
"Saya.."Mala ragu untuk menjawabnya, sudah lama dia tidak mengasah kemampuan mendesainya.
"Kau mau mencobanya?" Tawar Arthur.
"Apa boleh?" Mala balik bertanya, dia khawatir Arthur hanya sedang meledeknya.
"Hemm cobalah."
"Tapi tuan, dia hanya seorang Cleaning Service?" Protes salah seorang karyawan yang merupakan seorang Arsitek, dia menatap Mala dengan tatapan menghina.
"Kita lihat saja hasilnya seperti apa." Ucap Arthur seraya menatap tajam karyawan tersebut, dia tidak suka ada orang lain yang merendahkan Mala. "Proyek ini bergantung padamu Mala.." Tegas Arthur sambil menatap Mala.
"Lala, jelaskan pada Mala apa yang Client kita minta." Titah Arthur, Lala hanya mengangguk, lalu dia mengajak Mala duduk untuk membahas desain yang akan dibuatnya.
"Kalian bisa keluar, kita akan meeting lagi sebelum jam makan siang." Ucap Arthur lalu semua yang ada diruangan itu keluar. Setelah menjelaskan semuanya kepada Mala, Lala mengikuti atasannya keluar dari ruangan itu, sebelum pergi dia memberikan semangat untuk Mala dan hanya dibalas senyuman oleh Mala.
Kini diruangan itu hanya ada Arthur, Rafli dan Mala. Arthur melirik Rafli yang masih berdiri disebelahnya, dia sedikit kesal karena Rafli tidak peka, harusnya dia juga keluar bersama karyawan yang lain agar Arthur bisa berduaan bersama Mala.
"Kau tidak punya pekerjaan?" Usir Arthur secara halus.
"Tidak tuan." Jawab Rafli datar, dia sungguh tidak tau jika atasannya sedang berusaha mengusirnya.
Arthur mengusap wajahnya kasar, dia tak menyangka jika Rafli sebodoh itu karena tidak bisa mencerna maksud dan tujuannya.
"Tolong belikan aku sarapan Raf, aku lapar." Arthur tidak kehabisan akal untuk mengusir Rafli.
"Anda belum sarapan? Bukannya Mala selalu membuatkan anda sarapan?" Tanya Rafli dan membuat Arthur semakin kesal.
"Mala bangun kesiangan, dia tidak sempat masak, cepat sana, jangan sampai aku mati kelaparan."
Melihat wajah kesal Arthur, Rafli segera keluar dari ruangan itu dan pergi membelikan sarapan untuk tuannya. "Ah jadi karena lapar makannya dia marah-marah sejak pagi." Gumam Rafli seraya melangkahkan kakinya keluar dari gedung Art Life.
Arthur tersenyum puas setelah berhasil mengusir Rafli, dia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Mala yang tengah sibuk mendesain taman untuk proyek hotelnya, Arthur berdiri disebelah Mala dan memperhatikan tangan gadis itu yang dengan lihai menggoreskan pena diatas kertas putih.
Arthur kembali tersenyum, dia tidak menyangka jika Mala sangat berbakat, dia manggut-manggut melihat desain Mala yang belum sepenuhnya jadi.
Arthur meraih ponselnya, dia mengirim pesan untuk Rafli agar menaruh sarapan diruangannya, dia juga memberikan pekerjaan kepada Rafli agar asistennya itu tidak mengganggu waktunya bersama Mala.
__ADS_1
"Kau tidak lelah?" Tanya Arthur setelah beberapa jam Mala berkutat dengan kesibukannya.
Gadis itu hanya menggeleng, dia tengah fokus dengan pekerjaannya sehingga tak memperdulikan Arthur yang sejak tadi berada disebelahnya.
Tepat sebelum jam makan siang Mala sudah menyelesaikan desainnya, gadis itu terkejut saat melihat Arthur yang duduk disebelahnya dan tengah memperhatikannya.
"Tuan, anda masih disini?" Tanya Mala gagap.
"Aku ingin menemanimu." Jawab Arthur jujur sehingga membuat Mala merasa aneh.
"Bisa aku melihatnya sekarang?" Tanya Arthur seraya menunjuk kertas yang berada diatas meja.
Mala mengangguk dia menggeser kertas yang ukurannya cukup besar itu agar Arthur lebih leluasa memeriksa hasil desainnya. Arthur mengamati desain tersebut dengan seksama, dia mengerutkan dahinya saat melihat gambar aneh diantara desain Mala.
"Apa ini?" Arthur menunjuk gambar tersebut.
Mala menggeser kursinya, dia memeriksa gambar yang ditunjuk oleh Arthur. Mala menunduk saat melihat gambar tersebut, dia sedikit menahan tawa melihat hasil gambarnya.
"Itu gambar orang." Jawab Mala dengan pelan.
"Orang? Kenapa bentuknya seperti tahu bulat yang ditusuk oleh tusukan sate." Ucap Arthur seraya menatap Mala.
"Ini kepalanya." Mala menunjuk gambar bulat seperti huruf O itu.
"Ini badannya." Dia menunjuk gambar garis lurus yang terhubung dangan gambar bulat yang dianggapnya sebagai kepala.
"Ini tangannya." Mala kembali menunjuk dua garis miring yang berada disisi kanan dan kiri gambar garis lurus.
"Dan ini kakinya?" Tebak Arhtur seraya menunjuk gambar yang kemungkinan besar dianggap kaki oleh Mala.
Mala mengangguk, sedetik kemudian dia tersenyum, dia merasa gambarnya sangat konyol. Arthur ikut tersenyum saat melihat Mala tersenyum, belum lagi gambar Mala memang membuatnya ingin tertawa.
"Kau ini calon Arsitek kenapa menggambar orang saja tidak bisa." Sindir Arthur dengan wajah tersenyum.
"Entah aku juga tidak tau, aku kesulitan saat menggambar orang." Jelas Mala dengan menahan senyumnya.
__ADS_1
"Aku, apa dia baru saja menyebut dirinya dengan aku." Batin Arthur, dia girang saat Mala tak lagi menggunakan kata saya saat sedang bersamanya.
Tok..tok.tok..
Seseorang mengetuk pintu lalu tak berselang lama Rafli muncul dari balik pintu diikuti oleh beberapa karyawan yang akan melanjutkan meeting mereka.
Arthur berdiri dari duduknya, dia berjalan menuju kursinya dan duduk disana. Semua orang sudah duduk, mereka tengah menantikan presentasi dari Mala. Banyak dari mereka yang meremehkan Mala sebelum gadis itu mulai mempresentasikan desainnya.
"Kemarilah, tunjukan desainmu kepada mereka dan jelaskan setiap point pentingnya." Arthur menunjuk Mala, lalu gadis itu berjalan kearah Arthur.
Mala menarik nafas panjang, dia mencoba untuk menenangkan dirinya, Mala sangat gugup karena ini merupakan pengalaman pertamanya dan untuk pertama kalinya gambarnya akan dilihat oleh banyak orang.
Dengan dibantu oleh Rafli, Mala menempatkan gambarnya dipapan yang tersedia diruang meeting itu, karena keterbatasan waktu Mala belum sempat menggambar desainnya dikomputer.
Semua yang berada didalam ruangan itu terkejut melihat desain Mala, mereka tidak menyangka seorang Cleaning Service memiliki kemampuan yang luar biasa.
"Sebelumnya saya ucapkan terimaksih kepada tuan Arthur karena telah memberikan kesembatan yang luar biasa ini kepada saya." Mala mulai membuka suaranya.
"Seperti yang kalian semua tau, proyek hotel ini mengusung konsep go green atau eco friendly, dikarenakan letaknya yang berada ditengah kota dan tidak ada hutan disekelilingnya jadi saya berfikir untuk membuat hutan buatan ditengah hotel tersebut. Saya memanfaatkan ruang kosong yang berada ditengah bangunan hotel, meskipun luasnya hanya setengah hektar namun saya rasa sudah cukup untuk membuat hutan buatan disana. Kita bisa menanam pohon cemara dan akasia kuning dihutan buatan tersebut. Kenapa saya memilih dua pohon tersebut? Karena keduanya tumbuh tak terlalu tinggi, selain itu daun pohon cemara yang gugur bisa membuat tanah menjadi subur sehingga kita bisa menanam bunga ataupun tanaman lain dibawah mereka."
Mala melanjutkan presentasi panjangnya, semua yang berada disana merasa puas dengan desain Mala. Mereka memberikan tepuk tangan kepada Mala. Mata gadis itu berkaca-kaca, dia sangat terharu karena baru kali ini hasil kerja kerasnya diapresiasi oleh orang lain.
Setelah semua sepakat dengan desain Mala, mereka keluar dari ruangan itu meninggalkan Mala dan Arthur disana.
"Kau menangis?" Tanya Arthur seraya menatap wajah Mala.
"Saya sangat bahagia, terimakasih tuan."
Arthur sedikit kecewa karena Mala kembali menggunakan kata saya, namun kekecewaannya segera hilang saat gadis itu tiba-tiba memeluknya. Arthur terkejut, namun pada akhirnya dia membalas pelukan Mala.
Lama saling memeluk, Mala tersadar akan kelancangannya, dia segera melepaskan pelukannya dan menunduk.
"Maafkan saya tuan, saya terlalu bersemangat." Ucap Mala lirih.
"Hem. Kau boleh istirahat sekarang. Sore nanti temani aku untuk menemui Tuan Mahesa."
"Baik tuan." Jawab Mala tanpa penolakan.
__ADS_1
Mala berlalu meninggalkan ruangan itu, dia sangat bergembira hari ini. Arthur menatap kepergian Mala lalu dia tersenyum. "Setelah ini, aku akan membuatmu selalu tersenyum."
BERSAMBUNG....