
"Tuan Ba..."
Dor...
Sebuah peluru melesat dan bersarang di bahu sebelah kiri Marsel dan membuatnya tak sadarkan diri. Petra dan Rafli menoleh ke arah pintu, mereka kembali terkejut saat melihat anak buah Tomi menodongkan pistol di kepala Tomi.
"Waoww,, apa itu pistol asli?" Ujar Petra dengan mata berbinar, ia seolah menemukan benda yang sangat di sukainya
Rafli menoleh dan menatap Petra tajam. "Dasar bodoh, jelas-jelas Marsel terluka karena itu, sudah pasti itu pistol asli." Dengusnya kesal.
"Apa yang kau lakukan Jack." Ujar Tomi dengan suara tercekat karena lehernya terkunci oleh lengan anak buahnya sendiri.
"Bebaskan Marsel." Perintah Jack pada anak buah Tomi yang lain.
Ketiga anak buah Tomi tak mengindahkan perintah Jack, mereka masih berdiri dengan kedua tangan terangkat ke atas.
"Tom, suruh anak buahmu melepaskan Marsel sebelum peluruku membuat kepalamu berlubang." Ancam Jack, ia menekan ujung pistolnya tepat di pelipis Tomi.
"Lepaskan dia." Seru Rafli, ia tak mungkin membiarkan Tomi terluka.
Salah seorang anak buah Tomi berjalan ke arah Marsel dan melepaskan ikatannya, ia juga menyeret tubuh Marsel dan membawanya ke pintu keluar.
"Kenapa kau malah melepaskannya, aku belum selesai bermain-main." Protes Petra.
"Anak buahku bisa mati bodoh." Maki Rafli.
Tak berselang lama sebuah mobil berhenti di depan rumah tua tersebut, dua orang keluar dari dalam mobil, mereka mengangkat tubuh Marsel dan membawanya masuk, setelah Marsel berada di dalam mobil, anak buah Tomipun ikut masuk ke dalam mobil dan mobil tersebut segera pergi dari tempat itu.
"Apa ini, apa kau di khianati anak buahmu sendiri." Cibir Petra, ia melangkahkan kakinya ke arah Tomi, di ikuti Rafli di belakangnya.
"Maafkan saya tuan, maafkan saya."Sesal Tomi, ia juga tak menyangka akan di khianati seperti ini.
Rafli menepuk pundak Tomi, semua ini bukanlah kesalahan Tomi, dengan kejadian ini Rafli menjadi lebih waspada karena lawannya sekarang pastilah bukan orang sembarangan.
Drrrrtt,,
Ponsel Rafli bergetar, sebuah pesan masuk, Rafli meraih ponselnya dan membuka pesan dari nomor tidak di kenal.
Berhenti mengorek masa lalu Arthur atau kau akan menyesalinya!!!!
Rafli mencoba menghubungi nomor yang mengiriminya pesan, namun nomor tersebut sudah tidak aktiv lagi, Rafli tersenyum getir, pesan ancaman itu justru membuatnya semakin penasaran dengan masa lalu Arthur. Apa yang terjadi sebenarnya, masa lalu seperti apa yang mereka coba untuk tutupi?
***
Rafli mengantarkan Petra kembali ke Rumah Sakit, selama perjalanan mereka saling diam, sibuk dengan fikiran masing-masing.
Petra memilih untuk menutup matanya, ucapan terakhir Marsel membuatnya semakin yakin jika bukan tuan Raymon yang mendalangi semua ini. Kepala Petra terasa berdenyut, perutnya juga terasa bergejolak, ia mencoba untuk membuka matanya, namun pandangannya kabur, sesaat kemudian Petra tak sadarkan diri.
Rafli melirik ke arah Petra, hal demikian tak mengejutkan lagi bagi Rafli, pertukaran jiwa di tubuh Arthur mengharuskan mereka untuk tidur, setelah salah satu jiwa terlelap makan jiwa jiwa yang lain akan muncul.
Rafli memarkirkan mobilnya di tepi jalan, mereka hampir tiba di Rumah Sakit namun pria yang duduk di sebelahnya belum juga sadarkan diri.
Rafli memegang pundak Arthur dan mengguncangnya, beberapa kali ia melakukan hal itu hingga pemilih tubuh mulai membuka matanya.
Rafli memerhatikan gerak-gerik pria di sampingnya, pria tersebut tengah memijat pangkal hidungnya dan kebiasaan itu hanya di miliki oleh pemilik tubuh yang sesungguhnya, Arthur.
"Anda sudah bangun?"Tanya Rafli.
"Hemm, berapa lama aku tidur?" Jawab Arthur dengan suara serak.
"Hampir 12 jam."
Arthur menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Lalu apa yang terjadi?" Tanyanya lagi.
Rafli menceritakan semua hal yang terjadi, ia juga menunjukan vidio saat Petra menyiksa Marsel, Rafli sengaja merekam itu agar bisa menunjukannya kepada Arthur. Rafli juga menceritakan tentang penembakan yang terjadi, satu-satunya hal yang belum Rafli katakan adalah keberadaan pak Karto di apartemen Arthur.
"Apa Marsel masih hidup?" Tanya Arthur dengan wajah cemas.
"Saya juga kurang tau, tapi saya rasa dia masih hidup, tembakan itu tidak mengenai organ vitalnya."
"Aku tidak tau jika dady memiliki pistol, aku jadi ragu jika dady yang menyuruh Marsel." Ujar Arthur, ia mulai ragu. Namun saat ini hanya tuan Raymon yang mereka curigai.
"Sebenarnya saya juga sempat ragu, ditambah ucapan Petra sedikit mengganggu saya." Terang Rafli.
"Apa yang Petra katakan?"
"Dia bilang jika bukan tuan Raymon pelakunya, katanya saya tidak boleh melupakan seseorang yang lebih berkuasa dari tuan Raymon."
Arthur diam sejenak, ia memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Seseorang yang lebih berkuasa dari dadynya, kalimat itu tiba-tiba membuat Arthur teringat akan seseorang.
"Opa." Ujar Arthur, ia menoleh ke arah Rafli.
Arthur mencoba menepis segala prasangka buruknya terhadap kakeknya. Saat ini ia harus fokus dengan kesembuhan Mala, setelah gadis itu benar-benar sembuh Arthur akan kembali menyelidiki siapa dalang di balik semua ini.
__ADS_1
***
Mala merasa bosan berada di kamar sendirian, menonton televisi tidak membuatnya terhibur sama sekali. Ditengah rasa penatnya terdengar keributan di depan pintu, Mala mencoba mengabaikan namun keributan itu tak kunjung berhenti
"Ada terjadi sesuatu di luar?" Teriak Mala.
Seseorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar Mala. Pria bertubuh tinggi besar menunduk sopan membuat Mala merasa canggung.
"Apa yang terjadi pak?" Tanya Mala penasaran.
"Ada seorang wanita yang berusaha masuk ke ruang ini nyonya muda."
Deg,,
Nyonya muda, panggilan itu berhasil membuat Mala tercengang, bagaimana mungkin mereka memanggilnya nyonya muda sementara dirinya dan Arthur belum resmi menjadi suami istri.
Mala berusaha untuk menenangkan dirinya, ia tak boleh terlihat gugup. "Siapa pak?" Tanya Mala setelah berhasil menutupi rasa gugupnya.
"Saya juga kurang tau nyonya."
"Biarkan dia masuk."
"Tapi tuan Arthur melarang siapapun untuk menemui nyonya."
"Nanti saya yang akan bicara dengan tuan Arthur."
Pengawal itu akhirnya menuruti kemauan Mala, ia keluar dari ruangan Mala dan membiarkan wanita itu untuk masuk.
Mala meremas selimutnya saat Nyonya Merry muncul dari balik pintu, tatapan nyonya Merry benar-benar membuat Mala merinding. Mala menyesali keputusannya membiarkan wanita itu masuk ke dalam kamar rawatnya, Mala sempat berfikir mungkin bibinya yang datang menjenguk, namun dugaannya salah besar.
"Untuk apa lagi anda datang kemari?" Tanya Mala dengan wajah tanpa ekspresi.
Nyonya Marry menyilangkan kedua tangannya di dada, wajah arogannya membuat Mala kesal, namun Mala berusaha untuk tenang, ia mencoba untuk menghormati tamunya.
"Saya cuma mau mengingatkan kamu, setelah ini kamu nggak boleh ganggu suami saya lagi" Ucap nyonya Marry, suaranya begitu melengking.
"Anda tidak perlu khawatir nyonya, sampai kapanpun saya tidak akan pernah mengganggu suami anda." Jawab Mala dengan cepat.
"Dan satu hal lagi. Jangan pernah temui saya lagi atau anda akan menyesalinya." Gertak Mala dan berhasil membuat wajah nyonya Merry menegang.
Nyonya Merry tersenyum sinis, ia menatap Mala dengan hina. "Jangan harap untuk mendapatkna warisan dari suami saya karena saya tidak akan membaginya denganmu."
Mala membuang nafas kasar, ingin rasanya ia menyumpal mulut nyonya Marry dengan selimutnya, wanita paruh baya itu senang sekali membuat perkara dengan Mala.
Nonya Marry menoleh, wajahnya menegang melihat Arthur berada di ambang pintu, lalu tanpa permisi ia meninggalkan ruang perawatan Mala.
Arthur berjalan ke arah Mala dan segera memeluknya, beberapa jam tak bertemu Mala membuatnya sangat merindukan gadis cantik itu. Begitupun dengan Mala, entah bagaimana ia tau jika yang sedang memeluknya adalah Arthur, ia segera membalas pelukan Arthur dengan hati-hati.
"Aku sangat merindukanmu." Ucap Arthur lembut.
"Aku juga. Aku sangat kesepian." Jawab Mala dengan senyum di wajahnya.
Arthur melepas pelukannya, ia menatap lekat wajah Mala, kerinduan yang teramat sangat mendorong Arthur untuk segera mencium bibir kekasihnya. Tanpa memperdulikan Rafli yang berdiri di belakangnya, Arthur mulai mencium bibir ranum Mala. Hanya sebuah ciuman singkat, kondisi leher Mala tak memungkinkan mereka untuk berciuman lebih lama.
"Ekhem."..
Rafli berdehem guna memperingatkan mereka jika masih ada makhluk lain selain mereka berdua.
"Kenapa Raf, kau iri ya?" Ejek Arthur tanpa menolehkan kepalanya, ia masih fokus dengan wajah ayu Mala.
"Tidak." Elak Rafli. "Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu." Imbuhnya lagi.
"Katakan Raf."
"Saya akan segera menikah dengan Lala." Ucap Rafli dengan lantang dan tanpa keraguan.
"Apa." Pekin Mala dan Arthur bersamaan.
Arthur memutar tubuhnya, kini sepasang kekasih itu kompak menatap Rafli.
"Saya akan melamar Lala akhir pekan ini, saya harap tuan Arthur berkenan untuk menemani saya dan juga ibu."
Arthur tersenyum lebar seraya menatap sahabatnya, ia segera mendekati Rafli dan memeluknya dengan bahagia, sungguh kabar yang sangat membahagiakan untuk Arthur.
"Aku pasti akan menemanimu." Ujar Arthur penuh semangat.
Setelah menyampaikan kabar bahagia tersebut Rafli pamit untuk kembali ke kantor, pekerjaannya masih sangat banyak dan tidak bisa ia tinggalkan.Sementara itu Mala masih terpaku di atas tempat tidurnya, ia masih tak percaya jika Lala akan menerima ajakan menikah dari Rafli karena setau Mala, sahabatnya masih ingin fokus dengan kuliahnya.
Melihat Mala melamun Arthur kembali ke sisi ranjang, ia memegang bahu Mala dengan pelan. " Kenapa melamun, kamu nggak suka mendengar kabar bahagia itu?"
Mala menggeleng cepat, ia meraih tangan Arthur yang berada di bahunya dan menggenggamnya dengan erat. "Bukan begitu, aku hanya terkejut saja."
"Oh ya, apa kamu sudah makan?" Tanya Arthur setelah mengingat hari telah beranjak siang.
__ADS_1
"Sudah. Pengawalmu yang membantuku menyiapkan makan siang, mereka sangat baik. Apa kamu sudah makan?" Mala balik bertanya.
"Aku belum lapar."
"Sayang." Ucap Mala ragu.
"Ada apa, apa kau butuh sesuatu?"
"Aku mau turun."
Arthur tersenyum simpul, ia menyelipkan rambut Mala ke belakang telinganya. "Kita harus tanya dulu sama Dokter, kamu sudah boleh turun dari tempat tidur atau belum."
"Dokter sudah mengizinkan aku untuk turun, aku harus ke kamar mandi sekarang. Aku mau pi_pis." Bisik Mala dengan malu-malu.
"Pi-pis? Apa selangnya sudah di lepas?"
Mala hanya mengangguk, rasanya sangat malu membahas masalah buang air kecil bersama Arthur.
Arthur kembali tersenyum karena artinya kondisi Mala semakin membaik, Arthur membantu Mala dari tempat tidur, namun karena tak sabar Arthur mengunci Klep pada infus sehingga infus tersebut berhenti menetes. Arthur meraih botol infus pada tempatnya dan menaruhnya di atas paha Mala, lalu Arthur membopong tubuh Mala ala bridal style dan membawa Mala ke kamar mandi.
"Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri."
Arthur tak mengindahkan ucapan Mala, ia berhasil membawa Mala masuk ke dalam kamar mandi..Arthur menurunkan Mala dengan hati-hati, namun selanjutnya ia bingung harus melakukan apa.
"Keluar sana, aku mau pi-pis." Usir Mala dengan wajah kesal.
"Kamu yakin bisa melakukannya sendiri?" Tanya Arthur khawatir.
"Iya, sudah sana keluar sebelum aku ngompol."
Arthur akhirnya mengalah, ia meninggalkan Mala di dalam kamar mandi. Arthur keluar dari kamar mandi, namun ia berdiri tepat di depan pintu, ia khawatir terjadi sesuatu dengan Mala.
Di dalam kamar mandi, Mala sedikit kesulitan untuk melakukan aktivitasnya, ia bersusah payah untuk bisa duduk di atas kloset, sesekali ia meringis menahan ngilu di leher dan perutnya.
Hampir 30 menit Mala belum juga keluar, Arthur sangat gelisah, ia mondar-mandir di depan pintu kamar mandi.
"Apa belum selesai?" Teriak Arthur dari luar.
"Emm,, sebentar lagi." Suara Mala terdengar sangat pelan.
Arthur yang kelewat khawatir akhirnya menerobos masuk, alangkah terkejutnya ia melihat Mala dalam keadaan tanpa busana.
"Kyaaa." Teriak Mala, ia tak bisa berbuat apapun, selang infus yang tertancap di tangannya membuat ia kesulitan untuk mengambil bajunya.
"Maaf, maaf, aku fikir terjadi sesuatu padamu." Ucap Arthur seraya memalingkan pandangannya.
"Keluar sana." Lagi-lagi Arthur di usir oleh Mala.
Arthur kembali keluar, namun darahnya terasa berdesir dan jantunnya berdegup begitu kencang, bayangan tubuh polos Mala menggugah sesuatu di pangkal pahanya.
Arthur menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia harus mengusir fikiran mesyum dari dalam kepalanya.
"Tahan Arthur, tahan." Gumamnya pelan.
Beberapa menit kemudia Mala keluar dari kamar mandi dengan wajah masam, ia menatap Arthur sebal karena pria itu seenaknya saja masuk ke dalam kamar mandi.
"Sudah selesai?" Tanya Arthur, ia merasa canggung setelah kejadian itu.
"Sudah." Jawab Mala ketus.
"Maaf, aku nggak berniat apapun, aku cuma khawatir kamu pingsan di kamar mandi." Ucap Arthur dengan jujur.
Mala menoleh, ia melihat Arthur bersungguh-sungguh dengan ucapannya. "Hem, terimaksih karena sudah mengkhawatirkanku."
Arthur tersenyum lega karena Mala mau memaafkan kelancangannya. "Aku gendong lagi ya." Tawar Arthur.
Mala hanya mengangguk, tenaganya terkuras habis di dalam kamar mandi, mau tidak mau akhirnya dia menerima tawaran Arthur untuk menggendongnya kembali ke tempat tidur.
"Emm, sayang." Ucap Mala pelan
"Kenapa? Apa ada yang sakit?"
"Kapan Lala kesini, aku mengirim pesan tapi nggak di bales?"
"Aku juga nggak tau, mungkin dia sibuk mempersiapkan lamarannya. Kenapa, kamu butuh sesuatu?"
"Emm, anu...
"Apa?"
"Aku perlu pakaian dalam."
BERSAMBUNG..
__ADS_1