
"Hem, ini aku Rey." Jawab Arthur seraya tersenyum, dia terpaksa berbohong karena ingin tau bagaimana sikap Mala terhadap Rey.
Mala berusaha untuk bangun dan Arthur segera membantunya untuk duduk dan bersandar di headboard. "Rey wajahmu?" Ucap Mala seraya menyentuh sudut bibir Arthur dan mengusapnya dengan lembut. "Bagaimana aku harus menjelaskan kepada Tuan Arthur?" Imbuh Mala dengan sedih.
"Apa kamu begitu takut kepada Arthur." Tanya Arthur lembut, dia membiarkan tangan Mala memegangi wajahnya, dia mulai menikmati sentuhan dari gadis itu.
Mala menggeleng lemah. "Aku hanya takut Tuan Arthur akan memecatku dan mengusirku Rey, aku tidak punya tempat tinggal lagi sekarang."
"Kalau begitu ceritakan padaku apa yang terjadi tadi, aku akan menjelaskan kepada Arthur nanti."
"Bagaiaman caramu berbicara dengan Tuan Arthur?" Mala menurunkan tangannya dari wajah Arthur dan sipemilik wajah menatap tangan Mala penuh ketidakrelaan.
"Dengan ini?" Arthur mengambil ponsel diatas nakas dan menunjukkannya kepada Mala. "Kami selalu merekam pesan jika kami ingin membicarakan sesuatu."
"Benarkah."
"Hem, jadi apa yang terjadi tadi."
"Aku mengantar pakde Karto untuk adu jangkrik dan disana kami tidak sengaja bertemu dengan sepupuku, pakde Karto berusaha menolongku saat sepupuku akan membawaku pergi, sepupuku tidak terima dan dia memukul pakde Karto, lalu Petra muncul dan memukul sepupuku, dia juga akan melempat tubuh sepupuku kedalam air, aku tidak ingin tangan Tuan Arthur menjadi kotor karena melukai orang lain, untuk itu aku nekat lompat ke air." Mala menceritakan kejadian siang tadi secara detail.
__ADS_1
"Jadi kau mengkhawatirkan Arthur?" Tanya Arthur dengan senyum diwajahnya.
"Tentu saja, hidupku bergantung padanya sekarang, jika terjadi sesuatu dengan Tuan Arthur aku juga akan merasa bersalah karena tidak bisa menjaganya."
"Lalu kenapa sepupumu ingin membawamu?"
"Itu karena.." Ucap Mala ragu.
"Ya sudah jika kamu tidak ingin menceritakannya kepadaku."
"Dia bilang dia mencari stempel milik kedua orangtuaku, aku juga tidak mengerti dengan maksud kak Sofyan." Mala memutuskan untuk bercerita dengan Rey, tanpa dia sadari jika yang dihadapannya bukanlah Rey melainkan Arthur.
"Stempel?" Ulang Arthur yang juga merasa penasaran, apa ini ada hubungannya dengan warisan itu, batin Arthur.
Cup..
Arthur mendaratkan kecupan dibibir Mala tanpa izin dari pemiliknya, Mala terpaku, dia tak percaya Rey akan menciumnya. Melihat Mala yang hanya diam Arthur kembali mengecup bibir Mala, dia mulai membuka mulutnya dan menyesap bibir mungil Mala dengan lembut. Ucapannya mungkin menyangkal semua perkataan Dokter Lutfi, namun tidak dengan hati dan tubuhnya, jantungnya selalu berdebar saat berdekatan dengan Mala dan tubuhnya tidak bisa menahan gejolak untuk tidak mencium gadis yang berada didepannya.
Arthur melepas pagutannya, dia mengelap bibir Mala yang basah karena ulahnya. "Jangan pernah lakukan hal bodoh seperti tadi lagi, aku sangat menghawatirkanmu." Ucap Arthur lembut, dia menarik tubuh Mala kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Rey, lepaskan." Mala mendorong tubuh kekar Arthur yang tengah mendekapnya. "Lepas Rey." Ulang Mala, sehingga Arthur terpaksa melepas pelukannya.
"Apa yang kau lakukan padaku, bagaimana jika Tuan Arthur tau kau menggunakan tubuhnya untuk menyentuhku, aku mohon jangan lakukan itu lagi." Ucap Mala dengan suara parau. Dia bimbang, dia juga menikmati setiap waktunya bersama Rey, dia merasa nyaman setiap kali bersama dengan Rey, namun Mala bingung karena Rey dan Arthur menghuni tubuh yang sama.
"Apa kau begitu membeci Arthur?"
"Aku tidak membencinya, tapi Tuan Arthur yang membenciku."
"Aku tidak membencimu." Ucap Arthur, dia lupa jika kini sedang berperan sebagai Rey. "Maksudku Arthur tidak mungkin membencimu, dia hanya tidak terbiasa dengan seorang wanita."
"Istirahatlah disini, aku akan tidur dikamar lain." Ucap Arthur lalu dia keluar dari kamar Mala.
Arthur masuk kedalam kamar Petra, setiap kepbribadiannya memiliki kamar masing-masing, namun hanya kamar Petra yang cocok dengan selera Arthur, dia tidak mungkin masuk kedalam kamar miss Kimberly apalagi kamar pakde Karto yang dipenuhi dengan jangkrik.
Arthur menghempaskan tubuhnya diatas kasur, matanya terpejam namun fikirannya bercabang kemana-mana, dia kembali mengingat ciuman tadi, ciuman pertama yang baru saja ia rasakan namun justru dia harus berpura-pura menjadi orang lain. "Kenapa Tuhan memberiku penyakit ini, aku bahkan tidak bisa menjadi diriku sendiri didepan Mala, kenapa Engkau mengutukku seperti ini Tuhan, apa salahku?" Batin Arthur, dia mulai lelah dengan penyakit yang dideritanya.
**
Sementara itu Mala masih berada tempat tidur milik Arthur, dia mengusap bibirnya yang sudah mengering. "Kenapa aku hanya diam saja, kenapa aku tidak mencoba untuk menolaknya, kenapa aku justru menikmatinya, perasaan macam apa ini, aku tidak boleh begini, jantungku tidak boleh berdebar untuk Rey, dia hanya jiwa yang tak beraga." Gumam Mala sedih, dia melepaskan infusnya lalu bangun dan keluar dari kamar Arthur, Mala tidak mau Arthur murka melihatnya tidur diranjangnya.
__ADS_1
Malam itu, mereka bedua bimbang dengan perasaan masing-masing, perasaan yang harusnya tidak tumbuh diantara mereka, karena perasaan itu hanya akan membuat Mala terjebak diantara dua jiwa dalam raga yang sama.
BERSAMBUNG......