My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 45 Gara gara mie instan


__ADS_3

Bi Ningsih dan kedua anaknya tengah kebingungan, pasalnya mereka sudah tidak punya cukup uang untuk menyambung hidup mereka, uang pensiun dari suaminya hanya cukup untuk makan, sementara untuk tagihan listrik dan yang lainnya mereka harus kembali memutar otak agar listrik mereka tidak dicabut oleh pihak yang bersangkutan.


Mereka bertiga sudah berkeliling untuk mencari Mala, namun sampai detik ini mereka belum menemukan Mala. Pagi ini sebenarnya Sofyan diam-diam mengikuti Lala kekantornya, Sofyan berharap Lala akan bertemu dengan Mala, namun hingga malam Sofyan tak melihat pergerakan Lala karena gadis itu sibuk dengan pekerjaannya hingga tengah malam.


Bi Ningsih menghembuskan nafas dengan kasar, ia menyesal sudah mengusir Mala, seharusnya dia mengusir gadis itu setelah warisan Mala jatuh ketangannya, namun apa yang diperoleh sekarang, Mala tak bisa ditemukan dan warisanpun tak mereka dapatkan.


"Sofyan, Rani, sebaiknya kalian mencari pekerjaan untuk menyambung hidup kita." Perintah bi Ningsih kepada kedua anaknya.


"Kerja apa bu, Rani tidak punya bakat apapun." Jawab Rani dengan cemberut, dia memang tak mempunyai kemampuan apapun selain menghabiskan uang. "Lo aja yang kerja kak, lo kan anak laki-laki, jadi lo harus kerja dan nyari duit buat kita." Imbuh Rani yang kini malah memerintah kakaknya.


"Gue nggak bisa bangun pagi." Kilah Sofyan, pada dasarnya dia hanya malas karena selama ini dia hanya ungkang-ungkang kaki dan memeras Mala. "Kenapa nggak ibu aja yang kerja." Sofyan malah berbalim menyuruh ibunya.


"Kalian memang tak berguna." Maki bi Ningsih lalu dia pergi meninggalkan kedua anaknya dan masuk kedalam kamar. Bi Ningsih duduk di tepian ranjang, dia memikirkan ucapan Sofyan yang menyuruhnya untuk bekerja. "Sebelum menemukan Mala aku memang harus bekerja, tapi aku harus kerja apa. Semua ini gara-gara Mala, aku harus segera menemukan stempel milik orangtua Mala dan memindahkan seluruh warisan Mala menjadi atas namaku." Ucap bi Ningsih pada dirinya sendiri.


***


Tengah malam diapartemen Arthur, Rey terbangun dan segera meraih ponsel diatas nakas, kebiasaan ini selalu mereka lakukan setiap hari untuk bertukar informasi.


"Kenapa kau tak bilang jika mama Wulan tau tentang kondisiku."


Rey memutar vidio yang ditinggalkan oleh Arthur untuknya, dia mengeryitkan dahinya setelah menonton vidio Arthur. "Jadi kamu sudah tau. Tapi kenapa wajahmu selalu menyebalkan begitu." Gumam Rey, lalu dia bangun dan pergi kekamar mandi untuk membasuh wajahnya, dia sudah tidak sabar ingin segera menemui Mala.


Rey keluar dari kamar, dia mengetuk kamar Mala beberapa kali namun Mala tak kunjung membukanya. "Apa dia sudah tidur?" Ucap Rey bermonolog. Rey sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu Mala malam ini, dia pergi kedapur untuk mencari sesuatu demi mengurangi rasa kecewanya.


Rey mengambil mie instan yang tersimpan didalam lemari, dia segaja menyimpannya agar Arthur tak menemukannya karena Arthur paling anti dengan makanan instan. Rey merebus mie instan sambil bersiul, dia mengaduk mie itu dengan senyuman diwajahnya, rasa kecewanya karena tak bertemu Mala mungkin sudah terobati dengan semangkuk mie instan kuah rasa soto yang kini sudah tersaji diatas meja makan.


Aroma mie instan yang begitu kuat menyebar kepenjuru apartemen, tak terkecuali didalam kamar Mala, gadis itu mulai mengerjapkan matanya dan mengendus aroma yang menggugah seleranya. Perlaham Mala turun dari tempat tidurnya, dia membuka pintu kamarnya dan aroma sedap itu semakin menyeruak di hidungnya, Mala berjalan menuju dapur, gadis itu mengulum senyum begitu melihat seseorang tengah meniup mie instan.


"Kenapa makan sendirian?" Ucap Mala, dia berjalam mendekati Rey dan membuat Rey berpaling dari mie instannya, Rey menoleh kearah Mala dan tersenyum, dia bahagia karena akhirnya bertemu dengan Mala.


"Ku pikir kamu sudah tidur? Apa aku membangunkanmu?" Tanya Rey seraya menarik pinggang Mala dan membawa gadis itu duduk dipangkuannya. Mala tersenyum geli mendapat perlakuan manis dari Rey.


"Aku membangunkanmu ya?" Ulang Rey dan hanya diangguki oleh Mala.


"Maaf." Ucap Rey seraya merapikan rambut Mala yang berantakan.

__ADS_1


"Aku menginginkanya." Bisik Mala, dia bahkan sampai menelan ludahnya sendiri.


Rey tak bergeming, dia salah mengartikan maksud Mala, fikirannya mesyum mulai memenuhi kepalanya.


"Kamu yakin?" Tanya Rey dengan bibir bergetar.


"Hem, aku sangat mengidamkannya sejak kemarin." Jawab Mala yang justru membuat Rey semakin salah paham.


Tanpa basa-basi Rey segera mengangkat tubuh Mala dan membuat gadis itu terkejut dibuatnya.


"Kenapa mengangkatku, aku bilang aku menginginkannya, turunkan aku, nanti mienya mekar dan tidak enak lagi."


"Mie?" Tanya Rey gugup. "Jadi maksudmu kamu menginginkan mie itu?"


"Tentu saja, apa yang sudah kamu fikirkan Rey. Jangan bilang..." Mala tak melanjutkan kalimatnya, dia segera turun dari gendongan Rey dan menatapnya dengan tatapan mengejek.


"Tentu saja mie, aku ingin menyuapimu sambil ku gendong." Kilah Rey mencoba menutupi rasa malunya karena sudah berfikir mesyum.


(Ternyata Rey sama Arthur sama-sama suka berfikir mesyum ya🤣🤣)


"Hem, kamu menggemaskan seperti bayi." Rey mencubit kedua pipi Mala.


"Sakit."Pekik Mala.


"Maaf." Rey melepaskan cubitannya, kini dia mengelus wajah Mala dengan lembut.


Mala tersenyum, begitupun dengan Rey. Setelah itu mereka kembali kemeja makan dan menikmati mie yang sudah tidak panas lagi.


Setelah makan mereka duduk bersama disofa, Mala menyandarkan kepalanya dibahu Rey, sementara tangan Rey melingkar dipunggung Mala dan memegang pundaknya.


"Rey." Panggil Mala dengan lembut.


"Ya."


"Nggak jadi" Mala urung mengatakan maksudnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu inginkan, aku akan mengabulkannya."


"Tidak ada."


"Cepat katakan padaku, atau aku..."


"Atau apa?" Mala memotong kalimat Rey.


"Aku akan menggelitikimu." Ancam Rey namun kemudian dia benar-benar menggelitiki Mala dipinggangnya, Mala tak mampu menahan rasa gelinya, dia berteriak di iringi dengan tawa, keduanya kini larut dalam tawa dan rasa bahagia.


"Ampun Rey." Ucap Mala dengan mata berkaca-kaca, bukan karena menangis namun karena dia terlalu banyak tertawa hingga matanya berair.


Rey menghentikan aksi jailnya, dia menarik pinggang Mala dan membawanya kedalam pelukannya.


"Terimakasih."Bisik Rey seraya mengecup pucuk kepala Mala.


Mala mendongakkan kepalanya, dia bingung kenapa tiba-tiba Rey berterimakasih padanya. "Untuk?" Tanya Mala penasaran.


"Untuk semuanya."


Mala kembali tersenyum, dia juga sangat berterimakasih kepada Rey karena telah menerangi hari-hari gelapnya, dia bersyukur bertemu Rey saat hidupnya tengah kehilangan arah, meskipun Rey hidup ditubuh Arthur, namun Mala beruntung karena bertemu dengannya.


Keduanya saling menatap, kini mata mereka dipenuhi oleh cinta, Rey membelai wajah Mala dengan lembut, perlahan dia mengangkat dagu Mala sehingga wajah gadis itu terangkat. Rey melepaskan kacamata Mala yang menghalangi wajah cantiknya, Rey menikmati wajah cantik Mala lalu dia mulai mendekatkan wajahnya, Mala memejamkan matanya dan membuat Rey enggan menyiakan kesempatan ini, dia segera mengecup bibir Mala, perlahan namun pasti Rey mulai menye*sap bibir Mala. Mala membuka bibirnya sehingga Rey lebih leluasa mengi*sap bibirnya, kini lidah Rey mulai meyusup kedalam mulut Mala dan menyapu rongga mulutnya, Mala tak diam saja, dia mulai terpancing dengan permainan Rey, Mala membalas tautan lidah Rey sehingga lidah keduanya kini saling bertaut, menyes*ap dan mengec*ap satu sama lain.


Ditengah ciuman hangat mereka, tiba-tiba Rey merasa pusing, sesuatu yang keras seolah tengah mendorongnya untuk keluar dari tubuh Arthur, Rey belum sempat melepaskan tautan lidahnya namun kehadirannya sudah digantikan dengan jiwa yang lainnya.


"Jadi ini yang kalian lakukan dibelakangku, aku tidak akan kalah darimu Rey, aku akan memiliki Mala seutuhnya malam ini." Batin Arthur saat dia tersadar dan mendapati dirinya tengah berciuman dengan Mala.


Arthur kembali memperdalam ciumannya, namun bukan lagi ciuman lembut seperti yang Rey lakukan, Arthur mulai menuntut lebih, dia mendorong tubuh Mala untuk masuk kedalam kamarnya. Langkah mereka terhenti saat kaki Mala tertahan oleh tempat tidur, Arthur tersenyum penuh kemenangan, dia mendorong tubuh Mala dangan tubuhnya sehingga keduanya kini berada diatas tempat tidur dengan posisi Arthur berada diatas tubuh Mala, salah satu tangannya dia gunakan untuk menahan tubuhnya agar tidak menindih tubun Mala.


Ciuman Arthur mulai turun ke leher Mala, dia menyusuri setiap lekuk leher jenjang gadis cantik itu, namun Mala mulai merasa tidak nyaman, dia mendorong tubuh Arthur sekuat tenaga, Arthur yang sudah larut dalam hawa nafsu tak memperdulikan penolakan Mala, dia tetap melanjutkan aktivitas nakalnya, dia bahkan menyesap leher Mala hingga menimbulkan tanda merah keunguan.


"Kamu menyakitiku Rey."


BERSAMBUNG......-

__ADS_1


__ADS_2