My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 68 Roti Sobek


__ADS_3

"Rani." Panggil seseorang dari balik kegelapan.


Si pemilik nama menoleh, dia memicingkan matanya untuk memastikan siapa yang memanggil namanya, gadis itu mendekati orang yang memanggilnya karena dia merasa kenal dengan sosok tersebut.


Rani bertepuk tangan dan tertawa bak orang yang baru saja memenangkan lotre setelah memastikan jika yang memanggilnya adalah Mala. Kesempatan ini tak Rani siakan, dia segera menarik tangan Mala dan menyeretnya.


"Ikut gue sekarang, ibu nyariin lo dari kemarin." Ujar Rani dengan mata melotot sehingga bola matanya terlihat hampir keluar.


"Tunggu Ran, ada yang mau aku bicarain sama kamu." Cegah Mala seraya melepaskan tangannya dari cengkeraman Rani.


Rani tak mengindahkan ucapan Mala, gadis itu kembali mencengkeram pergelangan tangan Mala lalu kembali menarik tangan sepupunya sebelum kembali kabur dan menghilang. Ibu pasti akan sangat senang, begitulah yang Rani fikirkan saat ini.


"Mau duit nggak?" Tawar Mala dan berhasil membuat Rani menghentikan aksi tarik menariknya


"Duit?" Ulang Rani.


"Hem, aku bakal kasih kamu uang asal kamu mau bantuin aku." Kata Mala.


"Bantuin apa?" Tanya Rani ketus, padahal didalam hatinya sudah berbunga-bunga begitu mendengar kata uang.


"Cari tau dimana tempat kebakaran yang menewaskan kedua orangtuaku. Ibumu pasti tau tempatnya, tapi kamu nggak boleh kasih tau bi Ningsih kalau aku yang menyuruhmu." Jelas Mala yang membuat Rani berfikir keras, kesempatan itu Mala gunakan untuk melepaskan tangannya, Mala memeriksa pergelangan tangannya yang memerah dan menimbulkan bekas jemari Rani.


"Berapa yang bakal lo kasih buat gue?" Tanya Rani setelah mempertimbangkan beberapa saat.


"Lima juta."


"Lima juta, oke deal." Rani langsung menyetujuinya.


Mala tersenyum lega karena berhasil memanfaatkan Rani meskipun dia harus merelakan uang tabungannya untuk menyogok Rani agar mau membantunya.


"Besok jam tujuh malam temui aku di sini."


Setelah sepakat, Mala segera meninggalkan tempat itu dan bergegas pulang ke apartemen Arthur. Untung saja Mala meminjam mobil Arthur sehingga dia tidak kerepotan untuk pulang.


Setelah sampai didalam apartemen Mala segera memeriksa kamar Arthur, dia terkejut saat tak melihat Petra diatas ranjang. Mala segera masuk untuk memeriksanya, saat Mala akan memeriksa kamar mandi tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Mala menahan nafasnya saat melihat yang dicarinya berdiri dibalik pintu dengan dada telan*jang dan sebuah handuk melilit pinggangnya.


Mala berdecak kagum melihat dada bidang dan deretan roti sobek yang menggoda di perut pria tampan itu, belum lagi rambutnya yang basah membuatnya terlihat semakin sexy.


Tanpa Mala sadari jari telunjuknya menempel disalah satu Abs yang ada diperut pria itu dan menekannya berkali-kali membuat sang pemilik perut heran akan kelakuan nakal Mala.

__ADS_1


"Kau menginginkannya?" Ucap sang pria dengan suara menggoda.


Mala seakan terhipnotis, tanpa perintahnya kepalanya mengangguk begitu saja, tatapannya masih tertuju pada deretan roti sobek yang sangat menggiurkan, jika digigit pasti sangat enak, batin Mala seranya mengulas senyuman yang nampak mesyum.


"Hentikan atau aku akan menerkammu sekarang." Ancam pria itu karena Mala tak kunjung melepaskan jemarinya.


Mala mengedipkan matanya berkali-kali, dia menatap telunjuk tangannya yang tengah menari-nari diatas perut pria tampan nan sexy, seketika dia menarik tangannya dan merutuki kebodohannya, bisa-bisanya dia terlihat seperti sedang menggoda.


"Dasar bodoh, bodoh, bodoh, mati saja kau. Dasar mesyummm." Rutuk Mala dalam hati.


"Maaf, aku nggak sengaja Pet." Ujar Mala sambil menyembunyikan tangannya yang nakal itu.


Pet, kenapa aku geli sendiri memanggilnya Pet hahahaha. Mala kembali membatin dan lagi-lagi tanpa ia sadari senyum terulas dibibirnya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya pria itu seraya menatap Mala.


"Em aa.. ya aku baik-baik saja." Jawab Mala gugup.


"Aku lapar bisa kau buatkan makanan untukku."


"Tuan Arthur?" Tebak Mala karena hanya dia yang selalu minta di buatkan makanan.


Mala segera keluar dari kamar Arthur dan pergi kedapur, dia memeriksa kulkas dan mengambil beberapa bahan masakan, untung saja dia masih mempunyai tulang iga beku, Mala berniat membuat sup iga untuk Arthur.


Setelah menanak nasi, Mala terpaksa merebus iga bekunya agar bisa segera memasaknya, lalu dia memotong sayuran pendukung yang akan ia tambahkan pada supnya.


Mala terperanjat saat dua buah tangan melingkar diperut rampingnya, Mala bisa menebak siapa yang tengah memeluknya dari belakang namun anehnya gadis itu tak berontak sedikitpun, dia kembali berkutat dengan sayuran yang sedang dipotongnya.


"Apa yang kau masak?" Tanya Arthur tepat didepan daun telinga Mala.


Mala sedikit memiringkan kepalanya, deru nafas Arthur yang menyapu daun telinganga sungguh membuatnya merinding.


"Sup iga sapi, hanya ini yang kita punya. Tapi mungkin akan sedikit lama memasaknya, apakah anda masih bisa menahan rasa lapar anda?"


"Emm, aku akan menunggunya sampai matang."


Mala menaruh pisaunya, dia berusaha melepaskan diri dari Arthur, dia sudah tidak tahan dengan kegelian yang Arthur ciptakan, belum lagi debaran yang ia rasakan membuatnya merasa sedikit tak nyaman.


"Saya tidak bisa memasak jika anda tidak melepaskan saya tuan." Protes Mala karena tangan kekar Arthur tak terlepas dari perutnya.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Arthur justru memutar tubuh Mala sehingga keduanya saling berhadapan, Arthur menatap lembut wajah Mala yang memerah, entah kepanasan karena sedang memasak atau karena perbuatan Arthur yang membuat wajah gadis itu merona.


"Apa kau demam, kenapa wajahmu merah begini?" Ucap Arthur seraya mengelus pipi Mala.


Mala tak bisa menjawabnya, suara yang sudah di ujung lidah tiba-tiba kembali masuk kedalam tenggorokannya, perlakuan manis Arthur sungguh membuatnya berdebar hebat, debaran yang sebelumnya berlaku hanya terhadap Rey kini mulai Mala rasakan bersama Arthur.


"Belum genap dua hari aku tak melihatmu, kenapa aku sangat merindukanmu."


Arthur mengusap bibir Mala yang mengering dengan ujung jari jempolnya, detik berikutnya wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Mala, saat bibirnya hampir menyentuh bibir Mala tiba-tiba gadis itu memalingkan wajahnya sehingga bibir Arthur hanya menyerempet sedikit pipi Mala.


"Sup saya gosong." Dalih Mala, dengan gugup dia membalikan tubuhnya dan meneruskan acara memasaknya yang sempat tertunda.


Arthur mengulum senyum karena berhasil menggoda Mala, dia lalu memegang kedua bahu Mala dan mencium kepala belakang Mala.


"Aku akan menunggu." Ucap Arthur yang terdengar ambigu. Siapa yang dia tunggu, sup iganya atau ciuman bersama Mala?


*****


Sementara di tempat lain, Rafli tengah bertemu dengan orang suruhannya yang membantunya menyelidiki kasus kebakaran 15 tahun silam. Setelah mendengar penuturan Petra, Rafli terpaksa menyuruh orang untuk menyelidiki kasus tersebut karena pihak kepolisian yang menangani kasus kebakaran itu menyimpulkan jika kebakaran yang terjadi belasan taun silam murni karena konsleting listrik.


"Apa yang kau temukan?" Tanya Rafli dengan wajah datar.


"Semuanya bersih tuan, tidak ada tanda-tanda sabotase dalam insiden tersebut." Jawab anak buah Rafli.


Rafli memijat pelipisnya dan tiba-tiba berfikir jika Petra sedang mempermainkannya.


"Kau yakin tak ada hal lain yang kau temukan?" Tanya Rafli penuh penekanan.


"Kata salah seorang penjaga di Villa sebelah sempat ada dua orang datang dan mencari seorang pria bernama Karto."


"Dan setelah saya selidiki, rupanya Karto merupakan salah satu pelayan yang bekerja di Villa yang terbakar itu tuan, namun semenjak kebakaran itu dia menghilang."


Kepala Rafli semakin berdenyut, niatnya untuk membantu mengembalikan ingatan Arthur justru membuatnya menemukan teka-teki yang harus ia pecahkan.


Apa sebenarnya yang di alami Arthur dimasa lalu sehingga kepribadiannya terpecah? Benarkah kebakaran itu adalah sebuah kesengajaan? Lalu siapa yang membakarnya dan berhasil mengubur kasusnya dengan sangat rapi? Apakah Tuan Raymon? Rafli patut mencurigai Tuan Raymon, selain hanya dia yang selamat dia juga orang yang memiliki uang dan banyak koneksi, bukan hal sulit untuk menutup rapat kasus tersebut bukan?


Dan siapa Karto? Kenapa namanya seperti nama kepribadian Arthur? Pertanyaan itu kini memenuhi kepala Rafli.


"Cari tau siapa pria bernama Karto itu?

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2