menyeringai tercipta di wajah dinginnya. Matanya mulai memerah efek emosi yang mulai membuncah dalam dirinya.


Rafli menatap Arthur, aura membunuh terpancar dari wajah sahabatnya. Sebenarnya Rafli juga mencurigai tuan Raymon, namun bibirnya tak kuasa untuk mengucapkan nama itu, namun sepertinya tanpa Rafli mengatakan kecurigaannya, Arthur sudah lebih dulu mencurigai dady-nya.


Setelah kopinya habis, mereka kembali ke Rumah Sakit, di perjalanan pulang Arthur merasa tengah di awasi oleh seseorang.


"Raf, sepertinya ada yang sedang mengawasi kita." Ucap Arthur dengan wajah tanpa ekspresi.


"Arah jam 3?" Tanya Rafli yang juga menyadari hal itu.


"Hem."

__ADS_1


"Suruh anak buahmu untuk berjaga di depan kamar Mala."


"Ya tuan."


Mereka berjalan seolah tak ada apapun sampai mereka tiba di area Rumah Sakit.


Dalam perjalana menuju kamar Mala tiba-tiba Arthur merangkul Rafli, membuat Rafli terkejut.


"Apa Lala menolakmu?" Bisiknya dengan nada mencemooh.


"Tentu saja tidak, dia masih memikirkannya." Elak Rafli.


"Jadi seleramu gadis tomboy seperti dia, kau sungguh di luar dugaan." Ejek Arthur lagi.


"Saya juga tak menyangka selera anda bukan lagi gadis KUTILANG (kurus, tinggi, langsing), anda Malah tergila-gila dengan gadis semampai seperti Mala." Balas Rafli, ia tak mau kalah.


"Semampai?" Arthur melepas tangannya dari bahu Rafli, ia menatap sahabatnya dengan rasa penasaran.


Rafli berjalan dengan cepat, ia mendahului Arthur. "Semeter tidak sampai, hahah." Ucapnya sambil tertawa, ia berlari sebelum Arthur murka kepadanya.


"Rafli." Teriak Arthur, ia berlari mengejar Rafli. Mereka seperti dua bocah yang sedang bermain kejar-kejaran.


Rafli masuk ke dalam ruangan Mala dengan nafas memburu, setelahnya Arthur muncul dari balik pintu dengan nafas yang tersenggal-senggal juga. Kedua gadis yang berada di dalam ruangan itu menatap mereka dengan tatapan aneh.


"Mau lari kemana lagi kamu." Ujar Arthur.


"Ampun tuan, saya hanya bercanda." Rafli mengangkat kedua tangannya, tanda bahwa ia sudah menyerah.


Arthur berjalan ke arah Rafli, kedua tangannya berada di pinggang, Arthur berjakan bak preman yang akan menghajar musuhnya.


"Sayang, apa yang sedang kalian lakukan?"


Degg,,


Arthur menghentikan langkahnya, tangannya ia sembunyikan kebelakang tubuhnya, panggilan sayang Mala sungguh membuatnya berbunga-bunga. Arthur mengulum senyumnya, ia memainkan salah satu sepatunya di atas lantai, Mala benar-benar membuat pria yang awalnya sedingin es itu meleleh.


"La, ayo kita pulang." Ajak Rafli, ia tak ingin mengganggu Arthur yang sedang di mabuk cinta.


"Cepat sembuh ya." Lala memeluk Mala dengan hati-hati.


Setelah berpamitan, Lala dan Rafli meninggalakan dua orang yang sedang kasmaran.


Arthur kembali duduk di sebelah Mala, tatapannya tak lepas dari wajah Mala membuat gadis itu merasa aneh.


"Apa aku sangat jelek?" Tanya Mala seraya memegangi wajahnya.


"Tidak."


"Aku hanya kangen saja."


"Astaga, seharian ini kita bersama."


Arthur hanya terkekeh, ia lalu berdiri dan mengecup pucuk kepala Mala.


"Istirahatlah, aku mau mandi dulu."


Mala hanya mengangguk, ia tersenyum geli melihat tingkah aneh calon suaminya.


Mala mengamati ruang rawatnya, kesedihan tiba-tiba menjalar di hatinya, sejak sadar, ia sebenarnya berharap bibi dan kedua sepupunya akan datang menjenguknya, namun sampai sekarang mereka bertiga tidak terlihat batang hidungnya.


Sepuluh menit kemudian Arthur keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah, Arthur terlihat sangat menawan, ia mengenakkan kemeja biru dan celana denim berwarna putih.


Mala tak berkedip sedikitpun, sayang rasanya jika pemandangan indah itu ia lewatkan.


Arthur berjalan ke arah tempat tidur Mala, tiba-tiba gadis itu menjadi salah tingkah .


"Mau pergi kemana?" Tanya Mala untuk menutupi rasa gugupnya.


"Tidak kemana-mana, kenapa?" Jawab Arthur santai.


"Kenapa rapi sekali." Ujar Mala, ia memperhatikan penampilan Arthur dari ujung kepala hingga kaki.


"Benarkah? kamu nggak suka?"


"Suka sih."


" Ya sudah. Oh ya, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan, kamu istirahat saja, kalau butuh sesuatu panggil saja aku."


"Hem, jangan terlalu lama, aku bosan tidak ada teman bicara." Ucap Mala dengan manja, baru kali ini Arthur melihat Mala bersikap manja seperti ini.


Arthur mengelus rambut Mala dan mengecup bibirnya sekilas. "Aku nggak akan lama."


Arthur mulai sibuk dengan pekerjaannya, duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidur Mala. Mala mencoba untuk tidur, namun ia tidak berhasil, matanya memang terpejam, namun fikirannya bercabang kemana-mana. Mala kembali membuka matanya, ia memilih untuk memperhatikan Arthur yang sedang bekerja.


"Tampan sekali." Puji Mala dengan senyum merekah di wajahnya.


Satu jam telah berlalu, Mala masih setia mengamati Arthur yang sedang bekerja. Arthur yang begitu sibuk dengan pekerjaannya tidak sadar jika Mala tengah memperhatikannya.


Langit mulai menghitam, ruangan Mala menjadi gelap karena lampu belum menyala. Arthur menghentikan pekerjaannya, ia menghidupkan lampu lalu berjalan ke arah Mala.

__ADS_1


"Sudah selesai?" Tanya Mala saat Arthur sudah berada di sampingnya.


"Belum, masih ada beberapa lagi."


"Jangan terlalu di paksakan, istirahatlah sebentar." Ucap Mala, ia meraih tangan Arthur dan memainkan jemari Arthur.


Arthur terkekeh, ia benar-benar melihat Mala dengan sisi barunya, gadis yang biasanya sangat cuek padanya tiba-tiba menjadi sangat perhatian kepadanya


"Kamu kenapa nggak tidur?" Arthur bertanya sambil menatap Mala.


Mala sedikit mengangkat kepalanya agar ia bisa leluasa menatap wajah Arthur. "Aku nggak ngantuk."


"Tunggu sebentar lagi, aku selesaikan dulu pekerjaanku, setelah selesai aku akan menemanimu tidur."


Arthur kembali ke sofa, ia bergegas menyelesaikan pekerjaannya.


Beberapa menit kemudian pintu kamar Mala terbuka, seorang Dokter dan Perawat masuk ke dalam ruangan Mala untuk memeriksa kondisinya. Arhtur meninggalkan pekerjaannya sejenak, ia akan menemani Mala saat Dokter memeriksanya.


"Bagaimana kondisi anda?" Tanya Dokter itu sambil memeriksa dokumen di tangannya.


"Sudah lebih baik Dok, nyeri di kepala juga sudah berkurang." Jelas Mala.


"Tidak ada keluhan lain, mual misalnya, atau nyeri pada bagian perut?"


Mala hanya menggeleng, sejauh ini ia merasa baik-baik saja.


"Dok." Ucap Mala ragu.


"Ya. Ada sesuatu yang membuat anda merasa tidak nyaman?" Tanya sang Dokter dengan lembut.


"Bisakah alat yang di bawah sana di lepas sekarang, saya merasa tidak nyaman." Ujar Mala dengan malu-malu.


"Apa sudah bisa ke kamar mandi sendiri?"


Mala kembali menggeleng, untuk duduk saja ia masih kesusahan apalagi harus ke kamar mandi.


"Setelah anda bisa ke kamar mandi sendiri, suster akan melepas kateter anda."


"Semuanya sudah bagus, tinggal menunggu pemulihan saja.Perbanyak istirahat dan usahakan habiskan jatah makan anda."


Setelah selesai memeriksa, Dokter dan Perawat keluar dari ruangan Mala.


"Mana yang membuat kamu nggak nyaman?" Tanya Arthur penasaran.


Mala menyibak selimutnya, ia menunjuk selang yang berada di sela pahanya.


"Itu." Ucap Mala.


"Apa sakit?" Arthur kembali bertanya.


"Tidak, hanya saja aku nggak nyaman."


"Aku iri dengan selang itu." Ucap Arthur sembarangan.


"Dasar mesyum, sana kerja lagi." Usir Mala, ia kembali menutup selimutnya sebelum Arthur semakin berfikir yang aneh-aneh.


"Aku hanya berfikir mesyum saat bersamamu." Bisiknya lalu ia meninggalkan Mala dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.


Mala tersenyum simpul, bos galaknya kini menjelma menjadi sosok yang lembut dan juga humoris. Siapa sangka, jika Mala bisa menjinakkan singa jantan itu.


Mala merebahkan tubuhnya, ia memandangi langit-langit kamarnya, bayangan saat Arthur menangisinya kembali melintas di kepalanya, meski setengah sadar namun Mala jelas melihat Arthur menangis histeris sambil memangkunya.


Tok..tok..tok..


Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunan Mala, pintu ruangannya terbuka sebelum Arthur membukakannya, seorang wanita paruh baya dengan penampilan glamour keluar dari balik pintu, ia berjakan mendekati Mala dengan angkuh.


Arthur mengingat sosok wanita itu, ia segera bangun dan mengahampiri Mala sebelum wanita itu mengganggu Mala.


"Ada perlu apa anda kemari nyonya?" Tanya Arthur dengan sopan, namun wajahnya menunjukkan ekspresi tidak suka.


Mala menoleh kesamping, ia menatap Arhur penuh tanya.


"Siapa dia?" Tanya Mala setengah berbisik.


"Oh ya perkenalkan saya Marry, saya istri tuan Mahesa." Ucapnya memperkenalkan diri.


"Nyonya Marry, apa yang membawa anda kemari?" Tanya Mala penasaran, ia memang mengenal tuan Mahesa namun tidak dengan istrinya


"Saya hanya mau mengingatkan kamu untuk tidak mengganggu hidup suami saya lagi."


"Apa maksud anda? Siapa yang mengganggu tuan Mahesa?"


"Tidak usah pura-pura bodoh, saya yakin kamu sudah merencanakan semuanya dari awal, kamu sengaja mendekati suami saya dan mengaku sebagai putrinya kan?"


Mala menelan ludahnya dengan kasar, ia benar-benar tak bisa mencerna maksud perkataan wanita yang kini berdiri dihadapannya.


"Dasar tidak tau malu." Maki nyonya Marry.


"Cukup..." Teriak seseorang.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2