My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 132 Aku Pelakunya..


__ADS_3

"Pernikahan ini tidak bisa di lanjutkan, dia adalah seorang pembunuh."


Mala dan Arthur menoleh bersamaan ke arah sumber suara, mereka terkejut melihat kedatangan tuan Mahesa di tengah acara pernikahan mereka. Para tamu undangan mulai berbisik melihat aksi tuan Mahesa yang nekad menghentikan acara pernikahan tersebut.


"Apa yang anda lakukan disini?" Tanya Mala dengan wajah menahan amarah, orang yang sengaja tak ia undang justru datang dan mengacaukan acara pernikahan mereka.


"Mala sayang, kamu harus dengarkan papa baik-baik, pria ini adalah seorang pembunuh, dia yang sudah membakar villa dan menewaskan ayah dan ibumu." Ujar tuan Mahesa seraya menunjuk wajah Arthur.


"Papa?" Mala tersenyum hambar selagi mengucapkan kata tersebut. "Saya sudah tau semuanya, kebakaran itu adalah sebuah kecelakaan, jadi saya mohon anda pergi dari sini sekarang juga."


"Kamu tau? Apa kamu sudah melihat isi rekaman cctvnya?" Tanya tuan Mahesa seraya menatap wajah putrinya


Mala nampak ragu untuk menjawabnya karena dia memang belum melihat isi rekaman tersebut. "Belum, tapi aku percaya kepada Asisten Rafli, dady Raymon dan Opa Bagaskara."


"Kamu telah di tipu oleh mereka, kalau kau tidak percaya silahkan lihat ini." Tuan Mahesa mengeluarkan gawai cerdasnya dan mulai berkutat dengan benda pipih tersebut.


Rafli dan tuan Raymon nampak panik, mereka berdua menyusul tuan Mahesa naik ke atas altar dan berusaha untuk menghentikan tuan Mahesa, sementara tuan Bagaskara mengeraskan rahangnya, ia merutuki kebodohannya karena tak menghabisi Marsel dan membiarkan pria itu bebas berkeliaran.


"Mahesa apa yang kau lakukan, teganya kau menghalangi pernikahan mereka?" Hardik tuan Raymon.


"Tega? Kau bilang aku tega? Aku sedang berusaha menyelamatkan putriku dari putramu yang mengerikan itu. Kau tau kan bahwa putramu yang membakar villa itu?" Terka tuan Mahesa seraya menatap tajam wajah sahabat lamanya.


"Cih, kau tau itu dan menutupinya dari putriku, kau fikir aku tak memiliki bukti, akan ku tunjukan siapa putramu yang sesungguhnya Raymon!"


Tuan Mahesa memberikan ponselnya kepada Mala, namun tuan Raymon berusaha untuk merebut ponsel tersebut hingga terjadi aksi saling tarik di antara dua pria paruh baya tersebut.


"Hentikan." Lerai Arthur dengan suara menggelegar. Sementara itu di bawah Altar mama Wulan, Lala, serta Dokter Sheila yang baru saja hadir sibuk mengusir para tamu undangan.


Arthur merebut ponsel yang tengah menjadi bahan tarik menarik itu, dengan perasaan ragu dan cemas Arthur mulai memutar vidio yang berada di dalam ponsel tuan Mahesa

__ADS_1


Satu menit, dua menit, Arthur masih nampak biasa saja, namun memasuki menit ketiga matanya mulai memerah, rahangnya mengeras dan otot-otot lehernya menyumbul di permukaan kulitnya yang putih, tak berselang lama Arthur nampak seperti kehabisan nafas, ia memukul rongga dadanya dengan sangat keras. "Akulah monster itu." Gumamnya dengan mata berair.


Kali ini giliran Mala yang merebut ponsel itu dari tangan calon suaminya, Rafli mencoba untuk menghentikannya namun tangannya di tepis oleh tuan Mahesa. Mala menelan ludahnya dengan kasar, ia tak bisa berkata-kata saat melihat rekaman CCTV yang menampakkan saat Arthur melemparkan kembang api dan menyulut kobaran api. Mala menatap Rafli dan tuan Raymon secara bergantian, gadis cantik itu menuntut penjelasan dari kedua orang yang di percayanya itu.


"Raf, kau tau semua ini?" Tanya Mala dengan tatapan nyalang, tak ada lagi kalimat formal yang terucap dari bibir gadis itu


"Jawab Raf." Bentak Mala dengan mata membelalak sempurna.


"Mala, aku bisa jelaskan semuanya." Rafli berusaha untuk menenangkan Mala, sementara di sisi yang lain Arthur masih diam mematung.


Mama Wulan dan Lala menyusul mereka naik ke atas altar, mama Wulan meraih ponsel yang berada di tangan Mala dan memutar rekaman CCTV tersebut bersama Lala, kedua wanita itu menutup mulutnya bersamaan saat menyaksikan rekaman tersebut.


"Tuan Mahesa, dari mana anda mendapatkan ini?" Kini Mala bertanya pada ayah kandungnya.


"Tidak penting papa dapat dari mana, yang terpenting sekarang batalkan pernikahan ini dan jauhi monster itu! Kau lihat sendiri kan, dia yang sudah membakar ayah dan ibumu dan keluarganya menutupi hal itu darimu, mereka semua sudah membodohimu sayang."


Brugg..


"Aku pelakunya, aku yang melakukannya. Bagiaman ini? Bagimana aku harus memohon pengampunan kepadamu?" Ucapnya dengan suara bergetar, air matanya berlinang membasahi wajah tampannya.


Mala tak kuasa menahan tangisannya, ia tak tega melihat Arthur bersimpuh di bawah kakinya, namun fakta yang baru di ketahuinya sungguh membuat gadis cantik itu tak berdaya. Marah? Tentu saja, setelah ia mengikhlaskan kematian kedua orang tuanya ia justru harus mengetahui fakta di balik kematian mereka. Terluka? Pasti, hati mana yang tak akan terluka melihat orang terkasihnya yang telah melakukan kejahatan sepeti itu. Kecewa? Jelas, Mala merasa di permainkan oleh keluarga Bagaskara yang sudah membohonginya.


"Maafin aku." Ucapnya dengan suara tercekat, ia mengangkat kedua sisi gaunnya dan berlari meninggalkan Arthur di atas altar pernikahan mereka.


"Mala." Pangil Lala dan mama Wulan bersamaan. Lala dan tuan Mahesa berlari menyusul Mala sementara mama Wulan mencoba untuk menenangkan Arthur.


Rafli turun dari altar dan menghampiri Dokter Sheila yang nampak terkejut. "Hubungi perawat pak Karto suruh mereka membawa pak Karto pergi dari tempat itu dan bawa pak Karto ke alamat ini!" Bisik Rafli seraya mengirimkan alamat rumah kepada Dokter Sheila.


Di atas altar, Arthur masih duduk bersimpu, ia masih menyalahkan dirinya sendiri. "Aku adalah pembunuh, aku pembunuh." Teriaknya histeris.

__ADS_1


Seketika Arthur menutup kedua telinganya, kata-kata pembunuh terus menggema di dalam gendang telinganya, pria berlesung pipi itu berteriak sekeras mungkin meluapkan semua amarah yang ada di dalam hatinya


Brugg..


Setelah berteriak kencang tubuhnya ambruk, ia tertelungkup di atas lantai, semua orang nampak panik dan segera membantunya untuk bangun.


"Arthur, Arthur. Bagunlah." Seru Rafli seraya membalik tubuh sahabatnya.


Dokter Sheila memeriksa tanda vital Arthur dengan cermat. "Dia pingsan. Raf bawa dia ke tempatku sekarang, aku khawatir jika bukan Arthur yang bangun nanti."


"Dokter Sheila, bagaimana ini, bagaimana kalau Arthur menyalahkan dirinya dan menyerah pada tubuhnya." Sahut Mama Wulan dengan wajah sembab.


"Itu yang saya khawatirkan nyonya."


***


**Flasback, sehari sebelum pernikahan..


Di kantor Nadraswara Group**..


"Permisi tuan, ada titipan undangan dari karyawan Art Life." Ucap seorang sekertaris wanita dan menyerahkan amplop berisi undangan pernikahan Arthur dan Mala.


Tuan Mahesa menerima undangan itu dengan tersenyum, ia merasa bahagian karena mengira jika putrinya yang mengirimkan undangan tersebut. Tuan Mahesa membuka undangan itu dengan antusias, ia kembali tersenyum melihat potret Mala dan Arthur yang tercetak di dalam undangan.


"Kau sangat mirip dengan ibumu, cantik." Gumamnya seraya mengelus foto Mala.


Perhatian tuan Mahesa lalu teralih pada sebuah kertas yang terlipat dan terselip di dalam undangan itu, ia meraih kertas tersebut membuka lipatannya, sebuah benda berukuran kecil terjatuh saat lipatan kertas itu terbuka.


Selamatkan putrimu dari monster mengerikan itu.

__ADS_1


Taun Mahesa mengerutkan dahinya, ia menatap Micro SD yang tergeletak di atas meja kerjanya, karena penasaran iapun memeriksa isi dari Micro SD tersebut yang isinya sungguh membuatnya terkejut.


BERSAMBUNG...


__ADS_2