
Lala dan Rafli memutuskan untuk kembali ke Rumah Sakit setelah tak menemukan siapapun di rumah bi Ningsih. Namun saat mereka akan memasuki mobil, Lala melihat bi Ningsih dan kedua anaknya turun dari dalam taxi dengan beberapa tas belanja di tangan mereka. Lala menghadang ketiganya saat mereka akan masuk ke dalam rumah.
"Dari mana kalian?" Tanya Lala dengan ketus, ia memperhatikan tas belanja yang berada di tangan bi Ningsih dan Rani.
"Bukan urusan lo." Sungut Rani. "Ngapain lo ngalangin jalan gue, minggir gue mau masuk." Rani mendorong tubuh Lala sampai gadis itu hampir jatuh, untung saja Lala bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Bi Ningsih menatap Lala sebal, begitupun Sofyan yang menyeringai saat melihat Lala hampir jatuh, ketiganya melewati Lala dan membuka pagar rumah mereka.
"Mala kecelakaan dan membutuhkan bantuan kalian." Ucap Lala dengan pelan namun suaranya bergetar.
Ketiga orang itu kompak berbalik dan menatap Lala.
"Mati nggak?" Tanya Rani dengan wajah tersenyum.
Tangan Lala mengepal, rahangnya mulai mengeras, ingin rasanya ia menampar mulut Rani dan menyobeknya hingga tak berbentuk lagi. Namun genggaman tangan Rafli seolah air yang menyiram api, amarah Lala mulai terkendali.
"Kalau Mala meninggal, kalian nggak dapet apapun dari harta warisan peninggalan orang tua Mala, kalian nggak tau kan, Mala akan menyumbangkan semua warisan orangtuanya jika ia meninggal nanti?" Gertak Lala, gadis itu terpaksa berbohong.
Bi Ningsih dan kedua anaknya saling melirik satu sama lain, terlihat tatapan tidak rela dari sorot mata mereka.
"Gimana dong bu." Bisik Sofyan di telinga bi Ningsih.
"Dimana Mala sekarang? Apa kondisinya parah?" Tanya bi Ningsih dengan ketus.
"Ikut kami." Sela Rafli dengan tatapan tajam.
Bi Ningsih dan kedua anaknya mengikuti Rafli dan Lala, mereka masuk ke dalam mobil Rafli dan pergi ke Rumah Sakit tempat Mala di rawat.
****
Arthur menatap cermin seraya mencuci tangannya, noda darah yang mengering membuat air bekas bilasan tangannya memerah, bayangan saat Mala menutup matanya sungguh membuatnya ketakutan, pengakuan cinta Mala bergema di gendang telinganya, membuat hatinya terasa pilu, bagaimana jika Mala tak akan mengucapkan kalimat itu lagi?
Arthur kembali ke ruangan Mala, namun ia hanya duduk di depan ruangan tersebut karena tidak di perbolehkan untuk masuk. Dari kejauhan Arthur seperti melihat seorang lelaki paruh baya yang di kenalnya, lelaki itu tengah bertanya di meja resepsionis dengan wajah kebingungan.
Arthur menajamkan penglihatannya, lelaki itu kini tengah berjalan ke arahnya, jarak mereka semakin dekat sehingga Arthur semakin jelas melihat siapa yang tengah menghampirinya.
"Arthur, dimana Mala?" Tanya lelaki itu dengan suara tercekat.
"Tuan Mahesa, dari mana anda tau kami di sini?" Arthur balik bertanya, ia bingung kenapa tuan Mahesa tiba-tiba datang.
__ADS_1
"Dimana Mala?" Ulang tuan Mahesa dengan suara yang cukup keras membuat Arthur sedikit terkejut.
"Di dalam sana." Arthur menunjuk ruangan di belakangnya.
Tuan Mahesa mencoba untuk masuk ke dalam ruangan itu, Arthur segera menghalanginya karena Mala belum boleh untuk di jenguk.
"Anda tidak boleh masuk tuan." Cegah Arthur, ia berdiri di ambang pintu dengan amarah di wajahnya.
"Saya mau melihat Mala, minggir." Tuan Mahesa mencoba untuk menggeser tubuh Arthur, namun nihil, ia tak mampu melakukannya.
"Saya mohon, izinkan saya untuk melihat Mala." Pinta tuan Mahesa dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa anda bersikap seperti itu, Mala bukan keluarga anda, bukankah sikap anda terlalu berlebihan?"
Tuan Mahesa membeku, ucapan Arthur membuatnya tak bisa berkata apapun. Tuan Mahesa menunduk lemah, tak ada yang bisa di lakukannya sekarang.
Dokter yang merawat Mala datang menghampiri kedua pria yang masih saling diam, Dokter itu membawa beberapa dokumen ditangannya.
"Bagaimana, apa anda sudah membawa keluarga pasien?" Tanya Dokter bernama Hendi kepada Arthur.
"Belum Dok, apa kita tidak bisa mencari pendonor lain, saya bersedia mendonorkan hati saya Dok." Ujar Arthur dengan wajah layunya.
"Bisa saja, namun pendonor harus memiliki golongan darah yang sama, golongan darah pasien cukup langka, AB- , sangat jarang menemukan pendonor dengan golongan darah tersebut." Jelas Dokter Hendi.
"Pasien mengalami kerusakan hati yang cukup parah, solusi terbaik kami harus melakukan pencangkokkan hati." Jawab Dokter Hendi.
"Darah saya AB-, ambil hati saya dan selamatkan Mala." Ucap Tuan Mahesa penuh penekanan.
Arthur menoleh, ia menatap tuan Mahesa penuh tanya, kenapa ia begitu menghawatirkan Mala dan bersedia mendonorkan hatinya kepada Mala.
Di tengah kebingungan itu Rafli datang bersama Lala dan juga bi Ningsih serta kedua anaknya.
"Ningsih, apa yang kau lakukan disini?" Tanya tuan Mahesa dengan wajah memerah, ia sangat marah kepada bi Ningsih setelah mengetahui perbuatan bi Ningsih kepada Mala.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kamu di sini?" Balas bi Ningsing.
"Kalian saling mengenal?" Sela Arthur dengan wajah bingung.
"Tuan saya sudah membawa bibi dan kedua saudara Mala, mungkin salah satu dari mereka cocok untuk menjadi pendonor hati untuk Mala." Ucap Rafli memecahkan hawa pertentangan di antara bi Ningsih dan tuan Mahesa..
__ADS_1
"Pendonor hati? Idih, ogah banget, gue nggak akan sudi menjadi pendonor buat Mala." Ucap Rani kesal.
"Gue juga ogah, ayo bu kita pulang, bisa-bisanya mereka menyuruh kita untuk berdonor kepada Mala." Sambung Sofyan, ia menarik tangan ibu dan adiknya meninggalkan kemuruman orang yang masih berdiri di depan ruangan ICU.
"Satu Milyar, siapapun yang cocok, aku akan membayar satu Milyar." Seru Arthur, uang tak masalah baginya asal Mala bisa secepatnya menemukan pendonor.
Ketiga orang mata duitan itu menghentikan langkahnya, mereka saling berbisik dan mulai membayangkan uang satu Milyar di tangan mereka.
"Dua Milyar." Tawar Sofyan, ia berbalik dan menatap Arthur seolah tengah menantangnya.
"Deal."
"Apa golongan darah kalian?"Tanya Dokter Hendi kepada bi Ningsih dan kedua anaknya.
"O."
"O."
"A."
Ucap ketiganya serempak.
"Maaf, tidak ada yang cocok." Dokter Hendi menatap ketiganya secara bergantian.
Ketiga orang itu mendengus kesal, mereka segera meninggalkan Rumah Sakit, uang dua Milyar gagal menjadi milik mereka.
"Anda yakin akan mendonorkan hati anda untuk pasien?" Tanya Dokter Hendi, ia ingin memastikan ucapan tuan Mahesa.
"Saya yakin Dok." Tutur tuan Mahesa.
"Saya tidak setuju, saya akan mencari pendonor lain." Tolak Arthur, ia masih tak mengerti mengapa tuan Mahesa begitu baik kepada Mala.
"Tapi apa alasannya, Mala harus segera di operasi, anda tidak boleh egois tuan Arthur?" Kata tuan Mahesa, raut wajahnya nampak kecewa.
"Anda bukan siapa-siapa Mala, anda juga baru beberapa bulan mengenal Mala, apakah saya harus mempercayai kebaikan hati anda? Apakah anda yakin tidak memiliki maksud tertentu setelah Mala sehat nantinya?" Oceh Arthur. Perhatian tuan Mahesa kepada Mala membuatnya menaruh rasa curiga, tuan Mahesa bahkan menyerahkan proyek Lansekap hotelnya kepada Mala.
"Dok tolong lakukan operasi segera, saya ingin Mala segera sembuh." Ucap tuan Mahesa tanpa peduli dengan penolakan Arthur.
"Anda fikir anda siapa? Anda tidak berhak mengambil keputusan untuk Mala." Amarah Arthur mulai terpancing karena sikap tuan Mahesa yang menurutnya sangat tidak pantas.
__ADS_1
"Saya ayahnya, apakah anda puas sekarang."
BERSAMBUNG...