
Semenjak di di rawat di rumah bu Yati kondisi pak Karto semakin membaik, apalagi Rafli kerap mendatangkan Aryo dan istrinya serta anak-anaknya untuk menemui pak Karto. Meskipun masih jarang berbicara, namun pak Karto lebih banyak menunjukkan sisi warasnya, ia sudah tidak pernah mengamuk semenjak pindah di tempat bu Yati.
Rafli berusaha memberikan perawatan terbaik untuk pak Karto, ia berharap pak Karto bisa pulih sepenuhnya dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat kebakaran di villa 15 tahun silam.
Seminggu telah berlalu semenjak batalnya pernikahan Arthur dan Mala, dan selama itu pula Jade masih mendiami tubuh Arthur. Dokter Sheila hampir menyerah, ia merasa heran mengapa kepribadian Arthur yang lainpun turut menghilang.
Siang ini mama Wulan mengunjungi Arthur di tempat Dokter Sheila, wanita paruh baya itu datang seorang diri, hampir setiap hari ia datang menjenguk putra sambungnya itu.
Mama Wulan duduk di atas sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan tempat duduk Jade, ia menatap wajah putranya dengan lekat, wajah tampan itu nampak tirus, selama seminggi ini Jade enggak memasukan makanan ke dalam tubuhnya.
"Jade, makanlah. Mama bawakan makanan untukmu." Ucap mama Wulan dan di bantu translator tentunya. Jade hanya menggeleng, ia begitu keras kepala, padahal wajahnya telah memucat membuat semua orang merasa khawatir.
"Mama mohon makanlah, Mala pasti akan sedih melihatmu begini." Mama Wulan mulai terisak, tanpa sadar ia menyebutkan nama Mala. Jade yang awalnya diam mulai merubah mimik wajahnya, dahinya kini mengekerut, seketika ia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Arrgghh." Jade mengerang kesakitan, detik selanjutnya ia terkulai di atas sofa.
Dengan cepat Dokter Sheila memeriksa kondisi Jade. "Dia pingsan." Tukasnya setelah memeriksa tanda vital Jade. Kedua wanita itu menunggu dengan cemas, mereka berharap Arthurlah yang akan bangun saat pria berlesung pipi itu membuka matanya.
Sepuluh menit berlalu, Jade mulai mengerjapkan matanya, saat kelopak matanya terbuka sempurna, ia memutar bola matanya malas lalu menatap Dokter Sheila dengan tatapan nakal.
Dokter Sheila membuang nafas kasar, tatapan itu tidaklah asing baginya, tatapan mesyum yang hanya di miliki oleh seseorang, Petra.
"Sudah bangun?" Tanya Dokter Sheila cuek.
Petra merubah posisi duduknya, ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, ia juga melakukan perenggangan pada dua tangannya. "Kenapa aku disini lagi?" Tanyanya seraya menatap Dokter Sheila.
"Apa harus aku jawab!" Ketus Dokter Sheila.
__ADS_1
"Kenapa anda ketus sekali padaku Dok, apa salahku?"
Dokter Sheila tak menjawab pertanyaan Petra, ia memilih keluar dari ruangan itu meninggalkan Petra dan mama Wulan. Kini hanya ada mereka di dalam ruangan, keduanya nampak canggung, di antara kepribadian Arthur hanya Petralah yang tak terlalu dekat dengan mama Wulan.
"Kenapa saya di sini lagi nyonya, apa ada yang terjadi?" Tanya Petra memecahkan keheningan di antara keduanya
Mama Wulan menatap Petra, tatapan penuh kasih yang biasa ia berikan kepada Arthur. "Pernikahan Mala dan Arthur batal, setelah itu Arthur menghilang, sudah satu minggu lamanya ia tak kembali." Jawab mama Wulan apa adanya.
"Batal? Apa yang terjadi? Aku fikir aku akan menghilang karena akhirnya Arthur menemukan cara untuk bertahan hidup."
"Ayah kandung Mala datang saat acara pernikahan mereka, dia menunjukkan rekaman CCTV saat terjadi kebakaran di villa, Mala menyalahkan Arthur, karena di dalam rekaman itu jelas jika Arthur yang menyulut api, Arthur juga menyalahkan dirinya sendiri dan berakhir dengan seperti ini, ia menyerah pada tubuh dan hidupnya." Jelas mama Wulan dengan mata berkaca-kaca.
Melihat mama Wulan menangis, Petra merasa sedikit bersimpati, ia beranjak dari duduknya dan berpindah berlutut di hadapan mama Wulan. Petra meraih tangan wanita paruh baya itu dan menepuknya dengan pelan. "Si lemah itu, dasar bodoh." Gumamnya pelan.
"Lalu bagaimana dengan Mala?"
"Nyonya sebaiknya anda pulang dan beristirahat, aku akan mencari keberadaan Mala." Ujar Petra, ia merasa kasihan melihat wajah lelah nyonya besar itu.
"Kau yakin akan mencari Mala, tapi bagaimana kalau tiba-tiba kamu pingsan lagi?"
"Anda tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja."
*****
Di tempat lain, di sebuah rumah besar namun kosong, perabotan rumah tersebut masih lengkap namun tertutup oleh debu yang begitu tebal, di halaman rumah tersebutpun di penuhi semak belukar yang mungkin saja menjadi sarang hewan malata.
Di dalam rumah besar nan kosong itu, Marsel duduk tak sadarkan diri di atas kursi kayu yang sudah lapuk, kedua tangannya terikat ke belakang, kedua kakinya terikat tali dan menyatu dengan kaki kursi, sementara mulutnya tertutup lakban warna hitam.
__ADS_1
Marsel mulai tersadar, ia membuka matanya perlahan, hembusan angin yang masuk ke dalam rumah tersebut menerbangkan debu-debu hingga mengganggu penglihatan Marsel, ia berusaha untuk mengucek matanya, namun ia tersadar jika kedua tangannya terikat.
Debu halus juga mulai mengganggu hidung Marsel, ia mulai bersin dan terbatuk-batuk, lantas ia kembali tersadar jika mulutnya di tutup oleh sesatu. Marsel menggeram kesal, sebelumnya ia masih berada di clup malam bersama teman-temannya, namun kenapa saat ia sadar ia justru terikat di dalam rumah tua dan hari telah berganti siang.
Marsel melihat sekeliling, di lihat dari perabotan yang berada di ruang itu, sudah di pastikan Marsel berada di ruang tamu rumah kosong tersebut, ia lantas tertarik dengan sebuah foto berukuran besar yang terpasang di dinding ruangan itu. Frame yang telah usang membingkai indah sebuah potret keluarga kecil, sepasang suami istri dan seorang anak perempuan terlihat sangat bahagian di dalam foto tersebut.
Marsel mengalihkan pandangannya saat terdengar suara langkah kaki mendekat, ia mempertajam pendengarannya, suara keras yang terjadi akibat benturan sepatu dan lantai tersengar semakin dekat, pria itu sedikit menegang, ia bersiap untuk menghadapi siapa yang akan di temuinya nanti.
"Lo udah bangun?" Ucap seorang pemuda berperawakan tinggi dengan tato naga di lengan kirinya. Pemuda itu lantas mendekat dan membuka lakban yang menempel di mulut Marsel.
Marsel menatap pemuda yang nampak asing baginya, ia yakin baru kali ini ia melihat pemuda tersebut. "Siapa kau?" Tanya Marsel seraya memicingkan matanya.
"Siapa yang menyuruhmu." Ucapnya setengah berteriak.
"Bagaskara, hahaha. Pasti kakek tua itu yang menyuruhmu kan?" Tebak Marsel, ia tertawa getir karena kembali berurusan dengan keluarga Bagaskara.
Pemuda itu hanya diam, ia menarik kursi yang berada tak jauh darinya, pemuda tersebut lalu meniup debu yang menempel di atas kursi tersebut hingga mengenai wajah Marsel hingga kembali terbatuk-batuk.
Setelah di rasa bersih, pemuda itu duduk di depan Marsel, kedua tangannya terlipat di depan dada, ia menatap Marsel seraya tersenyum mengejek.
Tak lama berselang, kembali terdengar langkah kaki seseorang namun kali ini langkahnya tak begitu berat. Pemuda itu lalu beranjak dari kursinya, ia menyambut kedatangan tamu spesialnya.
Marsel membelalakan matanya, ia nampak begitu terkejut melihat seseorang yang kini berdiri di belakang pemuda tersebut.
"Kau...
BERSAMBUNG...
__ADS_1