My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 48 Gara gara sate


__ADS_3

"Tapi aku ingin makan sate yang dijual dipinggir jalan."


Arthur terkejut mendengar permintaan Mala, dia segera menepikan mobilnya dan membuat Mala bingung. Arthur sedikit memutar tubuhnya sehingga dia bisa melihat wajah Mala dengan jelas. "Kenapa harus dipinggir jalan, itu tidak sehat, lebih baik kita makan direstoran, mereka pasti bisa membuat sate yang enak juga." Arthur berusaha membujuk Mala.


"Baiklah terserah tuan saja." Ucap Mala dengan wajah sedihnya.


Arthur menghela nafas panjang, lalu dia kembali melajukan mobilnya. Dari kejauhan Arthur melihat warung tenda yang berjualan sate, Arthur mengingat kembali perkataan dokter Sheila untuk menarik perhatian Mala, meskipun ragu namun akhirnya Arthur menepikan mobilnya didekat penjual sate.


"Turunlah, bungkus saja, kita makan dirumah."


Mala menoleh kearah Arthur dan tersenyum senang, dia segera turun dari mobil sebelum Arthur berubah fikiran.


"Barusan dia tersenyum padaku." Gumam Arthur seraya tersenyum hingga lesung pipinya mencuat. "Aku harus berterimakasih kepada penjual sate itu." Imbuhnya lagi dengan raut wajah yang bahagia.


Arthur turun dari mobilnya dan menyusul Mala yang tengah memesan sate, Mala yang melihat Arthur sedang berjalan kearahnya segera berlari menghampiri Arthur. "Apa yang tuan lakukan, kenapa turun, disini sangat kotor." Ucap Mala bertubi-tubi.


"Aromanya sangat enak, aku sedikit tergiur." Jawab Arthur apa adanya, aroma bakaran sate menyeruak dirongga hidungnya dan menariknya untuk turun.


"Tuan ingin mencobanya?"


Arthur hanya mengangguk, Mala kembali tersenyum melihat persetujuan Arthur, dia reflek menarik tangan Arthur dan membawanya masuk kedalam warung tenda itu. Arthur menatap tangannya yang ditarik oleh Mala, dia kembali mengulum senyum. "Ternyata tidak susah untuk mendapat perhatianmu." Batin Arthur.


Mala salah tinggah saat menyadari dia tengah memegang tangan Arthur, dia mengalihkan rasa canggungnya dengan mengelap bersih kursi plastik yang tersedia disana sebelum diduduki oleh Arthur. "Terimakasih." Ucap Arthur lalu dia duduk dikursi plastik, ini adalah kali pertama Arthur duduk dikursi plastik, sungguh pengalaman yang tak terlupakan.


"Tuan mau sate ayam atau kambing?" Tanya Mala.


"Seperti yang kamu pesan saja."


Mala mengangguk dan dia kembali memesan sate untuk tuannya, setelah memesan Mala kembali duduk didepan Arthur.


Beberapa menit kemudian penjual sate mengantar pesanan mereka, dua porsi sate ayam bumbu kacang dengan nasi hangat yang diatasnya ditaburi oleh bawang goreng membuat Mala tak sabar ingin segera melahapnya.


"Maaf pak, apa satenya masih ada?" Tanya Arthur kepada penjual sate dan membuat Mala berpaling dari sate dihadapnnya.


"Masih tuan, apa tuan mau nambah." Jawab penjual sate dengan sopan.


"Saya borong semua, setelah itu tolong bagikan kepada orang-orang disekitar sini."


"Semua tuan?" Tanya penjual sate tak percaya.


"Ya semua."

__ADS_1


"Terimakasih banyak tuan, terimaksih banyak nyonya, anda sangat beruntung memiliki suami yang dermawan."


"Tapi dia..."


"Sama-sama pak, saya juga beruntung memiliki istri secantik dia." Potong Arthur sebelum Mala melanjutkan kalimatnya.


Mala menatap tajam kearah Arthur, dia tidak percaya dengan yang diucapkan Arthur barusan, Arthur menyebutnya sebagai istri.


"Apa maksud anda tuan, kenapa anda tidak menyangkalnya dan memberitahu jika saya sopir anda." Protes Mala dengan suara pelan.


"Makan satemu, nanti dingin." Bukannya menjawab Arthur malah mengalihkan pembicaraan Mala, dia mulai mencicipi sate yang berada didepannya.


Arthur menggigit ujung sate lalu menguyahnya dengan sedikit ragu, dia kembali memasukan sate kedalam mulutnya, kali ini dengan dibarengi nasi, dia mulai menikmati sate yang rasanya cocok dimulutnya. "Wah aku tak percaya rasanya seenak ini." Ucap Arthur pelan namun sampai ditelinga Mala.


"Anda menyukainya?" Tanya Mala seraya menperhatikan Arthur yang sedang melahap makanannya.


Arthur tak menjawab dia hanya mengacungkan jari jempolnya kepada Mala, gadis itu tersenyum dan kembali menikmati sate yang sudah didambanya sejak lama.


"Mau lagi?" Tanya Mala saat piring Arthur sudah kosong, tanpa sadar Arthur mengangguk dan membuat Mala mengulum senyumnya, Mala bangun dari duduknya dan menghampiri penjual sate yang tengah membakar sate untuk dibagikan sesuai pesan Arthur.


"Pak mau nambah." Ucap Mala dengan senyum manis diwajahnya.


Mala kembali ke mejanya dan tak lama kemudian sepiring sate diantar ke meja mereka. "Silahkan tuan." Mala mendorong piring berisi sate tersebut agar lebih dekat dengan Arthur.


"Kamu tidak mau lagi?"


"Saya sudah kenyang tuan." Tolak Mala dengan sopan.


Arthur kembali menikmati satenya, namun kali ini dia memakannya tanpa nasi, Mala memperhatikan Arthur yang tengah sibuk menguyah, untuk sesaat dia seperti merasakan kehadiran Rey.


Setelah menghabiskan satenya, mereka berdua keluar dari warung tenda itu, sebelumnya Arthur sudah membayar lunas semua pesananya. Penjual sate tersebut tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih, dia bahkan mendoakan agar pernikahan Arthur dan Mala langgeng serta cepat diberi momongan. Mala merasa tak enak hati dengan doa penjual sate itu, namun tidak dengan Arthur, dia mengaminkan doa dari penjual sate itu berkali-kali.


"La, bisa kau bawa mobilnya, perutku sangat penuh." Ucap Arthur seraya mengulurkan kunci mobil kepada Mala.


"Tentu saja tuan." Mala meraih kunci mobil itu, lalu dia membukakan pintu untuk Arthur, setelah Arthur masuk, Mala menyusulnya masuk kedalam mobil.


Diperjalanan Arthur hanya diam, dia mengelus perutnya yang penuh namun lama kelamaan terasa menyakitkan. Mala melirik Arthur sekilas, dia melihat Arthur merasa tidak nyaman. Mala menepikan mobilnya, dia ingin memastikan apakah Arthur baik-baik saja.


Mala melepaskan sabuk pengaman, dia merubah posisi duduknya agar lebih dekat dengan Arthur. "Anda baik-baik saja?" Tanya Mala gugup, pasalnya dia melihat wajah Arthur yang memucat dan keringat yang bercucuran.


"Perutku sakit La." Arthur meraih tangan Mala dan menempelkannya di atas perut.

__ADS_1


"Maafkan saya tuan, pasti gara-gara anda makan dipinggir--jalan." Ucap Mala penuh sesal. "Kita ke Rumah Sakit sekarang."


"Bukan salahmu, aku yang penasaran ingin mencobanya." Arthur mencoba menghibur Mala, dia mengusap kepala Mala dengan lembut. "Kita pulang saja, hubungi Dokter Lutfi agar dia kerumah."


"Anda yakin tidak perlu ke Rumah Sakit?" Ulang Mala.


"Hem."


Setelah menghubungi Dokter Lutfi Mala kembali melajukan mobilnya, dia khawatir sekaligus merasa bersalah kepada Arthur.


Beberapa kali Mala melirik Arthur yang masih memegangi perutnya, gadis itu semakin cemas saat Arthur memejamkan matanya.


"Tuan, apa anda tidur?" Tanya Mala.


"Tuan, buka matamu, jangan menakutiku."


"Tuan." Ucap Mala dengan setengah berteriak.


Arthur perlahan membuka matanya dan tersenyum melihat wajah panik Mala. "Apa kau mengkhawatirkanku."


Mala membanting setirnya dan mengehentikan mobilnya ditepi jalan, dia melepas sabuk pengamannya dan menatap Arthur dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa menakutiku begitu." Ucap Mala dengan suara serak, dia hampir menangis.


"Maaf aku tertidur tadi."


"Maaf." Imbuh Mala.


"Untuk apa?"


"Saya yang menyebabkan perut anda sakit." Tutur Mala penuh sesal, air mata yang dibendungnya kini mulai menetes membasahi wajah ayunya.


"Kenapa menagis, sudah aku bilang bukan salahmu." Arthur menghapus air mata Mala, lalu dia menarik tangan Mala dan membawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya.


Mala semakin terisak dipelukam Arthur, dia merasa sangat bersalah kepada Arthur.


Arthur mengelus kepala Mala dengan lembut, lalu dia mengecup pucuk kepala Mala sehingga membuat gadis yang berada didalam pelukannya terkejut, Mala melepaskan diri dari pelukan Arthur dan menatapnya penuh tanya.


"Kenapa aku merasa tidak asing dengan kecupan itu." Batin Mala.


BERSAMBUNG.......

__ADS_1


__ADS_2