
"Bolehkan saya mengumumkan bahwa Mala adalah putri kandung saya?" Pinta tuan Mahesa setengah ragu, namun ia harus menyampaikan niatnya, sungguh hatinya merasa sakit manakala membaca berbagai komentar negatif yang tertuju untuk putrinya.
Arthur sedikit terkejut, namun ia segera menyembunyikan keterkejutannya. "Saya akan berusaha untuk menyelesaikan masalah ini tuan, dengan mengumumkan Mala sebagai putri anda akan membuat jarak antara kalian semakin jauh, lebih baik anda bersabar, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk melindungi Mala."
Tuan Mahesa menunduk lemah, di satu sisi ia ingin melindungi putrinya namun di sisi lain ia juga tidak ingin membuat jarak mereka semakin jauh. Mala pasti akan sangat marah jika ia mengumumkan siapa Mala yang sebenarnya.
Dengan wajah lesu tuan Mahesa meninggalkan ruangan Arthur, saat melewati ruangan sebuah ruangan, tuan Mahesa tak sengaja mendengar karyawan Arthur tengah menggunjingkan putrinya.
"Aduh masa lo kalah sih sama tukang bersih-bersih."
"Sumpah tu cewek pake pelet apa ya, manjur banget?"
"Gue ga nyangka kalau calon istri tuan Arthur tuh si Mala, gue masing inget banget pas Mala di pecat karena bikin tuan Arthur jatuh."
"Mungkin tuan Arthur terkena karma."
"Halah, aku yakin Mala sengaja menggoda tuan Arthur dengan tubuhnya. Cih dasar ********.."
Braakk..
Tuan Mahesa menggebrak pintu yang terbuka, membuat karyawati yang tengah bergunjing itu tersentak, mereka menoleh dan melihat tuan Mahesa tengah menatap tajam ke arah mereka.
"Coba kau ulangi lagi, barusan kau menyebut Mala dengan sebutan apa?
Tak satupun dari ke empat karyawati itu menimpali ucapan tuan Mahesa, mereka hanya menunduk dan merutuki kebiasaan bergosip mereka.
Amarah tuan Mahesa rupanya sampai di telinga Arthur, pria itu keluar dari ruangannya dan menghampiri tuan Mahesa. "Apa yang terjadi di sini?" Tanya Arthur seraya menatap ke empat karyawannya.
"Mereka menyebut Mala seorang ********." Adu tuan Mahesa, ia ingin Arthur memberingat perhitungan kepada karyawan tersebut.
Arthur mengepalkan kedua tangannya, ia menatap ke empat karyawannya dengan tatapan membunuh. "Kalian berempat silahkan pergi dari sini, kalian di pecat." Seru Arthur tanpa ampun.
"Tapi tuan, kami bertiga tidak melakukanya." ujar salah seorang karyawan Arthur, ia berusaha membela diri karena memang bukan dia yang mengatai Mala sebagai ********.
"Tetap saja kalian bergosip saat jam kantor, kalian di pecat." Sentak Arthur, lalu ia keluar dari ruangan itu di ikuti tuan Mahesa dan empat karyawan yang sudah di pecat.
Arthur berdiri di antara kubikal karyawannya, kedatangan Arthur segera di sadari oleh mereka.
__ADS_1
"Perhatian untuk kalian semua, siapapun yang berani bergunjing tentang Mala maka akan bersiap untuk di pecat seperti empat karyawan ini." Seru Arthur, ia memberikan peringatan kepada karyawannya agar hal seperti tadi tak terulang lagi.
"Baik tuan." Sahut karyawan Arthur secara bersamaan, peringatan Arthur membuat bulu kuduk mereka meremang.
***
Karena merasa bosan, Mala memutuskan untuk turun ke lantai 11, kedatangan Mala di sambut dengan ramah oleh suster Hanum yang kebetulan bertugas hari itu.
"Emm, anu.. Maaf suster Hanum karena saya sudah membohongi anda." Ucap Mala dengan rasa malu.
"Apa maksud anda nyonya?" Suster Hanum mengerutkan dahinya.
"Waktu itu saya mengatakan kalau saya adalah istri tuan Arthur."
Suster Hanum terkekeh mendengar ucapan Mala, namun setelah sadar akan kelancangannya ia segera menunduk. "Maafkan kelancangan saya nyonya, saya tidak bermaksud mentertawakan anda. Dan soal itu anda tidak perlu meminta maaf kepada saya, bukankah sebentar lagi anda memang akan menjadi istri tuan Arthur?"
"Terimakasih suster Hanun. Oh ya bagaimana kondisi kakek?" Tanya Mala mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Sudah lebih baik nyonya, beberapa kali pak Karto bisa memanggil nama saya, sore nanti Dokter Sheila juga akan berkunjung." Terang suster Hanum.
Suster Hanum hanya mengangguk, ia lalu membukakan pintu kamar pak Karto dan mempersilahkan Mala masuk.
Mala melangkahkan kakinya mendekati pak Karto, keadaan pria tua itu semakin membaik, luka lebam di tubuhnya sudah menghilang dan badannya lebih terlihat terisi, tangan dan kakinya juga tak terikat lagi. Mala duduk di sebelah pak Karto yang tengah menatap jendela dengan pandangan kosong.
"Apa yang sedang kakek lihat?" Tanya Mala dengan lembut.
Pak Karto menoleh ke samping, ia tersenyum melihat kedatangan Mala. "Angin." Jawabnya singkat.
"Angin?" Ulang Mala dengan wajah bingung.
"Bukankah angin tidak terlihat, hanya bisa di rasakan kek?" Imbuh Mala.
"Saya melihatnya, angin bertiup kencang dan api semakin besar." Ujar pak Karto dengan wajah sedih.
"Api?" Mala semakin bingung.
"Pergi nduk, jauhi api sebelum kamu terbakar cah ayu."
__ADS_1
Setelah mengucapkan kalimat yang membingungkan itu, pak Karto membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, saat Mala akan menanyakan maksud perkataannya barusan, suster Hanum mencegahnya dengan cepat.
"Jangan nyonya, beri pak Karto waktu untuk menceritakan kisahnya." Ujar suster Hanum.
Mala akhirnya keluar dari apartemen itu, dia ingin kembali ke penthouse Arthur namun perutnya terasa lapar. Bayangan nasi padang beserta gulai tunjang membuat ludah Mala berkumpul di dalam mulutnya. Sebelum kembali ke apartemennya, Mala memutuskan untuk turun dan membeli nasi padang yang ada di lantai dasar.
Tingg..
Pintu lift terbuka, Mala melangkahkan kakinya menuju lobby, ia hanya perlu keluar dari lobby dan berjalan ke sisi kiri apartemen, disana ada rumah makan Sederhana yang menjual makanan khas Minang tersebut.
Mala keluar dari lobby dengan wajah cerah, ia sudah tak sabar makan nasi padang favoritnya, sudah lama Mala tak bisa memakan makanan kesukaannya karena Arthur selalu menyiapkan makanan sehat untuknya, lebih tepatnya dedaunan dan dada ayam hambar.
"Itu orangnya." Teriak seseorang yang berada di depan lobby.
Mendengar teriakan itu, Mala seketika menoleh dan saat itu juga puluhan orang sudah berada di sekelilingnya.
Cekrek.. cekrekk..cekrekk..
Kilatan cahaya dari kamera membuat mata Mala silau, gadis itu memenghalau kilatan tersebut dengan tangannya. Saat itu ia melihat dengan jelas Id Card yang tergantung di leher seseorang .
"Wartawan." Batin Mala, ia baru menyadari jika dirinya tengah menjadi bahan incaran para wartawan.
"Mala, apa benar gadis yang di lamar Arthur Bagaskara adalah anda?"
"Mala apa benar anda seorang Cleaning Service dan bekerja di kantor Arthur?"
"Sejak kapan kalian menjalin hubungan?"
"Bagaimana tanggapan Raymon Bagaskara mengenai hubungan kalian?"
"Mala apakah anda yang lebih dulu menggoda Arthur Bagaskara?"
Pertanyaan-pertanyaan itu menggema di telinga Mala, kilatan kamera tak ada hentinya membuat Mala merasa pening. Mala berusaha untuk pergi dari tempat itu, namun ia tak punya banyak kekuatan untuk menerobos kerumunan wartawan yang mengelilinginya.
"Hentikan."
BERSAMBUNG....
__ADS_1