My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 106 Kesedihan Rey


__ADS_3

Mala sudah bersiap, sore ini ia berencana ke Rumah Sakit untuk memeriksakan luka bekas operasi. Beberapa minggu ke dapan Mala memang harus rutin kontrol ke Dokter guna memantau proses penyembuhannya.


Gadis berkacamata itu keluar dari kamar, ia melihat Arthur masih tidur di atas sofa. Mala berjalan menuju sofa, ia duduk bersimpu seraya mengamati wajah Arthur yang terlihat sangat damai.


"Tidurpun masih tampan." Gumamnya lirih seraya mengelus wajah Arthur dengan jemari lentiknya


Mala memeriksa arloji di tangannya, waktu menunjukkan pukul empat sore, ia harus segera membangunkan Arthur dan pergi ke Rumah Sakit. Mala memegang bahu Arthur dan mengguncangnya perlahan.


"Sayang, bangun, sudah sore, katanya mau nganterin aku kontrol ke Rumah Sakit..Sayang bangun." Mala kembali mengguncang bahu kekasihnya.


Arthur mulai bergerak, ia mengerjapkan matanya dan membukanya perlahan. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah ayu Mala, ia tersenyum lebar hingga lesung pipinya timbul di kedua sisi wajahnya.


"Mala." Ucapnya dengan suara serak.


"Iya ini aku. Bangun sekarang, katanya mau nganter aku ke Rumah Sakit!"


"Rumah Sakit?" Tanya Arthur dengan wajah bingung.


"Astaga sayangku, kamu yang membuat janji dengan dokter Hendi tapi kenapa malah kamu yang lupa."


"Sayangku" Arthur mengulangi ucapan Mala, ia lalu bangun dan duduk dengan posisi menghadap Mala, ia menatap Mala dengan tatapan nyalang.


Mala menelan ludahnya dengan kasar, ia lantas berdiri dan mundur dua langkah, ia baru menyadari jika yang kini duduk di depannya bukanlah Arthur.


Arthur lantas berdiri, ia melangkahkan kakinya hingga mengikis jarak antara dirinya dan juga Mala, ia kini menatap Mala sendu.


"Siapa yang kamu panggil sayang Mala?" Tanya Arthur.


Mala terdiam sejenak, dari suaranya ia sepertinya tau siapa yang kini tengah bersamanya, Rey, ya pria itu adalah Rey.


"Jawab Mala, siapa yang kamu panggil sayangku?" Sentaknya dengan rahang mengeras dan otot lehernya menyumbul di permukaan kulitnya yang putih.


"Rey." Ucap Mala dengan gugup, ia bahkan tak berani menatap wajah Rey, padahal dahulu Mala sangat menyukai wajah Rey, apalagi saat pria itu tersenyum lebar dan menampakkan kedua lesung pipinya


"Baguslah kalau kamu masih mengenaliku. Sekarang jawab pertanyaanku, siapa yang kamu panggil sayang?" Rey, pria lenbut itu kini kembali membentak Mala, bola matanya yang teduh berubah nanar, ia terlihat berbeda dari Rey yang sebelumnya.

__ADS_1


"Apakah Arthur, kini kamu memanggilnya sayang. Apa kamu sekarang bersamanya setelah mencampakkan aku, ternyata ini alasanmu meninggalkanku, kau diam-diam berselingkuh dengan Arthur?" Terka Rey seraya menatap Mala.


"Berselingkuh?" Kata-kata itu terngiang di kepala Mala, benarkah ia berselingkuh padahal ia menjalin hubungan dengan pria yang memiliki tubuh yang sama.


Mala tertawa hambar, ia membalas tatapan Rey hingga netra mereka saling beradu. "Selingkuh katamu? Hahhaha." Mala kembali tertawa.


Rey mengeryitkan dahinya, ia mengamati Mala yang tengah tertawa hambar di hadapannya.


Tiba-tiba saja tawa Mala berhenti, ia kembali menatap Rey dengan tajam. "Dengar Rey, aku tidak berselingkuh dengan siapapun. Kau benar, panggilan sayang itu untuk tuan Arthur, kami akan segera menikah." Ungkap Mala dengan suara lantang, ia juga menunjukkan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.


Rey mengepalkan kedua tangannya, rahangnyapun ikut mengeras, ia menatap Mala dengan mata memerah, detik berikutnya ia menarik tengkuk Mala dan menciumnya secara paksa.


Rey melu*mat bibir Mala dengan rakus, rasa kecewa dan sakit hatinya membuatnya lupa untuk tidak menyakiti Mala. Rey terus menyesap bibir Mala dengan kasar, ia mencium Mala secara membabi buta.


Mala berusaha mendorong dada Rey, namun tenaganya kalah kuat. Luka bekas operasinya kembali terasa sakit akibat tekanan dari tubuh Rey. Mala merasakan sesuatu yang basah di area perutnya, ia terpaksa menggigit bibir Rey hingga pria itu melepaskan ciumannya.


Plaakkk....


Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Rey, pria itu memegangi pipinya dan menatap Mala tak percaya jika gadisnya tega menamparna.


Rey tak kalah terkejut, ia segera meraih tangan Mala dan mencium cairan yang menempel di telapak tangan Mala. Anyir, itulah yang Rey rasakan saat menghirup aroma cairan itu.


"Mala apa ini?" Tanyanya dengan wajah panik.


Mala menyingkap bajunya, rasa malunya tertekan rasa takut yang kini ia rasakan. Mala menunduk dan berusaha membuka perban yang membalut perut bagian atasnya. Sontak mereka berdua memebelalakan mata, luka yang awalnya hampir mengering kini terdapat celah yang mengeluarkan cairan nanah bercampur darah.


"Mala, apa yang terjadi padamu?" Rey mengucapkan kalimat itu dengan mulut bergetar.


"Kau puas sekarang, kau menyakitiku Rey! Ujar Mala dengan tatapan nanar.


"Maafin aku Mala, sungguh aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu."


"Ah tidak bukan itu yang harus kita bahas saat ini, kita harus pergi ke Rumah Sakit sekarang."


Tanpa menunggu persetujuan Mala, Rey segera mengangkat tubuh Mala dan menggendongnya keluar dari apartemen. Mala tak menolak, ia juga harus segera ke Rumah Sakit sebelum lukanya infeksi.

__ADS_1


Rey memasukkan Mala ke dalam mobil dengan hati-hati, ia segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju Rumah Sakit.


"Rumah Sakit Cipto." Ucap Mala dengan pelan, keringat dingin sudah mengucur di pelipisnya, wajahnya mulai memucat.


Rey hanya mengangguk, ia segera meninggalkan apartemen dan menuju Rumah Sakit sesuai perintah Mala.


Selama perjalanan Rey sangan panik, beberapa kali ia melirik Mala yang tengah meringis menahan sakitnya, saat Rey memegang tangannya, Rey bertambah khawatir karena tangan Mala terasa sangat dingin.


"Mala aku mohon, kau harus baik-baik saja."


Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di depan IGD Rumah Sakit Cipto, Rey keluar dari dalam mobil dan berteriak memanggil Dokter. Rey lalu mengeluarkan Mala dari mobil, beberapa Perawat keluar dari IGD dengan mendorong brankar.


Rey menidurkan tubuh Mala di atas brankar dengan hati-hati, lalu perawat mendorong brankar itu masuk ke dalam ruang tindakan.


Mala sudah berada di dalam ruang tindakan, Rey menunggunya dengan cemas, ia terus menyalahkan dirinya sendiri karena telah menyakiti Mala.


"Mala maafin aku."


Dua puluh menit kemudian, seorang Dokter keluar dari ruan tindakan, Rey segera menghampiri Dokter itu dengan wajah pias.


"Bagaimana keadaannya Dok?"


"Luka bekas operasinya terbuka, saya akan menghubungi Dokter Hendi, beliau Dokter yang mengoperasi pasien sepuluh hari yang lalu."


"Operasi?" Rey nampak bingung karena tak tau menau mengenai operasi Mala.


"Ya, pasien melakukan operasi cangkok hati sepuluh hari yang lalu."


Rey mengusap wajahnya dengan kasar, ia merasa frustasi karena tak mengetahui keadaan Mala, akhir-akhir ini ia jarang muncul setelah Mala memutuskan hubungan mereka.


Dokter itu lalu pergi untuk menghubungi Dokter Hendi. Rey kembali menunggu Mala dengan perasaan tak karuan.


"Kita akan melakukan Hecting."


BERSAMBUNG..

__ADS_1


Hecting : prosedur penjahitan luka, biasanya jahitan lama akan di buka, lalu di bersihkan dan di lakukan jahit ulang. Pasien juga akan di bius total selama proses Hecting.


__ADS_2