
"Andriani," ucap gadis itu seraya tersenyum, namun di balik senyum manisnya terlihat jelas kesedihan yang tengah ia rasakan.
Jade nampak kikuk melihat wajah ayu Andriani, namun ia juga bisa merasakan di balik senyum manis gadis itu menyimpan kesediahan. Andriani menuntun tangan Jade dan membawanya ke sisi lain jalan yang lebih ramai, ia mengajak pria itu masuk ke dalam restoran cepat saji yang jaraknya tak terlalu jauh dari jembatan.
"Kita makan dulu, setelah ini aku akan mengantarmu pulang," ucap Andriani dan hanya di jawab anggukan oleh Jade.
Jade hanya duduk diam memperhatikan gadis yang sudah menolongnya tengah memesan makanan untuk mereka. Setelah beberapa menit gadis itu datang membawa nampan yang berisikan nasi dan ayam goreng crispy, dua buah burger dan kentang goreng, tak lupa dua botol air mineral memenuhi nampan yang di bawanya.
"Makanlah, hanya ini yang mungkin cocok di lidah dan perutmu. Oh ya, jangan makan saos sambal ini, kau bisa sakit perut nanti," Ujar sang gadis setelah meletakkan nampan berisi makanan di atas meja.
Jade mengamati makanan yang tersaji di atas meja berbentuk persegi itu, ia lalu meraih sebuah burger dan memakannya. Gadis itu mengulas senyum seraya memasukkan potongan kentang goreng ke dalam mulutnya
"Oh ya Jade, berapa usiamu? Tanya Andriani saat keduanya telah menuntaskan rasa lapar mereka.
"Seventeen," jawabnya singkat.
Gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Muda sekali. Lalu kenapa kau ingin bunuh diri?" tanyanya lagi.
Jade diam sejenak, ia menatap wajah gadis yang telah menolongnya, kehangatan terpancar di balik wajah sendu gadis tersebut. "Entah, aku hanya merasa sangat lelah dan jenuh." jawabnya jujur.
"Dengarkan aku Jade, hidup tak selalu mudah dan indah, kau harus melewati masa sulit, rasa sakit dan rasa lelah untuk bisa sampai pada sebuah titik kebahagiaan. Untuk itu aku mohon jangan pernah lakukan hal bodoh itu lagi!"
Jade hanya mengangguk pasrah, namun entah mengapa ia tak menyesali perbuatan nekatnya tadi.
"Oh ya kemana aku harus mengantarmu?"
"Sheilla."
__ADS_1
Andriani mengangguk mengerti, ia membungkus sisa makanan yang tak di makannya tadi, setelah itu ia mengajak Jade keluar dari restoran itu. Mereka berjalan berdampingan menuju tempat praktek Dokter Sheila, pemuda itu sama sekali tak merasa curiga kenapa Andriani bisa mengetahui tempat tujuannya padahal ia hanya menyebutkan nama Dokter wanita yang beberapa saat yang lalu di temuinya.
Setengah jam berlalu namun terasa begitu singkat, mereka sudah berada di depan tempat praktek Dokter Sheila.
"Ini tempatnya kan?" Tanya Andriani seraya menunjuk bangunan dua lantai tersebut.
Jade hanya mengangguk, terbesit perasaan tidak rela berpisah dengan gadis yang telah menolongnya, entah mengapa ia merasa seolah mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Thanks." ucap Jade tulus, ia meraih tangan Andriani dan mengecup punggung tangan gadis itu.
Andriani nampak terkejut, namun ia tak menolak perlakuan manis Jade, gadis itu tersenyum dengan mata berembut.
"Masuklah, berjanjilah padaku untuk tidak melakukan hal bodoh lagi." Pesan Andriani sebelum ia meninggalkan tempat itu.
Jade menatap punggung gadis cantik itu, tiba-tiba hatinya terasa hampa selepas kepergian Andriani dan tanpa Jade sadari sebulir air mata menetes di pipinya.
Beberapa menit kemudian Dokter Sheila dan Rafli datang, mereka bernafas lega saat melihat Jade duduk termenung di atas kursi yang biasa di duduki oleh Arthur. Rafli hampir melayangkan deretan pertanyaan, namun Dokter Sheila segera mencegahnya, ia khawatir Jade akan kembali kabur jika merasa tertekan.
"Hye Jade." Sapa Dokter Sheila lembut.
Jade mengangkat kepalanya dan menatap Dokter cantik itu. "Ya." Jawabnya singkat.
"Apa kau baru saja jalan-jalan keluar, kenapa kau tak mengajakku, aku bisa menemanimu pergi ke tempat yang bagus?"
"Hem, aku keluar dan bertemu Andriani. Dia juga yang mengantarku kesini." Jelas Jade dengan mata berbinar saat ia menyebutkan nama gadis itu.
"Andriani?" Dokter Sheila menatap Rafli, ia merasa jika nama itu tak asing baginya.
__ADS_1
Tiba-tiba Rafli mengingat Mala, ia ingat betul jika Andriani adalah nama tengah Mala, ia segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukan foto Mala saat bersama dengan Lala di acara pernikahan Rafli dan Lala
Jade kembali tersenyum, ia menunjuk potret Mala yang nampak begitu bahagia di dalam foto tersebut.
"Mala, dia masih berada di sekitar sini, dia masih peduli terhadap Arthur."
***
Nismala Andriani , ya dialah gadis yang menolong Jade saat pria itu hampir melompat dari atas jembatan. Mala yang tak bisa berhenti mengkhawatirkan Arthur memutuskan untuk keluar dari rumah dan pergi ke tempat Dokter Sheila, ia merasa sangat yakin jika Arthur pasti ada di tempat itu.
Mala baru saja tiba di sana saat Arthur berlari keluar dari tempat Dokter Sheila, karena merasa khawatir ia pun segera berlari mengikuti Arthur hingga pria itu berhenti di atas jembatan layang.
Mala mengamati pria itu dari jauh, perasaannya bergemuruh saat melihat Arthur bersiap untuk melompat, tanpa memperdulikan apapun lagi Mala segera berlari dan menahan Arthur dengan cara memeluknya.
Setelah mengantar Arthur , ia kembali ke rumah bibinya, sepanjang jalan Mala tak berhenti menangis, perasaannya hancur saat mendapati kepribadian Arthur kembali terpecah, ia merasa bersalah akan hal itu, ingin rasanya ia memeluk Arthur, namun lagi-lagi bayangan saat Arthur melemparkan kembang api membuatnya ragu.
"Tunggu sebentar lagi, aku mohon bertahanlah sebentar lagi, aku akan mencari bukti jika bukan kamu yang melakukannya."
***
Di rumah Bagaskara Group, semua penghuni rumah tengah bersedih mendapati kepribadian Arthur kembali terpecah, tuan Raymon tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri, sementara tuan Bagaskara nampak diam dengan wajah memucat.
Wajah mama Wulan masih sembab, ia tak bisa membayangkan bagaimana jika Arthur tak ingin kembali selamanya, untuk itu ia berencana untuk mencari Mala dan meminta pengampunan kepada gadis itu, mama Wulan yakin jika Mala satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Arthur.
Malam semakin larut, penghuni rumah besar itu mulai kembali ke kamar masing-masing, tak tekecuali tuan Bagaskara, kakek tua itu sudah berada di dalam kamarnya bersama salah seorang bawahannya.
"Cari Marsel dan bunuh dia, berani-beraninya anjing itu menggigitku."
__ADS_1
Sungguh pria tua yang tak memiliki perasaan, di saat seperti ini dia masih menyalahkan orang lain atas kekacauan yang sebenarnya dialah yang menyebabkannya, seandainya dia jujur dan mengungkapkan apa yang terjadi sebenarnya di hari itu, mungkin saja Arthur tak akan terlalu menderita seperti ini. Dan mungkin saja Mala dan Arthur tengah berbahagia sekarang, menikmati momen indah mereka sebagai sepasang suami istri.