My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 17 Kekhawatiran Rey


__ADS_3

Setelah mendapat telefon dari Rey, Rafli segera menyusul kerumah utama, saat dia sampai disana untung saja Tuan Raymon sudah beristirahat dikamarnya sehingga Rafli tak perlu mencari alasan untuk menemui Arthur. Rafli segera naik keatas, dia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Raf." Panggil mama Wulan saat Rafli akan membuka pintu kamar Arthur.


"Nyonya." Sapa Rafli, dia menundukkan kepalanya dengan sopan.


"Masuklah, sepertinya Arthur tidak enak badan, Mala juga sudah pulang, mungkin mereka bertengkar."


"Permisi nyonya." Rafli kembali menundukan kepalanya lalu dia segera masuk.


Setelah Rafli masuk mama Wulan masih berjalan mondar-mandir didepan kamar anak sambungnya, wajahnya kelihatan khawatir, beberapa kali ia memegang gagang pintu dan ingin masuk, namun ia membatalkan niatnya dan memilih kembali kedalam kamarnya. "Semoga dia baik-baik saja." Gumam mama Wulan seraya berjalan menuju kamarnya.


Rafli segera menghampiri Arthur yang tengah duduk ditepi tempat tidurnya. Rafli memandang punggung Arthur yang membungkuk, dia menerka-nerka siapa yang ada dihadapannya kali ini.


"Kau datang." Sapa Arthur setelah menyadari kedatangan Rafli.


"Rey." Tebak Rafli.


"Ya ini aku, Arthur belum juga kembali."


"Raf." Panggil Rey begitu lirih.


Rafli segera mendekat dan duduk disebelahnya.


"Sepertinya orang itu keluar dan menyakiti Mala."Ucap Rey dengan mata berkaca-kaca, dia masih mengingat dengan jelas wajah sedih Mala ketika dia berada diatasnya,


"Bagaimana anda bisa tau?"


"Saat aku muncul, aku sudah berada diatas tubuh Mala dan menindihnya, sementara kondisi Mala sangat menyedihkan, rambutnya berantakan dan tubuh bagian atasnya terekspos Raf. Orang itu pasti mencoba melakukan hal buruk kepada Mala."


"Lalu dimana Mala sekarang?" Tanya Rafli penuh penekanan, dia khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap Mala.


"Dia pergi, aku tidak bisa menahannya." Rey menjeda kalimatnya untuk bernafas. "Raf, bisakah kamu mencari Mala sekarang, aku sangat mengkhawatirkan gadis itu."


"Istirahatlah, saya akan mencarinya sekarang."


Rafli segera keluar dari rumah besar itu, dia membawa mobil Arthur untuk mencari Mala. Rafli menelusuri setiap sudut jalan yang mungkin dilewati oleh Mala, namun hingga mobil mewah itu berhenti didepan rumah Mala, Rafli sama sekali tak menemukannya.


"Apa dia sudah di rumah?" Ucap Rafli bermonolog. Lalu dia keluar dari mobil dan memutuskan untuk mencari Mala dirumahnya.

__ADS_1


"Permisi.. tok..tok..tok..Permisi." Ucap Rafli seraya mengetuk pintu rumah Mala.


Tak selang berapa lama seorang laki-laki yang duduk dikursi roda membuka pintu rumah itu.


"Maaf anda siapa?" Tanya paman Mala.


"Saya teman Mala pak, apa Mala dirumah?"


"Mala belum pulang."


"Baiklah kalau begitu saya permisi." Pamit Rafli lalu dia kembali masuk kedalam mobilnya dan kembali mencari Mala.


Rafli diam sejenak didalam mobil, jari-jarinya mengetuk setir mobil sehingga menimbulkan sebuah irama, fikirannya menjalar kemana-mana, dia penasaran kemana perginya gadis itu.


Ctaakk, jentikan terakhir di benda bulat itu lumayan keras, Rafli meringis menahan sakit dijarinya, namun tiba-tiba Rafli ingat dengan gadis aneh yang ditemuinya tadi, mungkin saja Mala sedang bersamanya sekarang. "Tapi dimana dia tinggal?" Tanya Rafli pada dirinya sendiri lalu dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Oh astaga, kenapa kau bodoh sekali Rafli, diakan magang di Art Life, pasti ada alamat di CVnya."


Rafli segera meraih ponselnya, jemarinya yang lentik sibuk mencari informasi di gawai pintarnya. Rafli menyunggingkan senyum saat menemukan yang tengah dicarinya.


"Bukankah alamat ini.."Rafli menjeda kalimatnya, dia menoleh dan mengamati dua rumah yang bersebelahan. "Jadi mereka bertetangga."


Rafli kembali turun dari mobilnya dan mendatangi rumah Lala, Rafli sungguh berharap bisa menemukan Mala dirumah itu. Dia segera mengetuk pintu setibanya didepan rumah Lala, beberapa kali mengetuk namun tak kunjung ada yang membukanya.


"Kau?" Seru Lala terkejut begitu melihat Rafli didepan rumahnya.


Rafli tak berkedip manakala melihat penampilan Lala yang begitu berbeda dari sebelumnya, gadis itu kini tengah memakai gaun tidur berwarna hitam, sebuah gaun tanpa lengan dan begitu pendek sehingga memamerkan kulit tubuhnya yang putih.


"Dari mana kau tau rumahku?" Tanyanya lagi sehingga membuat kesadaran Rafli kembali.


"Apa Mala disini?"


"Tidak."Jawab Lala gugup.


"Kau yakin, ada yang ingin aku bicarakan dengannya?"


"Siapa La." Suara Mala terdengar dari dalam rumah, Lala memutar bola matanya jengah karena ketahuan berbohong.


Tanpa permisi Rafli segera menerobos masuk kedalam rumah Lala dan mencari keberadaan Mala. "Heey, ini tindakan ilegal namanya." Teriak Lala, gadis itu berlari mengejar Rafli yang sudah masuk kedalam rumahnya.


"Laporkan saja, aku akan bertanggung jawab, aku hanya butuh bertemu Mala sekarang." Seru Rafli.

__ADS_1


"Ada apa anda mencari saya?" Tanya Mala dari lantai atas.


"Saya ingin tau yang sebenarnya terjadi, apa kau bisa menceritakannya?"Pinta Rafli.


"Saya lelah, tolong pergi dari sini." Mala menolak permintaan Rafli, dia berlalu dan masuk kedalam salah satu ruangan dilantai atas.


Rafli hendak menyusul Mala kelantai atas namun Lala sudah lebih dulu menghadangnya ditengah tangga. "Aku tidak tau apa yang kalian bicarakan, tapi aku mohon sebaiknya kamu pulang, aku mengenal Mala dengan baik, beri dia waktu beberapa hari, lalu kamu bisa membicarakan masalah kalian lagi."


Rafli tertegun mendengar ucapan Lala, gadis itu terlihat sangat berbeda. Lala nampak begitu dewasa dari caranya berkata-kata, dia sungguh berbeda dengan gadis yang ditemui Rafli sebelumnya. Apa dia juga mempunyai kepribadian ganda?" Batin Rafli.


**


RUMAH UTAMA


Didalam kamar, Tuan Raymon masih uring-uringan karena merasa dipermalukan oleh putranya sendiri. Bagiaman tidak, Tuan Raymon secara khusus mengadakan makan malam ini, dia ingin membicarakan perihal perjodohan Arthur dan putri rekan kerjanya. Namun Arthur justru mengenalkan gadis yang belum jelas asal usulnya. Tuan Raymon terus mengumpat dan mengatai putranya sendiri. Sementara sang istri hanya diam dan menyaksikan luapan amarah suaminya. Mama Wulan menghela nafas panjang karena amarah suaminya belum juga mereda.


"Anak itu harus diberi pelajaran." Ucap Tuan Raymon dengan wajah penuh amarah.


"Mas, biarkan saja lah. Arthur sudah besar, dia berhak menentukan masa depannya sendiri, kita sebagai orangtua harusnya mendukung apapun pilihan anak kita."


Tuan Raymon tidak mengindahkan ucapan istrinya, dia keluar dari kamarnya dan menerobos masuk kedalam kamar Arthur.


Rey yang masih berada ditubuh Arthur begitu terkejut saat melihat pria tua itu masuk dengan membawa tongkat kebesarannya.


"Dasar anak tidak berguna, gara-gara kamu saya harus menanggung malu didepan kolega saya"


Buggg, suara tongkat kayu itu begitu nyaring saat berbenturaan dengan lengan Rey. Rey menatap Tuan Raymon penuh amarah, suasana hatinya sedang tidak baik dan kini laki-laki tua itu malah membuatnya semakin jengkel.


"Kau menantangku." Seru Tuan Raymon, tongkat kayunya kembali ia layangkan. Bugg, tongkat itu kembali mendarat dipunggung seseorang, namun kali ini bukan Rey, melainkan mama Wulan.


"Ma." Seru Rey yang terkejut karena mama Wulan tiba-tiba menjadi tamengnya.


"Mama tidak papa?"


Mama wulan hanya mengangguk, namun matanya mulai memerah dan berkaca-kaca. Melihat wanita menangis membuat Rey kembali mengingat Mala, kepalanya terasa berdenyut dan beberapa saat kemudian matanya dipenuhi oleh kebencian.


"Tahan nak, tenangkan dirimu." Ucap mama Wulan seraya mengelus punggung Rey.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2