
Rafli kembali ke kantor setelah mengunjungi Pak Karto, wajahnya yang masam seketika berubah, senyum terukir di wajahnya saat ia melihat Lala sedang sibuk bekerja. Rafli berjalan menuju kubikel Lala, semua karyawan menunduk begitu Rafli melewati kubikel mereka, merekapun melirik kemana perginya Rafli.
"Mikhayla, ke ruangan saya segera." Perintah Rafli dengan suara tegas.
Lala menelan ludahnya dengan kasar, ia khawatir jika Rafli akan memarahinya karena ia belum menyelesaikan pekerjaannya. Rafli sudah masuk ke dalam ruangan, semua karyawan yang berada di sana menatap Lala iba, yang mereka tau jika seseorang masuk ke dalam ruangan Rafli berarti orang tersebut telah membuat kesalahan.
"Semangat La."
"Jangan lupa minta maaf La."
"Lala, kasian sekali dirimu."
Lala hanya manggut-manggut mendengar kata-kata semangat dari teman kantornya.
Lala berjalan menuju ruangan Rafli dengan menunduk, ia meremas kedua tangannya yang mulai berkeringat.
Tok..tok..tok
Lala mengetuk pintu dengan tangan yang gemetaran, dari dalam terdengar suara Rafli menyuruhnya untuk masuk. Lala mendorong pintu ruangan Rafli dengan hati-hati, ia lalu masuk dan melihat Rafli sedang sibuk dengan beberapa dokumen dimejanya.
"Tutup pintunya." Ucap Rafli tanpa mengalihkan pandangannya. Beberapa detik kemudian Rafli menutup dokumen yang ada didepannya, ia meraih remote kontrol dan menekannya sehingga kaca yang awalnya tembus pandang kini berubah menjadi buram. Rafli lalu bangun dari duduknya dan berjalan ke arah Lala yang masih berdiri di depan pintu.
"Ada apa Asisten Rafli." Ucap Lala gugup.
"Kenapa kamu terlihat gugup, apa kamu melakukan kesalahan? Tanya Rafli yang justru membuat Lala bingung.
"Kenapa anda memanggil saya kemari." Tiba-tiba Lala berbicara menggunakan bahasa formal.
"Apa tidak boleh aku memanggilmu kesini." Ucap Rafli, ia kembali melangkahkan kakinya, mengikis jarak di antara keduanya.
Lala bersusah payah menelan ludahnya, ia sangat gugup saat Rafli semakin dekat, saking dekatnya Lala bisa menciup wangi parfum Rafli.
"Kenapa menunduk, kamu nggak mau melihatku." Protes Rafli, ia mengangkat dagu Lala sehingga ia bisa melihat wajah kekasihnya.
Cup...
Sebuah kecupan mendarat di bibir Lala, gadis itu terkejut dan segera menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
"Ini di kantor." Protes Lala pelan, ia melotot kearah Rafli.
"Kenapa memangnya, tidak ada yang melihat." Elak Rafli, ia menurunkan tangan Lala dari bibirnya, ia menatap bibir itu penuh damba.
"Aku kangen, tiga hari ini aku sangat sibuk. Maaf karena tak punya waktu untukmu." Imbuh Rafli seraya menyelipkan anak rambut Lala kebelakang telinganya.
"Aku mengerti." Jawab Lala singkat.
__ADS_1
"Kamu nggak kangen sama aku?" Tanya Rafli.
"Kangen, aku..."
Lala tak menyelesaikan kalimatnya, Rafli lebih dulu membungkam mulutnya dengan sebuah kecupan. Tak mendapat penolakan dari sang kekasih, Rafli kembali mengecup bibir Lala, ia mulai mengu*lum bibir bawah Lala dan men*yesapnya dengan kuat.
Lala mulai kehabisan nafas, ia mendorong tubuh Rafli sehingga Ralfi terpaksa mengakhiri aksi nakalnya.
"Ini di kantor." Protes Lala dengan nafas memburu.
"Kenapa memangnya, tidak ada yang melihat kita." Rafli menatap Lala kesal.
"Kamu nggak kangen kan sama aku?" Rafli mulai merajuk.
"Aku juga kangen, tapi ini di kantor, bagaimana kalau ada yang lihat." Jelas Lala akan kekhawatirannya, ia tak mau membuat masalah di akhir masa magangnya.
"Tidak akan ada yang lihat, kita hanya berdua. Bilang saja kamu memang nggak kangen sama aku." Wajah Rafli berubah murung.
Lala membuang nafas dengan kasar, ia tak menyangka Rafli akan bersikap kekanakan hanya karena sebuah ciuman. Lala mengalah, ia menarik leher Rafli, dengan sedikit berjinjit, akhirnya ia memberikan kecupan di bibir Rafli. Kesempatan itu tentu tak Rafli abaikan, Rafli segera menarik pinggang Lala dan menahanya.
"Kiss me." Bisik Rafli, ia menatap wajah Lala yang sangat dekat didepannya.
Lala mengangguk pelan, ia mengalungkan tangannya dileher Rafli, detik berikutnya Lala mulai mencium bibir Rafli. Rafli tersenyum disela ciuman mereka, ia segera membalas ciuman itu, lidah keduanya saling membelit, meny*esap dan menikmati manisnya bibir masing-masing.
Rafli mengakhiri tautan bibirnya, ia mengecup pucuk kepala Lala dan memeluk gadis itu dengan erat. Lala tersenyum dengan perlakuan manis Rafli, ia membalas pelukan kekasihnya, tangannya mengusap punggung Rafli dengan lembut.
"Kalau begitu temui aku setiap kamu lelah, aku akan mengobati rasa lelahmu." Balas Lala.
"Hem." Rafli kembali tersenyum, ia semakin mempererat pelukannya.
Cup..cup..cup
Tiga kecupan mendarat di pucuk kepala Lala.
"Kembalilah bekerja. Nanti pulang bersama ya, aku akan mengantarmu."
"Ya." Jawab Lala singkat.
"Tunggu sebentar, lipstikmu berantakan." Rafli menahan tangan Lala yang hendak membuka pintu, mereka kembali berhadapan, Rafli meraih sapu tangan dari saku jasnya, lalu dengan hati-hati Rafli menghapus sisa lisptik dibibir Lala.
"Kenapa di hapus, bibirku sangat pucat kalau nggak pakai lipstik." Lala kembali melayangkan protesnya.
Rafli tak menanggapi ocehan Lala, ia tetap membersihkan bibir Lala hingga manampakan warna aslinya. Rafli memperhatikan bibir Lala sejenak, lalu ia merain sesuatu di saku bagian dalam jasnya.
Rafli membuka benda mungil seukuran jarinya itu, ia lalu memoleskan sesuatu dibibir kekasihnya. Lala mematung, ia kembali terkejut saat Rafli memoleskan lipstik dibibirnya.
__ADS_1
"Selesai. Sangat cantik, warnanya sangat cocok untukmu." Ucap Rafli bangga.
Lala tak percaya begitu saja, ia takut jika Rafli hanya mengerjainya saja. Lala mengambil kaca kecil dari sakunya dan memeriksa bibirnya.
"Cantik." Ucap Lala tanpa sadar. Warna lipstik yang Rafli poleskan sangat cocok untuk bibirnya yang sedikit gelap.
"Simpan ini." Rafli menyerahkan lipstik tadi kepada Lala.
"Kamu membelikannya untukku." Tanya Lala penasaran.
"Hem."
"Terimakasih." Ucap Lala girang, ia memeluk Rafli sejenak lalu keluar dari ruangan Rafli dengan wajah sumringah.
Teman-teman Lala segera menyerbu Lala di kubikalnya, mereka memberondong Lala dengan ribuan pertanyaan.
"Asisten Rafli hanya menyuruh saya untuk segera menyelesaikan tugas saya." Jawab Lala kepada teman-temannya.
Setelah teman-temannya bubar, Lala mengeluarkan lipstik yang di belikan oleh Rafli, ia mengulum senyum karena tak menyangka Rafli akan semanis ini.
***
Perusahaan induk Bagaskara Group..
Jam pulang kantor akan segera tiba, mama Wulan sengaja datang ke kantor suaminya karena ia berniat mengajak Tuan Raymon makan malam bersamanya dan juga Arthur serta Mala.
Mama Wulan berhenti didepan pintu ruangan suaminya, sekertaris suaminya sempat menyampaikan jika Tuan Raymon sedang ada tamu, mama Wulan memutuskan untuk menunggu didepan pintu, namun karenaa pintu yang tak tertutup rapat, mama Wulan bisa mendengar percakapan dari dalam sana.
"Kau menemukannya." Ucap Tuan Raymon.
"Ya tuan, saya menemukannya di Rumah Sakit Jiwa." Jawab seseorang didalam sana.
"Rumah Sakit Jiwa? Ulang Tuan Raymon.
"Dari mana kamu tau dia berad disana?"
"Saya mengikuti Asisten Rafli."
"Rafli sudah menemukannya." Suara Tuan Raymon mulai meninggi.
"Seger cari tau dimana dia menyimpan rekaman CCTV itu, aku sangat yakin jika dia yang menyimpannya. Pastikan Rafli tak menemukan rekaman itu. Rekaman itu bisa menjadi sebuah bom untukku."
Mama Wulan mematung, namun detik berikutnya ia menjauh dari ruangan suaminya, ia tak ingin suaminya tau jika ua tak sengaja menguping pembicaraan mereka.
"Rekaman apa, apa yang kau sembunyikan dariku mas."
__ADS_1
BERSAMBUNG..